# Kisah-Kisah Inspiratif #

Kisah-Kisah Inspiratif

BERAMAL DENGAN CINTA

Apa yang disebut amal saleh itu? Orang berpendapat bahwa amal saleh ialah pekerjaan kebajikan, apa pun agamanya. Manusia sepakat bahwa membela orang yang dizalimi itu adalah perbuatan baik. Sebagian orang membatasi amal saleh pada pekerjaan-pekerjaan yang tidak menuntut upah. Yang lain membatasi amal saleh sebagai pekerjaan yang dilakukan tanpa perencanaan yang baik, spontanitas. Banyak juga yang berpendapat bahwa amal saleh itu berupa sedekah dan ibadah-ibadah ritual. Amal saleh di antaranya tindakan yang dapat bermanfaat kepada orang lain. Tindakan membahagiakan orang lain disebut sebagai shadaqah. Kata ini berasal dari shadaqa, yang berarti benar, sejati, atau tulus. Orang yang bersedekah adalah orang yang imannya tulus. Sedekah tidak selalu berbentuk harta atau uang. “Termasuk sedekah adalah engkau tersenyum ketika berjumpa dengan saudaramu, atau engkau singkirkan duri dari jalanan,” kata Nabi Muhammad saw.
Untuk bisa menolong orang lain dengan tulus, kita memerlukan kecintaan tanpa syarat terhadap semua orang. Contoh nyata dan masih segar adalah apa yang dilakukan Pak Harun, sopir yang menyelamatkan dan memberi sebungkus nasi kepada seorang tuna wisma yang disiksa dalam sharing ramadhan edisi sebelum ini. Cinta inilah yang dimasukkan sebagai fitrah dalam hati kita. Cinta ini adalah seperseratus dari rahmat Allah yang dijatuhkan Tuhan di bumi. Seorang anak kecil yang berusia belasan bulan apabila ia mendengar ada anak lain menangis, ia akan segera ikut menangis. Dia tidak mempersoalkan apa bangsa, jenis kelamin, status sosial, agama, atau mazhab anak yang menangis duluan itu. Anak kecil dapat berempati tanpa syarat. Kita masih mampu berempati, tetapi empati kita sudah dibatasi oleh sekat-sekat yang dijatuhkan kepada kita oleh pendidikan, kebudayaan, bahkan agama yang kita anut.
Kita sering menangis ketika melihat orang yang menderita itu berasal dari keluarga kita, kelompok kita, atau himpunan yang dapat disambungkan dengan kata “kita”. Kita bisa berpura-pura menangis untuk siapa saja asalkan tangisan kita itu dapat mendatangkan keuntungan kepada kita. Kita berlinang air mata ketika mendengar seorang ustaz berdoa di masjid besar atau di mimbar televisi. Akan tetapi, kita kehilangan air mata itu ketika menyaksikan ribuan TKI diusir dengan kejam dari sumber nafkah mereka.
Seorang syaikh tasawuf berkata, “Perkhidmatan tanpa cinta seperti bangkai yang cantik. Bentuk luarnya indah, tetapi ia tidak bernyawa.” Dari seluruh upaya kita membantu orang lain, betapapun kecilnya, Tuhan hanya menerima bantuan yang kita berikan dengan cinta.
Alkisah, seorang ibu dari salah seorang sultan dari Khilafah Utsmaniyah membaktikan hidupnya untuk kegiatan amal saleh. Ia membangun masjid, rumah sakit, dan sumur-sumur umum untuk daerah permukiman yang tidak mempunya air di Istanbul, Turki. Pada suatu hari, ia mengawasi pembangunan rumah sakit yang dibiayai sepenuhnya dari kekayaannya. Ia melihat ada semut kecil jatuh pada adukan beton yang masih basah. Wanita ini memungut semut itu dan menempatkannya pada tanah yang kering. Tidak lama setelah itu, orang baik ini meninggal dunia. Kepada banyak kawannya perempuan mulia in muncul dalam mimpi mereka. Ia tampak bersinar bahagia dan cantik. Kawan-kawannya bertanya apakah ibu tersebut masuk ke surga karena sedekah-sedekah yang dilakukannya ketika masih hidup. Dia menjawab, “Saya tidak masuk surga karena semua sumbangan yang sudah saya berikan. Saya masuk surga karena seekor semut.”
Amal sebanyak apa pun tidak bisa menebus surga. Hanya kasih Tuhan yang bisa menyelamatkan. Ibu itu mendapat kebahagiaan di alam sana, bukan sebab ibadatnya yang hebat; melainkan karena sebuah amal yang disertai cinta kepada seekor binatang, hatta hewan itu hanya seekor semut! Sebab kasih dan sayangnya kepada binatang renik itu, Tuhan berkenan memberikan rahmat-Nya.

Ciomas, 24 Juli 2014, tengah malam.

*Disarikan dari Madrasah Ruhaniah -berguru pada ilahi di bulan suci, dengan sedikit varisasi-variasi.

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tag: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Shardhan 2013-8_ Ingin Ngobrol Santai Sama Bapak

Tuhan karunia empat anak kepada kami. Paling besar, Bila, waktu itu, sekolah SMA di Bandung.

Adiknya yang paling kecil masih di Sekolah Dasar. Sedangkan dua anak kami lainnya tinggal

di pesantren. Iki belajar di pesantren paling bersih dan paling hijau dengan pepohonan di Bogor:

Pesantren Daarul Muttaqien, Parung. Kakaknya, Isal, menuntut ilmu di Daar el Qolam. Pesantren

terbesar di Banten. Belakangan, setelah satu tahun, untuk meningkatkan pelajaran bahasa Arabnya,

Iki pindah juga ke pesantren di Wilayah Tangerang itu.

Kecuali anak paling kecil, ketiga anak kami -karena tidak tinggal bersama keluarga- bertemu saya

rada-rada jarang. Ibunya sih, tiap dua minggu atau sebulan sekali menemui mereka di pesantren.

Saya, dulu, ke pesantren dua-tiga bulan sekali atau lebih lama lagi jaraknya. Kadang, karena

berbagai kegiatan, baru ketemu anak-anak pas mereka liburan sekolah, enam bulan sekali.

Kalau banyak kawan mengisi hari-hari Sabtu dan Minggu dengan olah raga bersama rekan-rekan

kerja atau bercengkerama dengan keluarga di rumah, saya lebih banyak menghabiskan waktuwaktu itu untuk diri sendiri. Saya hadiri berbagai seminar, kursus, kuliah, atau mengurus keperluan

yayasan yatim.

Waktu itu, saya berpikir bahwa ibunya, kan, rutin menemui anak-anak. Dia mewakili suaminya atau

bapak anak-anak juga. Jadi, tak masalah kalau saya agak jarang menemui mereka.

Suatu hari, tahun lalu, sepulang dari pesantren, Sri, istri saya menyampaikan pesan dari Isal, putra

kami yang di Tangerang, Banten. Dengan raut muka sedih, Isal mengeluh kepada ibunya, “Bapak

begitu sibuk, hingga sulit bertemu anaknya sendiri. Bapak jarang ke sini. Isal juga ingin ketemu

bapak. Ngobrol santai sama bapak, atau makan nasi bungkus bersama bapak di pesantren.”

Terhenyak saya mendengar pesan anak kedua kami itu. Saya lupa, rupanya, selama ini saya

terlalu mementingkan diri sendiri. Merasa sibuk dengan pekerjaan dan acara-acara lainnya. Untuk

keperluan anak-anak, rasanya, bisa didelegasikan kepada ibunya, atau –tak jarang- diwakilkan

kepada orang lain.

Karena kami sering menerima banyak tamu dari tempat yang jauh, kadang-kadang, kami minta

tolong seorang tetangga dekat atau anak-anak yatim yang sudah senior untuk mengurus keperluan

anak-anak kami dan menemui mereka di pesantren. Anak kami merasa heran, orang tua mereka,

khususnya bapaknya, lebih memberikan perhatian kepada kegiatan lain dibanding menjenguk

anaknya di pesantren.

Saya sering menilai sesuatu dengan melihat sekala prioritas, tapi berdasarkan logika pribadi. Kita

lupa, anak-anak juga punya pikiran dan logikanya masing-masing. Saya mengukur segala sesuatu

dengan ukuran sendiri, tidak melibatkan partisipasi kepentingan anak-anak. Ternyata, mereka bisa

berbeda pandangan dengan kita. Dan, orang tua bisa salah.

Ketika ada anak yang merasa agak dikesampingkan kepentingan dia oleh bapaknya, dan ia

protes dengan caranya sendiri, saya harus merenung, mentafakuri diri. Ternyata saya egois. Saya

menomersekiankan perhatian kepada anak-anak. Saya baru tersadar setelah Isal bilang, “Bapak

jarang ke sini. Isal ingin ngobrol santai dan makan bersama bapak!” Kata-kata itu, terngiang-ngiang

di telinga, menusuk hati, menyalahkan diri. Saya meneteskan air mata.

Satu hari saya ke sekolah anak yang di Bandung. Guru konseling mengundang saya ke ruangannya.

Pak Cucu adalah seorang guru yang metoda-metoda pendekatan yang ia lakukan dalam mendidik

para siswa sering diadopsi DIKNAS dan menjadi model pendidikan yang diterapkan Kementerian

Pendidikan secara nasional.

Setiap murid, Pak Cucu wawancarai. Anak-anak diminta berbicara tentang sekolah, tentang

keluarga. Komunikasi guru-murid itu direkam oleh video.

Saya memasuki ruang kerja guru favorit para murid itu. Pak guru menayangkan rekaman

wawancara. Putri kami, Bila, muncul di layar laptop.

“Saya senang bapak saya punya kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Saya suka bapak

berbuat baik dan disukai tetangga. Saya bangga mempunyai ayah yang mengurus anak-anak

yatim. Waktu bapak habis untuk mereka. Tetapi, saya, anaknya, perlu perhatian juga. Saya juga

ingin sering bertemu bapak. Bapak sangat jarang mengunjungi saya!” Bila berbicara sementara air

matanya bercucuran.

Saya tatap wajah anak yang mengadukan ayahnya yang sering tak jumpa dia. Sering melupakannya.

Pipi saya dialiri cairan hangat yang keluar dari kedua sudut mata. Kembali, saya menangis,

menyesali diri.

Sejak itu, saya berusaha mengubah cara berpikir tentang sekala prioritas yang cenderung sepihak

dan egoistis. Pada setiap acara khusus di sekolah atau pesantren anak-anak, sesibuk apa pun –walau

kadang dalam kondisi badan kurang sehat- saya sempatkan menghadirinya. Saya merasakan betapa

nikmatnya makan di warung nasi kecil bersama keluarga. Alangkah indahnya suasana hati, saat

makan nasi padang di halaman pesantren dengan anak-anak. Rasa hangat pada kertas pembungkus

nasi, itu menunjukan isi bungkusan masih panas. Istri saya biasa memesan nasi padang sebanyak

teman sekamar anak-anak. Isal dan Iki, anak-anak kami, malah tak jarang menambah pesanan untuk

teman-temannya dalam kelompok kegiatan ekstra kurikuler mereka.

Berbicara tentang sibuknya para orang tua sehingga waktu untuk mereka berkomunikasi dengan

anak-anaknya menjadi sangat terbatas, saya pernah mendengar kisah tentang seorang pengusaha

kaya raya di Amerika. Ia mempunyai bisnis di mana-mana. Hartanya, saking banyaknya, nyaris tak

terhingga. Dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Tak ada waktu untuk bercanda bersama keluarga.

Suatu hari, pengusaha itu jatuh sakit. Dokter mengatakan bahwa pebisnis terkenal ini terserang

kanker ganas. Pada hari-hari terakhirnya, orang kaya itu mengalami penyesalan yang dalam. Dia

merasa berdosa kepada anak dan istrinya. Selama ini, dia habiskan waktunya untuk pekerjaan –

yang sebenarnya juga, nanti, untuk dinikmati bersama keluarga. Tetapi saat untuk beristirahat

sejenak bersama anak dan istri, menikmati hasil jerih payah usahanya selama ini, tak pernah

terjadi. Pengusaha kaya itu keburu sakit. Dia pergi meninggalkan harta yang banyak, tetapi ia dan

keluarganya tidak bahagia.

Saya terinspirasi menulis ini, ketika sohib saya, Pak Agus Sapto, sambil menunggu lift untuk

mencapai lantai 9, City Plaza; berbicara tentang keluarga. Begitu lift terbuka, sudah beberapa alinea

saya selesaikan. Setiba di tempat salat dan kultum ramadhan, saya menugaskan tiga indera saya

untuk berkerja secara paralel. Telinga mengarah ke penceramah, mata menunduk ke telepon seluler,

dan jari-jari telunjuk memainkan pad-pad BlackBerry, meneruskan tulisan tentang perhatian kepada

keluarga. Semoga coretan kecil ini bisa menegur hati teman-teman yang suka menghabiskan waktu

di tempat kerja atau di lapangan olah raga; sementara anak-istri sudah lama terkantuk-kantuk,

menunggu di meja makan.

City Plaza, bakda Zuhur, 18 Juli 2013

Salam,

jr

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tag: , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Shardhan 2013-7_Mereka Mencuri, Mengancam Hancurkan Rumah dan Culik Anak

Rumah kami berada di dalam gang. Bentuk jalan kecil ini mirip botol terbalik. Dari bagian

mulutnya, di pinggir jalan raya, ukurannya besar, truk pun bisa masuk. Tapi itu untuk ruas jalan

sepanjang lebih kurang 20 meter saja. Selanjutnya, semakin mengecil dan menyempit. Terakhir,

mobil ukuran kijang, kalau sopirnya mahir dan terbiasa masuk gang kecil, bisa masuk hingga

muka halaman rumah kami.

Banyak tamu yang datang, kapok memasukkan kendaraannya ke halaman rumah kami, karena

mobil mereka tergores tembok gang.

Setelah rumah kami, ke belakangnya adalah gang selebar kurang dari 1 meter. Karena sempitnya,

payung pun tidak bisa terbuka maksimal. Sepanjang gang yang melingkari rumah kami, tidak

ada penerangan. Kalau malam tiba, gelaplah. Saya, lalu, memasang instalasi kabel ke sekeliling

bagian pinggir rumah yang menempel pada gang. Beberapa lampu pijar bermerk saya pasang.

Esok hari, pagi-pagi, semua lampu itu sudah tidak ada di tempatnya. Diambil orang.

Waktu saya kecil, ayah saya memelihara banyak ayam. Unggas itu pagi-pagi dilepas, dan sore

hari pada pulang kandang. Jika hingga menjelang magrib hewan itu masih belum kelihatan

di sekitar kandang; kami, kakak beradik, juga ibu saya, mencari ke sana-kemari. Bapak

memerintahkan anak-anaknya agar mencari ayam-ayam itu sampai ketemu. Padahal, kadang,

ketika mereka sedang bermain, binatang itu sudah diambil orang

Karena rumah berada di pinggir jalan besar, tidak jarang unggas yang suka berpetok-petok

atau berkukuruyuk, itu terlindas mobil yang lewat. Asal tidak mati seketika, siapa pun yang

melihat binatang itu kena kecelakaan, akan sigap menyembelihnya. Jadilah kami makan daging

ayam pada sore harinya. Apabila mau sarapan tidak ada yang menemani nasi masuk ke perut,

datanglah kami ke sarang ayam-ayam yang sedang bertelur. Nyalakan api di dapur, digorenglah

itu telur.

Setelah berkeluarga, saya pun memelihara banyak ayam, berbagai jenis. Mulai dari ayam

kampung (ini ayam kampung beneran, ya!), ayam bangkok, ayam pelung, hingga ayam kate dan

ayam lignan.

Di pusat ayam pelung terbesar di Jawa Barat, di Demplot, Warung Kondang, Sukabumi, saya

membeli beberapa anak ayam pelung dan ayam Kate Kanada. Ayam mini ini unik. Bulunya

berwarna mirip batik. Kate-kate itu, baru menginap semalam di halaman belakang rumah, lima di

antaranya sudah raib dari kandangnya.

Karena sedang membuat beberapa kamar mandi, banyak pralon berserakan di halaman belakang.

Seperti halnya lampu dan ayam, pralon-pralon itu pun pergi entah ke mana.

Jika ada rapat di kantor dan mendapatkan konsumsi berupa nasi kotak, atau dapat kiriman dari

kawan yang berulang tahun, nasi itu tidak saya makan. Saya bawa ke rumah. Makanan dalam

kotak itu saya berikan kepada tetangga-tetangga terdekat, secara bergantian.

Suatu malam kakak kami datang dari Bandung. Ketika mau pulang, pukul sebelas malam, mobil

yang diparkir di halaman dibongkar orang. Beberapa barang hilang. Saya sangat marah. Dalam

hati saya berkata, “Orang-orang yang sering saya kirimi rezeki, eh ..mencuri juga ke tempat

kami!”

Tengah malam itu, saya datangi rumah-rumah yang dicurigai. Saya ketuk pintunya. Begitu pintu

dibuka, lampu senter langsung saya arahkan ke sudut-sudut rumah. Usaha itu tidak membuahkan

hasil. Barang-barang yang hilang tidak ditemukan. Orang yang melakukan pencurian mungkin

hanya satu-dua orang, tapi kami tidak tahu penghuni rumah yang mana yang melakukannya.

Karenanya, hampir semua yang saya curigai, saya datangi. Banyak di antara para pemuda yang

saya bangunkan itu, tersingggung.

“Mungkin orang luar yang mencurinya, Pak.”

“Tidak mungkin. Wong, di sini pusatnya maling !”

Sebagai informasi, rumah-rumah di kampung kami dihuni oleh tidak sedikit pemuda yang

tangannya panjang. Kondisi ekonomi masyarakat, secara umum, miskin-miskin dan banyak

pengangguran. Akan tetapi, walau keuangan morat-marit, kalau untuk minum minuman keras

dan main judi, tidak masalah. Itu adalah kegiatan sehari-hari.

Di antara mereka yang suka jual ikan, binatang ternak, atau hasil kebun. Padahal, saya tahu,

mereka tidak punya kolam atau pun kebun, juga tak memelihara ayam. Pak Heri, sekretaris desa,

di depan kolamnya yang besar, dengan nada sedih bercerita kepada saya dan istri.

“Beberapa bulan lalu, saya tanam ikan dua kwintal di balong ini. Sengaja untuk dipanen pada

hari raya haji. Kemarin, saya kuras airnya. Ikannya tinggal empat ekor!”

Tidak jarang tetangga datang ke rumah mau meminjam uang untuk menebus anaknya di kantor

polisi. Anak-anak itu ditangkap karena kedapatan mengambil barang orang atau menghisap

barang haram.

Ada anak tetangga yang nyaris mati dipukuli masa, ketangkap saat beraksi. Tetapi, ada juga

yang kebal dihantam benda-benda tajam. Dia berkali-kali digebuki orang dan ditangkap polisi.

Sesering itu juga ayahnya mengeluarkan banyak uang untuk menebusnya. Seorang tetangga

dekat sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka akibat pukulan benda tajam. Kecuali kami,

keluarganya melarang tetangga lain untuk menjenguk.

Setelah sekian lama bergaul dengan mereka, saya menjadi tahu rumah-rumah mana saja yang

salah satu atau lebih penghuninya suka mencuri. Rumah ini ada satu anak, rumah sana punya

dua, rumah itu tiga manusia; dan rumah lainnya baik-baik saja. Saya bisa bikin peta kontur yang

menunjukan populasi dari rumah-rumah yang dihuni oleh orang-orang yang ukuran tanggannya

panjang!

Maka ketika mereka bilang bahwa yang mencuri barang-barang di mobil, mungkin orang luar,

saya langsung berkata kepada mereka:

“Masa orang luar. Wong di sini pusatnya maling!”

Mereka tidak terima dan marah. Sambil meninggalkan tempat kami, di antara mereka ada

yang menggertak akan menghancurkan rumah kami. Seseorang berbicara keras di belakang

tembok dan mengancam akan menculik anak.

Saya telepon kantor polisi. Dari Polsek Ciomas datang polisi satu mobil bak terbuka. Saya minta

para pemuda itu dipanggil dan dicatat nama-namanya. Kami minta jaminan agar mereka tidak

macam-macam. Jika dihadapkan ke polisi, mereka takut. Kalau hanya dilaporkan hanya kepada

RT, RW, atau Lurah; para pejabat itu masih sanak-famili mereka. Tak mempan.

Dulu, karena urusan-urusan seperti ini, sering saya perlu mengambil cuti kerja. Saya berjaga-jaga

di rumah dengan selalu siap untuk menelpon polisi. Sudah beberapa kali polisi datang ke rumah,

sehingga, waktu itu, saya kenal dengan banyak dari mereka.

Saya baru tahu ada masyarakat seperti ini!

Pasar Minggu, 12 Juni 2013.

Salam,

jr

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tag: , , , , , | Tinggalkan komentar

Shardhan 2013-6_ Genteng Mak Ajuz Bocor

Apabila turun hujan, air masuk ke hampir seluruh bagian rumah. Mak Ajuz, seorang nenek

dengan satu putrinya yang juga sudah tua serta seorang cucu yang sudah punya anak, tinggal

di bangunan sederhana itu. Hanya setengah bagian dari tempat tinggalnya yang bergenteng,

sisanya beratapkan langit. Karena kondisi itulah, jika hujan datang, penghuni rumah merasakan

ketidaknyamanan. Padahal, itu rumah berada di kota yang hampir tiap hari turun air dari langit.

Suatu hari beberapa orang teman kantor menyerahkan uang kepada saya. Atas izin mereka,

rezeki itu saya manfaatkan untuk membenahi rumah Mak Ajuz. Sejumlah genteng bekas, kayukayu, bambo, dan paku saya beli. Pak Amud, seorang tukang saya mintai bantuan tenaganya

untuk memasang atap itu rumah. Karena tidak cukup dana, ia bekerja dengan tidak mendapat

bayaran.

“Kebetulan saya juga punya genteng bekas. Nanti, saya sumbangkan juga,” kata tukang

bangunan itu.

Pekerja ini, bukan saja tenaganya tidak dibayar, ia bahkan memberikan genteng yang ia miliki

dengan cuma-cuma.

Beberapa hari Pak Amud, di sela-sela waktu yang dia punya, mengerjakan pemasangan kayu

dan bambu untuk menopang genteng-genteng. Dengan tambahan genteng yang ia bawa dari

kediamannya, selesailah dia menutup semua permukaan atas itu bangunan. Biaya yang tersedia

hanya cukup untuk membeli genteng, kayu, dan bambu. Tidak ada dana untuk beli plafon, walau

sekadar dari bahan bambu yang diserut. Pekerjaan dianggap selesai.

Rupanya, salah satu sudut dari bangunan yang dipasangi genteng itu, bila turun hujan,

menjatuhkan airnya ke halaman rumah salah seorang anak si nenek, yang rumahnya

bersebelahan dengan ibunya. Milan dan suaminya, menggerutu dan marah-marah kepada pekerja

yang memasang genteng (juga, mungkin ditujukan kepada kami) bahwa halaman rumahnya

menjadi berair. Karena air dari genteng Mak Ajuz jatuh ke halaman belakang rumah dia, bagian

tanah itu menjadi becek. Berita itu sampai ke telinga saya hari berikutnya. Saya bilang kepada

istri saya, sampaikan kepada Milan, dulu sebelum dipasang genteng, memang tidak ada air

jatuhan ke situ. Tapi, rumah Mak Ajuz, ibu dari Milan, jika turun hujan, basahnya ke manamana! Dan, itu kan untuk rumah orang tua Milan. Harusnya dia yg berkewajiban membenahi

rumah ibunya!

Lain hari, Mak Ajuz datang ke rumah kami. Ia memegang tangan istri saya, menariknya,

dan membawanya ke rumah dia. Ia tunjukan lokasi-lokasi bocor dari beberapa genteng yang

baru dipasang. Nenek ini marah-marah bahwa kerja tukang tidak beres. Karena kebocoran itu,

beberapa bagian rumah menjadi basah!

Rumah itu, karena dana terbatas tadi, hanya dipasang genteng saja tanpa pelapis atau plafon di

bawahnya. Beberapa genteng, berbeda merek dan ukuran. Air dari langit yang menimpa genteng,

memantul, dan sebagian daripadanya sampai juga ke lantai. Air inilah yang membuat beberapa

bagian lantai menjadi basah. Dan ini pula yang membuat si nenek marah besar kepada pihak

yang memperbaiki itu rumah dengan pemasangan genteng tadi.

Padahal, sebelum dipasang genteng, selama bertahun-tahun, kalau turun hujan, lantai itu bukan

saja sebagiannya menjadi basah, melainkan banjir!

Stasiun Sudirman, 15 Juli 2013.

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tag: , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Shardhan 2013-5_ Rumah Ketua RW Mau di Bakar

Hari pertama menempati  rumah di kampung Kereteg, kami menghadap ketua Rukun Tetangga. 

Berbincang-bincang  tentang  asal  muasal  tempat  tinggal,  orang  tua,  pekerjaan,  dan  keluarga. 

Selesai urusan dengan Pak Ketua RT, saya sampaikan bahwa kami mau silaturahmi kepada Pak 

Ketua Rukun Warga.

“Pak RW-nya tidak ada.”

“Sedang ke mana?”

“Ketua RW  pergi  dari  kampung ini;  dan  kemungkinan tidak akan  kembali  ke Ciomas. Jabatan 

Ketua  RW  kosong,”  Pak  RT  menerangkan.  Beberapa  bulan  kemudian,  datanglah  ke  kampung 

kami sebuah keluarga. Warga baru itu seorang guru Sekolah Dasar dan istrinya guru SMP. Pak 

Guru ini sangat aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Dia juga seorang ustaz. Ia menjadi imam 

salat di musala. Dia pun biasa memimpin mengurus jenazah dan ritual-ritual lainnya.

Sebab  keaktifan  dan  banyaknya ilmu  yang  dimiliki  Pak  Guru,  serta  dekatnya  dia  dengan  para 

tetangga,  juga  dengan  para  pejabat  di  kelurahan.  Ia  dipilih  menjadi  Ketua  Rukun  Warga  03, 

Kelurahan Padasuka, Kecamatan Ciomas.

Pak RW baru ini, selain melaksanakan amar ma’ruf  (mengajak orang kepada kebaikan), ia pun 

melakukan  nahi munkar  (mencegah  kemunkaran).  Dia  tegas  terhadap  para  preman  yang  suka 

mengganggu orang lain.

Seorang pemuda gondrong yang suka minta THR di tengah malam kepada penduduk, khususnya 

kepada  para  pendatang  baru,  pernah  diundang  Pak  RW  ke  rumahnya.  Begitu  masuk,  dengan 

ramah, Pak RW persilakan tamu itu duduk. Preman itu tidak tahu mau dikasih hadiah apa sama 

pimpinan di daerah itu. Pak ustaz masuk ke bagian dalam rumah dan membawa benda panjang 

bersarung. Senjata tajam itu dikeluarkan dari sarangnya, dan tiba-tiba, ditempelkan ke leher itu 

pemuda. “Kalau kamu berbuat macam-macam lagi di kampung ini, golok ini tidak akan diam!” 

Preman itu, seketika minta ampun. Dia menangis ketakutan.

Pak RW melakukan shock teraphy  bahwa jangan  coba-coba lagi mengganggu  orang lain.  Jika 

tidak, beliau tidak akan segan-segan bertindak. Tak urung, pemuda berambut panjang  itu ngeper

setengah mati.

Satu sore sekelompok pemuda, di sebuah saung, berjudi, main kartu. Atasan para RT, ini datang 

ke  tempat  itu.  Diobrak-abriknya  itu  tempat  judi.  Semua  peserta  berlarian.  Akan  tetapi,  apa 

kemudian yang terjadi?

Malam  itu  juga,  puluhan  pemuda,  membawa  obor  menyala-nyala,  mengelilingi  rumah  imam 

musala  itu.  Rumah  itu  mau  dibakar!  Mereka  mengancam  agar  penghuninya  segera  pergi  dari 

wilayah  itu.  kalau  tidak,  rumah  itu  akan  dihanguskan.  Keesokan  harinya  saya  bersilaturahmi 

kepada keluarga Pak Guru. Beliau kebetulan tidak sedang di rumah. Kami bertemu istrinya saja.

Saya dan istri berbicara dengan Bu Guru yang salah satu anak didiknya, seorang yatim, tinggal 

bersama kami.

“Pak  Jonih,  kalau  kami  tetap  tinggal  di  sini,  anak-anak  kami  mau  jadi  apa  nanti?”  Kok,  ada 

lingkungan  masyarakat  seperti  ini!  Kami  mau  pulang  saja  ke  Cianjur,”  Bu  Guru  dengan  nada 

sedih berkata kepada kami.

Beberapa  hari  kemudian  orang  yang  sangat  aktif  bermasyarakat  dan  banyak  berkhidmat 

melayani  umat  ini,  bersama  keluarga,  meninggalkan  wilayah  yang  sedang  dibinanya.  Dia 

dizalimi  oleh  sekelompok  anak  muda  yang  tidak  suka  kepadanya,  lantaran  kesukaan  mereka 

diganggu. Semoga Tuhan berikan kepada beliau beserta keluarga tempat yang berkah. Aamiin

Antara Stasiun Bogor-Stasiun Cawang, 16 Juli 2013

Salam,

jr

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tag: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.