#TentangKebaikan : AIR MATA PENYESALAN MENGIRINGI KEPERGIAN RAMADHAN

Sharing Ramadhan 2014, edisi ke-11
  
“Ilahi, selama sebulan Engkau menyaksikan kami bangun di waktu dini hari dan mendengarkan suara istighfar kami. Alangkah malangnya kami bila setelah hari ini Engkau melihat kami tidur lelap bahkan melewati waktu Subuh seperti bangkai tak bergerak. Selama sebulan bibir kami bergetar dengan doa, zikir, dan kalimat suci Al-Qur’an. Celakalah kami bila setelah ramadhan ini, kami gunakan bibir yang sama untuk menggunjing, memfitnah, dan mencaci maki orang lain,” di hadapan anak-anak yatim dan duafa, Ahad bakda Subuh, saya membacakan doa akhir ramadhan.

“… Engkau perintahkan kami untuk memaafkan orang yang menzalimi kami. Kami sudah menzalimi diri kami sendiri, ampunilah kami. Engkau perintahkan kami untuk bersedekah kepada kaum fukara di antara kami, dan inilah kami, ya Allah, semua fakir di hadapan-Mu, berilah kami. Engkau melarang kami mengusir orang-orang miskin dari pintu rumah kami. Kami ini semua miskin di hadapan-Mu, janganlah Engkau usir kami dari pintu-Mu,” saya melanjutkan.
 
Semua yang hadir di dalam masjid cantik An-Nur, tertunduk khusyuk. Doa yang panjang tentang kepergian ramadhan, beban berat di pundak apabila bulan penuh ampunan segera menghilang, dan apa yang akan dihadapi jika dalam kondisi seperti ini harus menghadap ilahi; diikuti anak-anak dengan khusyuk sekali.
 
Isi hati mulai terusik. Isak tangis menghiasi masjid. Ketika siang menyeruak datang, air mata bercucuran, tangisan memenuhi seluruh ruangan. Enda, anak asal Pangandaran – yang belum lama ditinggal pergi ibunya, tak kuasa menahan suara duka. Isakannya semakin kerap dan kencang. Kedua bibirnya tak sanggup lagi bertahan; dia menangis menjadi-jadi.
 
Dengan suara bergetar menahan kesedihan, saya terus membacakan doa. Seluruh yang hadir di dalam masjid, tak mampu membendung air mata. Air mata duka lantaran akan segera ditinggal bulan mulia. Air mata sesal tiada tara karena telah menyia-nyiakan kesempatan beribadah di bulan yang penuh berkah. Air mata nestapa, sebab esok hari, saat orang-orang berkumpul bersama keluarga, ayah telah tiada; bunda telah pergi ke haribaan-Nya.
 
“Tuhan, pertemukan kami dengan bulan ramadhan tahun mendatang,” saya menutup doa.

Diiringi pembacaan shalawat, anak-anak yatim dan duafa ini, dengan terisak-isak, satu persatu, menyalami kami, saling mengikhlaskan diri, bermaaf-maafan. Beberapa di antara mereka, tetap tak kuasa menahan suara yang mengiringi air mata. Anak-anak itu menangis sepuasnya. Seluruh yang hadir tenggelam dalam kenikmatan berurai air mata.
Air mataku menjadi saksi tentang sesal diri karena kurang memanfaatkan bulan suci dengan kegiatan berisi. Aku telah menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan. Saya lebih banyak mengisi ramadhan dengan aktivitas keduniaan. Selain tidak banyak shalat sunah, saya sangat sedikit berzikir, dan tidak menyiapkan waktu tertentu untuk bertadarus, mengkaji kitab suci! Kini, bulan keberkahan itu segera akan pergi. Ilal liqa, sampai berjumpa kembali.

Ciomas, 27 Juli 2014 (sehari sebelum lebaran).
 
Salam,
jr

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: