MINTA KAIN KAFAN #TentangKebaikan

Bersiap Menjemput Maut Setelah Dipatuk Ular

Yayah, nenek berusia  tujuh puluh tahunan, setelah ditinggal Kosim, suaminya, hidup bersama seorang anaknya -yang juga sudah berusia dan terserang stroke.

Ia tinggal di Kampung Cigulusur, Desa dan Kecamatan Cidolog, Sukabumi pedalaman. Untuk mencapai rumahnya, dari jalan desa, apabila hari tidak hujan, sebagian daripadanya, bisa ditempuh dengan kendaraan beroda dua. Jika air turun dari langit, jangankan dengan sepeda motor, jarak belasan kilometer itu ditempuh dengan jalan kaki pun, tidak mudah.

Apabila ada warga setempat yang sakit keras dan memerlukan pengobatan atau perawatan, pasien akan diangkut dengan menggunakan kain sarung yang dibelitkan ke bambu panjang. Dua orang lelaki perkasa, di tiap ujung bambu, menyediakan pundaknya untuk ditumpangi bulatan panjang itu. Banyak pasien ketika berangkat dari rumah menuju tempat pengobatan, sebelum tiba di poliklinik atau puskesmas, sudah keburu meninggal dunia.

Untuk mendapatkan upah agar bisa membeli makanan, Yayah bekerja kepada seorang tetangga. Pagi itu ia membungkuk-bungkukkan tubuhnya, memetik kacang tanah yang sudah memasuki masa panen.

Saat sedang asyik-asyiknya bekerja, sela-sela antara jari manis dan kelingking kanan nenek ini, merasakan sebuah sengatan. Seekor ular dengan panjang sejengkal telah mematuk telapak tangan orang tua itu. Si nenek berhenti sejenak. Ia pulang ke rumah. Rasa nyeri semakin menggigit. Hari demi hari luka menjadi menganga dan lengan kanan nenek membengkak. Setiap saat lubang luka mengeluarkan cairan berwarna putih.

Orangtua malang ini sudah tak bisa ke mana-mana. Seharian dan semalaman ia hanya telentang di tengah rumah. Setiap detik, menit, dan jam; dia menderita.

Merasa penyakitnya tidak akan sembuh, sementara usia juga sudah senja, ia sudah pasrah akan apa yang akan terjadi pada dirinya.

Amud, putra dari Kosim dan pernah dibesarkan oleh Nenek Yayah, jauh dari kota Bogor, menjenguk ibu sambungnya ini ke kampung, di Sukabumi pedalaan tersebut. Ia, sepulang dari desa, menyampaikan berita musibah ini kepada kami. Ibu Yayah berpesan agar disiapkan kain kafan. Sebab keluarganya tidak mampu untuk membeli kain putih itu, dan ia pernah mendengar bahwa di kediaman kami biasa tersedia itu kain pembungkus jenazah, ia menyuruh Amud, anaknya itu, meminta kain kafan kepada kami.
Mendengar orang sakit pesan kain kafan, miris rasanya. Bagaimana penderitaan dia  menghadapi maut yang segera akan menjemput. Bisa Anda bayangkan!

Saya tugaskan istri ke desa, mengajaknya untuk dirawat. Barangkali merasa harapan untuk selamat tidak banyak, dia menolak dibawa ke rumah sakit di kota Sukabumi. Seminggu kemudian, kami mendapat kabar, sakit Bu Yayah semakin parah. Tangan kanannya semakin membengkak, dan luka bekas gigitan binatang melata itu terus mengeluarkan cairan.

Bersama Amud, saya dan istri menuju kota Sukabumi. Ke Rumah Sakit Syamsudin, yang lebih dikenal sebagai Rumah Sakit Bunut, kami bertanya hal ruang rawat inap yang tersedia dan bisa terma atau tidaknya pasien tergigit ular. Setelah mendapat konfirmasi adanya kamar dan rumah sakit tersebut bisa menerima pasien korban gigitan binatang melata, dan mempersiapkan segala sesuatunya, saya dan istri kembali ke Bogor; Amud melanjutkan perjalanan ke kampung untuk menjemput ibunya.

“Jangan dibawa…jangan dibawa…kasihan!” menyaksikan sisakit ditandu dengan kain sarung dan bambu, beberapa ibu tetangga berteriak.

“Jangan menambah repot. Kalau mau bantu ke sini!” Amud membelas kekhawatiran para tetangga.

Rombongan pasien dan para pengantar menempuh dua-tiga jam perjalanan. Mereka tiba di Rumah Sakit Syamsudin, Sukabumi.

Setelah beberapa minggu mendapat perawatan medis, Yayah diizinkan pulang. Sesampai di kampung, nenek itu merangkul Amud, anak yang dia tidak pernah dilahirkannya. “Ternyata kamu sangat sayang sama saya! Kalau tidak diobati dan dibawa ke rumah sakit, mungkin saya tidak ada lagi di dunia ini!” orangtua itu menangis keras.

Nenek Yayah, walau pelan-pelan dan dengan sangat hati-hati, kini,  sudah mulai pulih kembali. Ia sudah bisa ke luar rumah, berjalan tanpa dipapah. Orang sakit parah, dan sudah bersiap-siap menyambut maut dengan memesan kain kafan itu, kini ia merasa hidup kembali.

Dalam perjalanan Bogor-Sukabumi-Bogor,  Mei; Bandara Pattimura, Ambon, 7 Juli; dan Cibinong 22 Agustus 2014.

Salam,
JR

Categories: #TentangKebaikan | Tags: , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: