MAJELIS ILMU

3

“Di buku ketiga saya BAHAGIAKAN DIRIMU DENGAN MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN, ada pembahasan mengenai apa itu pesantren dan siapa yang disebut santri; juga diurai dengan kriteria apa sehingga seseorang  menyandang sebutan Mubalig, Ustaz, Da’i, atau Kiai. Semua itu adalah tokoh-tokoh, pelaku-pelaku, atau subyeknya. Kemudian, tempat penyampaian ceramah bisa dilakukan di masjid, rumah, gedung, maupun di panggung yang dibangun di halaman rumah atau di tengah lapangan, tertutup atau terbuka. Boleh juga di tempat lainnya; yang penting, paling tidak, ada satu pembicara; dan minimal tiga orang pendengar. Biasanya sih, puluhan hingga ratusan orang yang hadir; tergantung acara, pembicara, tempat pelaksanaan, siapa yang mengundang dan berapa banyak yang diundang.

Adapun bentuk forum di mana para tokoh itu menyampaikan ceramahnya, ada yang sebut Majelis Tabligh ada juga Majelis Taklim. Majelis Tabligh adalah penyampaian dari seorang ustaz, da’i, mubalig, atau kiai secara searah. Yang berbicara hanya satu pihak, yakni penceramah saja. Hadirin bertugas hanya mendengarkan dan menyimaknya. Sedangan Majelis Taklim atau Majelis Ilmu, selain materi yang disampaikan, juga terjadi interaksi antara penceramah dengan pendengar. Hal-hal yang kurang dipahami hadirin, bisa ditanyakan kepada pembicara. Dengan demikian Majelis Ilmu memiliki nilai lebih.

Sehubungan dengan Majelis Ilmu pada bulan Ramadhan, Nabi Muhammad saw. bersabda,” Man hadhara majlisal ilmi fie ramadhana kataballaahu lahu li kulli qadamin ibadatan sanatin.” Barangsiapa menghadiri majelis ilmu di bulan Ramadhan, Allah catat setiap langkahnya sebagai ibadah satu tahun. Agar forum ini tidak hanya sebagai Majelis Tablig, saya mengajak hadirin dan hadirat untuk berpartisipasi bertanya berbagai hal seputar Ramadhan atau masalah-masalah agama yang lainnya, khususnya yang bertalian dengan ibadah keseharian. Saya akan berusaha menjawabnya, dan kalau ada pertanyaan yang saya tidak bisa menerangkannya, Pak Ali Masyhar bisa membantu.

Dulu, di masjid belakang kantor di Patra Jasa, atas inisiatif  Mas Achmad Hamdani, tiap hari Kamis, bakda shalat Dzuhur, saya mengisi kultum dan mengasuh diskusi tentang ibadah hari-hari. Itu berlangsung sekitar tiga tahunan. Sekarang, saya persilakan Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan teman-teman semua untuk bertanya. Dengan tanya-jawab, forum ini dari Majelis Tablig berkembang menjadi Majelis Ilmu. Dan semoga Allah mencatatkan setiap langkah kita, seperti yang Rasulullah saw. singgung.”

Hari itu, ustaz yang terjadwal menyampaikan ceramah bakda Zuhur di P9 City Plaza, berhalangan hadir. Saya diminta teman-teman ROHIS untuk menggantikannya. Dan, kalimat panjang di atas adalah kata-kata pembuka, mengajak hadirin –yang barangklai sudah agak jenuh dengan ceramah-ceramah, untuk berdiskusi berbagai masalah agama.

Untuk memancing datangnya pertanyaan, saya bercerita hal yang bukan saja sedang hangat, melainkan masih panas, terjadi pas saya mau turun dari lantai tiga puluh enam untuk ke City Plaza.

“Seorang ibu, sambil menangis, menelepon saya. Dia barusan, di halaman rumah, di depan orangtua dan tetangga, dibentak-bentak dan diseret suaminya dengan kasar. Padahal, kalau saja para lelaki tahu, semulia-mulia seorang suami adalah mereka yang pandai memuliakan istrinya. Mafhum mukhalafah-nya, para suami yang menistakan istrinya adalah manusia-manusia paling hina di sisi Tuhan. Allah melaknatnya. Kalau Yang Maha Pencipta sudah tidak suka, mau ke mana arah hidup dia? Siapa pun yang menelantarkan keluarga, mengecewakan anak dan istri, tidak menafkahinya secara lahir dan batin; hatinya tidak akan pernah tenang, hidupnya bakal sengsara, di dunia ini hingga ke alam sana.  Saya sampaikan kepada ibu yang malang itu beberapa wirid untuk ia dawamkan.”

Saya sampaikan juga hal yang masih berkaitan dengan urusan wanita, dua hari sebelum ini, Kamis, 23 Juni, seorang kawan dari Bandung Timur mengirim e-mail dengan subject: tumaros. Kata itu tidak berasal dari Spanyol, tetapi asli Jawa Barat, artinya bertanya. Ia menyampaikan dua belas pertanyaan tentang wanita. Menurutnya, sudah lama mengganjal di dalam hati bahwa Islam terkesan menempatkan wanita sebagai warga kelas dua. Saya membalas pesan itu agar ia menelepon saja. Jawaban akan saya berikan secara lisan. “Kalau ditulis mah terlalu panjang!”

“Pukul berapa bisa saya telepon?”

“Sekarang juga boleh.”

Setelah percakapan yang agak panjang, kawan asal Sumedang ini berkata, “Kahartos ayeuna mah.” Sekarang saya jadi mengerti.

Kita kembali ke City Plaza lantai Sembilan. Beberapa di antara yang hadir mengacungkan tangan. Ada yang bertanya tentang witir setelah shalat Tarawih dan hubungannya dengan shalat ganjil itu pada sepertiga malam terakhir, hukum membaca qunut – di waktu Subuh dan pada sembahyang lainnya, hingga masalah perceraian dan pernikahan. Sebab waktu yang terbatas, beberapa kawan memanfaatan waktu di luar forum untuk bertanya. Turun dari mimbar, saya mendekati teman-teman. Pertanyaan yang muncul di forum duduk-duduk itu, tidak lebih sedikit. Sambil bersila, kami lebih santai berdiskusi.  Sebagian jemaah menyusulkan pertanyaannya via pesan pendek dan pos-elektronika. Untuk pertanyaan lisan maupun yang tertulis, saya langsung menjawabnya.

Jakarta, petang hari, 18 Juni dan 30 Juni 2015.

Pak Harry Hermansyaf, sobat saya yang wajahnya senantiasa ramah, pakar perkoperasian di City Plaza, menjelang akhir acara, sambil tersenyum manis, menghampiri dan menyalami saya, “Sae pisan!”

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: