#TentangKebaikan : NIKMATNYA SUASANA HOTEL

“Makan, Pak!” seorang anak yayasan Ar-Rahmah sedang memasukkan sesuatu ke mulutnya.

“Oh, kamu bawa makanan?”

“Iya, Pak. Saya puasa.” Anan sedang menjalankan puasa sunah bulan syawal.

Di kursi malas pinggir kolam renang Aston, Anak ini duduk di antara Deni dan Roy.

Deni sekolah kelas 1 SMA Darul Ihya, Ciomas.  Dalam usia satu tahun ditinggal ayahnya dan tiga bulan lalu ibunya pergi juga menghadap ilahi. Ustaz Solihin, guru ngaji Deni mengantarkan anak malang itu ke tempat kami.

Roy, baru tiga hari lalu bergabung dengan yayasan Ar-Rahmah. Nama lengkap dia sih Muhammad Royani. Tapi teman-temannya biasa memanggil dia dengan Roy. Keren juga!

“Saya tahu yayasan Ar-Rahmah dari Bu Febi.”

Febi adalah guru yang sukarelawati. Ia mengajar anak-anak usia dini, tanpa imbalan apa pun. Wanita salehah ini, dari Senin sampai Jumat mengabdikan dirinya. Ia mengajar anak-anak miskin yang tinggal di sekitar kami tinggal.

Roy baru di kelas 1 SMP. Ia tidak tahu siapa dan di mana ibunya berada. Waktu dia berusia tiga tahun ayahnya meninggal dunia. Sejak ditinggal suaminya, Yanti, Ibu dari anak yatim ini, meninggalkan rumah dan tidak pernah kembali. Roy, lalu, diasuh kakek dan neneknya. Tiga hari lalu ia datang dan, selanjutnya, menetap di Ar-Rahmah.

Hari ini, Jumat, 8 Agustus saya menghadiri rapat bersama teman-teman dari berbagai fungsi dengan Genting Oil di Aston, Bogor. Hotel berlokasi di tumit Gunung Salak ini mempunyai kolam renang yang indah. 

Sudah cukup lama saya tidak dinas atau rapat di hotel-hotel di kota Bogor. Dahulu, saat bertugas di Divisi Eksplorasi dan di SDM, sering kami ada dinas di kota sejuta angkot ini. Beberapa anak, saat ditanya, “Sudah berapa kali kamu menginap di hotel?”

Mereka menjawab, “Sudah 5 kali, baru 3 kali,” … atau mereka bilang, “Sudah lupa!”

Saking seringnya, banyak anak tidak ingat lagi berapa kali mereka sempat menginap atau sekadar berenang di hotel.

Kawan-kawan lama saya di Eksplorasi sudah mafhum, jika saya dinas dan menginap di hotel, fasilitas tempat nginap itu akan dimanfaatkan juga oleh anak-anak yatim dan duafa.

Beberapa kali, sehabis rapat, banyak teman yang kembali ke Jakarta dan kamarnya tidak diinapi. Mereka hanya gunakan kamar hotel untuk shalat saja. Kawan-kawan ini memberikan kuncinya kepada saya. Berbondong-bondonglah anak-anak miskin itu masuk hotel. Mereka bisa menonton TV sepuasnya, lalu berenang di kolam seperti orang-orang kaya. Saya, biasanya, sedapat mungkin tidur di rumah saja. Biarlah mereka, sesekali, berbahagia menikmati suasana layaknya orang-orang berada.

“Sekarang ibu kamu, kira-kira berada di mana?”

“Tidak tahu.”

“Tapi masih ingat wajahnya?”

“Tidak.”

“Yang rajin saja kamu belajar, ya. Sok, sekarang berenang dulu.”

Ditemani Deni dan Rian, Roy nyemplung ke kolam. Tujuh teman lainnya sudah dari sore tadi di dalam air.

Sore ini, termasuk satu anak saya yang masih di SMP di dalamnya, saya  “menyelundupkan” sepuluh anak untuk menikmati nyamannya fasilitas hotel berbintang.

Mereka menonton TV yang channel-nya banyak, meloncat ke kolam, lalu berteriak-
teriak kegirangan. Mereka bersuka ria.

Menyaksikan pemandangan ini, ada rasa senang di dada, tapi qalbu merasa haru. Saya  meneteskan air mata.

Pinggir kolam renang Aston, 8 Agustus 2014.

Salam,
Jr

Categories: #TentangKebaikan | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: