#TentangKebaikan : DOA ORANG YANG DISIKSA

Sharing Ramadhan 2014, edisi ke-8:

Darah bercucuran dari kepalanya. Gelandangan berpakaian compang camping, kusam, dan kotor dipukuli pedagang. Orang-orang yang berkerumun, hanya menyaksikan kejadian tragis itu. Tidak ada yang berbuat; tidak ada yang berani menolong orang gila yang disiksa pemilik warung itu.

“Gara-gara kamu datang, tidak ada orang mau belanja! Pergi dari sini atau saya pukuli terus!” sambil terus mengayunkan pemukul, pedagang itu kalap.

Orang malang itu, dalam derita, hanya terdiam menahan sakit.

“Stop…stop…hentikan, jangan pukul orang ini!”

“Hey, kamu saudaranya? Bawa orang gila ini menjauh dari warung, kalau tidak saya pukuli terus dia!” tukang pukul itu mengancam.

“Saya raih tangan gelandangan itu. Dia mau. Saya bawa masuk ke dalam mobil. ‘Silakan duduk, Pak. Mobil melaju. Siapa nama Bapak?’ Tidak menjawab. ‘Bapak tinggal di mana?’ Masih diam. ‘Bapak punya keluarga?’ Tak ada kata-kata. Pandangannya lurus ke depan, kosong, tanpa harapan.”

“Saya putar mobil, balik arah. Saya parkirkan kendaraan. Saya turun dan antarkan bapak ini ke sebuah kolong jembatan tol yang suka digunakan para tunawisma untuk beristirahat. ‘Bapak lapar?’ Dia hanya menatap. ‘Saya menyeberang jalan, membeli makanan di sebuah warung kecil. Nasi, tempe, sayur; tak sampai sepuluh ribu rupiah harganya. Nasi bungkus saya sodorkan kepada orang yang tubuhnya masih berdarah ini. ‘Silakan Bapak makan’! Dia menerima bungkusan itu. Ia, mulai memandang. Perhatiannnya ke arah saya. Ia menatap tubuh saya dari mulai ujung rambut hingga ujung kaki.  Lalu, tiba-tiba, tangannya menengadah ke langit. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Tak terdengar kata-kata, hanya air mata yang tampak bercucuran. Saya tinggalkan dia. Saya menyeberang jalan, kembali ke mobil. Dari dalam kendaraan, penasaran, saya melirik ke samping. Dia masih mengangkat tangannya. Entah apa yang dia sampaikan kepada Tuhan.”

“Saya kembali ke kantor di Bank Danamon. Di tempat kerja, bos berbicara kepada saya, ‘Coca cola sedang mencari lahan di pinggir jalan besar untuk kantor mereka. Kamu, kan, biasa pergi ke sana kemari. Nah, kalau kamu lihat ada tanah mau di jual dan berlokasi di pinggir jalan raya, tolong segera hubungi saya. Nanti kamu bisa dapat persenan.'”

“Kurang dari satu minggu, dalam perjalanan tugas dari kantor, di sebuah area, saya membaca tulisan dengan huruf besar-besar: TANAH DIJUAL. Ada nomor telepon di papan itu. Saya hubungi bos. Dia segera datang. Pihak Coca cola juga merasa cocok. Terjadi transaksi. Dari kedua belah pihak saya mendapat uang jasa yang jumlahnya besar. Ustaz kepengin tahu, berapa uang yang saya terima,” Harun, sopir di Bank Danamon itu bertanya kepada Ustaz Boby.

“Lima ratus juta rupiah! Mungkin itu doa dari orang gila yang saya kasih nasi bungkus, beberapa hari lalu. Nasi itu saya beli dengan harga kurang dari sepuluh ribu, tapi Tuhan balas dengan berlipat-lipat!”

Materi shardan ini bersumber dari ceramah Ustaz Bobby Herwibowo dalam Buka Bersama Keluarga Besar SKK Migas di City PLaza P9, 16 Juli lalu. Ustaz mendapatkannya langsung dari Pak Harun, sopir di Bank Danamon yang menyambut Ustaz di dalam lift. Saya sampaikan kembali -dengan variasi redaksional, dengan tetap menjaga isi dan esensi- kepada Ibu-ibu dan Bapak-bapak, semoga bermanfaat.

Dalam perjalanan Bogor-Jakarta, 18 Juli 2014.

Salam,
jr

Categories: #TentangKebaikan | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: