#TentangKebaikan

#TentangKebaikan : TULISAN BERMANFAAT

“Setiap terima tulisan Bapak, saya langsung baca, kemudian saya save ke folder khusus,” sambil berjalan kaki di lantai delapan Hotel Padma menuju lantai atas, Pak Sapei bercerita kepada saya.

“Dan, karena tulisan-tulisan yang Pak jonih kirim itu, saya menjadi terinspirasi untuk mulai menulis. Dalam beberapa bulan ini, sudah banyak tulisan, mengenai apa pun, saya buat,” praktisi hukum ini meneruskan.

“Wah, senang sekali saya mendengarnya! Jika sharing-sharing yang saya kirimkan kepada teman-teman memberikan manfaat, saya bahagia,” sambil masuk ke lift saya mengomentari.

Pak Sapei tidak seorang diri, beberapa kawan – di gedung yang sama maupun berbeda, menyampaikan kepada saya bahwa mereka mempunyai fail khusus untuk menyimpan tulisan-tulisan yang saya kirimkan.

“Email-email Pak Jonih senantiasa memberi inpirasi kepada saya. Selalu saja ada hal baru yang saya dapatkan,” seorang ustaz muda di Jakarta mengomentari coretan-coretan yang saya bagikan.

Pak Firman, kawan yang bekerja di sebuah instansi startegis bidang keamanan negara, setelah menerima tulisan berjudul “Minta Kain Kafan”, menulis, “Menyentuh sekali! Kapan tulisan ini dibukukan?”

Beberapa bulan lalu saya dinas ke Kabupaten Bula Timur di Pulau Seram. Ada ratusan orang bekerja di sebuah lapangan minyak bumi. Salah seorang pimpinan di tempat itu bercerita kepada saya bahwa ia dan teman-temannya mendapatkan banyak manfaat dari pelajaran bahasa Indonesia yang saya kirimkan melalui email. Bahasan ringan mengenaii pemakaian bahasa Indonesia sehari-hari, khususnya di lingkunagn perkantoran yang dikemas dengan bahasa sederhana; lalu  saya beri judul Mari Belajar Bahasa Indonesia, ternyata memberikan manfaaat, sampai ke orang -nun jauh di Kepulauan Maluku!

“Kadang, perbedaan pemahaman mengenani kata-kata dalam bahasa Indonesia, di sini,  menjadi penyebab kesalahan pemahaman di antara kami. Dengan pembelajaran dari Bapak, kami merasa sangat terbantu,” Pak Yazid Kepala Lapangan Bula, menerangkan.

“Apakah Ustaz berminat menerima kiriman sharing-sharing saya?” kepada seorang ustaz senior yang pernah lama belajar di Salafi, Muhammadiyah, dan NU; saya berkirim sms.

“Sangat berminat! Sebab, tulisan-tulisan Antum sangat ber-nas,” ustaz yang sangat luas pemahaman keagamaannya dan mendalami filsafat dan tasawuf ini, menjawab tawaran saya.

Apabila apa yang kita lakukan, sekecil apa pun -walau sekadar tulisan-tulisan ringan, memberikan manfaat kepada orang lain, kita bersyukur kepada Tuhan. Semoga Allah menetapkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur. Allaahumma ainnaa ‘alaa dzikkrika wasyukkrika wa husni ibaadatika. Aamiin.

Ciumbuleuit, bakda Zuhur, 18 September 2014

Salam,
jr

Categories: #TentangKebaikan | Tag: , | 1 Komentar

MINTA KAIN KAFAN #TentangKebaikan

Bersiap Menjemput Maut Setelah Dipatuk Ular

Yayah, nenek berusia  tujuh puluh tahunan, setelah ditinggal Kosim, suaminya, hidup bersama seorang anaknya -yang juga sudah berusia dan terserang stroke.

Ia tinggal di Kampung Cigulusur, Desa dan Kecamatan Cidolog, Sukabumi pedalaman. Untuk mencapai rumahnya, dari jalan desa, apabila hari tidak hujan, sebagian daripadanya, bisa ditempuh dengan kendaraan beroda dua. Jika air turun dari langit, jangankan dengan sepeda motor, jarak belasan kilometer itu ditempuh dengan jalan kaki pun, tidak mudah.

Apabila ada warga setempat yang sakit keras dan memerlukan pengobatan atau perawatan, pasien akan diangkut dengan menggunakan kain sarung yang dibelitkan ke bambu panjang. Dua orang lelaki perkasa, di tiap ujung bambu, menyediakan pundaknya untuk ditumpangi bulatan panjang itu. Banyak pasien ketika berangkat dari rumah menuju tempat pengobatan, sebelum tiba di poliklinik atau puskesmas, sudah keburu meninggal dunia.

Untuk mendapatkan upah agar bisa membeli makanan, Yayah bekerja kepada seorang tetangga. Pagi itu ia membungkuk-bungkukkan tubuhnya, memetik kacang tanah yang sudah memasuki masa panen.

Saat sedang asyik-asyiknya bekerja, sela-sela antara jari manis dan kelingking kanan nenek ini, merasakan sebuah sengatan. Seekor ular dengan panjang sejengkal telah mematuk telapak tangan orang tua itu. Si nenek berhenti sejenak. Ia pulang ke rumah. Rasa nyeri semakin menggigit. Hari demi hari luka menjadi menganga dan lengan kanan nenek membengkak. Setiap saat lubang luka mengeluarkan cairan berwarna putih.

Orangtua malang ini sudah tak bisa ke mana-mana. Seharian dan semalaman ia hanya telentang di tengah rumah. Setiap detik, menit, dan jam; dia menderita.

Merasa penyakitnya tidak akan sembuh, sementara usia juga sudah senja, ia sudah pasrah akan apa yang akan terjadi pada dirinya.

Amud, putra dari Kosim dan pernah dibesarkan oleh Nenek Yayah, jauh dari kota Bogor, menjenguk ibu sambungnya ini ke kampung, di Sukabumi pedalaan tersebut. Ia, sepulang dari desa, menyampaikan berita musibah ini kepada kami. Ibu Yayah berpesan agar disiapkan kain kafan. Sebab keluarganya tidak mampu untuk membeli kain putih itu, dan ia pernah mendengar bahwa di kediaman kami biasa tersedia itu kain pembungkus jenazah, ia menyuruh Amud, anaknya itu, meminta kain kafan kepada kami.
Mendengar orang sakit pesan kain kafan, miris rasanya. Bagaimana penderitaan dia  menghadapi maut yang segera akan menjemput. Bisa Anda bayangkan!

Saya tugaskan istri ke desa, mengajaknya untuk dirawat. Barangkali merasa harapan untuk selamat tidak banyak, dia menolak dibawa ke rumah sakit di kota Sukabumi. Seminggu kemudian, kami mendapat kabar, sakit Bu Yayah semakin parah. Tangan kanannya semakin membengkak, dan luka bekas gigitan binatang melata itu terus mengeluarkan cairan.

Bersama Amud, saya dan istri menuju kota Sukabumi. Ke Rumah Sakit Syamsudin, yang lebih dikenal sebagai Rumah Sakit Bunut, kami bertanya hal ruang rawat inap yang tersedia dan bisa terma atau tidaknya pasien tergigit ular. Setelah mendapat konfirmasi adanya kamar dan rumah sakit tersebut bisa menerima pasien korban gigitan binatang melata, dan mempersiapkan segala sesuatunya, saya dan istri kembali ke Bogor; Amud melanjutkan perjalanan ke kampung untuk menjemput ibunya.

“Jangan dibawa…jangan dibawa…kasihan!” menyaksikan sisakit ditandu dengan kain sarung dan bambu, beberapa ibu tetangga berteriak.

“Jangan menambah repot. Kalau mau bantu ke sini!” Amud membelas kekhawatiran para tetangga.

Rombongan pasien dan para pengantar menempuh dua-tiga jam perjalanan. Mereka tiba di Rumah Sakit Syamsudin, Sukabumi.

Setelah beberapa minggu mendapat perawatan medis, Yayah diizinkan pulang. Sesampai di kampung, nenek itu merangkul Amud, anak yang dia tidak pernah dilahirkannya. “Ternyata kamu sangat sayang sama saya! Kalau tidak diobati dan dibawa ke rumah sakit, mungkin saya tidak ada lagi di dunia ini!” orangtua itu menangis keras.

Nenek Yayah, walau pelan-pelan dan dengan sangat hati-hati, kini,  sudah mulai pulih kembali. Ia sudah bisa ke luar rumah, berjalan tanpa dipapah. Orang sakit parah, dan sudah bersiap-siap menyambut maut dengan memesan kain kafan itu, kini ia merasa hidup kembali.

Dalam perjalanan Bogor-Sukabumi-Bogor,  Mei; Bandara Pattimura, Ambon, 7 Juli; dan Cibinong 22 Agustus 2014.

Salam,
JR

Categories: #TentangKebaikan | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

#TentangKebaikan : JIKA WAKTU ITU TIBA

“Seorang anggota keluarga memasuki ruang pengasuhan. Kepada ustaz yang berjaga, ia sampaikan berita duka cita. Ibu dari seorang santri telah menghadap Rabbul Izzati. Dia datang ke pesantren agar anak itu diberikan izin bertemu wajah ibu untuk yang terakhir kali.

Sang kakak bilang, ‘Pulang dulu, Dik; Ibu sakit keras.’ Demi menjaga kecamuk rasa yang mungkin timbul, si kakak tidak bicara apa adanya.

Bayangkan, kamu pulang kampung. Setiba di desa dan semakin  mendekati kediaman, tampak bendera kuning di sana sini. Di halaman rumah, banyak orang berkerumun. Terdengar suara dari dalam, orang-orang membaca Yasin. Kamu masuk ke rumah. Di ruang tengah, sesosok tubuh, ditutupi kain putih, membujur kaku. Adik, kakak, paman, dan tante menatap dan merangkul kamu sambil tersedu-sedu.  Ibumu telah pergi menghadap Yang Mahakasih,” ustaz menyampaikan ceramah bakda Subuh di Masjid Asy-Syifa Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten.

Kami tiba di itu pesantren, pas shalat Subuh baru usai. Badan lemah, lelah, dan lusuh lantaran perjalanan panjang dari arah wetan, agak terobati. Sebab, anak yang kami pinjam dari pihak pesantren bisa dikembalikan tepat waktu. Kami juga bertemu anak kami lainnya,  kakak dari santri yang kemarin kami bawa ke Jawa Timur. Dengan dua anak ini, hanya sekian bulan sekali saya bertemu.

Tetapi, ceramah ustaz di dalam masjid yang besar itu menyentuh qalbu. Kuliah Subuh yang singkat, namun penuh makna, itu mengingatkan apa yang mungkin terjadi esok hari. Tentang kesementaraan hidup di alam ini; tentang ketidakberdayaan kita. Dan, entah kapan Tuhan akan mengutus malaikat Izrail, mencabut nyawa.

Jika kita hendak bepergian jauh ke luar kota atau ke luar negeri; pakaian, makanan, dan uang untuk bekal selama di perjalanan, tentu sudah kita siapkan. Kopor yang besar sudah penuh dengan kemeja, celana, atau rok dan kebaya. Tas ransel sudah diisi laptop, iPad, serta bahan bacaan untuk teman di perjalanan. Dompet berisi lembaran berwarna merah, hijau, atau merah muda; kartu-kartu atm; dan uang plastik selalu siap sedia. Lebih dari cukup untuk memenuhi keperluan selama dalam perjalanan hingga kembali kepada keluarga.

Akan tetapi, untuk perjalanan yang sangat jauh dan tidak akan kembali dengan potensi tingkat kesulitan yang tidak pernah terbayangkan,  apakah kita sudah menyiapkan semua itu? Perbekalan untuk hidup di alam nan tidak pernah kita bayangkan situasi dan kondisinya. Perjalanan yang  bukan untuk wisata atau bersenang-senang; melainkan perjalanan panjang untuk mempertanggungjawabkan segala yang kita perbuat selama hidup di dunia. Dan di sana, kecuali amal kebaikan, seseorang tidak bisa menolong orang lain.

Jika waktu itu tiba, ketika Izrail menghampiri diri, dada akan sesak, napas segera lepas. Rasa duka memenuhi seluruh rongga, penyesalan berada di puncaknya. Mengapa selama berpuluh tahun kita lupa, akan datangnya hari pembalasan. Di pengadilan sana, mulut menjadi kaku. Tangan yang berkata, sementara kedua kaki menjadi saksi.

Aduh Gusti, ampunkan kami yang hanya mengalokasikan waktu yang sangat sedikit untuk berzikir. Terlalu sibuk dan hampir tak ada waktu untuk bersujud. Tak sempat silaturahmi dan tegur sapa dengan tetangga, serta jarang bercengkrama dengan keluarga. Astaghfirullaah al-‘adziem wa atuubu ilaih.

Akan datang hariMulut dikunciKata tak ada lagiAkan tiba masaTak ada suaraDari mulut kitaBerkata tangan kitaTentang apa yang dilakukannyaBerkata kaki kitaKemana saja dia melangkahnyaTidak tahu kitaBila harinyaTanggungjawab tibaRabbana …Tangan kami …Kaki kami …Mulut kami …Mata hati kami …Luruskanlah …Kukuhkanlah …Di jalan cahaya …SempurnaMohon karunia …Kepada kami …Hamba-Mu yang hinaLagu: ChrisyeLirik: Taufiq Ismail

Masjid Asy-Syifa, Pesantren Daar El Qolam, Gintung, Jayanti, Tangerang; bakda Subuh; 25 April; sepulang perjalanan panjang dari Ponorogo-Solo-Purwerejo-Cilacap-Tangerang; dan Jakarta, 15 Agustus 2015 untuk tambahan syair  “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” kiriman sahabat saya, Doddy Priambodo melalui milist salamminna.

Salam,
jr

Categories: #TentangKebaikan | Tinggalkan komentar

#TentangKebaikan : SEBUAH KEBAIKAN AKAN MELAHIRKAN KEBAIKAN

¤《Kisah Sejati dari Sahabat Roker*) sy Bpk. Umarudin Zaenuri yang sangat baik perlu ditularkan》¤

[09/08 20:20] Bpk. Umar coffee police simpt: Akan saya tuliskan kisah saya malam ini untuk anda, ini berkaitan dengan ‘What Goes Around, Comes Around’ Bukan kisah fiktif namun saya mengalaminya sendiri, Tunggu malem ini saya akan share untuk teman saya yang baik hati dan tidak sombong .. Eka Saripudin

[10/08 00:51] Bpk. Umar coffee police simpt: Ini Janji saya menyampaikan sebuah kisah yang pernah saya alami sendiri, semoga bermanfaat untuk saudaraku Eka Saripudin dan juga bermanfaat bagi saudaraku sesama muslim.

[10/08 00:52] Bpk. Umar coffee police simpt: Saat Ramadhan sekitar tahun 2004, dalam suatu ceramah yang dibawakan oleh Prof. DR. Jalaluddin Rahmat di masjid gedung WTC dalam acara tausiah setelah sholat dhuhur berjamaah beliau menyampaikan : “Energi di Dunia ini tidak akan berkurang dan tidak akan bertambah, yang ada hanya berubah bentuk” dan beliau menambahkan bahwa “setiap orang pada dasarnya mempunyai tabungan energi positif dan tabungan energi negatif, hal ini dihitung berdasarkan pada seberapa besar kebaikan yang dia lakukan yang dihitung sebagai tabungan energi positif dan seberapa banyak keburukan yang dia lakukan tercatat sebagai tabungan energi negatif” lalu beliau menyampaikan “hal ini tanpa mempertimbangkan mengenai pahala dan dosa, maksudnya secara hubungan timbal balik energi positif dan negatif itu urusannya di dunia, sedangkan untuk pahala dan dosa hak Allah untuk menilai dan menentukannya, dan ternyata tabungan energi positif dan negatif itu bisa cair di dunia tergantung permintaan kita”

Berselang 2 tahun saya mengalami kejadian yang saat itu mungkin jika dikatakan saya sudah putus asa, mungkin itulah saat saya benar-benar merasa beban saya terlalu berat rasanya ingin mati saja. Kerja di salah satu bank dengan kondisi yang masih semrawut karena pasca merger. Bayangkan saat itu saya dalam kesulitan yang sangat berat saya rasakan, orang tua saya sakit dan di rawat di RS di Jawa Tengah, istri juga sakit, kontrakan udah nunggak hampir 2 bulan karena keuangan saya saat itu benar-benar kosong, bahkan sdh hampir 4 hari saya sempet tidak memegang uang sepeserpun dan makan numpang di rmh mertua, duh malu banget sebenarnya, tapi apa boleh buat karena sdh berusaha pinjam ke saudara juga memang sedang sulit semua . Akhirnya saya memutuskan untuk mengadaikan motor saya yang setiap harinya saya pakai untuk berangkat kerja demi menutup kebutuhan sampai dengan saya gajian selama satu bulan, dan saat itu yang terfikir adalah saya bisa bantu pengobatan orang tua (ibu) saya dan istri saya serta anak saya tetep bisa sekolah meskipun saya harus bekerja dengan naik angkutan umum.

Pada saat saya baru pulang dari menggadaikan motor di koperasi dekat rumah dan sudah mendapatkan uang, sambil berjalan saya melihat seorang bapak yang usianya sudah cukup renta mungkin tebakan saya usianya sekitar 70an. Saya lihat dia sedang mengais sampah untuk mencari sisa-sisa botol plastik minuman dan dia mendapati sebuah kotak nasi yang saya lihat isinya masih penuh namun sepertinya sdh di makan karena agak acak-acakan.

Bapak tersebut kemudian duduk di samping bak sampah. Timbul rasa iba saya melihat bapak tua tersebut lalu saya menghampirinya dan menanyakan, apakah bapak sudah makan ? Bapak itu menjawab “belum”, lalu saya bertanya lagi, bapak nemu di mana makanan ini ? “Saya nemu di kotak sampah ini” sambil tangannya menunjuk ke bak sampah yg ada di sebelah kirinya. Lalu saya bicara sama bapak tersebut “maukah bapak nemenin saya makan?” Lalu dia menjawab “mau aja sih pak, tapi ..” Lalu saya bertanya lagi “tapi kenapa pak ?” Dia menjawab “ini makanan sayang pak kalau di buang” kemudian saya bilang sama bapak tua itu “pak, itu makanan kan tadinya juga sudah di buang sama orang di situ (mksd saya di bak sampah) dan bapak tidak tahu kan kalau makanan itu bersih atau tidak, kalau bapak makan bisa jadi nanti bapak malah sakit, jadi taruh aja makanannya di situ lagi ya pak, bapak ikut saya ke warung di seberang jalan itu, gak usah takut pak, nanti saya yang bayar, mau ya?”
***** Page 1

Bapak tersebut akhirnya mau saya bujuk untuk makan bersama saya dan membuang kembali makanan yang dia temukan ke bak sampah tempat dia menemukan nasi bungkus tersebut. Saat makan di warung nasi itu barulah saya tahu bahwa dia sudah tidak punya istri dan masih harus nanggung biaya anaknya yang masih SMP kelas 3 dan adiknya yang kelas 5 SD dan 3 SD setelah mendengar cerita bapak tersebut sambil makan. Saat itu saya berfikir bahwa saya beruntung karena di usia saya yang menginjak 32 tahun saya masih bisa ngurus orang tua dan juga istri dan anak saya yang baru masuk TK meski memang terkadang ada banyak kekurangan, namun saya akui bapak tersebut hebat masih bisa menyekolahkan 3 anaknya hanya dari hasil memungut sampah dan menjualnya kepada lapak besi dan plastik.

Setelah makan saya kemudian memberikan uang sebesar 200 ribu rupiah dan saya katakan, “bapak ini saya gak bisa bantu apa-apa, ini untuk tambahan biaya anak-anak bapak ya pak, tolong diterima” lalu dia menjawab “terima kasih pak, saya gak bisa bales apa-apa pak, bapak baik ke saya mudah-mudahan saya doakan bapak mendapat rejeki yang banyak lagi dan Allah memberikan kesehatan untuk bapak” ..

Akhirnya kami berpisah, bapak tersebut menuju arah sebaliknya dan saya memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah saya masih bingung karena kenapa tadi saya kasih uang saya ke bapak itu, padahal saya juga masih butuh. Tapi tanpa pikir panjang saya ceritakan kepada istri dan dia juga sempet menanyakan kenapa tidak diajak ke rumah saja bapak tua itu. Kan siapa tahu nanti bisa ada apa-apa bapak itu bisa silaturahmi ke sini. Saya malah tidak sempat terfikir hal itu karena pikiran saya memang hanya bagaimana membantu pengobatan orang tua dan istri saya.

Malam harinya saya teringat apa yang pernah saya dengar saat 2 tahun lalu saat saya mendengar ceramah dari Prof DR Jalaluddin Rahmat. Saya akhirnya malam itu mencoba bermunajat kepada Allah dengan Qiyamul lail dan dalam permohonan do’a saya setelah sholat, saya meminta kepada Allah “Ya Allah jika memang tabungan energi positif ku bisa membantu aku dalam kesulitan yang aku hadapi saat ini, maka aku mohon cairkanlah di dunia ini ya Allah, karena saat ini aku tidak tahu harus kemana lagi memohon pertolongan selain kepadaMu ya Allah”  Do’a tersebut saya panjatkan lantaran saya hanya berserah diri kepadaNYA tiada lain karena putus asa saya.

Selang 2 hari saya terheran-heran, karena sebelumnya yang punya kontrakan datang ke rumah saat saya sudah di rumah sepulang kantor. Tadinya saya pikir, wah pasti nanya uang kontrakan, sementara uang hasil gadai motor sudah saya pakai untuk biaya pengobatan orang tua dan juga istri saya. Namun yang membuat saya heran, si empunya kontrakan malah datang membawa makanan dan beberapa kue serta susu untuk anak saya lalu dan bilang ke saya “mas terima kasih ya mas, udah dibantu karena kalau tidak ada mas umar mungkin anak saya gak ketolong” saya kebingungan lalu saya tanya ” kenapa bu, emang saya nolongin ibu apa ya, maaf kalau mungkin saya salah”. Ibu yang empunya kontrakan lalu berkata “kemarin anak saya kecelakaan di Fatmawati dan ada yang bawa anak saya ke RS kata anak saya mas Umar” lalu ibu tersebut melanjutkan “pas saya tanya ke pihak RS katanya mas Umar, dia membenarkan katanya iya memang td yang bawa ke sini ciri-cirinya seperti mas Umar” kemudian berkata lagi si Ibu ini “anak saya malah di titipin uang untuk bayar kontrakan katanya sama mas Umar, sekalian dibayarin setahun aja katanya, uangnya ada di rumah tuh masih utuh, makanya saya ke sini mau ngucapin terima kasih sama mas Umar, anak saya dah ditolongin dan juga ma kasih juga masih mau tinggal di sini”

Makin bingung saya denger penjelasan ibu ini, walaupun penasaran. Namun kemudian saya menjelaskan bahwa itu bukan saya mungkin ada orang lain yang mengaku saya dan melakukan itu semua atas nama saya. Saya kemudian berucap terima kasih juga karena Ibu ini sdh ke rumah saya dgn membawa macam-macam makanan. Ibu tersebut tetap yakin kalau saya yang telah melakukan itu semua karena saksinya anaknya dan juga pihak RS. Lalu setelah ibu tersebut pulang, saya berfikir apakah ini realisasi dari do’a saya ? Dan tanpa pikir panjang saya ambil wudhu dan sholat 2 raka’at sujud syukur kepada Allah bahwa ternyata kebaikan yang telah saya perbuat berbuah positif dan pastinya perbuatan buruk akan berbuah negatif serta semuanya akan kembali pada diri kita sendiri.
***** Page 2

Mulai dari saat itulah saya makin percaya bahwa Allah maha adil dan maha pemurah serta Allah berupaya menguji hambanya dalam keimanan dan ketaqwaan. Apakah ujian itu akan berarti bagi hambanya atau tidak, semua berpulang kepada diri kita masing-masing.

[10/08 00:54] Bpk. Umar coffee police simpt: Dan saya makin yakin setiap apapun yang kita perbuat akan kembali pada diri kita bisa jadi dalam bentuk yang berbeda bisa jadi dalam bentuk yang sama, dan jangan pernah berburuk sangka kepada Allah, karena Allah mengatakan dalam firmannya dalam Al-Quran “AKU adalah sebagaimana prasangka hambaKU saja, Jika hambaKU berprasangka baik, maka kebaikan yang akan datang padanya, dan jika hambaKU berprasangka buruk, maka keburukan yang akan datang padanya pula”

Marilah kita sama-sama saling mengajak kedalam kebaikan, kisah di atas benar-benar saya alami dan sampai saat ini saya tidak pernah bertanya kenapa hal itu terjadi. Semoga bisa memberikan semangat bagi saudaraku sesama muslim untuk selalu menanamkan pada diri kita, bahwa KEBAIKAN YANG KITA LAKUKAN AKAN KEMBALI DENGAN SEBUAH KEBAIKAN UNTUK KITA, DAN SEBALIKNYA KEBURUKAN YANG KITA LAKUKAN AKAN KEMBALI JUGA SEBAGAI KEBURUKAN UNTUK KITA ..

Salam,
Umarudin Zaenuri

[10/08 02:31] E. Saripudin: Subhanallah… saya sampe menangis membaca kisah pribadi bapak… terima kasih telah berbagi kisah sy tdk menunda untuk membacanya disepertiga malam ni. Mdah2an kebaikan bapak yg telah bapak sampaikan bisa menjadi pelajaran kehidupan yg indah buat kami semua. Mhon izin untuk kami share kembali spaya makin banyak orang yg akan memberikan nilai2 positif, makin banyak lagi orang yg termotivasi untuk berbagi kebaikan dengan orang lain. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih…

[10/08 02:32] E. Saripudin: Selain sy share ke teman2 sy akan publikasikan d blog2 yg sy kelola… terima kasih yaaa pak

[10/08 02:34] Bpk. Umar coffee police simpt: Amiin .. Semoga bermanfaat sahabatku 🙂

[10/08 02:41] E. Saripudin: Aamiin…

*) Roker merupakan kependekan dari Rombongan Kereta, yaitu orang-orang yg sering menggunakan alat transportasi CommuterLine dalam keseharian untuk pergi-pulang kerja.

Semoga bermanfaat,…
********** end

Categories: #TentangKebaikan | Tag: , , | Tinggalkan komentar

#TentangKebaikan : WHAT GOES AROUND, COMES AROUND

“Iya betul Pak,  apabila kita berbuat kebaikan;  kebaikan itu bisa datang kepada kita atau ke anak-anak kita. Saya ingat waktu sekolah di Aussie, saat saya mendapatkan suatu kebaikan, orang yang melihatnya mengatakan, ‘Pasti orangtua kamu, orang yang baik!’ What goes around comes around,” Nita, sahabat saya dari Cipulir mengomentari artikel From The Dust
To The Dust, yang belum lama saya kirim.

Pengalaman Nita mengingatkan saya akan sebuah pengalaman (orang lain). Saya pernah mendengar, seorang mahasiswa Indonesia, selama studi di Amerika Serikat sering mendapatkan kebaikan dari teman-teman atau orang-orang yang ia jumpai. Ketika ia mencari referensi untuk keperluan perkuliahan dan penelitiannya, banyak orang membantu mendapatkan buku-buku yang diperlukan. Semula ia merasa heran atas kebaikan-kebaikan tersebut. Belakangan ia tahu bahwa ayah dia di Bandung  adalah seorang dermawan yang biasa membantu orang lain. Saat beliau atau anaknya memerlukan bantuan, Tuhan kirimkan pertolongan kepada keluarga baik hati itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bersama karib saya, Ali Masyhar, paska gempa bumi yang melanda Sumatra Barat, saya ditunjuk menjadi koordinator bantuan gempa Sumatra. Dengan Al-Mukaram atau bergantian, sendiri-sendiri, kami sering ke lokasi bencana. Saat berangkat tanpa beliau, di sebelah kanan saya, di dalam Garuda, duduk penumpang lain, seorang wanita cantik.

Kami berbicara tentang pekerjaan dan tujuan penerbangan. Ia, rupanya, seorang pengacara di Jakarta. Wanita karier ini berasal dari Belitong. Di kampungnya,  perempuan ramah ini, bertetangga dengan Andrea Hirata, sang novelis jenius!

Pengacara ini bercerita tentang kakaknya, seorang bupati yang disenangi rakyatnya. Kebetulan, saya juga pernah membaca tentang geologist yang menjadi pejabat daerah tersebut. Semakin nyambunglah pembicaraan.

“Sudah baca buku tentang Basuki Purnama?”

“Emang Pak Ahok menulis buku?”

“Nanti saya kirim, ya!”

Beberapa hari kemudian ada kiriman paket berisi buku dan sekeping VCD. Saya baca itu buku, dan kuputar filmnya. Di antara kisahnya yang panjang, ada yang selalu saya ingat.

Suatu hari, di Bilitong, Ahok, seorang diri, melakukan perjalanan panjang. Dengan tiada terduga, kendaraan mogok di tengah hutan. Tengah malam itu, Ia mendapati sebuah rumah sederhana. Dia ketuk pintu, meminta bantuan.

“Dari mana asal kamu?” tanya tuan rumah.

Ahok menyebutkan tempat asalnya. Saya lupa dan tak bisa mengeceknya di buku, sebab saya sekarang sedang di dalam pesawat yang tak terbang-terbang, padahal udara mulai memanas!

“Semua orang sana, bajingan! Enggak ada yang baik, kecuali … , ” bapak itu menyebut nama seseorang.

“Dia bapak saya.”

“Wah, kamu anak dia!”

Pemilik rumah segera menjamu tamunya. Orang yang mobilnya mogok ini disuguhi makanan berat, padahal dia tidak lapar. Akan tetapi, yang empunya rumah -karena ingin menghormati tamu dari anak orang baik, dia mendesak tamu, di tengah malam itu untuk makan. Demi menghormati bapak yang baik hati ini, Ahok pun menyantap hidangan itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Fakta-fakta itu mengajarkan, apabila kita sayang anak,  ingin agar anak-anak kita mendapatkan kebaikan; janganlah berlaku curang kepada makhluk Tuhan. Berbuat baiklah kepada siapa pun. Apa pun suku dan bangsanya; apa mazhab dan agamanya; apa pun partai politiknya; siapa pun caleg dan presiden yang dia pilih atau tidak dipilihnya.

Benar, apa yang disampaikan geologist wanita lulusan Australia ini, “What goes round, comes around!”

Dalam penerbangan Jakarta-Solo; 9 Agustus 2014.

Salam,
Jonih Rahmat (jr).

Categories: #TentangKebaikan | Tag: , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.