#TentangKebaikan : Uwais al-Qarni -Penghuni Langit-

Sharing Ramadhan 2014, edisi ke-9:

UWAIS AL-QARNI*
Penghuni Langit

Uwais adalah seorang pemuda Yaman. Dia tidak mempunyai sanak saudara. Ayahnay sudah meninggal dunia.  Sehari-hari, Uwais bekerja sebagai pengembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup-cukup untuk menampung keperluan hariannya bersama ibunya.  Apabila ada wang berlebihan, Uwais menggunakannya bagi membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan. Kesibukannya sebagai pengembala dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya. Dia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Seruan Rasulullah telah sampai ke nenegri Yaman dan mengetuk pintu hati pemuda dan orantuanya untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad saw. secara langsung.
Setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah, Uwais merasa sedih sebab ia sangat ingin untuk melakukannya tetapi tidak bisa. Hari-harinya ia baktikan untuk ibunya yang memerlukan pendampingan. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tidak terbendung dan hasrat untuk bertemu tidak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, “Bilakah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dengan dekat?” Bukankah dia mempunyai ibu yang sangat memerlukan perhatiannya dan tidak sanggup meninggalkan ibunya sendiri. Hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa Rasulullah.
Suatu hari Uwais mendekati ibunya. Dia memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan untuk pergi menziarahi Nabi saw. di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Uwais dan berkata:
“Pergilah, wahai anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Apabila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang.”
Alangkah senagnya hati Uwais. Ia berangkat menuju Madinah yang berjarak lebih kurang empat ratus kilometer dari Yaman.  Dia tidak peduli dengan ganasnya gurun pasir, baik siang maupun malam hari. Semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras Nabi saw. yang selama ini dirindukannya.
Tibalah Uwais di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi saw., diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah  Aisyah sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Rasulullah sedang tidak berada di rumah. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tidak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu hingga Nabi saw. datang.
Bilakah beliau pulang? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman.
“Engkau harus lekas pulang.”
Dia menitipkan salam untuk Nabi saw. dan melangkah pulang dengan hati yang pilu.  Nabi saw. tiba di rumah. Beliau langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad saw. menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Kepada Aisyah, Nabi saw berkata, “Dia penghuni langit!”
Mendengar perkataan Rasulullah, Aisyah dan para sahabatnya tertegun. Menurut Aisyah memang benar ada yang mencari Nabi saw. dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.
Rasulullah saw. pernah bersabda kepada para shahabat-nya, “Aku mencium napas Rahman dari Yaman. Aku mencium embusan Tuhan yang Maha Pengasih dari Yaman.” Ia berpesan kepada para shahabat-nya agar menyampaikan pesan dan salam beliau kepadanya, kelak sepeninggal beliau. Dalam riwayat para sufi bahkan dikisahkan bahwa Nabi berwasiat agar pakaian yang dikenakan pada akhir hayatnya dihadiahkan kepada pemuda itu. Pada zaman pemerintahan Umar, ia datang ke Madinah. Begitu ia mendengar salam Nabi, ia pingsan.
Rasulullah bersabda, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya!”
Sesudah itu Rasulullah saw., memandang kepada sayyidina Ali dan Umar seraya bersabda:
“Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istigfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi.”
Tahun terus berjalan, dan tidak lama kemudian Rasulullah wafat.  Sayyidina Ali dan Umar bin Khattab kepada setiap kafilah yang datang dari Yaman, selalu bertanya tentang Uwais al-Qarni. Di antara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai ia dicari oleh kedua orang terkemuka itu.
Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera Umar dan sayyidina Ali mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka.
Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, berduanya bergegas pergi menemui yang dicari. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan sayyidina Ali memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan shalat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman.
Sewaktu berjabat tangan, Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk melihat tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh Nabi saw. Benar, ada tanda di telapak tangannya. Dialah sang penghuni langit!
“Siapakah nama Saudara?”
“Abdullah,” jawab Uwais.
Mendengar jawaban itu, kedua shahabat pun tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, hamba Allah. Tetapi, siapakah namamu yang sebenarnya?”
Pemuda itu menjawab, “Nama saya Uwais Al-Qarni.”
Dari pembicaraan itu, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia.Oleh sebab itu, dia dapat turut bersama kafilah dagang ke Madinah. Khalifah Umar dan sayyidina Ali K.W. memohon agar Uwais berkenan mendoakan mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah, “Sayalah yang harus meminta doa dari kalian.”
Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata, “Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istigfar dari Anda.”
Karena desakan kedua shahabat ini, Uwais mengangkat kedua tangannya, berdoa dan membacakan istigfar. Setelah itu, Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari baitulmal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Uwais menolak dengan halus dengan berkata:
“Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam dan tidak terdengar beritanya.
Kelak, ditengah akan segera berkecamuknya peperangan antara pasukan Muawiyah melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib, seseorang dari tengah padang pasir, muncul. Orang itu, lalu, bergabung dengan pasukan Ali. Dahulu, ia tidak sempat ikut berperang bersama Nabi saw. karena waktunya ia habiskan untuk berkhidmat kepada orangtuanya yang sudah tua renta. Lelaki ini dikenal dalam dunia tasawuf sebagai Uwais Al-Qarni, salah seorang wali Allah yang besar. Ia baru sempat berjihad bersama Ali bin Abi Thalib setelah kedua orangtuanya meninggal dunia.
Uwais mencari surga di bawah telapak kaki ibunya, sebelum mencari surga di bawah kilatan pedang. Ia mencurahkan keringatnya untuk membahagiakan ibunya sebelum menumpahkan darahnya untuk memerangi musuhnya. Kedua-duanya jihad. Uwais melakukan jihad itu dengan menentukan skala prioritas. Ia mulai berjihad dengan membahagiakan keluarganya terdekat. Baru setelah itu, ia berjihad untuk menghancurkan musuh-musuh kebenaran.
Seorang lelaki melaporkan bahwa ia pernah bertemu dan dibantu oleh Uwais. “Ketika itu kami berada di atas kapal menuju ke tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin tofan berhembus dengan kencang. Hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya.
Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan shalat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu.
‘Wahai waliyullah, tolonglah kami!’ Namun, lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,
‘Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!’
Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata,
‘Apa yang terjadi?’
‘Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihentam ombak?’
‘Dekatkanlah diri kalian kepada Allah!’
‘Kami telah melakukannya.’
‘Keluarlah kalian daripada kapal dengan membaca bismillahirrahmaanirrahim!’
Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul. Pada saat itu jumlah kami lima ratus lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami serta isinya tenggelam ke dasar laut.
Lalu orang itu berkata pada kami,
‘Tidak apalah harta kalian menjadi korban, asalkan kalian semua selamat.’
‘Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan?’
‘Uwais Al-Qarni.’
Kemudian kami berkata lagi kepadanya,
‘Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.’
‘Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?’
‘Ya!’
Orang itu pun melaksanakan shalat dua rakaat di atas air, lalu berdoa. Setelah Uwais al-Qarni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tiada satu pun yang tertinggal.”
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar Uwais Al-Qarni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebut untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengafanikannya.
Demikian juga ketika orang pergi hendak menggali kuburnya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke perkuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Kepergian Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tidak kenal datang untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak dia dimandikan hingga jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.
Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tidak memiliki apa-apa? Kerjanya hanyalah sebagai penggembala?”
“Namun, pada hari wafatmu engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenali. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya.”
Barangkali mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi untuk mengurus jenazah dan pemakaman manusia suci. Sejak saat itu, penduduk Yaman mengetahuinya siapa Uwais Al-Qarni, si penghuni langit.

Ciomas, 19 Juli dan Jakarta, 21 Juli 2014.

Salam,
J. Rahmat

*Dari berbagai sumber.
Banyak hal dalam dunia tawasuf yang tidak mudah dicerna oleh kalangan awam seperti kita.

Categories: Uncategorized | Tags: , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: