Author Archives: mindasay

About mindasay

Love thinking...

MAJELIS ILMU

3

“Di buku ketiga saya BAHAGIAKAN DIRIMU DENGAN MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN, ada pembahasan mengenai apa itu pesantren dan siapa yang disebut santri; juga diurai dengan kriteria apa sehingga seseorang  menyandang sebutan Mubalig, Ustaz, Da’i, atau Kiai. Semua itu adalah tokoh-tokoh, pelaku-pelaku, atau subyeknya. Kemudian, tempat penyampaian ceramah bisa dilakukan di masjid, rumah, gedung, maupun di panggung yang dibangun di halaman rumah atau di tengah lapangan, tertutup atau terbuka. Boleh juga di tempat lainnya; yang penting, paling tidak, ada satu pembicara; dan minimal tiga orang pendengar. Biasanya sih, puluhan hingga ratusan orang yang hadir; tergantung acara, pembicara, tempat pelaksanaan, siapa yang mengundang dan berapa banyak yang diundang.

Adapun bentuk forum di mana para tokoh itu menyampaikan ceramahnya, ada yang sebut Majelis Tabligh ada juga Majelis Taklim. Majelis Tabligh adalah penyampaian dari seorang ustaz, da’i, mubalig, atau kiai secara searah. Yang berbicara hanya satu pihak, yakni penceramah saja. Hadirin bertugas hanya mendengarkan dan menyimaknya. Sedangan Majelis Taklim atau Majelis Ilmu, selain materi yang disampaikan, juga terjadi interaksi antara penceramah dengan pendengar. Hal-hal yang kurang dipahami hadirin, bisa ditanyakan kepada pembicara. Dengan demikian Majelis Ilmu memiliki nilai lebih.

Sehubungan dengan Majelis Ilmu pada bulan Ramadhan, Nabi Muhammad saw. bersabda,” Man hadhara majlisal ilmi fie ramadhana kataballaahu lahu li kulli qadamin ibadatan sanatin.” Barangsiapa menghadiri majelis ilmu di bulan Ramadhan, Allah catat setiap langkahnya sebagai ibadah satu tahun. Agar forum ini tidak hanya sebagai Majelis Tablig, saya mengajak hadirin dan hadirat untuk berpartisipasi bertanya berbagai hal seputar Ramadhan atau masalah-masalah agama yang lainnya, khususnya yang bertalian dengan ibadah keseharian. Saya akan berusaha menjawabnya, dan kalau ada pertanyaan yang saya tidak bisa menerangkannya, Pak Ali Masyhar bisa membantu.

Dulu, di masjid belakang kantor di Patra Jasa, atas inisiatif  Mas Achmad Hamdani, tiap hari Kamis, bakda shalat Dzuhur, saya mengisi kultum dan mengasuh diskusi tentang ibadah hari-hari. Itu berlangsung sekitar tiga tahunan. Sekarang, saya persilakan Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan teman-teman semua untuk bertanya. Dengan tanya-jawab, forum ini dari Majelis Tablig berkembang menjadi Majelis Ilmu. Dan semoga Allah mencatatkan setiap langkah kita, seperti yang Rasulullah saw. singgung.”

Hari itu, ustaz yang terjadwal menyampaikan ceramah bakda Zuhur di P9 City Plaza, berhalangan hadir. Saya diminta teman-teman ROHIS untuk menggantikannya. Dan, kalimat panjang di atas adalah kata-kata pembuka, mengajak hadirin –yang barangklai sudah agak jenuh dengan ceramah-ceramah, untuk berdiskusi berbagai masalah agama.

Untuk memancing datangnya pertanyaan, saya bercerita hal yang bukan saja sedang hangat, melainkan masih panas, terjadi pas saya mau turun dari lantai tiga puluh enam untuk ke City Plaza.

“Seorang ibu, sambil menangis, menelepon saya. Dia barusan, di halaman rumah, di depan orangtua dan tetangga, dibentak-bentak dan diseret suaminya dengan kasar. Padahal, kalau saja para lelaki tahu, semulia-mulia seorang suami adalah mereka yang pandai memuliakan istrinya. Mafhum mukhalafah-nya, para suami yang menistakan istrinya adalah manusia-manusia paling hina di sisi Tuhan. Allah melaknatnya. Kalau Yang Maha Pencipta sudah tidak suka, mau ke mana arah hidup dia? Siapa pun yang menelantarkan keluarga, mengecewakan anak dan istri, tidak menafkahinya secara lahir dan batin; hatinya tidak akan pernah tenang, hidupnya bakal sengsara, di dunia ini hingga ke alam sana.  Saya sampaikan kepada ibu yang malang itu beberapa wirid untuk ia dawamkan.”

Saya sampaikan juga hal yang masih berkaitan dengan urusan wanita, dua hari sebelum ini, Kamis, 23 Juni, seorang kawan dari Bandung Timur mengirim e-mail dengan subject: tumaros. Kata itu tidak berasal dari Spanyol, tetapi asli Jawa Barat, artinya bertanya. Ia menyampaikan dua belas pertanyaan tentang wanita. Menurutnya, sudah lama mengganjal di dalam hati bahwa Islam terkesan menempatkan wanita sebagai warga kelas dua. Saya membalas pesan itu agar ia menelepon saja. Jawaban akan saya berikan secara lisan. “Kalau ditulis mah terlalu panjang!”

“Pukul berapa bisa saya telepon?”

“Sekarang juga boleh.”

Setelah percakapan yang agak panjang, kawan asal Sumedang ini berkata, “Kahartos ayeuna mah.” Sekarang saya jadi mengerti.

Kita kembali ke City Plaza lantai Sembilan. Beberapa di antara yang hadir mengacungkan tangan. Ada yang bertanya tentang witir setelah shalat Tarawih dan hubungannya dengan shalat ganjil itu pada sepertiga malam terakhir, hukum membaca qunut – di waktu Subuh dan pada sembahyang lainnya, hingga masalah perceraian dan pernikahan. Sebab waktu yang terbatas, beberapa kawan memanfaatan waktu di luar forum untuk bertanya. Turun dari mimbar, saya mendekati teman-teman. Pertanyaan yang muncul di forum duduk-duduk itu, tidak lebih sedikit. Sambil bersila, kami lebih santai berdiskusi.  Sebagian jemaah menyusulkan pertanyaannya via pesan pendek dan pos-elektronika. Untuk pertanyaan lisan maupun yang tertulis, saya langsung menjawabnya.

Jakarta, petang hari, 18 Juni dan 30 Juni 2015.

Pak Harry Hermansyaf, sobat saya yang wajahnya senantiasa ramah, pakar perkoperasian di City Plaza, menjelang akhir acara, sambil tersenyum manis, menghampiri dan menyalami saya, “Sae pisan!”

Iklan
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

BALASLAH KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN

Kisah Seorang Menantu yang Hatinya Serung Disakiti

majelis

“Assalamu’alaikum, Pak.  Sudah lama saya ingin menghubungi Pak Jonih. Telah lama juga saya tamatkan kedua bukunya. Ditunggu buku-buku selanjutnya, ya Pak!” seorang ibu muda asal sebuah kota kabupaten di kaki Gunung Bromo, mengirim pesan WA kepada saya. Beliau melanjutkan dengan kalimat-kalimat di bawah ini:

“Saya mau sharing aja, Pak. Karena, saya bingung mau ngomong sama siapa. Mudah-mudahan Pak Jonih bisa kasih saya sedikit pencerahan.

Saya sering sekali tersakiti oleh mertua. Begitu pun suami saya -yang tiada lain adalah anak kandungnya sendiri. Hatinya sering sakit oleh sikap ibu. Lebih dari itu, adik ipar saya mau bercerai, salah satunya karena merasa terzalimi oleh dia. Banyak pula tetangga dan saudara-saudara dari mertua luka hatinya sebab perkataan beliau.

Saya heran Pak, padahal mertua saya shalatnya rajin, tahajud enggak pernah ketinggalan. Akan tetapi sikap dan perkataannya sering menyakiti orang lain. Kadang, ingin saya balas rasa sakit ini, tapi beliau, kan, ibu dari suami saya!

Saya benar-benar tidak bisa apa-apa, hanya tiap hari merasa kesal; dan ini membuat saya ingin terus menjauhi mertua. Saya bingung harus bagaimana lagi.

Maaf Pak Jonih, saya mengganggu waktunya. Tapi, dengan menulis ke Bapak, saya agak sedikit lega. Terima kasih. Ibu Trie.”

Pesan panjang itu masuk ke telepon genggam ketika saya menikmati getuk goreng – dilanjut dengan Soto Sokaraja -saat istirahat di Purwekerto; dalam perjalanan dari Purworejo menuju Tangerang -melalui Sokaraja, Cilacap, Tasik, Ciamis dan Jakarta.

Saya mencicipi getuk sari coklat, rasa nangka, dan aroma durian. Getuk ori, begitu kata Pak Indra, penjualnya, yakni rasa asli gula Jawa, tidak saya tinggalkan. Ditemani teh pahit yang asapnya mengepul keluar dari mulut gelas dan menari-nari di atas permukaannya; saya, istri, seorang anak, mertua, dan Mang Endin; menikmati itu jajanan pinggir jalan. Sedap sekali dan … Uenak tenaaan! Sambil menyeruput teh panas, saya membalas itu pesan.

 

“Senang sekali saya bisa berkomunikasi lagi dengan Ibu Trie. Setiap orang membawa tabiat yang berbeda-beda. Tidak jarang, banyak orang memiliki sifat yang sulit kita mengerti, seperti yang terjadi ini. Sehubungan dengan yang ibu alami, ada beberapa perkara yang perlu kita pahami:  1. Hal tersebut sudah terjadi pada kita, dan mungkin sulit menghindarinya; 2. Setiap tindakan, baik maupun buruk tak pernah lepas dari pengawasan Tuhan. Dalam bahasa lain, Gusti Allah ora sare. Apa pun diketahui-Nya dan akan mendapatkan balasannya; 3. Dengan demikian, tiap kezaliman yang diterima, menjadi credit point atau catatan amal saleh bagi yang dizalimi. Begitu pula sebaliknya;  4. Dalam sebuah hadis qudsi Allah Swt. berfirman,” Jika Aku mencintai seseorang, akan Aku timpakan kepadanya berbagai ujian; 5. Dengan ujian itu, Allah berkehendak menaikan kelas kita ke level yang lebih tinggi; 6. Dan, sesudah kesulitan -walau ini berproses- bakal ada kemudahan.

 

Insya Allah, perbanyaklah istigfar, tadarus, dan shalawat. Tingkatkanlah frekuensi shalat-shalat sunah. Allah pasti berikan jalan keluar terbaik.”

 

“Terima kasih, Pak. Lalu, apa yang harus saya lakukan, jika berhadapan dengan mertua? Karena, jujur aja … terkadang ada rasa marah, kesal, dan benci?”

 

“Hal itu pasti. Dan, itu adalah wajar. Walau sangat berat, usahakan senantiasa tetap berbuat wajar-wajar saja. Karena, di mata orang yang benci, apa pun sikap kita akan tampak jelek. Tapi, lama kelamaan, walau sangat pelan dan lamban, suatu saat, insya Allah akan berbalik. Kalau bisa, sering-seringlah shalat hajat, tasbih, dan tahajud. Bacalah asmaul husna (misal Yaa Qodier, Yaa Muqallibul Quluub),  shalawat, dan doa agar Allah balikkan hatinya menjadi bersikap baik kepada semua orang. Allah Mahakuasa.”

 

Kata Al-Qur’an,” Balaslah keburukan itu dengan kebaikan. Niscaya kebaikan akan mengalahkannya.” Juga, “Inna ma’al ‘usri yusron“. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.

 

“Aamien. Terima kasih, Pak Jonih. It’s very calmfull!”

 

 

Itulah “percakapan” singkat saya dengan Bu Trie. Atas izin beliau, untuk diambil pelajaran darinya -jika ada- saya share ini kisah kepada Anda. Semoga bermanfaat.

 

 

 

 

 

Sokaraja dan dalam perjalanan Purwekerto – Cilacap, 24 April 2014, sore hari.

-Buku ke-4- karya Bapak Jonih Rahmat – SAYANGI YANG DI BUMI ENGKAU AKAN DIKASIHI OLEH YANG DI LANGIT –

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

MEMETIK KEBAIKAN DARI YANG DITEBARKAN

cropped-cropped-website.jpg

Pak Minhaz bekerja sebagai Kepala Bagian Keuangan di Perpustakaan Sejarah Militer Angkatan Darat, Jalan Belitung No. 6 Bandung. Di kantor yang berlokasi di seberang Taman Ade Irma Suryani, itu seorang anak muda, Martedjo, asal Keradenan, Bobotsari, Purbalingga, Banyumas dititipkan Pak Sugeng, paman dia, kepada Pak Minhaz. Kedua orang ini adalah teman bermain brigde dan catur. Waktu itu tahun 1957, usia Martedjo menginjak dua puluh tujuh.

Ahli main bridge ini suatu hari berbisik kepada pemuda itu, “Dik, ada seorang guru Sekolah Dasar, orangnya baik, manis, tetapi dia sudah berusia 31 tahun. Kalau kamu mau padanya, nanti saya kenalkan.” Gadis itu mengajar di Sekolah Dasar Pajagalan XXXI. Ia berasal dari Purworejo, Jawa Tengah.

Pemuda Banyumas tersebut tinggal di rumah Keluarga Bapak dan Ibu Minhaz, di Jalan Jembatan Baru No. 7, Abdoel Moeis, dekat Jalan Ciateul-Mohammad Toha.

Suatu hari Martedjo diajak jalan-jalan ke dekat sekolah di mana ibu guru Marisah mengajar. Setelah lonceng sekolah berbunyi, tanda pelajaran berakhir,  para murid dan guru keluar dari sekolah. Pak Minhaz menunjuk,” Itu tuh orangnya!”

Jodoh mempertemukan mereka. Singkat cerita, pada tahun 1958, Martedjo menikah dengan Marisah. Pak Minhaz dan istrinya, Siti Rubiah, berjasa dalam mempertemukan kedua insan. Pasangan orang dari gunung (Banyumas) dan yang berasal dari pantai (Purworejo), itu dikaruniai empat anak: satu laki-laki dan tiga wanita. Mereka, kemudian, mengontrak sebuah rumah sederhana di Gang Siti Munigar, Pasirkoja. Beberapa tahun kemudian pindah ke Jalan Caringin, Kopo, Bandung Selatan.

Anak kedua pasangan Martedjo-Marisah bernama Sri Wardhani. Sri menikah dengan pria kelahiran Bandung, anak dari petani desa asal Sukabumi. Sri dianugerahi empat anak: satu wanita dan tiga laki-laki. Anak paling besar, putri, saat ini kuliah di sebuah perguruan tinggi dan indekos di Jakarta Selatan; anak kedua dan ketiga mesantren di Tangerang, Banten; dan yang paling kecil masih di SMP kelas 1 di Bogor.

Muhammad Fikri Dzikri atau sehari-hari dipanggil Iki, satu tahun belajar di Pesantren Darul Muttaqin, Parung, Bogor. Kemudian, ia pindah ke Pesantren Daar el Qolam, di Gintung, Jayanti, Tangerang, Banten. Saat ini ia sedang minggu tenang. Tidak ada pelajaran, karena semua santri sedang bersiap-siap mengadapi ujian nasional. Iki ingin, selepas SMP di Daar El Qolam ini, ia bisa melanjutkan ke SLTA di Pesantren Gontor di Ponorogo, Jawa Timur.

Minggu sore, 20 April 2014, setelah mendapat izin dari ustaz dan kiai di pesantren terbesar di Banten itu; Iki dijemput ibunya untuk orientasi, melihat-lihat suasana pesantren modern paling terkemuka di Indonesia tersebut. Semula, Ibu dari Iki, dari Bogor ke Ponorogo mau naik bus. Akan tetapi, mengingat kondisi kesehatannya yang sedang kurang bagus, pesanan tiket bus dibatalkan. Sri dan rombongan akan menggunakan kendaraan milik keponakannya yang berada di Bandung. Iki dan ibunya, diantar sopir dari Bogor berangkat ke Bandung. Embah Kakung yang sekarang tinggal bersama anak dan cucunya di Bogor, diajak serta. Alangkah senangnya beliau akan bisa melihat-lihat rumahnya di Doplang, Purworejo. Di rumah itu, dulu, Embah Kakung dan Embah Putri, menikmati masa pensiunnya.

Dari Bandung, Senin malam, Iki, ibu, dan bapaknya -yang berangkat dari Jakarta, juga kakeknya, dengan diantar Pak Sopir, menggunakan kendaraan kakak sepupu dari Iki, berangkat ke Ponorogo. Semua transit semalam di Purwerejo, menginap di rumah Embah Kakung yang sudah lama ditinggal pergi. Pagi-pagi, hari berikutnya, sehabis sarapan dan nyekar ke makam Embah Putri; Iki, ibu, dan bapaknya menuju Gontor di Ponorogo, Jawa Timur. Sementara Embah, tidak ikut serta. Ia istirahat di Doplang.

Selesai urusan di pesantren, Rabu pagi, rombongan menuju Solo untuk silaturahmi dengan keluarga dari adik Embah Kakung, di Nayu Timur, Nusukan, Surakarta. Bakda Isya, kembali melanjutkan perjalanan ke Purwerejo; dan Kamis pagi –bersama kakeknya Iki, rombongan berangkat dari kota para pensiunan itu ke Tangerang. Setelah istirahat di Sokaraja, Purwekerto,  menikmati getuk goreng dan soto Sokaraja, perjalanan dilanjutkan.

Memasuki Cilacap, Sri, ibu dari Iki bertanya kepada ayahnya, “Pak rumah Bu Minhaz di daerah mana?”

“Di depan sana. Mau mampir?”

“Iya.”

Di daerah Sampang (mungkin kampung ini dulu dibangun oleh kawan-kawan asal Sampang, Madura), Cilacap, kendaraan berhenti.

Terhalang satu bangunan dari jalan besar, di dalam gang yang pas satu mobil saja, terdapat sebuah rumah asri berhalaman cukup luas. Seorang nenek sedang menyapu, membersihkan halaman.

Para tamu memasuki area itu. Embah Kakung berada paling depan. Nenek dan Pak Martedjo sebentar saling menatap. Kemudian, keduanya berpelukan, melepas rindu. Butir-butir air mata membasahi pipi kakek dan nenek itu. Sudah lama mereka tidak berjumpa. Ibu Siti Rubiah atau lebih sering dipanggil dengan Bu Minhaz adalah orangtua yang berjasa. Dahulu ia, bersama suaminya, mempertemukan pemuda Martedjo dengan gadis Marisah. Pak Martedjo sekarang sudah bercucu, ia berusia 84 tahun. Sedangkan, Ibu Marisah, istri beliau, ibu dari Sri dan nenek dari Iki, sudah lama mendahului, menghadap yang Maha Welas Asih.

Semuanya, lalu, berbincang di dalam rumah yang hanya diisi seorang ibu yang sudah sepuh itu. Bu Siti Rubiah kendati sudah berusia 93 tahu, tetapi masih tampak sehat dan segar. Bersama Pak Martedjo, nenek baik hati ini bercerita tentang masa lalu, puluhan tahun silam, di Bandung. Sri, putri Pak Martedjo mendengarkan dengan antusias. Ini adalah sejarah cikal bakal ayah dan ibu dia. Atas wasilah dan jasa baik Bu Rubiah dan Pak Minhaz, Sri dan ketiga saudara bisa hadir ke dunia, menikmati karunia Tuhan.

Setelah sekitar satu jam bertamu, Embah Kakung, Iki, Sri dan suami, berpamitan kepada nenek yang senantiasa menebar senyum itu. Beliau mengantar hingga para tamu naik kendaraan. Tangan pengantar dan yang pergi saling melambai. Meninggalkan tempat orang yang berjasa mempertemukan ayah dan ibunya; di dalam mobil, air mata Sri bercucuran. Ia terkenang ibunda tercinta, yang sudah lama meninggalkannya.

Kebaikan Bu Rubiah dan Pak Minhaz terus dikenang putra-putri dari hasil pernikahan itu. Dua orang tua itu telah menaburkan benih-benih kebaikan.

Dalam hadis yang diriwayatkan Baihaqi, Nabi Muhammad saw. pernah bersabda bahwa semua orang akan dikabulkan keinginannya, kecuali empat golongan. Dan, salah satu di antaranya adalah orang yang memutuskan tali silaturahmi.

Muslim meriwayatkan hadis, “Tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi.”

Mafhum mukholafah dari hadis-hadis di atas adalah bahwa orang-orang yang menyambungkan silaturahmi akan diijabah keinginannya; dan mereka mendapat nilai lebih untuk masuk ke surga.

Semoga Ibu Siti Rubiah dikabulkan segala doanya. Semoga Pak Minhaz yang sudah mendahului istrinya, Allah balas kebaikannya dengan ampunan dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan, semoga keduanya kelak, di alam akirat, berpanen -memetik kebaikan dari yang pernah mereka tebarkan. Semoga Allah masukkan mereka ke dalam surga.

Dalam perjalanan antara Cilacap-Tasikmalaya-Ciamis-Tangerang; sore, malam hari, dan menjelang pagi, di saat-saat terjaga di kendaraan; 24-25 April 2014.

-Buku ke-4- karya Bapak Jonih Rahmat – SAYANGI YANG DI BUMI ENGKAU AKAN DIKASIHI OLEH YANG DI LANGIT –

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

KARMA

“Pak, mau tanya. Apakah dalam Islam ada karma?” Bo, pemuda rupawan, bertanya kepada saya.

“Apa itu karma?” Bi, teman yang tempat duduknya bersebelahan dengan Bo, tidak mengerti.

“Sejak minggu lalu, saya berencana  mengirim sharing berjudul What Goes Round, Comes Rounds pada Senin pagi. Dan, Selasa atau Rabu, saya mau kirim tulisan lainnya yang masih berhubungan dengan hal itu. Tapi tak jadi, karena ada peristiwa yang terjadi pada adik ipar, Minggu malam. Digantilah artikel yang semula hendak saya share tersebut dengan tulisan yang berkaitan yang terjadi pada hari Ahad itu: Jika Saatnya Tiba,” saya menjelaskan.

Pada What Goes Round, Comes Round; juga pada artikel sebelumnya, From The Dust To The Dust, terkandung pesan bahwa apabila kita melakukan suatu pekerjaan, baik amal saleh maupun amal salah, akan ada balasannya. Baik dan buruk perbuatan itu, akan kembali kepada kita jua. Saudara-saudara kita di Hindu menyebut hal itu dengan karma atau hukum karma. Secara santai, sebagian orang Sunda menyebutnya dengan hukum mulang. Mulang ka diri sorangan; kembali kepada diri sendiri.

“Emangnya kenapa, Bo?”

“Tetangga saya, suami istri, sebut saja Mari dan Femme, punya bisnis berupa home industry yang memproduksi kue. Pila, pria asal Gunung Kidul, keponakan Mari, bekerja di rumah itu. Pekerjaan berjalan bagus. Sementara produksi terus meningkat. Tanpa sepengetahuan suaminya, Femme ada main dengan Pila. “Pertemuan” tidak halal yang sering kedua insan ini lakukan, tercium Mari.  Bapak pasti tahu, apa yang akan terjadi. Sang suami marah, Femme dicerai. Setelah berpisah dari suami, dan menyendiri, wanita itu malah ditinggalkan kekasih gelapnya. Entah karena merasa kurang tantangan, tidak seru lagi, Pila menjauhi wanita yang barusan dicerai suaminya, lantaran berpacaran sama dia itu.

Janda muda ini, pada akhirnya ada yang meminatinya juga. Ia menikah dengan Jeune. Keluarga ini membuka usaha konfeksi di rumahnya. Karena order pekerjaan bertambah terus, pengusaha itu kewalahan. Femme meminta keponakannya, Ninis, untuk tinggal bersama dia. Lokasi rumah orangtua remaja lulusan SMP ini, di kampungnya di Sukabumi,  jauh dari sekolah. Di Jakarta, ia akan dibantu tantenya, sekolah ke SMA. Sepulang sekolah, Ninis membantu menyelesaikan pesanan-pesanan dari para pelanggan. Gadis manis yang rajin ini menyukai pekerjaannya. Dia kerja dengan bagus, cepat, dan rapi.

Anak manis ini, ternyata, tidak hanya pandai dalam bekerja; dia pun pintar dalam berpacaran. Dan, yang gadis ini pacari adalah majikan dia, pemilik rumah, suami dari tantenya.

Femme, dulu, di belakang suaminya, melakukan hal yang dilarang agama maupun etika. Wanita bersuami ini berpacaran dengan lelaki lain. Femme memiliki pria idaman lain, Pila, yang tidak lain adalah keponakan dari Mari, suami dia. Sekarang, pasangan hidup wanita nakal ini, di tengah-tengah kesibukan bekerja, bermain mata dan yang lainnya, dengan seorang pekerja yang tinggal di rumahnya. Sang suami mempunyai wanita idama lain, Ninis Wilaningsia. Dan, yang lebih menyakitkan hati Femme, perempuan yang menempel di hati sang suami, adalah keponakan dia sendiri!”

Sekali lagi, apa yang kita lakukan, perbuatan baik atau kelakuan buruk, pasti akan kembali kepada diri sendiri. Sesaat, apa yang di depan kita itu, rasanya –boleh jadi- nikmat. Akan tetapi, jika hal itu berupa keburukan dan kita tetap mengerjakannya, penyesalan akan datang kemudian. Setiap keburukan yang kita lakukan, pasti akan mendatangkan kerugian kepada kita sendiri.

Wa qad khaaba man hamala dzulman. Dan sungguh telah merugi orang-orang yang berbuat kezaliman.

Semoga Tuhan jauhkan kita dari hal-hal sedemikian.

Jakarta, Selasa sore, 19 Agustus 2014; berdasarkan penuturan Bo kepada saya, dengan variasi-variasi redaksional.

-Buku ke-4- karya Bapak Jonih Rahmat – SAYANGI YANG DI BUMI ENGKAU AKAN DIKASIHI OLEH YANG DI LANGIT –

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

FROM THE DUST TO THE DUST

“Pak, mengapa ya dalam kehidupan…,” kata-kata Pak Amir terhenti sejenak.

“Emangnya, kenapa?”

“Waktu kecil, kami tinggal  bersama orangtua di Cibadak, Sukabumi. Menjelang masuk SMP, ibu dan bapak saya pindah ke Jakarta; saya tetap di Sukabumi bersama Uwa.”

“Terus?”

“Tahun 2000 saya bekerja di BCA di Bekasi. Saya tinggal di kota itu selama delapan bulan, sedangkan istri masih di Sukabumi.”

“Lanjut!”

“Kemudian saya mendapat panggilan dari Genting Oil dan bekerja di perusahaan itu dengan beberapa kali ganti bos. Terakhir ini membawa Pak Koko. Saya tinggal di Cilandak, belakang Rumah Sakit Fatmawati, dekat lapangan golf. Eh, sekarang, bersama istri dan empat orang anak, kami menetap lagi di Bekasi. Dahulu pernah hidup di Bekasi, sekarang kembali tinggal di Bekasi.”

“Lalu, bagaimana?”

“Kemudian, Pak; dahulu waktu kecil, saya suka main ke rumah paman di Gunungbatu. Dan, sekarang, mengantar Bapak, lewat daerah Gunung Batu lagi.  Jadi, bulak-balik gitu. Apa arti semua ini, Pak?”

“Pak Amir, kata orang-orang pintar, ‘Sejarah itu berulang,’ Seperti roda mobil yang berputar. Kadang dia di atas, kadang di bawah. Dan begitu terus berulang-ulang.”

“Maksudnya, bagaimana, Pak?”

 

“Kalau kita bertemu seseorang, kemudian kita berbuat sebuah kebaikan kepadanya; insya Allah, suatu saat Bapak akan bertemu lagi dengan orang itu atau orang lain dalam hubungannya dengan yang pernah kita lakukan. Demikian pula sebaliknya. Jika kita berbuat keculasan kepada seseorang atau orang banyak, suatu hari, pasti, kita akan bertemu dengan sesuatu yang berhubungan dengan kelakuan itu!”

 

“Wah, amit-amit kalau untuk keburukan!”

 

“Oleh karena itu, hendaknya senantiasa kita berbuat yang baik-baik saja. Dan, janganlah berhenti berbuat kebaikan! Sekecil apa pun! Karena, semua amal perbuatan kita, baik atau buruk, akan kembali kepada kita jua.

 

Seperti halnya asal-usul kita ini. Kita berasal dari tanah, dan suatu saat, kita akan kembali ke tanah. From the dust to the dust!” saya menutup pembicaraan.

 

 

 

 

Berdasarkan obrolan ringan bersama Pak Amir, pilot Kijang Innova asal Cibadak, Sukabumi.  Dalam perjalanan dari Bogor menuju Bandar Udara Soekarno-Hatta, 9 Agustus 2014.

-Buku ke-4- karya Bapak Jonih Rahmat – SAYANGI YANG DI BUMI ENGKAU AKAN DIKASIHI OLEH YANG DI LANGIT –

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.