Author Archives: saunkfamily

Kerjabakti di sore hari


Di sore hari yang ceria, di temani dengan adik-adik kami di yayasan, yang sangat bersemangat dengan melakukan beberapa kerjabakti, diantaranya mengambil tanah dari tempat lain yqhg kemudian di angkut untuk bahan mengisi polibag, lalu sebagian anak-anak mencari bahan stekan di area kami, setelah polibag terisi  mulailah  anak-anak menanam dengan berbagai jenis tanaman, seperti bougenvile, puring, bunga sepatu dll. 

Dengan besar harapan kami dari hasil tanaman tersebut dapat membantu biaya kehidupan kami, juga bermanfaat bagi oranglain. 

Iklan
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Bunga suweg

bunga-raflesia-suweg
Suweg
adalah tanaman anggota marga Amorphophallus dan masih berkerabat dekat dengan bunga bangkai raksasa (A. titanum) dan iles-iles (A. muelleri). Suweg sering dicampurbaurkan dengan iles-iles karena keduanya menghasilkan umbi batang yang dapat dimakan dan ada kemiripan dalam morfologi daun pada fase vegetatifnya. Nama lainnya adalah porang, meskipun nama ini juga dipakai untuk iles-iles. Nama-nama dalam bahasa lain: elephant foot yam atau stink lily, teve , jimmikand, suran, chenna, ol , serta oluo.

Suweg adalah tanaman asli Asia Tenggara dan tumbuh di hutan-hutan kawasan Malesia, Filipina, serta India tropik (bagian selatan). dan saat ini di pondok kami yayasan yatim ar-rahmah tumbuh bunga yang termasuk sulit untuk di jumpai, apalagi bunga ini hanya bertahan beberapa hari saja.

setiap pagi ibu-ibu yang mengantar anaknya untuk pergi ke PAUD alam ciomas sesekali ke taman yayasan hanya untuk melihat bunga tersebut, sambil mengabadikan bunga dengan handphone pintarnya mereka merekam bunga langka ini.

bunga-raflesia

pada permukaan tangkai daun suweg kasar bila diraba, berbeda dari iles-iles yang halus; tangkai daun pada ketinggian tertentu (dapat mencapai 1,5 m) menjadi tiga cabang sekunder dan akan mencabang lagi sekaligus menjadi tangkai helai daun.; helai daun ada yang menyatu pada tangkai daun. Suweg tidak memiliki tonjolan berwarna cokelat kehitam-hitaman (disebut bulbil) pada bagian percabangan tangkai daun, sebagaimana iles-iles.

Bunga muncul apabila simpanan energi berupa tepung di umbi sudah mencukupi untuk pembungaan. Sebelum bunga muncul, seluruh daun termasuk tangkainya akan layu. Bunga tersusun majemuk berupa struktur khas talas-talasan, yaitu bunga-bunga tumbuh pada tongkol yang dilindungi oleh seludang bunga. Kuntum bunga tidak sempurna, berumah satu, berkumpul di sisi tongkol, dengan bunga jantan terletak di bagian distal (lebih tinggi) daripada bunga betina. Struktur generatif ini pada saat mekar mengeluarkan bau bangkai yang memikat lalat untuk membantu penyerbukannya.

Perbanyakan secara generatif dengan biji atau secara vegetatif dengan anakan umbi.

sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Suweg

 

Categories: News, Uncategorized | Tag: , , , , , | Tinggalkan komentar

#TentangKebaikan : TULISAN BERMANFAAT

“Setiap terima tulisan Bapak, saya langsung baca, kemudian saya save ke folder khusus,” sambil berjalan kaki di lantai delapan Hotel Padma menuju lantai atas, Pak Sapei bercerita kepada saya.

“Dan, karena tulisan-tulisan yang Pak jonih kirim itu, saya menjadi terinspirasi untuk mulai menulis. Dalam beberapa bulan ini, sudah banyak tulisan, mengenai apa pun, saya buat,” praktisi hukum ini meneruskan.

“Wah, senang sekali saya mendengarnya! Jika sharing-sharing yang saya kirimkan kepada teman-teman memberikan manfaat, saya bahagia,” sambil masuk ke lift saya mengomentari.

Pak Sapei tidak seorang diri, beberapa kawan – di gedung yang sama maupun berbeda, menyampaikan kepada saya bahwa mereka mempunyai fail khusus untuk menyimpan tulisan-tulisan yang saya kirimkan.

“Email-email Pak Jonih senantiasa memberi inpirasi kepada saya. Selalu saja ada hal baru yang saya dapatkan,” seorang ustaz muda di Jakarta mengomentari coretan-coretan yang saya bagikan.

Pak Firman, kawan yang bekerja di sebuah instansi startegis bidang keamanan negara, setelah menerima tulisan berjudul “Minta Kain Kafan”, menulis, “Menyentuh sekali! Kapan tulisan ini dibukukan?”

Beberapa bulan lalu saya dinas ke Kabupaten Bula Timur di Pulau Seram. Ada ratusan orang bekerja di sebuah lapangan minyak bumi. Salah seorang pimpinan di tempat itu bercerita kepada saya bahwa ia dan teman-temannya mendapatkan banyak manfaat dari pelajaran bahasa Indonesia yang saya kirimkan melalui email. Bahasan ringan mengenaii pemakaian bahasa Indonesia sehari-hari, khususnya di lingkunagn perkantoran yang dikemas dengan bahasa sederhana; lalu  saya beri judul Mari Belajar Bahasa Indonesia, ternyata memberikan manfaaat, sampai ke orang -nun jauh di Kepulauan Maluku!

“Kadang, perbedaan pemahaman mengenani kata-kata dalam bahasa Indonesia, di sini,  menjadi penyebab kesalahan pemahaman di antara kami. Dengan pembelajaran dari Bapak, kami merasa sangat terbantu,” Pak Yazid Kepala Lapangan Bula, menerangkan.

“Apakah Ustaz berminat menerima kiriman sharing-sharing saya?” kepada seorang ustaz senior yang pernah lama belajar di Salafi, Muhammadiyah, dan NU; saya berkirim sms.

“Sangat berminat! Sebab, tulisan-tulisan Antum sangat ber-nas,” ustaz yang sangat luas pemahaman keagamaannya dan mendalami filsafat dan tasawuf ini, menjawab tawaran saya.

Apabila apa yang kita lakukan, sekecil apa pun -walau sekadar tulisan-tulisan ringan, memberikan manfaat kepada orang lain, kita bersyukur kepada Tuhan. Semoga Allah menetapkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur. Allaahumma ainnaa ‘alaa dzikkrika wasyukkrika wa husni ibaadatika. Aamiin.

Ciumbuleuit, bakda Zuhur, 18 September 2014

Salam,
jr

Categories: #TentangKebaikan | Tag: , | 1 Komentar

MINTA KAIN KAFAN #TentangKebaikan

Bersiap Menjemput Maut Setelah Dipatuk Ular

Yayah, nenek berusia  tujuh puluh tahunan, setelah ditinggal Kosim, suaminya, hidup bersama seorang anaknya -yang juga sudah berusia dan terserang stroke.

Ia tinggal di Kampung Cigulusur, Desa dan Kecamatan Cidolog, Sukabumi pedalaman. Untuk mencapai rumahnya, dari jalan desa, apabila hari tidak hujan, sebagian daripadanya, bisa ditempuh dengan kendaraan beroda dua. Jika air turun dari langit, jangankan dengan sepeda motor, jarak belasan kilometer itu ditempuh dengan jalan kaki pun, tidak mudah.

Apabila ada warga setempat yang sakit keras dan memerlukan pengobatan atau perawatan, pasien akan diangkut dengan menggunakan kain sarung yang dibelitkan ke bambu panjang. Dua orang lelaki perkasa, di tiap ujung bambu, menyediakan pundaknya untuk ditumpangi bulatan panjang itu. Banyak pasien ketika berangkat dari rumah menuju tempat pengobatan, sebelum tiba di poliklinik atau puskesmas, sudah keburu meninggal dunia.

Untuk mendapatkan upah agar bisa membeli makanan, Yayah bekerja kepada seorang tetangga. Pagi itu ia membungkuk-bungkukkan tubuhnya, memetik kacang tanah yang sudah memasuki masa panen.

Saat sedang asyik-asyiknya bekerja, sela-sela antara jari manis dan kelingking kanan nenek ini, merasakan sebuah sengatan. Seekor ular dengan panjang sejengkal telah mematuk telapak tangan orang tua itu. Si nenek berhenti sejenak. Ia pulang ke rumah. Rasa nyeri semakin menggigit. Hari demi hari luka menjadi menganga dan lengan kanan nenek membengkak. Setiap saat lubang luka mengeluarkan cairan berwarna putih.

Orangtua malang ini sudah tak bisa ke mana-mana. Seharian dan semalaman ia hanya telentang di tengah rumah. Setiap detik, menit, dan jam; dia menderita.

Merasa penyakitnya tidak akan sembuh, sementara usia juga sudah senja, ia sudah pasrah akan apa yang akan terjadi pada dirinya.

Amud, putra dari Kosim dan pernah dibesarkan oleh Nenek Yayah, jauh dari kota Bogor, menjenguk ibu sambungnya ini ke kampung, di Sukabumi pedalaan tersebut. Ia, sepulang dari desa, menyampaikan berita musibah ini kepada kami. Ibu Yayah berpesan agar disiapkan kain kafan. Sebab keluarganya tidak mampu untuk membeli kain putih itu, dan ia pernah mendengar bahwa di kediaman kami biasa tersedia itu kain pembungkus jenazah, ia menyuruh Amud, anaknya itu, meminta kain kafan kepada kami.
Mendengar orang sakit pesan kain kafan, miris rasanya. Bagaimana penderitaan dia  menghadapi maut yang segera akan menjemput. Bisa Anda bayangkan!

Saya tugaskan istri ke desa, mengajaknya untuk dirawat. Barangkali merasa harapan untuk selamat tidak banyak, dia menolak dibawa ke rumah sakit di kota Sukabumi. Seminggu kemudian, kami mendapat kabar, sakit Bu Yayah semakin parah. Tangan kanannya semakin membengkak, dan luka bekas gigitan binatang melata itu terus mengeluarkan cairan.

Bersama Amud, saya dan istri menuju kota Sukabumi. Ke Rumah Sakit Syamsudin, yang lebih dikenal sebagai Rumah Sakit Bunut, kami bertanya hal ruang rawat inap yang tersedia dan bisa terma atau tidaknya pasien tergigit ular. Setelah mendapat konfirmasi adanya kamar dan rumah sakit tersebut bisa menerima pasien korban gigitan binatang melata, dan mempersiapkan segala sesuatunya, saya dan istri kembali ke Bogor; Amud melanjutkan perjalanan ke kampung untuk menjemput ibunya.

“Jangan dibawa…jangan dibawa…kasihan!” menyaksikan sisakit ditandu dengan kain sarung dan bambu, beberapa ibu tetangga berteriak.

“Jangan menambah repot. Kalau mau bantu ke sini!” Amud membelas kekhawatiran para tetangga.

Rombongan pasien dan para pengantar menempuh dua-tiga jam perjalanan. Mereka tiba di Rumah Sakit Syamsudin, Sukabumi.

Setelah beberapa minggu mendapat perawatan medis, Yayah diizinkan pulang. Sesampai di kampung, nenek itu merangkul Amud, anak yang dia tidak pernah dilahirkannya. “Ternyata kamu sangat sayang sama saya! Kalau tidak diobati dan dibawa ke rumah sakit, mungkin saya tidak ada lagi di dunia ini!” orangtua itu menangis keras.

Nenek Yayah, walau pelan-pelan dan dengan sangat hati-hati, kini,  sudah mulai pulih kembali. Ia sudah bisa ke luar rumah, berjalan tanpa dipapah. Orang sakit parah, dan sudah bersiap-siap menyambut maut dengan memesan kain kafan itu, kini ia merasa hidup kembali.

Dalam perjalanan Bogor-Sukabumi-Bogor,  Mei; Bandara Pattimura, Ambon, 7 Juli; dan Cibinong 22 Agustus 2014.

Salam,
JR

Categories: #TentangKebaikan | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

#TentangKebaikan : JIKA WAKTU ITU TIBA

“Seorang anggota keluarga memasuki ruang pengasuhan. Kepada ustaz yang berjaga, ia sampaikan berita duka cita. Ibu dari seorang santri telah menghadap Rabbul Izzati. Dia datang ke pesantren agar anak itu diberikan izin bertemu wajah ibu untuk yang terakhir kali.

Sang kakak bilang, ‘Pulang dulu, Dik; Ibu sakit keras.’ Demi menjaga kecamuk rasa yang mungkin timbul, si kakak tidak bicara apa adanya.

Bayangkan, kamu pulang kampung. Setiba di desa dan semakin  mendekati kediaman, tampak bendera kuning di sana sini. Di halaman rumah, banyak orang berkerumun. Terdengar suara dari dalam, orang-orang membaca Yasin. Kamu masuk ke rumah. Di ruang tengah, sesosok tubuh, ditutupi kain putih, membujur kaku. Adik, kakak, paman, dan tante menatap dan merangkul kamu sambil tersedu-sedu.  Ibumu telah pergi menghadap Yang Mahakasih,” ustaz menyampaikan ceramah bakda Subuh di Masjid Asy-Syifa Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten.

Kami tiba di itu pesantren, pas shalat Subuh baru usai. Badan lemah, lelah, dan lusuh lantaran perjalanan panjang dari arah wetan, agak terobati. Sebab, anak yang kami pinjam dari pihak pesantren bisa dikembalikan tepat waktu. Kami juga bertemu anak kami lainnya,  kakak dari santri yang kemarin kami bawa ke Jawa Timur. Dengan dua anak ini, hanya sekian bulan sekali saya bertemu.

Tetapi, ceramah ustaz di dalam masjid yang besar itu menyentuh qalbu. Kuliah Subuh yang singkat, namun penuh makna, itu mengingatkan apa yang mungkin terjadi esok hari. Tentang kesementaraan hidup di alam ini; tentang ketidakberdayaan kita. Dan, entah kapan Tuhan akan mengutus malaikat Izrail, mencabut nyawa.

Jika kita hendak bepergian jauh ke luar kota atau ke luar negeri; pakaian, makanan, dan uang untuk bekal selama di perjalanan, tentu sudah kita siapkan. Kopor yang besar sudah penuh dengan kemeja, celana, atau rok dan kebaya. Tas ransel sudah diisi laptop, iPad, serta bahan bacaan untuk teman di perjalanan. Dompet berisi lembaran berwarna merah, hijau, atau merah muda; kartu-kartu atm; dan uang plastik selalu siap sedia. Lebih dari cukup untuk memenuhi keperluan selama dalam perjalanan hingga kembali kepada keluarga.

Akan tetapi, untuk perjalanan yang sangat jauh dan tidak akan kembali dengan potensi tingkat kesulitan yang tidak pernah terbayangkan,  apakah kita sudah menyiapkan semua itu? Perbekalan untuk hidup di alam nan tidak pernah kita bayangkan situasi dan kondisinya. Perjalanan yang  bukan untuk wisata atau bersenang-senang; melainkan perjalanan panjang untuk mempertanggungjawabkan segala yang kita perbuat selama hidup di dunia. Dan di sana, kecuali amal kebaikan, seseorang tidak bisa menolong orang lain.

Jika waktu itu tiba, ketika Izrail menghampiri diri, dada akan sesak, napas segera lepas. Rasa duka memenuhi seluruh rongga, penyesalan berada di puncaknya. Mengapa selama berpuluh tahun kita lupa, akan datangnya hari pembalasan. Di pengadilan sana, mulut menjadi kaku. Tangan yang berkata, sementara kedua kaki menjadi saksi.

Aduh Gusti, ampunkan kami yang hanya mengalokasikan waktu yang sangat sedikit untuk berzikir. Terlalu sibuk dan hampir tak ada waktu untuk bersujud. Tak sempat silaturahmi dan tegur sapa dengan tetangga, serta jarang bercengkrama dengan keluarga. Astaghfirullaah al-‘adziem wa atuubu ilaih.

Akan datang hariMulut dikunciKata tak ada lagiAkan tiba masaTak ada suaraDari mulut kitaBerkata tangan kitaTentang apa yang dilakukannyaBerkata kaki kitaKemana saja dia melangkahnyaTidak tahu kitaBila harinyaTanggungjawab tibaRabbana …Tangan kami …Kaki kami …Mulut kami …Mata hati kami …Luruskanlah …Kukuhkanlah …Di jalan cahaya …SempurnaMohon karunia …Kepada kami …Hamba-Mu yang hinaLagu: ChrisyeLirik: Taufiq Ismail

Masjid Asy-Syifa, Pesantren Daar El Qolam, Gintung, Jayanti, Tangerang; bakda Subuh; 25 April; sepulang perjalanan panjang dari Ponorogo-Solo-Purwerejo-Cilacap-Tangerang; dan Jakarta, 15 Agustus 2015 untuk tambahan syair  “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” kiriman sahabat saya, Doddy Priambodo melalui milist salamminna.

Salam,
jr

Categories: #TentangKebaikan | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.