Karya Tulis

Indahnya Alam Nusantara (Ciapus-Bogor)

kamis tanggal 23 Maret 2016, putra-putri Yayasan Ar-Rahmah mendapatkan kesempatan untuk menikmati sejuknya bermalam di ciapus dan segarnya suasana pagi disana.

sesampai di lokasi menginap kami langsung menempati tempat yang telah disiapkan oleh yang empunya rumah, ada yang tidur di dalam kamar, dan ada yang tidur di teras saung tepat di depan kamar, tentunya yang mengisi kamar dan ruang depan adalah anak-anak putri sedangkan anak putra mengisi teras belakang. minimalis tapi sungguh mengasikkan.

pada pagi hari kita awali dengan shalat subuh, kemudian dilanjutkan dengan sharing sesion dari anak-anak.

untuk anak putri diwakili oleh Reza Samira Lubis dengan membawakan kisa tentang seseorang yang berbuat baik kepada orang lain. begini ceritanya:
suatu saat nanti ketika kita meninggal, dan di makamkan dalam sebuah pekuburan dnegan ukuran 2×1 meter. itupun di tutup dengan papan sehingga tingginya mungkin hanya 30-40cm sahaja.

sendiri dalam gelap dan ditinggalkan oleh orang-orang yang terkasih. karena memang tidaklah mungkin orang yang masih hidup menemani orang yang sudah meninggal.

setelah mereka pulan dari takziah, akan datang sesosok makhluk yang indah rupanya yang dengan setia menunggu dan menemani dalam kesendirian dalam kuburan.

selain menemani kita, ia juga mengajak kita untuk jalan-jalan menikmati keindahan alam setelah hidup. ketika ada hal-yang indah itu memang buat kamu, ketemu hal indah lagi itu memang untuk kamu. namun ketika kita bertemu dengan hal-hal yang tidak mengenakan dan buruk itu bukan untuk mau. ketemu yang buruk lagi itu bukan untuk kamu, kita lanjutkan lagi perjalanan kita.

pada akhir perjalanan kita akan bertanya kepada mahkhluk yang indah itu, siapa gerangan anda ini, semasa hidup saya seingat saya, saya tidak memiliki teman seperti anda, indah dalam rupa dan santun dalam berperilaku dan berkata.

image

makhluk itupun menjawab, saya adalah rasa bahagia yang engkau berikan kepada orang lain dalam senyum, tawa, suka dan tangis kebahagiaan.

indah sekali yaa buah dari kebaikan yang telah kita berikan untuk orang lain dan itu senyatanya kebaikan tersebut kembali pada kita.

setelah samira selesai menyampaikan sharingnya, kemudian dilanjutkan oleh anak putra dan kali ini diwakili oleh putra Banten yaitu saudara Ali dengan nama lengkap Khairul Amali (sebaik-baik sebuah perbuatan).

dia berkisah salah satunya tentang keutamaan melaksanakan shalat di masjid, yang memiliki nilai 27 derajat dihadapan Allah. sebaik-baik dari seorang laki-laki adalah orang yang shalatnya di masjid, percuma bisa joging atau lari berkilo-kilo gram …. eh berkilo-kilo meter maksudnya, tapi ke mesjid yang jaraknya tidak nyampai 100 meter berat sekali.

jadilah lelaki tangguh yang kuat kemasjid dan kuat joging berkilo-kilo jauhnya. hehehehe begitulah sharing yang disampaikan dari perwakilan kedua anak asuh kami pada pagi yang sejuh, indah menyegarkan itu.

image

kegiatan kami lanjutkan dengan sarapan naskun (nasi kuning) kalau kata ibu yang punya tempat bilangnya nasi ulang tahun. memang naskun sangat identik dengan perayaan ulang tahun. walau tidak nendang (kurang kenyang) kami menikmatinya dengan sangat lezat sekali.

ada beberapa anak yang memesan minuman hangat mulai dari kopi, susu dan lainnya. tentu saya paporit adalah kohpi naga terbang alias kopi hitam, seruput demi seruput menemani menikmati sejuknya pagi itu.

setelah selesai sarapan dan minuman hangat, kegiatan selanjutnya adalah Tracking… info dari bapak pemandu yang akan mengantar kan kami berkeliling, area tracking yang akan kami lalui adalah area yang disebut oleh warga adalah “kawasan tsunami kecil di kampung” sepertinya akan menarik.

perjalananpun dimulai dengan membaca basmalah.

image

melewati pematang sawah dan jalan setapak, mmmm awal yang sangat mengesankan. setelah melewati jalan setapak, dan keluar dari perkampungan kami mulai memasuki area persawahan, subhanallah wow sungguh indah sekali, hamparan hijau yang di ujungnya terpampang gunung salak yang gagah dan hijau.

image

berpose di tengah sawah, diatas pematang dengan berlatar hamparan sawah dan gunung salak nan indah, sejuk segar, panas mentari terasa hangat dan menyegarkan tidak lelang karena telah terobati oleh segarnya udara dan indahnya pemandangan.

di ujung pematang sawah yang kami lalui ada kami mulai mendengan suara gemericik air, anak-anakpun berteriak…. aaaaaiiiiiiirrrrrrr, serasa orang yang telah melewati hamparan padang pasir, lebay dikit. hehehehehe.

ada aliran sungai kecil nan jernih, begitu kaki mencemplungkan diri, cesssssss segernya nagih sekali. ingiin rasanya berendam dan belama-lama di sungai tersebut.

image

image

nyesss bangetlah rasa airnya, ingin minum tapiiiii, sudah lah….. maklum udah lama minum air matang jadi ragu kalo ketemu air mau langsung minum.

. . . .  . to be continue
mau nyiapin buat kerja dulu. nanti malam kita sambung lagi kisah perjalanan mengitari sungah dan mendaki lembah.

 

Mari kita lanjutkan cerita kita tentang indahnya bukit di kaki gunung salak.

Nyessss….

Kesejukan air sungai “mini” menemani perjalanan kami, tidak disangka sungai ini cukup panjang. memang sungai ini terlalu kecil jika disebut sebagai sungai. kalo di kota atau diperkampungan mungkin ini bisa disebut sebagai selokan, tapi sungguh jernih dan bebatuan menghiasi indahnya air beriak.

sampai di penghujung sungai, walau belum ketemu ujungnya, hehehehe. perjalanan berlanjut dengan pendakian, huft… karena faktor badan yang tidak langsing heheheh karena gendut sudah terlalu mainstream. nafas begitu berat dan terengah, berkeringat di udara yang sejuk itu seperti dalam sebuah ruangan ber air conditioner (AC).

akhirnya sampai juga di atas, awwwwww…. saya kira perjalanan dicukupkan karena memang perjalanan menyusuri pesawahan dan sungai bukan jarak yang dekat. tapi ternyata masih berlanjut menuruni bukit yang tadi kami daki. sesampai di bawah kami bertemu kembali dengan sungai yang jernih tadi, bedanya kami tidak berbasah disana melainkan melewatinya melalui jembatan, dan sungai itu hanya bisa menyapa dan menggoda untuk di resapi sejuknya.

pendakian berlanjut, bingung dibilang bukit tapi kok yaaa tinggi sekali, kami menyusuri jalan seukuran jalan raya namun tidak seperti jalan raya karena tidak dibuat dengan aspal, paping blok atau tembokan semen tapi terbuat dari susunan batu yang disusun dengan sangat rapih dan kokoh. jika tidak ada susunan batu tersebut pendakian ini akan sangat sulit karena tipe tanahnya berupa lempung coklat dan akan sangat licin bila basah, sedangkan kita baru selesai berbasah-basahan walau sedikit mengering karena pendakian pertama setelah meninggalkan sungai.

perjalanan indah ini terus berlanjut dan kami disuguhi pemandangan yang subhanallah, maha suci engkau yaa allah indah sekali. pemandangan lembah berbukit dan tidak dinyana tadi kami ada dibawah dasar bukit yang sekarang kami lihat ada jauh di bawah kaki bukit yang sedang kami daki.

sesekali sepanjang perjalanan kami berfoto ria, seolah-olah tidak ingin menyia-nyiakan pemandangan indah yang disajikan oleh Allah untuk manusia. semoga saja batery dan memory kamera tidak habis. heheheeh secara pemandangan seindah ini sangat sayang jika tidak diabadikan.

pendakian yang sungguh berat dan tanpa persiapan. karena awalnya perjalanan ini akan berakhir di jembatan di bawah bukit, tapi tak disangka sang porter Mr. Turi mengajak kami untuk naik level yaitu mendaki buki, mengitari bukit indah ini.

tidak ada persiapan mendaki sama sekali, tidak ada air minum selama perjalanan, tidak ada dopping atau snack apapun, karena pendakian ini sungguh tidak direncanakan. walaupun demikian kami tidak menyesalinya pemandangan yang indah, udara yang sejuk dan air sungai yang dingin telah mengalahkan rasa lelah yang kami rasakan. that is worth it.

perjalanan panjang nan indah inipun berakhir di rumah yang sama dimana kami memulai perjalanan yaitu kediaman Mr. Turi.

acara dilanjutkan dengan membuat minuman dingin dan  panas, bebas memilih untuk menghilangkan dahaga yang selama perjalanan hanya disuguhi pemandangan yang indah dan udara yang sejuk.

Istirahat selesai, dilanjutkan dengan belajar….

iya belajar, beneran belajar….

apa memangnya yang dipelajari??? Mencangkok… dan menyetek tanaman.

pematari adalah Mr. Turi, yup sang porter multi talented pertanaman.

demikian sharing perjalan indah, lelah, segar, belajar menjadi satu. simak postingan selanjutnya cerita dari setiap anak yang mengikuti kegiatan pendakian dan pembelajaran ini.

Support by:

Our Father Mr. & Mrs. Jonih Rahmat &

Yayasan Ar-Rahmah Ciomas

Salam Hangat,

Pendamping:

Ajat Sudrajat, Debi Supriatna dan Eka Saripudin

 

image

Categories: Karya Tulis | Tag: , , , , , , | Tinggalkan komentar

…. Agar di Kasihi yg di Langit

“Jonih bukan hanya penulis, tetapi ia pelaku apa yang ia tulis.”

-Prie G.S. –Budayawan, Kartunis, Penyair, Penulis dan Public Speaker di Semarang.

“Banyak cerita yang menyentuh dan menginspirasi dalam buku terbaru ini. Favorit saya adalah cerita “Dan, Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”. Benar-benar seperti tamparan dan pengingat untuk bisa bersyukur. Now, I remember the days when I prayed for the things I have now… Proficiat, Pak! Tetap Berkarya!”

-Maria Benedicta. –Engineer di Perusahaan Oil & Gas.

“Membaca setiap kisah dalam buku ini, seakan kita turut menikmati asyiknya blusukan ke mana-mana, yang saya rasa sangat mengesankan dan bermakna karena mengenai apa yang benar-benar dilakukan oleh yang bertutur.”

-Nyoman Suta. –Petroleum Explorationist.

“Saya terharu dan tercerahkan membaca buku ini. Terharu karena hal-hal kecil yang diamati dan dituliskan Kang Jonih bisa disarikan menjadi panduan praktis kehidupan yang sederhana dan mudah diterapkan.”

-Ade Dian Hardiana. –Manager Teknologi Informasi  di  Perusahaan Multinasional.

“Setelah membaca buku ini, semakin jelas dan tegas bahwa untuk hidup bahagia dirahmati Allah, kuncinya memang satu” ‘Sayangi yang di Bumi, Engkau Akan Dikasihi oleh yang di Langit!’”

-Kiai Maman Abdurrahman. –Pesantren Nurul Hikmah Cisarua, Cimahi.

“…membuat saya bisa melihat hal-hal sederhana menjadi penuh makna, seperti yang Penulis lakukan setiap hari… jika Anda Ingin menjadi orang yang pandai bersyukur, bacalah kisa-kisah yang disajikan dalam buku ini.”

-Edvan M Kautsar. -Motivator Passionprener (http://edvanmkautsar.com)

Demikian testimoni dari orang-orang yang telah membaca Buku: Sayangi yang di Bumi, Engkau Akan Dikasihi oleh yang di Langit. Apa kiranya yang terkandung dalam buku tersebut, yang membuat orang terpesona dan jatuh cinta untuk membacanya.

Siapa yang tidak tertarik dikasihi yang dilangit? kasih dari Hamba yang senantiasa tunduk, patuh dan dekat dengan yang Maha Pengasih.

Penasaran dengan isi bukunya?

Ayooo…Beli, Baca dan bagikan bukunya. Supaya orang yang ada disekitar kita mendapatkan kebaikan dari isi buku ini dan ikut dikasihi yang dilangit.

Tertarik???

Buku telah tersedia di:

1. Yayasan Ar-Rahmah

Jl. Cikerti Perum. Pondok Kencana Permai Blok A/10 Ds. Padasuka Kec. Ciomas Bogor 16610

WA/SMS: 089632728262/eka saripudin

PIN: 5D6D0505

2. Toko Buku Gramedia di Kota Anda.

image

Categories: Karya Tulis, News | Tinggalkan komentar

Buku Tentang Kebaikan

buku tentang kebaikan.jpg

Allhamdulillah kini sudah hadir buku ke dua kang Jonih ” Buku Tentang Kebaikan” yang bisa di dapat di toko buku Gramedia terdekat.

Synopsis

“Keindahan satu agama, terutama bagi pemeluk agama lain, bukan pertama-tama terletak pada sistem dan argumentasi filsafat serta teologinya, melainkan bagaimana agama itu menampakkan diri dalam warna-warni praktis hidup keseharian. Di tangan Kang Jonih peristiwa sehari-hari, termasuk peristiwa yang dialaminya sendiri, mampu memperlihatkan keindahan percik-percik cahaya Islam, yang dengan mudah bisa diterima dengan sukacita oleh siapa pun. Dia mampu melakukan itu, saya yakin. Karena dia memiliki ‘cahaya besar’ yang menuntunnya untuk melihat yang tidak kita lihat. Sungguh, saya menikmati percikan-percikan cahaya itu.”
—Her Suharyanto. Editor, writing trainer, ghostwriter; jurutulis.com

“Inspiratif dan menggugah! Itulah yang saya rasakan setelah tuntas tanpa henti melahap buku kedua karya Kang Ustaz Jonih Rahmat ini. Betapa tidak, pilihan sumber, gaya penulisan yang begitu bersahabat, lezat, dan penuh gizi spiritual sampai lembar terakhir menjadikan buku ini oasis bagi kita yang tengah haus memperoleh kisah-kisah sejuk di tengah gemuruh korupsi dan berbagai kejahatan di tanah air. Soren Kierkegaard, seorang pemikir religius dan filsuf besar Denmark mengatakan, ‘Tanda-tanda buku yang baik adalah bila buku itu membaca Anda.’ Kang Jonih yang saya tahu sudah mewakafkan hidupnya untuk kebaikan, kembali berbagi kebaikan lewat tulisannya. Buku ini mampu membersihkan kembali semangat spiritual para pembacanya. Karena kisahnya mampu mengoreksi hidup—setidaknya hidup saya. Bukankah kata Socrates, ‘Hidup yang tidak diperbaiki tidak layak dijalani?’”
—Unu Nugraha. Wartawan

“Tafakur atas segala fenomena adalah bukti ikhtiar pencari hakikat; tebaran hikmah akan tercurah kepadanya. Buku ini adalah buktinya.”
—Dr. Akhmad Sodiq. Dosen Akhlak Tasawuf UIN Syarif Hidayatullah

“Buku tentang Kebaikan mengalir bagai air sejuk di tengah bangsa yang panas oleh hiruk pikuk politik dan degradasi moral. Buku ini bisa menjadi motivasi bagi anak bangsa untuk berbuat baik dan berkarya.”
—Achmad S. Adeng. Praktisi industri hulu migas

“Ini bukan buku! Ini simbol perpanjangan tangan Tuhan untuk kesadaran menuju amal kebaikan. Cerita kebijakan yang dikemas ringan; penuntun kebaikan. Sungguh luar biasa…menyentuh jiwa!”
—Febrina Orsidisa. Trainer The Source Body, Mind and Soul

“Sharing yang Kang Jonih tulis menjadi topik favorit dalam keluarga besar kami. Saya dan keluarga besar sangat menikmati tulisan-tulisan tersebut. Karena tulisan-tulisannya dibawakan dengan ringan, edukatif, mencerdaskan, dan menyentuh nurani.”
—Anita Esye. Ibu rumah tangga

“Menakjubkan…tak tertandingi! Banyak ilmu bermanfaat yang dapat kita amalkan dari buku ini.”
—Nunu Nurcahyani. Pencinta alam

Categories: Karya Tulis | Tinggalkan komentar

Riwayat sepotong tempe goreng

Back to history. Sejarah memang sangat sayang untuk dilupakan apalagi sejarah itu bagian dari perjalan hidup kita. Bagaimana gambaran yayasan tempo dulu? dan bagaimana ibu/bapak berjuang keras demi untuk menyekolahkan sampai lulus.sepatutnya bisa memacu teman-teman lebih semangat lagi dalam mencari ilmu dan meraih kesuksesan. Sungguh berbeda jauh kondisi yang ada sekarang. Untuk itu mari kita simak ceritanya ….

Ada sebuah cerita dimana waktu itu kamis sore saya memasuki halaman yayasan ar-rahmah. Sambil bertanya di persimpangan barang kali ada yang tahu soal yayasan ar-rahmah. Sesampainya digang, saya bertanya bukan dengan alamat yayasan ar-rahmah, tapi saya bertanya di mana rumah bapak jonih? ” mendengar nama itu orang yang tadi saya tanya tampak sudah tidak asing lagi dan lalu mencoba menujukan arah jalan menuju yayasan.

Sehabisnya melewati gang sempit, tampak ada kerja bakti kecil membetulkan saluran pipa yang ada di depan yayasan. Melihat ada sebuah pagar rumah tingkat saya bertanya-tanya? apa benar ini yayasan ar-rahmah? Lirikan mata tidak sengaja menoleh papan yang bertuliskan Yayasan ar-rahmah majelis ta’lim dan bantuan pendidikan anak yatim. Memendang sejenak dan membaca ulang sejenak, inikah yang namanya yasayasan itu. Membaca tulisan anak yatim saya menjadi amat tertekan dan sedih, kenapa harus saya? apakah ini jalan yang terbaik? ya ketika sadar bahwa status saya berubah menjadi anak yatim

suasana tampak begitu rimbun diteduhi pohon besar dan beberpa pohon kelapa sehingga tampak sejuk halaman depan yayasan ar-rahmah ini. Dari teras tampak ibu jonih sedang asik ngobrol dengan tamu. Waktu itu memang saya belum pernah melihat bapak jonih, ada yang bilang ke eropa sana.

hari pertama tampak begitu rame sekali ternyata ada acara maulid nabi. sontak beberapa memainkan alat musik dan rebana hingga suasana begitu meriah. Deden pandai memaikan alat musik dan beberapa teman sebaya. larut malam pun tiba. akhirnya saya bingung dimana saya harus tidur? alhasil a firda memberikan space buat saya untuk tidur ditempatnya. ya alhamdulillah.

waktu itu anak putra masih 13 orang.. zeni,adi,ajat,om cay, emung, eka, firda, mamet, iwan, debi, ichsan, asep dan juga dado dan deden memang baru masuk. anak putri sekitar 19-an.

memang tempat tidur waktu itu kelihatan masih belum terorganisir, hanya ada 2 kamar yang berpintu dan sisanya tidur diruangan. dan saya termasuk orang yang serba numpang dari segi tempat tidur dan juga lemari pakaian. hanya beberapa orang saya yang punya lemari baju. untungnya teman-teman di yayasan ramah-ramah dan emung pada saat itu menawarkan untuk mengisi sebagian lemarinya untuk pakaian saya.

Lagu nasyid, ya sehabis subuh itu diputar lagu nasyid. Lagu itu saya pikir lagu ciptaan anak-anak yayasan. the fikr, hidayah iilahi. memang firda fans berat nasyid jadi dimana ada dia pasti lagu nasyid di putar.  Diantara lagu populer yang sering dinyanyikan yaitu lagu yang tak tahu judulnya, ya intinya lagu untuk menuju yayasan ar-rahmah…

Bogor lautan angkot

aku kebogor oh ya naik angkot

hah hari pertama begitu banyak kejutan, dan pada hari itu juga niat saya untuk tinggal di yayasan mulai di uji. Apakah saya akan betah tinggal di yayasan? melihat lagi niat yang sudah di bawa dari rumah, saya hanya ingin sekolah dan bisa menjadi lebih baik membuat semangat itu muncul kembali. kadang ingat apa yang ibu jonih bilang, orang yang sukses itu kebanyakan orang yang jauh-jauh di luar kreteg.

ibu juga menasehati bahwa hidup di yayasan itu serba sederhana termasuk dari segi makan. Cukup Tempe dan sayur juga kadang ditemani ikan asin. Dan paling penting dari yang penting dalam aturan makan. Piring dan gelas diatur dan dinamai masing-masing jadi ngak sempet ketuker lagi dan tidak ada lagi tumpukan piring kotor. Jangan menyisakan sebutir nasi sedikitpun. wah saya dari sini mulai belajar menghargai betapa susahnya untuk membeli lauk pauk.

puasa senin kamis termasuk juga dalam aturan yang harus dikerjakan dan yang pasti shalat harus berjamaah di masjid, apalagi shalat subuh yang digilir, yang satu di mushola dan yang satu lagi di masjid al hamid. dan ketika itu masih ada ust sunarno alhamdulillah dari beliau cukup banyak memetik ilmu yang bermanfaat.

Hari minggu adalah hari pengajian bersama pertama kali diadakan jam 10. pagi di teras rumah ibu/bapak. Setelah pengajian selesai sampai kira-kira masuk waktu shalat dzuhur. setelah itu acara bebas alias istirahat, kadang suka dipake nyuci baju dulu ntar setelah itu bisa istirahat. Memang waktu libur sangat terasa sepi jika tak ada kegiatan/kerja bakti apalagi ditambah tidak ada tugas. sleep alone….

hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. banyak penyesuaian dan begitu banyak perubahan dari berbagai segi terutama pengetahuan tentang agama jadi lebih mendalam lagi. Dulu yang namanya shalat sunat dhuha belum pernah dilakukan bahkan baru tahu ternyata manfaatnya begitu besar. sama dengan shalat sunat yang lain yang diperkenalkan di yayasan ar-rahmah ini.

Ketika harus pindah ke sawah

migrasi, ya. ketika tempat dikreteg tidak mampu menapung anak2 yang baru masuk yayasan sebagian mulai dipindahkan kesawah. Awalnya sebanyak 8 orang mulai diungsikan ke sawah, mulanya hanya sekedar “kemping” di saung pak amut lama kelamaan saung itu direnovasi dan sapi pun dipisahkan dari tempat semula. Bayangkan saja saungnya deket kandang sapi…  wuihh yang pasti nyamuknya kelaperan terus dan jumlahnya banyak.

Suasana Sawah dengan pemandangan saung semi permanet

memang pindah kesawah bukan pilihan favorit sebab selain belum ada listrik juga tidak ada untuk MCK. Kalaupun mau mandi ya harus ke alhamid dulu… ya lumayan jauh, sudah mandi segar sekali eh pas nyampe saung sudah gerah lagi..  memang agak memakan waktu yang lama untuk membangun saung pertama, saung ini memang tidak permanen semua dibangun dengan kombinasi kayu dan bambu dengan dilapisi bilik.

Di sawah ini pula lah banyak kejadian yang tak bisa terlupakan, waktu itu dapur belum masuk ke sawah jadi makan harus ada yang ambil oleh yang piket secara bergiliran. Kebetulan pada saat itu bulan puasa datang dimana buka puasa di sawah dan sahur di kreteg. Jam 03 pagi itu minimal sudah pada bangun dan langsung bergegas menuju gang H.Lasim. Jalan setapak memang tidak ada yang melewati al-hamid, namun rute ini boleh di bilang short-cut terdekat menuju gang lasim. Sudah tidak ada lampu dan tidak ada penerangan apapun kecuali memang pada saat itu ada bulan purnama jadi jalan agak terang. Parit sawah tak selebar sekarang ini, dulu hanya bisa dilalui oleh satu orang saja jadi kalo ada dua orang berpapasan ya otomatis yang satu harus mengalah..

Belum nyampe gang H.Lasim pernah pagi jam 3 an. Bisa kebayang kan.. betapa Reza terpersosok dari parit dan sampai ngak bisa bangun… anehnya yang nolong juga malah ikut kecebur ke sawah… sungguh tragis. Udah mah ngantuk eh malah kecebur dan terpaksa berjalan dengan kaki berlumpur.. sampai gang haji lasim kami sahur dengan kaki berlumpur

 

to be continue….

Categories: Karya Tulis | Tinggalkan komentar

MALAIKAT CINTA

9789792271164.jpg

“… ceritanya seru dan very inspiring.”

Erry Ferliani, Jakarta.

“Membaca pengalaman haji Kang Jonih, saya meneteskan air mata.”

Helmy Djamil, Singapura.

“Sejujurnya saya sampaikan, jadi ingin pergi haji lagi!”

Benny Bensaman, Papua.

”Imajinasi saya langsung turut merasakan kehadiran di lokasi bagaikan kamera!”

Slamet Budhiharto, Bandung.

“Ingin tertawa, ingin menangis juga. Bahasanya sederhana, namun penuh ‘pengalaman mistis”’.

Arif Mulyadi, penulis buku laris “Dicintai Allah dengan Shalawat”.

“Buku ini menggiring saya untuk makin bergelora agar segera berkunjung ke tanah suci. Haru, senang, sedih, dan takjub; disajikan dengan rancak oleh penulisnya.”

Dodi Mawardi, penulis buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”.

“Buku tentang berhaji yang bahkan untuk saya yang tidak wajib berhaji terasa begitu inspiratif. Keluwesan bertutur dan keluasan cakrawala pengetahuan penulis membuat buku ini amat layak Anda baca hingga titik terakhir!”

Anang Y.B., penulis buku autokritik “Sandal Jepit Gereja” & pengelola http://www.GhostwriterIndonesia.com.

“Tuhan bersabda, ‘Mintalah, maka itu akan diberikan kepadamu’ (Luk11: 9). Pengalaman penulis menunaikan ibadah haji merupakan bukti bagaimana Tuhan menepati sabda-Nya. Dituturkan dengan ringan namun penuh makna, buku ini merekam perjalanan seorang hamba ke rumah Tuhannya dan menginspirasi pembacanya, tidak hanya umat Islam, untuk juga melakukan peziarahan mereka sendiri.”

Woro Ireng Renoati, psikolog.

“Ibadah haji sesungguhnya adalah perjalanan cinta seorang hamba menuju Sang Maha Pencinta. Dan ketika cinta yang menjadi landasannya maka segala keajaiban akan terjadi. Dengan gaya bahasa bertutur yang mengalir lancar Jonih membuktikan berbagai keajaiban yang ia alami sendiri. Sesuatu yang bisa terjadi pada siapa saja yang melakukan sesuatu dengan penuh cinta.

Arvan Pradiansyah, penulis best seller “The 7 Laws of Happiness” & Narasumber talkshow Smart Happiness di SmartFM Network.

“Ada ajaran agama berupa teks Kitab Suci yang kita amalkan menjadi ibadah lahiriah formal, lalu kita sertai dengan kontemplasi yang mendalam sehingga menjadi pengalaman spiritual yang transendental, lalu dimanifestasikan berupa cinta terhadap sesama menjadi karya-karya sosial; maka sempurna-utuhlah agama itu. Jonih sudah memelakukan dan mengalami itu semua. Ia telah merasakan nikmatnya beragama yang penuh makna, bukan semata citra; agama yang kemesraan bersahabat dengan Tuhan sama indahnya dengan kemesraan bercengkrama dengan anak yatim dan fakir miskin; agama yang rahasia Tuhan menjelma menjadi tawa ceria kaum dhuafa. Jonih sudah bisa bercanda dengan Allah. Dengan buku ini Jonih membukakan pilihan bagi kita bagaimana memaknai haji: sekadar ritualisme berbalut shopping atau dengan jihad berbalut takwa dengan pulang membawa oleh-oleh cinta universal.”

Ustaz Wahfiudin.

“Kisahnya mengharukan, menyentuh kalbu, menggugah rasa, mampu menginspirasi dan menggerakkan Anda untuk semakin mencintai Nabi dan Sang Pencipta. Anda juga akan menemukan puisi rohani dan doa-doa yang sangat indah dan bisa Anda gunakan.” (gramedia.com)

Categories: Ibadah Haji, Karya Tulis, Motivasi | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.