#TentangKebaikan : JALAN MENUJU TUHAN

Banyak di antara kita, khususnya orang-orang berada, pada hari-hari akhir di bulan ramadhan berat badannya berkurang. Tubuhnya susut lantaran kurang asupan. Bukan tidak ada makanan, melainkan malas makan di waktu sahur; dan pada saat berbuka perut sudah keburu jenuh dengan es buah dan aneka macam kolek. Apalagi kalau diselingi batang rokok yang terus mengepul, menjadi malaslah untuk makan.

Kondisi berbeda, bahkan kebalikannya, dapat Anda temui di tempat kami. Anak-anak -juga pengasuhnya- pada bulan puasa hingga lebaran tiba, berat badannya bertambah. Apa pasal?

Pada hari-hari biasa, kalau tidak ada yang mengirim makanan -baik untuk acara syukuran atau sekadar sedekah- bertemu lauk yang sedap adalah sesuatu yang jarang. Untuk makan sehari-hari, anggaran kami tidak cukup untuk membeli ikan. Namun, sayur juga tetap sedap. Alhamdulillah.

Pada bulan kemuliaan rezeki pada datang. Setiap waktu sahur dan saat berbuka, bisa dipastikan kami makan daging sapi atau ayam. Menu berbeda ini mengundang selera untuk menambah nasi, sebab daging ataupun ikan -dibanding dengan sayuran, karena rasanya lebih nikmat-  ternyata, memerlukan lebih banyak hasil sawah itu. Belum lagi makanan-makanan ringan yang datang silih berganti.

Kebahagiaan dan kenikmatan dalam bersantap tidak hanya anak-anak yang merasakan. Nasi kotak yang hampir tiap hari berlebih, menyebar kepada keluarga-keluarga miskin di sekitar kami.

Agar saat anak-anak menyantap masakan enak itu benar-benar merasa nyaman, konsentrasinya tidak terganggu dengan kondisi di kampung mereka; kami lakukan sesuatu. Supaya pikiran anak-anak tidak melayang,  apakah ibu dan/ atau adik-adiknya punya persediaan makanan untuk berbuka dan makan sahur -melalui paket sembako- kami kirimkan bahan mentah itu ke rumah-rumah mereka. Bahan makanan pokok ini pun melebar distribusinya kepada tetangga mereka yang juga orang-orang papa.

Ramadhan, benar-benar membuat (sebagian) orang tak punya bisa lebih berbahagia.Walau, memang, di banyak tempat, masih tak terkira jumlah yang hidup sengsara. Paling tidak jumlah orang yang menderita, pada bulan ini, berkurang secara signifikan.

Bagi anak-anak kami, rupanya, tak hanya santapan lezat yang mereka dapat. Beberapa tamu membagikan amplop berisi lembaran berangka. Maka, sehabis tarawih dan pada hari raya, anak-anak bisa jajan siomay, bakso, dan mie ayam. Beberapa di antara mereka, malah, pada hari-hari menjelang hari raya Idul Fitri tiba, pergi ke pasar, berbelanja kain untuk ibu dan adik-adik di kampung. Wajah-wajah mereka ceria. Setelah sebulan sahur dan berbuka -dengan makanan sedap yang tidak mudah mereka dapatkan di luar bulan puasa; dan selanjutnya segera akan bertemu keluarga di desa;  mereka pun membawa bingkisan lebaran untuk adik dan emak. Ada juga yang berbelanja untuk kakeknya, sebab sejak kecil, dulu –sebelum bergabung bersama kami, mereka mendapatkan kasih dari nenek dan kakeknya. Dari sejal awal bulan puasa hingga menjelang lebaran tiba, alangkah bahagianya mereka!

Suatu hari para murid bercerita kepada Abu Basyir, “Guru di negeri jauh, ada orang bisa terbang.”

“Tidak aneh, nyamuk pun bisa terbang.”

“Di kampung sana, ada manusia bisa berjalan di atas air.”

“Tidak usah heran, katak pun bisa berjalan di permukaan air.”

“Tapi guru, di dusun itu ada orang yang dalam satu waktu bisa berada di banyak tempat!”

“Nah, kalau itu, yang paling pintar adalah syetan! Sebab syetan bisa masuk ke banyak hati manusia dalam saat yang bersamaan,” guru sufi itu menerangkan.

Para murid tidak mengerti dengan penjelasan gurunya. Mereka menduga orang-orang yang mempunyai kesaktian di atas adalah hamba-hamba yang dekat dengan Tuhannya. Manusia-manusia yang bisa berjalan di atas air, atau terbang di udara, bahkan bisa berada di banyak tempat dalam waktu yang bersamaan adalah orang-orang dekat dengan Sang Pencipta. Mereka menyangka orang-orang sakti itu adalah para hamba yang sudah berada di jalan Tuhan. Akan tetapi, keterangan guru mereka, sepertinya, tidak demikian. Para penempuh jalan kebaikan itu menjadi heran. Kepada guru mereka, para murid itu, kemudian, mengajukan pertanyaan.

“Jadi Guru, jalan menuju Tuhan itu bagaimana?”

“Jalan menuju Tuhan adalah sebanyak napas manusia. Sangat banyak!  Akan tetapi; jalan paling lurus, mudah, dan dekat dalam menuju Tuhan adalah … berbuat baik kepada sesama.”

Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan Teman-teman; yang pada bulan ramadhan kemarin telah berpartisipasi dengan memberikan hidangan sahur dan berbuka; menyediakan sembako bagi anak-anak yatim dan duafa, orang-orang miskin yang meminta dan tidak meminta; memberikan infak dan sedekah bagi mereka; juga yang telah membantu kami dalam bentuk fasilitas dan kelengkapan yayasan sehingga anak-anak menjadi lebih nyaman adalah orang-orang yang telah berbuat baik bagi sesama.

Semoga Tuhan memasukkan Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan Teman-teman semua ke dalam golongan para hamba yang berada di jalan-Nya: Jalan Menuju Tuhan.

Stasiun Bogor, sambil menunggu redanya hujan yang lebat, 4 Agustus 2014.
Salam, jr.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: