Posts Tagged With: bogor

Bunga suweg

bunga-raflesia-suweg
Suweg
adalah tanaman anggota marga Amorphophallus dan masih berkerabat dekat dengan bunga bangkai raksasa (A. titanum) dan iles-iles (A. muelleri). Suweg sering dicampurbaurkan dengan iles-iles karena keduanya menghasilkan umbi batang yang dapat dimakan dan ada kemiripan dalam morfologi daun pada fase vegetatifnya. Nama lainnya adalah porang, meskipun nama ini juga dipakai untuk iles-iles. Nama-nama dalam bahasa lain: elephant foot yam atau stink lily, teve , jimmikand, suran, chenna, ol , serta oluo.

Suweg adalah tanaman asli Asia Tenggara dan tumbuh di hutan-hutan kawasan Malesia, Filipina, serta India tropik (bagian selatan). dan saat ini di pondok kami yayasan yatim ar-rahmah tumbuh bunga yang termasuk sulit untuk di jumpai, apalagi bunga ini hanya bertahan beberapa hari saja.

setiap pagi ibu-ibu yang mengantar anaknya untuk pergi ke PAUD alam ciomas sesekali ke taman yayasan hanya untuk melihat bunga tersebut, sambil mengabadikan bunga dengan handphone pintarnya mereka merekam bunga langka ini.

bunga-raflesia

pada permukaan tangkai daun suweg kasar bila diraba, berbeda dari iles-iles yang halus; tangkai daun pada ketinggian tertentu (dapat mencapai 1,5 m) menjadi tiga cabang sekunder dan akan mencabang lagi sekaligus menjadi tangkai helai daun.; helai daun ada yang menyatu pada tangkai daun. Suweg tidak memiliki tonjolan berwarna cokelat kehitam-hitaman (disebut bulbil) pada bagian percabangan tangkai daun, sebagaimana iles-iles.

Bunga muncul apabila simpanan energi berupa tepung di umbi sudah mencukupi untuk pembungaan. Sebelum bunga muncul, seluruh daun termasuk tangkainya akan layu. Bunga tersusun majemuk berupa struktur khas talas-talasan, yaitu bunga-bunga tumbuh pada tongkol yang dilindungi oleh seludang bunga. Kuntum bunga tidak sempurna, berumah satu, berkumpul di sisi tongkol, dengan bunga jantan terletak di bagian distal (lebih tinggi) daripada bunga betina. Struktur generatif ini pada saat mekar mengeluarkan bau bangkai yang memikat lalat untuk membantu penyerbukannya.

Perbanyakan secara generatif dengan biji atau secara vegetatif dengan anakan umbi.

sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Suweg

 

Categories: News, Uncategorized | Tag: , , , , , | Tinggalkan komentar

#TentangKebaikan : NIKMATNYA SUASANA HOTEL

“Makan, Pak!” seorang anak yayasan Ar-Rahmah sedang memasukkan sesuatu ke mulutnya.

“Oh, kamu bawa makanan?”

“Iya, Pak. Saya puasa.” Anan sedang menjalankan puasa sunah bulan syawal.

Di kursi malas pinggir kolam renang Aston, Anak ini duduk di antara Deni dan Roy.

Deni sekolah kelas 1 SMA Darul Ihya, Ciomas.  Dalam usia satu tahun ditinggal ayahnya dan tiga bulan lalu ibunya pergi juga menghadap ilahi. Ustaz Solihin, guru ngaji Deni mengantarkan anak malang itu ke tempat kami.

Roy, baru tiga hari lalu bergabung dengan yayasan Ar-Rahmah. Nama lengkap dia sih Muhammad Royani. Tapi teman-temannya biasa memanggil dia dengan Roy. Keren juga!

“Saya tahu yayasan Ar-Rahmah dari Bu Febi.”

Febi adalah guru yang sukarelawati. Ia mengajar anak-anak usia dini, tanpa imbalan apa pun. Wanita salehah ini, dari Senin sampai Jumat mengabdikan dirinya. Ia mengajar anak-anak miskin yang tinggal di sekitar kami tinggal.

Roy baru di kelas 1 SMP. Ia tidak tahu siapa dan di mana ibunya berada. Waktu dia berusia tiga tahun ayahnya meninggal dunia. Sejak ditinggal suaminya, Yanti, Ibu dari anak yatim ini, meninggalkan rumah dan tidak pernah kembali. Roy, lalu, diasuh kakek dan neneknya. Tiga hari lalu ia datang dan, selanjutnya, menetap di Ar-Rahmah.

Hari ini, Jumat, 8 Agustus saya menghadiri rapat bersama teman-teman dari berbagai fungsi dengan Genting Oil di Aston, Bogor. Hotel berlokasi di tumit Gunung Salak ini mempunyai kolam renang yang indah. 

Sudah cukup lama saya tidak dinas atau rapat di hotel-hotel di kota Bogor. Dahulu, saat bertugas di Divisi Eksplorasi dan di SDM, sering kami ada dinas di kota sejuta angkot ini. Beberapa anak, saat ditanya, “Sudah berapa kali kamu menginap di hotel?”

Mereka menjawab, “Sudah 5 kali, baru 3 kali,” … atau mereka bilang, “Sudah lupa!”

Saking seringnya, banyak anak tidak ingat lagi berapa kali mereka sempat menginap atau sekadar berenang di hotel.

Kawan-kawan lama saya di Eksplorasi sudah mafhum, jika saya dinas dan menginap di hotel, fasilitas tempat nginap itu akan dimanfaatkan juga oleh anak-anak yatim dan duafa.

Beberapa kali, sehabis rapat, banyak teman yang kembali ke Jakarta dan kamarnya tidak diinapi. Mereka hanya gunakan kamar hotel untuk shalat saja. Kawan-kawan ini memberikan kuncinya kepada saya. Berbondong-bondonglah anak-anak miskin itu masuk hotel. Mereka bisa menonton TV sepuasnya, lalu berenang di kolam seperti orang-orang kaya. Saya, biasanya, sedapat mungkin tidur di rumah saja. Biarlah mereka, sesekali, berbahagia menikmati suasana layaknya orang-orang berada.

“Sekarang ibu kamu, kira-kira berada di mana?”

“Tidak tahu.”

“Tapi masih ingat wajahnya?”

“Tidak.”

“Yang rajin saja kamu belajar, ya. Sok, sekarang berenang dulu.”

Ditemani Deni dan Rian, Roy nyemplung ke kolam. Tujuh teman lainnya sudah dari sore tadi di dalam air.

Sore ini, termasuk satu anak saya yang masih di SMP di dalamnya, saya  “menyelundupkan” sepuluh anak untuk menikmati nyamannya fasilitas hotel berbintang.

Mereka menonton TV yang channel-nya banyak, meloncat ke kolam, lalu berteriak-
teriak kegirangan. Mereka bersuka ria.

Menyaksikan pemandangan ini, ada rasa senang di dada, tapi qalbu merasa haru. Saya  meneteskan air mata.

Pinggir kolam renang Aston, 8 Agustus 2014.

Salam,
Jr

Categories: #TentangKebaikan | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Shardhan 2013-1_ Nikmatnya Teh Kental Panas

Tadi petang, pukul 19.20, di dekat terminal Barangsiang, saya turun dari kendaraan omprengan

UKI-Bogor. Tenggorokan terasa kering. Hari itu saya berpuasa. Ketika turun dari angkutan

umum, rasa haus sangat, kuat terasa. Ingin rasanya saya minum teh panas.

Di trotoar, ada kios jamu dan di belakangnya terdapat Warung Soto Sapi dan Sop Kambing.

Merapat saya ke warung nasi dadakan itu. Melihat ada tamu datang, penjual soto itu maju ke

depan, mendekat ke “calon pembeli”.

“Saya mau minum saja, boleh?”

“Minum mah di sana, tuh!” Penjual nasi itu menunjuk ke kios jamu.

Saya menuju kios penjual jamu.

“Pak, ada teh panas?”

“Tah, di dinya enteh mah!” (Tuh, di sana kalau mau minum teh), tukang jamu menunjuk warung

nasi.

Sangat mungkin mereka menduga bahwa saya akan minta teh secara gratis. Dan itu, hanya akan

membikin repot mereka. Padahal, saya, tentu saja, akan bayar. Mau ngebatalin puasa; dan,

terutama, untuk mengusir rasa haus yang semakin menjadi.

“Bubulak, Laladon…Bulak…Ladon,” beberapa kali terdengar suara sopir mengajak penumpang

naik ke angkotnya.

Saya tinggalkan warung nasi dan kios jamu yang tidak “memberi” teh itu. “Nanti minum di

rumah saja, ” pikir saya.

Dalam angkutan kota Baranangsiang-Bubulak, saya duduk di bangku depan. Maksud hati mau

meneruskan tidur yang belum selesai, di omprengan tadi. Lumayan, sambil memanfaatkan

waktu, ketika lalu lintas di Jalan Kapten Muslihat hingga daerah Jembatan Merah, macet total.

Namun, tenggorokan yang kering merusak konsentrasi. Rasa haus itu mengganggu rencana

tidurku.

“Bapak sekarang posisi di Gunungbatu, puasa dan belum buka. Haus sekali. Tolong buatkan teh

panas, ya!” saya kirim pesan pendek kepada putri kami.

Di teras rumah saya dapati istri sedang berbincang dengan dua orang pendatang yang tidak lama

lagi akan melangsungkan pernikahan. Mereka mengundang kami. Setelah bersalaman dengan

tamu, langsung saya masuk ke rumah.

“Did you receive my message?” tanya saya kepada Bila.

“Sudah tuh, di dapur!”

Saya menyeruput teh panas yang sudah disiapkan putri kami. Saya buka kulkas. Ada sepotong

mungil dark chocholate yang sudah membatu. “Lumayan,” pikir saya.

Gigitan kecil-kecil coklat hitam -yang panjangnya tinggal kurang dari lima centimeter itu- dan

langsung disusul sruputan teh tawar panas dan kental, nikmatnya tiada dua!

Ciomas, Selasa, 18 Juni 2013

P.S.: Boleh coba, waktu nanti berbuka.

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tag: , , , , , , | Tinggalkan komentar

Kekerasan

Tadi malam, anak-anak di rumah, mendesak saya untuk ”bagaimana kita bersikap atas isu2 yang lagi hangat (lebih tepatnya, panas)” yg terjadi di ibukota. Kebetulan, minggu2 –bahkan- bulan2 terakhir ini, pada hari2 weekend, saya lebih banyak ke luar Ciomas, kediaman saya. Saya & istri, kadang dengan anak –kalau pas tak bentrok acaranya, keluar–masuk pesantren di beberapa kota di Jawa barat, mencari pesantren buat putra kami yang ke-2, sekaligus untuk wisata rohani, bertemu orang-orang saleh. Kegiatan ini,mengakibatkan, hanya sebentar2 sekali kami ngobrol dg anak2 –yg sebagian sudah mahasiswa, itu.

Tadi malam, sehabis mereka menghadiri tahlilan, saya sampaikan pengantar saja kepada mereka bahwa kita harus mengedepankan akhlak. Dengan siapa pun kita berhadapan. Masalahnya, bukan kita berpihak pada golongan ”A” atau golongan “B”, melainkan hubungan antar manusia dengan manusia. Agama mengajarkan (kata para ustadz), terhadap makhluk lain pun ada etikanya. Tidak dibenarkan merusak tanaman, mencederai hewan, apalagi terhadap manusia.

***

Tuhan mengutus nabinya untuk menyempurnakan akhlak yg mulia. Tuhan pula mengajarkan, apabila kita berbeda pendapat dengan orang lain, agar melakukannya dengan cara yg baik, sopan-santun, lemah-lembut, tidak dengan kata2 kasar, dan dilarang keras melukai kawan yg berbeda pendapat itu.

Berkata kasar, menyakiti hati orang lain, berbuat sewenang-wenang, berbuat zalim, dan menganiaya orang lain dalam literatur agama (sekali lagi, menurut para ustadz) disebut al baghyu. Al baghyu sangat dimurkai Tuhan dan termasuk salah satu dari dua dosa yang akan disegerakan siksanya, di dunia ini juga.

Nabi Muhammad SAW, bersabda: “Agama adalah akhlak (budi pekerti yg baik).” So, jika akhlak sudah tidak diindahkan, akan di mana agama diletakkan? Banyak orang berbuat untuk agama; tidak sedikit orang menggunakan agama. Agama diatasnamakan. Boleh jadi, niat semula berbuat untuk agama, dalam perjalanan –karena khilaf atau hal lain- agama tertinggal, sehingga faktor lain menggantikannya. Tidak mustahil, kita merasa di opsi pertama, niscayanya kita berada di opsi-2. Wallahu ’alam.

Oleh Bapak H. Jonih Rahmat

Head of the foundation ar-rahmah Bogor

Categories: Artikel | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Persiapan Menyambut Ramadhan

ar-rahmah ciomas bogor :: Ramadhan adalah bulan penuh berkah, penuh berkah dari semua sisi kebaikan. Oleh karena itu, umat Islam harus mengambil keberkahan Ramadhan dari semua aktifitas positif dan dapat memajukan Islam dan umat Islam. Termasuk dari sisi ekonomi, sosial, budaya dan pemberdayaan umat. Namun demikian semua aktifitas yang positif itu tidak sampai mengganggu kekhusu’an ibadah ramadhan terutama di 10 terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut di muka, beliau juga aktif melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Rasulullah saw. menikahkan putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, menikahi Hafsah dan Zainab.

Persiapan Mental
Persiapan mental untuk puasa dan ibadah terkait lainnya sangat penting. Apalagi pada saat menjelang hari-hari terakhir, karena tarikan keluarga yang ingin belanja mempersiapkan hari raya, pulang kampung dll, sangat mempengaruhi umat Islam dalam menunaikan kekhusu’an ibadah Ramadhan. Dan kesuksesan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhir Ramadhan diisi dengan i’tikaf dan taqarrub yang lainnya, maka insya Allah dia termasuk yang sukses dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.
Baca lebih lanjut

Categories: Artikel | Tag: , , , | 1 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.