BALASLAH KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN

Kisah Seorang Menantu yang Hatinya Serung Disakiti

majelis

“Assalamu’alaikum, Pak.  Sudah lama saya ingin menghubungi Pak Jonih. Telah lama juga saya tamatkan kedua bukunya. Ditunggu buku-buku selanjutnya, ya Pak!” seorang ibu muda asal sebuah kota kabupaten di kaki Gunung Bromo, mengirim pesan WA kepada saya. Beliau melanjutkan dengan kalimat-kalimat di bawah ini:

“Saya mau sharing aja, Pak. Karena, saya bingung mau ngomong sama siapa. Mudah-mudahan Pak Jonih bisa kasih saya sedikit pencerahan.

Saya sering sekali tersakiti oleh mertua. Begitu pun suami saya -yang tiada lain adalah anak kandungnya sendiri. Hatinya sering sakit oleh sikap ibu. Lebih dari itu, adik ipar saya mau bercerai, salah satunya karena merasa terzalimi oleh dia. Banyak pula tetangga dan saudara-saudara dari mertua luka hatinya sebab perkataan beliau.

Saya heran Pak, padahal mertua saya shalatnya rajin, tahajud enggak pernah ketinggalan. Akan tetapi sikap dan perkataannya sering menyakiti orang lain. Kadang, ingin saya balas rasa sakit ini, tapi beliau, kan, ibu dari suami saya!

Saya benar-benar tidak bisa apa-apa, hanya tiap hari merasa kesal; dan ini membuat saya ingin terus menjauhi mertua. Saya bingung harus bagaimana lagi.

Maaf Pak Jonih, saya mengganggu waktunya. Tapi, dengan menulis ke Bapak, saya agak sedikit lega. Terima kasih. Ibu Trie.”

Pesan panjang itu masuk ke telepon genggam ketika saya menikmati getuk goreng – dilanjut dengan Soto Sokaraja -saat istirahat di Purwekerto; dalam perjalanan dari Purworejo menuju Tangerang -melalui Sokaraja, Cilacap, Tasik, Ciamis dan Jakarta.

Saya mencicipi getuk sari coklat, rasa nangka, dan aroma durian. Getuk ori, begitu kata Pak Indra, penjualnya, yakni rasa asli gula Jawa, tidak saya tinggalkan. Ditemani teh pahit yang asapnya mengepul keluar dari mulut gelas dan menari-nari di atas permukaannya; saya, istri, seorang anak, mertua, dan Mang Endin; menikmati itu jajanan pinggir jalan. Sedap sekali dan … Uenak tenaaan! Sambil menyeruput teh panas, saya membalas itu pesan.

 

“Senang sekali saya bisa berkomunikasi lagi dengan Ibu Trie. Setiap orang membawa tabiat yang berbeda-beda. Tidak jarang, banyak orang memiliki sifat yang sulit kita mengerti, seperti yang terjadi ini. Sehubungan dengan yang ibu alami, ada beberapa perkara yang perlu kita pahami:  1. Hal tersebut sudah terjadi pada kita, dan mungkin sulit menghindarinya; 2. Setiap tindakan, baik maupun buruk tak pernah lepas dari pengawasan Tuhan. Dalam bahasa lain, Gusti Allah ora sare. Apa pun diketahui-Nya dan akan mendapatkan balasannya; 3. Dengan demikian, tiap kezaliman yang diterima, menjadi credit point atau catatan amal saleh bagi yang dizalimi. Begitu pula sebaliknya;  4. Dalam sebuah hadis qudsi Allah Swt. berfirman,” Jika Aku mencintai seseorang, akan Aku timpakan kepadanya berbagai ujian; 5. Dengan ujian itu, Allah berkehendak menaikan kelas kita ke level yang lebih tinggi; 6. Dan, sesudah kesulitan -walau ini berproses- bakal ada kemudahan.

 

Insya Allah, perbanyaklah istigfar, tadarus, dan shalawat. Tingkatkanlah frekuensi shalat-shalat sunah. Allah pasti berikan jalan keluar terbaik.”

 

“Terima kasih, Pak. Lalu, apa yang harus saya lakukan, jika berhadapan dengan mertua? Karena, jujur aja … terkadang ada rasa marah, kesal, dan benci?”

 

“Hal itu pasti. Dan, itu adalah wajar. Walau sangat berat, usahakan senantiasa tetap berbuat wajar-wajar saja. Karena, di mata orang yang benci, apa pun sikap kita akan tampak jelek. Tapi, lama kelamaan, walau sangat pelan dan lamban, suatu saat, insya Allah akan berbalik. Kalau bisa, sering-seringlah shalat hajat, tasbih, dan tahajud. Bacalah asmaul husna (misal Yaa Qodier, Yaa Muqallibul Quluub),  shalawat, dan doa agar Allah balikkan hatinya menjadi bersikap baik kepada semua orang. Allah Mahakuasa.”

 

Kata Al-Qur’an,” Balaslah keburukan itu dengan kebaikan. Niscaya kebaikan akan mengalahkannya.” Juga, “Inna ma’al ‘usri yusron“. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.

 

“Aamien. Terima kasih, Pak Jonih. It’s very calmfull!”

 

 

Itulah “percakapan” singkat saya dengan Bu Trie. Atas izin beliau, untuk diambil pelajaran darinya -jika ada- saya share ini kisah kepada Anda. Semoga bermanfaat.

 

 

 

 

 

Sokaraja dan dalam perjalanan Purwekerto – Cilacap, 24 April 2014, sore hari.

-Buku ke-4- karya Bapak Jonih Rahmat – SAYANGI YANG DI BUMI ENGKAU AKAN DIKASIHI OLEH YANG DI LANGIT –

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: