#TentangKebaikan : Membahagiakan Orang Lain

Selasa, 24 Juli lalu, saya naik kereta Commuter Line dari Bogor menuju Jakarta. Kerta pagi, seprti biasa, penuh sesak dengan orang-orang yang merumput di Jakarta.

Seorang ibu muda, berkerudung, duduk disebelah saya. Sepanjang perjalanan, ia nyaris tak lepas dari membaca. Tidak bermaksud mengintip, tapi karena duduknya berdekatan, secara tak sengaja (atau sengaja juga), aktivitasnya terlihat dari sudut kiri mata saya. Apa yagn dibacanya?

Ibu itu, sibuk dengan telepom seluler canggih buatan negeri ginseng yang ia mainkan, berkomunikasi dengan … entahlah… mungkin keluarga atau temannya. Dengan telepon selular bagusnya; ia pun bertadarus, membaca al-Qur’an. Sempat pula membuka buku kecil berisi doa-doa.

Dari stasiun ke stasiun, penumpang semakin memenuhi ruang dalam kereta. seorang wanita hamil naik dari Stasiun Citayam atau Depok, lupa saya; terlihat memerlukan tempat duduk. Dengan sigap, ibu muda tadi berdiri mempersilahkan ibu berbadan dua itu menggunakan kursi kecil yang tadi ia duduku. Ia sendiri, lalu berdiri sambil terseok-seok. Karena dorongan dari sekelompok besar penumpang yang baru naik.

Walau hanya hal kecil, memberikan tempat duduk kepada yang lebih memerlukannya, dia telah ia telah meringankan beban orang lain. Hati saya spontan berkata, “Barang siapa meringankan beban orang lain di dunia, akan diringankan bebannya di akhirat nanti.” Tentu saja si ibu hamil merasa senang.

Agama dan budi pekerti mengajarkan agar kita, dalam hidup keseharian, baik di kantor, dilingkungan rumah, maupun di mana saja, untuk senantiasa berbuat baik kepada siapapun. Senyum, tegur sapa atau sedikit canda tanda keakraban juga amal saleh. “Sebaik-baik amal saleh adalah memasukkan rasa bahagia kepada orang lain.”

Dalam Ushul Fiqh ada qoidah yang disebut Mafhum Mukholafah, pengertian kebalikan. Jika “sebaik-baik amal saleh adalah memasukkan rasa baagia kepada orang lain”, “seburuk-buruk amal adalah memasukkan rasa kecewa kepada orang lain”.

Di akhirat nanti akan ada makhluk yang membimbing kita. Jenis makhluk itu menyenangkan atau tidak menyenangkan, tergantung amal-amal kita di dunia. Kalau di dunia ini kita sering beramal saleh, banyak orang yang senang dengan kehadiran kita, kita akan beruntung. Sebaliknya, apabila ketika hidup ini didominasi dengan amal salah, banyak orang takut kalau bertemu kita, banyak orang terlukai hatinya, kita akan merugi.

Akan datang menjadi pemandu kita, seorang berwajah enak dipandang. dibimbing kita ke tempat-tempat yang baik ditunjukkanya tempat-tempat yang baik. Ditunjukkannya tempat-tempat indah. “ini adalah taman bunga. Itu bukit-bukit hijau; dan disana itu adalah sungai yang airnya sangat jernih, mengalir deras. Semuanya untukmu”.

Tibalah saat berpisah. Waktu itu kita akan bertanya, “Siapa kamu?”

Makhluk itu akan menjawab, “Saya adalah rasa bahagia yang kau berikan kepada orang lain.”

Ibu muda yang rajin membaca itu telah memberikan rasa bahagia kepada orang lain.

Sebelum menutup tulisan ini, saya ingin menyampaikan sebuah pepatah Arab:

“Ketika engkau dilahirkan, engkau menangis menjerit; sementara orang-orang di sekitarmu tertawa gembira.
Beramallah untuk dirimu, hingga kelak, di saat kamu mati, orang-orang di sekitarmu menangis sedih, sementara kamu…. tersenyum gembira”/

Ciomas, 25 Juli 2012
Salam Ta’zhim,
Jonih Rahmat

Categories: #TentangKebaikan | Tags: , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: