MEMETIK KEBAIKAN DARI YANG DITEBARKAN

cropped-cropped-website.jpg

Pak Minhaz bekerja sebagai Kepala Bagian Keuangan di Perpustakaan Sejarah Militer Angkatan Darat, Jalan Belitung No. 6 Bandung. Di kantor yang berlokasi di seberang Taman Ade Irma Suryani, itu seorang anak muda, Martedjo, asal Keradenan, Bobotsari, Purbalingga, Banyumas dititipkan Pak Sugeng, paman dia, kepada Pak Minhaz. Kedua orang ini adalah teman bermain brigde dan catur. Waktu itu tahun 1957, usia Martedjo menginjak dua puluh tujuh.

Ahli main bridge ini suatu hari berbisik kepada pemuda itu, “Dik, ada seorang guru Sekolah Dasar, orangnya baik, manis, tetapi dia sudah berusia 31 tahun. Kalau kamu mau padanya, nanti saya kenalkan.” Gadis itu mengajar di Sekolah Dasar Pajagalan XXXI. Ia berasal dari Purworejo, Jawa Tengah.

Pemuda Banyumas tersebut tinggal di rumah Keluarga Bapak dan Ibu Minhaz, di Jalan Jembatan Baru No. 7, Abdoel Moeis, dekat Jalan Ciateul-Mohammad Toha.

Suatu hari Martedjo diajak jalan-jalan ke dekat sekolah di mana ibu guru Marisah mengajar. Setelah lonceng sekolah berbunyi, tanda pelajaran berakhir,  para murid dan guru keluar dari sekolah. Pak Minhaz menunjuk,” Itu tuh orangnya!”

Jodoh mempertemukan mereka. Singkat cerita, pada tahun 1958, Martedjo menikah dengan Marisah. Pak Minhaz dan istrinya, Siti Rubiah, berjasa dalam mempertemukan kedua insan. Pasangan orang dari gunung (Banyumas) dan yang berasal dari pantai (Purworejo), itu dikaruniai empat anak: satu laki-laki dan tiga wanita. Mereka, kemudian, mengontrak sebuah rumah sederhana di Gang Siti Munigar, Pasirkoja. Beberapa tahun kemudian pindah ke Jalan Caringin, Kopo, Bandung Selatan.

Anak kedua pasangan Martedjo-Marisah bernama Sri Wardhani. Sri menikah dengan pria kelahiran Bandung, anak dari petani desa asal Sukabumi. Sri dianugerahi empat anak: satu wanita dan tiga laki-laki. Anak paling besar, putri, saat ini kuliah di sebuah perguruan tinggi dan indekos di Jakarta Selatan; anak kedua dan ketiga mesantren di Tangerang, Banten; dan yang paling kecil masih di SMP kelas 1 di Bogor.

Muhammad Fikri Dzikri atau sehari-hari dipanggil Iki, satu tahun belajar di Pesantren Darul Muttaqin, Parung, Bogor. Kemudian, ia pindah ke Pesantren Daar el Qolam, di Gintung, Jayanti, Tangerang, Banten. Saat ini ia sedang minggu tenang. Tidak ada pelajaran, karena semua santri sedang bersiap-siap mengadapi ujian nasional. Iki ingin, selepas SMP di Daar El Qolam ini, ia bisa melanjutkan ke SLTA di Pesantren Gontor di Ponorogo, Jawa Timur.

Minggu sore, 20 April 2014, setelah mendapat izin dari ustaz dan kiai di pesantren terbesar di Banten itu; Iki dijemput ibunya untuk orientasi, melihat-lihat suasana pesantren modern paling terkemuka di Indonesia tersebut. Semula, Ibu dari Iki, dari Bogor ke Ponorogo mau naik bus. Akan tetapi, mengingat kondisi kesehatannya yang sedang kurang bagus, pesanan tiket bus dibatalkan. Sri dan rombongan akan menggunakan kendaraan milik keponakannya yang berada di Bandung. Iki dan ibunya, diantar sopir dari Bogor berangkat ke Bandung. Embah Kakung yang sekarang tinggal bersama anak dan cucunya di Bogor, diajak serta. Alangkah senangnya beliau akan bisa melihat-lihat rumahnya di Doplang, Purworejo. Di rumah itu, dulu, Embah Kakung dan Embah Putri, menikmati masa pensiunnya.

Dari Bandung, Senin malam, Iki, ibu, dan bapaknya -yang berangkat dari Jakarta, juga kakeknya, dengan diantar Pak Sopir, menggunakan kendaraan kakak sepupu dari Iki, berangkat ke Ponorogo. Semua transit semalam di Purwerejo, menginap di rumah Embah Kakung yang sudah lama ditinggal pergi. Pagi-pagi, hari berikutnya, sehabis sarapan dan nyekar ke makam Embah Putri; Iki, ibu, dan bapaknya menuju Gontor di Ponorogo, Jawa Timur. Sementara Embah, tidak ikut serta. Ia istirahat di Doplang.

Selesai urusan di pesantren, Rabu pagi, rombongan menuju Solo untuk silaturahmi dengan keluarga dari adik Embah Kakung, di Nayu Timur, Nusukan, Surakarta. Bakda Isya, kembali melanjutkan perjalanan ke Purwerejo; dan Kamis pagi –bersama kakeknya Iki, rombongan berangkat dari kota para pensiunan itu ke Tangerang. Setelah istirahat di Sokaraja, Purwekerto,  menikmati getuk goreng dan soto Sokaraja, perjalanan dilanjutkan.

Memasuki Cilacap, Sri, ibu dari Iki bertanya kepada ayahnya, “Pak rumah Bu Minhaz di daerah mana?”

“Di depan sana. Mau mampir?”

“Iya.”

Di daerah Sampang (mungkin kampung ini dulu dibangun oleh kawan-kawan asal Sampang, Madura), Cilacap, kendaraan berhenti.

Terhalang satu bangunan dari jalan besar, di dalam gang yang pas satu mobil saja, terdapat sebuah rumah asri berhalaman cukup luas. Seorang nenek sedang menyapu, membersihkan halaman.

Para tamu memasuki area itu. Embah Kakung berada paling depan. Nenek dan Pak Martedjo sebentar saling menatap. Kemudian, keduanya berpelukan, melepas rindu. Butir-butir air mata membasahi pipi kakek dan nenek itu. Sudah lama mereka tidak berjumpa. Ibu Siti Rubiah atau lebih sering dipanggil dengan Bu Minhaz adalah orangtua yang berjasa. Dahulu ia, bersama suaminya, mempertemukan pemuda Martedjo dengan gadis Marisah. Pak Martedjo sekarang sudah bercucu, ia berusia 84 tahun. Sedangkan, Ibu Marisah, istri beliau, ibu dari Sri dan nenek dari Iki, sudah lama mendahului, menghadap yang Maha Welas Asih.

Semuanya, lalu, berbincang di dalam rumah yang hanya diisi seorang ibu yang sudah sepuh itu. Bu Siti Rubiah kendati sudah berusia 93 tahu, tetapi masih tampak sehat dan segar. Bersama Pak Martedjo, nenek baik hati ini bercerita tentang masa lalu, puluhan tahun silam, di Bandung. Sri, putri Pak Martedjo mendengarkan dengan antusias. Ini adalah sejarah cikal bakal ayah dan ibu dia. Atas wasilah dan jasa baik Bu Rubiah dan Pak Minhaz, Sri dan ketiga saudara bisa hadir ke dunia, menikmati karunia Tuhan.

Setelah sekitar satu jam bertamu, Embah Kakung, Iki, Sri dan suami, berpamitan kepada nenek yang senantiasa menebar senyum itu. Beliau mengantar hingga para tamu naik kendaraan. Tangan pengantar dan yang pergi saling melambai. Meninggalkan tempat orang yang berjasa mempertemukan ayah dan ibunya; di dalam mobil, air mata Sri bercucuran. Ia terkenang ibunda tercinta, yang sudah lama meninggalkannya.

Kebaikan Bu Rubiah dan Pak Minhaz terus dikenang putra-putri dari hasil pernikahan itu. Dua orang tua itu telah menaburkan benih-benih kebaikan.

Dalam hadis yang diriwayatkan Baihaqi, Nabi Muhammad saw. pernah bersabda bahwa semua orang akan dikabulkan keinginannya, kecuali empat golongan. Dan, salah satu di antaranya adalah orang yang memutuskan tali silaturahmi.

Muslim meriwayatkan hadis, “Tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi.”

Mafhum mukholafah dari hadis-hadis di atas adalah bahwa orang-orang yang menyambungkan silaturahmi akan diijabah keinginannya; dan mereka mendapat nilai lebih untuk masuk ke surga.

Semoga Ibu Siti Rubiah dikabulkan segala doanya. Semoga Pak Minhaz yang sudah mendahului istrinya, Allah balas kebaikannya dengan ampunan dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan, semoga keduanya kelak, di alam akirat, berpanen -memetik kebaikan dari yang pernah mereka tebarkan. Semoga Allah masukkan mereka ke dalam surga.

Dalam perjalanan antara Cilacap-Tasikmalaya-Ciamis-Tangerang; sore, malam hari, dan menjelang pagi, di saat-saat terjaga di kendaraan; 24-25 April 2014.

-Buku ke-4- karya Bapak Jonih Rahmat – SAYANGI YANG DI BUMI ENGKAU AKAN DIKASIHI OLEH YANG DI LANGIT –

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: