Posts Tagged With: ramadhan

BERAMAL DENGAN CINTA

Apa yang disebut amal saleh itu? Orang berpendapat bahwa amal saleh ialah pekerjaan kebajikan, apa pun agamanya. Manusia sepakat bahwa membela orang yang dizalimi itu adalah perbuatan baik. Sebagian orang membatasi amal saleh pada pekerjaan-pekerjaan yang tidak menuntut upah. Yang lain membatasi amal saleh sebagai pekerjaan yang dilakukan tanpa perencanaan yang baik, spontanitas. Banyak juga yang berpendapat bahwa amal saleh itu berupa sedekah dan ibadah-ibadah ritual. Amal saleh di antaranya tindakan yang dapat bermanfaat kepada orang lain. Tindakan membahagiakan orang lain disebut sebagai shadaqah. Kata ini berasal dari shadaqa, yang berarti benar, sejati, atau tulus. Orang yang bersedekah adalah orang yang imannya tulus. Sedekah tidak selalu berbentuk harta atau uang. “Termasuk sedekah adalah engkau tersenyum ketika berjumpa dengan saudaramu, atau engkau singkirkan duri dari jalanan,” kata Nabi Muhammad saw.
Untuk bisa menolong orang lain dengan tulus, kita memerlukan kecintaan tanpa syarat terhadap semua orang. Contoh nyata dan masih segar adalah apa yang dilakukan Pak Harun, sopir yang menyelamatkan dan memberi sebungkus nasi kepada seorang tuna wisma yang disiksa dalam sharing ramadhan edisi sebelum ini. Cinta inilah yang dimasukkan sebagai fitrah dalam hati kita. Cinta ini adalah seperseratus dari rahmat Allah yang dijatuhkan Tuhan di bumi. Seorang anak kecil yang berusia belasan bulan apabila ia mendengar ada anak lain menangis, ia akan segera ikut menangis. Dia tidak mempersoalkan apa bangsa, jenis kelamin, status sosial, agama, atau mazhab anak yang menangis duluan itu. Anak kecil dapat berempati tanpa syarat. Kita masih mampu berempati, tetapi empati kita sudah dibatasi oleh sekat-sekat yang dijatuhkan kepada kita oleh pendidikan, kebudayaan, bahkan agama yang kita anut.
Kita sering menangis ketika melihat orang yang menderita itu berasal dari keluarga kita, kelompok kita, atau himpunan yang dapat disambungkan dengan kata “kita”. Kita bisa berpura-pura menangis untuk siapa saja asalkan tangisan kita itu dapat mendatangkan keuntungan kepada kita. Kita berlinang air mata ketika mendengar seorang ustaz berdoa di masjid besar atau di mimbar televisi. Akan tetapi, kita kehilangan air mata itu ketika menyaksikan ribuan TKI diusir dengan kejam dari sumber nafkah mereka.
Seorang syaikh tasawuf berkata, “Perkhidmatan tanpa cinta seperti bangkai yang cantik. Bentuk luarnya indah, tetapi ia tidak bernyawa.” Dari seluruh upaya kita membantu orang lain, betapapun kecilnya, Tuhan hanya menerima bantuan yang kita berikan dengan cinta.
Alkisah, seorang ibu dari salah seorang sultan dari Khilafah Utsmaniyah membaktikan hidupnya untuk kegiatan amal saleh. Ia membangun masjid, rumah sakit, dan sumur-sumur umum untuk daerah permukiman yang tidak mempunya air di Istanbul, Turki. Pada suatu hari, ia mengawasi pembangunan rumah sakit yang dibiayai sepenuhnya dari kekayaannya. Ia melihat ada semut kecil jatuh pada adukan beton yang masih basah. Wanita ini memungut semut itu dan menempatkannya pada tanah yang kering. Tidak lama setelah itu, orang baik ini meninggal dunia. Kepada banyak kawannya perempuan mulia in muncul dalam mimpi mereka. Ia tampak bersinar bahagia dan cantik. Kawan-kawannya bertanya apakah ibu tersebut masuk ke surga karena sedekah-sedekah yang dilakukannya ketika masih hidup. Dia menjawab, “Saya tidak masuk surga karena semua sumbangan yang sudah saya berikan. Saya masuk surga karena seekor semut.”
Amal sebanyak apa pun tidak bisa menebus surga. Hanya kasih Tuhan yang bisa menyelamatkan. Ibu itu mendapat kebahagiaan di alam sana, bukan sebab ibadatnya yang hebat; melainkan karena sebuah amal yang disertai cinta kepada seekor binatang, hatta hewan itu hanya seekor semut! Sebab kasih dan sayangnya kepada binatang renik itu, Tuhan berkenan memberikan rahmat-Nya.

Ciomas, 24 Juli 2014, tengah malam.

*Disarikan dari Madrasah Ruhaniah -berguru pada ilahi di bulan suci, dengan sedikit varisasi-variasi.

Iklan
Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tag: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Persiapan Menyambut Ramadhan

ar-rahmah ciomas bogor :: Ramadhan adalah bulan penuh berkah, penuh berkah dari semua sisi kebaikan. Oleh karena itu, umat Islam harus mengambil keberkahan Ramadhan dari semua aktifitas positif dan dapat memajukan Islam dan umat Islam. Termasuk dari sisi ekonomi, sosial, budaya dan pemberdayaan umat. Namun demikian semua aktifitas yang positif itu tidak sampai mengganggu kekhusu’an ibadah ramadhan terutama di 10 terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut di muka, beliau juga aktif melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Rasulullah saw. menikahkan putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, menikahi Hafsah dan Zainab.

Persiapan Mental
Persiapan mental untuk puasa dan ibadah terkait lainnya sangat penting. Apalagi pada saat menjelang hari-hari terakhir, karena tarikan keluarga yang ingin belanja mempersiapkan hari raya, pulang kampung dll, sangat mempengaruhi umat Islam dalam menunaikan kekhusu’an ibadah Ramadhan. Dan kesuksesan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhir Ramadhan diisi dengan i’tikaf dan taqarrub yang lainnya, maka insya Allah dia termasuk yang sukses dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.
Baca lebih lanjut

Categories: Artikel | Tag: , , , | 1 Komentar

Bagaimana Menentukan Awal Ramadhan?

Assalamualaikum ustadz,
Mau tanya bagaimana caramenentukan awal ramadhan?
Begitu aja, terima kasih,
wassalam
Adityanugroho
adityanugroho
Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bulan Ramadhan masih satu bulan lagi. Tapi sudah ada yang sejak dini bertanya tentang bagaimana cara menentukan awal Ramadhan. Berarti kita ini memang sudah jauh-jauh hari menyiapkan mental menghadapi Ramadhan.
Untuk menentukan awal Ramadhan, ada dua cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, dan telah diajarkan secara smbung-menyambung dari generasi ke generasi oleh silsilah para ulama.
1. Melihat Bulan (ru`yatul hilal)
Yaitu dengan cara memperhatikan terbitnya bulan di hari ke 29 bulan Sya`ban. Pada sore hari saat matahari terbenam di ufuk barat.
Apabila saat itu nampak bulan sabit meski sangat kecil dan hanya dalam waktu yang singkat, maka ditetapkan bahwa mulai malam itu, umat Islam sudah memasuki tanggal 1 bulan Ramadhan.
Jadi bulan Sya`ban umurnya hanya 29 hari bukan 30 hari. Maka ditetapkan untuk melakukan ibadah Ramadhan seperti shalat tarawih, makan sahur dan mulai berpuasa.
Baca lebih lanjut

Categories: Artikel | Tag: , , | 1 Komentar

Blog di WordPress.com.