#TentangKebaikan : JIKA WAKTU ITU TIBA

“Seorang anggota keluarga memasuki ruang pengasuhan. Kepada ustaz yang berjaga, ia sampaikan berita duka cita. Ibu dari seorang santri telah menghadap Rabbul Izzati. Dia datang ke pesantren agar anak itu diberikan izin bertemu wajah ibu untuk yang terakhir kali.

Sang kakak bilang, ‘Pulang dulu, Dik; Ibu sakit keras.’ Demi menjaga kecamuk rasa yang mungkin timbul, si kakak tidak bicara apa adanya.

Bayangkan, kamu pulang kampung. Setiba di desa dan semakin  mendekati kediaman, tampak bendera kuning di sana sini. Di halaman rumah, banyak orang berkerumun. Terdengar suara dari dalam, orang-orang membaca Yasin. Kamu masuk ke rumah. Di ruang tengah, sesosok tubuh, ditutupi kain putih, membujur kaku. Adik, kakak, paman, dan tante menatap dan merangkul kamu sambil tersedu-sedu.  Ibumu telah pergi menghadap Yang Mahakasih,” ustaz menyampaikan ceramah bakda Subuh di Masjid Asy-Syifa Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten.

Kami tiba di itu pesantren, pas shalat Subuh baru usai. Badan lemah, lelah, dan lusuh lantaran perjalanan panjang dari arah wetan, agak terobati. Sebab, anak yang kami pinjam dari pihak pesantren bisa dikembalikan tepat waktu. Kami juga bertemu anak kami lainnya,  kakak dari santri yang kemarin kami bawa ke Jawa Timur. Dengan dua anak ini, hanya sekian bulan sekali saya bertemu.

Tetapi, ceramah ustaz di dalam masjid yang besar itu menyentuh qalbu. Kuliah Subuh yang singkat, namun penuh makna, itu mengingatkan apa yang mungkin terjadi esok hari. Tentang kesementaraan hidup di alam ini; tentang ketidakberdayaan kita. Dan, entah kapan Tuhan akan mengutus malaikat Izrail, mencabut nyawa.

Jika kita hendak bepergian jauh ke luar kota atau ke luar negeri; pakaian, makanan, dan uang untuk bekal selama di perjalanan, tentu sudah kita siapkan. Kopor yang besar sudah penuh dengan kemeja, celana, atau rok dan kebaya. Tas ransel sudah diisi laptop, iPad, serta bahan bacaan untuk teman di perjalanan. Dompet berisi lembaran berwarna merah, hijau, atau merah muda; kartu-kartu atm; dan uang plastik selalu siap sedia. Lebih dari cukup untuk memenuhi keperluan selama dalam perjalanan hingga kembali kepada keluarga.

Akan tetapi, untuk perjalanan yang sangat jauh dan tidak akan kembali dengan potensi tingkat kesulitan yang tidak pernah terbayangkan,  apakah kita sudah menyiapkan semua itu? Perbekalan untuk hidup di alam nan tidak pernah kita bayangkan situasi dan kondisinya. Perjalanan yang  bukan untuk wisata atau bersenang-senang; melainkan perjalanan panjang untuk mempertanggungjawabkan segala yang kita perbuat selama hidup di dunia. Dan di sana, kecuali amal kebaikan, seseorang tidak bisa menolong orang lain.

Jika waktu itu tiba, ketika Izrail menghampiri diri, dada akan sesak, napas segera lepas. Rasa duka memenuhi seluruh rongga, penyesalan berada di puncaknya. Mengapa selama berpuluh tahun kita lupa, akan datangnya hari pembalasan. Di pengadilan sana, mulut menjadi kaku. Tangan yang berkata, sementara kedua kaki menjadi saksi.

Aduh Gusti, ampunkan kami yang hanya mengalokasikan waktu yang sangat sedikit untuk berzikir. Terlalu sibuk dan hampir tak ada waktu untuk bersujud. Tak sempat silaturahmi dan tegur sapa dengan tetangga, serta jarang bercengkrama dengan keluarga. Astaghfirullaah al-‘adziem wa atuubu ilaih.

Akan datang hariMulut dikunciKata tak ada lagiAkan tiba masaTak ada suaraDari mulut kitaBerkata tangan kitaTentang apa yang dilakukannyaBerkata kaki kitaKemana saja dia melangkahnyaTidak tahu kitaBila harinyaTanggungjawab tibaRabbana …Tangan kami …Kaki kami …Mulut kami …Mata hati kami …Luruskanlah …Kukuhkanlah …Di jalan cahaya …SempurnaMohon karunia …Kepada kami …Hamba-Mu yang hinaLagu: ChrisyeLirik: Taufiq Ismail

Masjid Asy-Syifa, Pesantren Daar El Qolam, Gintung, Jayanti, Tangerang; bakda Subuh; 25 April; sepulang perjalanan panjang dari Ponorogo-Solo-Purwerejo-Cilacap-Tangerang; dan Jakarta, 15 Agustus 2015 untuk tambahan syair  “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” kiriman sahabat saya, Doddy Priambodo melalui milist salamminna.

Salam,
jr

Categories: #TentangKebaikan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: