Shardhan 2013-8_ Ingin Ngobrol Santai Sama Bapak

Tuhan karunia empat anak kepada kami. Paling besar, Bila, waktu itu, sekolah SMA di Bandung.

Adiknya yang paling kecil masih di Sekolah Dasar. Sedangkan dua anak kami lainnya tinggal

di pesantren. Iki belajar di pesantren paling bersih dan paling hijau dengan pepohonan di Bogor:

Pesantren Daarul Muttaqien, Parung. Kakaknya, Isal, menuntut ilmu di Daar el Qolam. Pesantren

terbesar di Banten. Belakangan, setelah satu tahun, untuk meningkatkan pelajaran bahasa Arabnya,

Iki pindah juga ke pesantren di Wilayah Tangerang itu.

Kecuali anak paling kecil, ketiga anak kami -karena tidak tinggal bersama keluarga- bertemu saya

rada-rada jarang. Ibunya sih, tiap dua minggu atau sebulan sekali menemui mereka di pesantren.

Saya, dulu, ke pesantren dua-tiga bulan sekali atau lebih lama lagi jaraknya. Kadang, karena

berbagai kegiatan, baru ketemu anak-anak pas mereka liburan sekolah, enam bulan sekali.

Kalau banyak kawan mengisi hari-hari Sabtu dan Minggu dengan olah raga bersama rekan-rekan

kerja atau bercengkerama dengan keluarga di rumah, saya lebih banyak menghabiskan waktuwaktu itu untuk diri sendiri. Saya hadiri berbagai seminar, kursus, kuliah, atau mengurus keperluan

yayasan yatim.

Waktu itu, saya berpikir bahwa ibunya, kan, rutin menemui anak-anak. Dia mewakili suaminya atau

bapak anak-anak juga. Jadi, tak masalah kalau saya agak jarang menemui mereka.

Suatu hari, tahun lalu, sepulang dari pesantren, Sri, istri saya menyampaikan pesan dari Isal, putra

kami yang di Tangerang, Banten. Dengan raut muka sedih, Isal mengeluh kepada ibunya, “Bapak

begitu sibuk, hingga sulit bertemu anaknya sendiri. Bapak jarang ke sini. Isal juga ingin ketemu

bapak. Ngobrol santai sama bapak, atau makan nasi bungkus bersama bapak di pesantren.”

Terhenyak saya mendengar pesan anak kedua kami itu. Saya lupa, rupanya, selama ini saya

terlalu mementingkan diri sendiri. Merasa sibuk dengan pekerjaan dan acara-acara lainnya. Untuk

keperluan anak-anak, rasanya, bisa didelegasikan kepada ibunya, atau –tak jarang- diwakilkan

kepada orang lain.

Karena kami sering menerima banyak tamu dari tempat yang jauh, kadang-kadang, kami minta

tolong seorang tetangga dekat atau anak-anak yatim yang sudah senior untuk mengurus keperluan

anak-anak kami dan menemui mereka di pesantren. Anak kami merasa heran, orang tua mereka,

khususnya bapaknya, lebih memberikan perhatian kepada kegiatan lain dibanding menjenguk

anaknya di pesantren.

Saya sering menilai sesuatu dengan melihat sekala prioritas, tapi berdasarkan logika pribadi. Kita

lupa, anak-anak juga punya pikiran dan logikanya masing-masing. Saya mengukur segala sesuatu

dengan ukuran sendiri, tidak melibatkan partisipasi kepentingan anak-anak. Ternyata, mereka bisa

berbeda pandangan dengan kita. Dan, orang tua bisa salah.

Ketika ada anak yang merasa agak dikesampingkan kepentingan dia oleh bapaknya, dan ia

protes dengan caranya sendiri, saya harus merenung, mentafakuri diri. Ternyata saya egois. Saya

menomersekiankan perhatian kepada anak-anak. Saya baru tersadar setelah Isal bilang, “Bapak

jarang ke sini. Isal ingin ngobrol santai dan makan bersama bapak!” Kata-kata itu, terngiang-ngiang

di telinga, menusuk hati, menyalahkan diri. Saya meneteskan air mata.

Satu hari saya ke sekolah anak yang di Bandung. Guru konseling mengundang saya ke ruangannya.

Pak Cucu adalah seorang guru yang metoda-metoda pendekatan yang ia lakukan dalam mendidik

para siswa sering diadopsi DIKNAS dan menjadi model pendidikan yang diterapkan Kementerian

Pendidikan secara nasional.

Setiap murid, Pak Cucu wawancarai. Anak-anak diminta berbicara tentang sekolah, tentang

keluarga. Komunikasi guru-murid itu direkam oleh video.

Saya memasuki ruang kerja guru favorit para murid itu. Pak guru menayangkan rekaman

wawancara. Putri kami, Bila, muncul di layar laptop.

“Saya senang bapak saya punya kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Saya suka bapak

berbuat baik dan disukai tetangga. Saya bangga mempunyai ayah yang mengurus anak-anak

yatim. Waktu bapak habis untuk mereka. Tetapi, saya, anaknya, perlu perhatian juga. Saya juga

ingin sering bertemu bapak. Bapak sangat jarang mengunjungi saya!” Bila berbicara sementara air

matanya bercucuran.

Saya tatap wajah anak yang mengadukan ayahnya yang sering tak jumpa dia. Sering melupakannya.

Pipi saya dialiri cairan hangat yang keluar dari kedua sudut mata. Kembali, saya menangis,

menyesali diri.

Sejak itu, saya berusaha mengubah cara berpikir tentang sekala prioritas yang cenderung sepihak

dan egoistis. Pada setiap acara khusus di sekolah atau pesantren anak-anak, sesibuk apa pun –walau

kadang dalam kondisi badan kurang sehat- saya sempatkan menghadirinya. Saya merasakan betapa

nikmatnya makan di warung nasi kecil bersama keluarga. Alangkah indahnya suasana hati, saat

makan nasi padang di halaman pesantren dengan anak-anak. Rasa hangat pada kertas pembungkus

nasi, itu menunjukan isi bungkusan masih panas. Istri saya biasa memesan nasi padang sebanyak

teman sekamar anak-anak. Isal dan Iki, anak-anak kami, malah tak jarang menambah pesanan untuk

teman-temannya dalam kelompok kegiatan ekstra kurikuler mereka.

Berbicara tentang sibuknya para orang tua sehingga waktu untuk mereka berkomunikasi dengan

anak-anaknya menjadi sangat terbatas, saya pernah mendengar kisah tentang seorang pengusaha

kaya raya di Amerika. Ia mempunyai bisnis di mana-mana. Hartanya, saking banyaknya, nyaris tak

terhingga. Dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Tak ada waktu untuk bercanda bersama keluarga.

Suatu hari, pengusaha itu jatuh sakit. Dokter mengatakan bahwa pebisnis terkenal ini terserang

kanker ganas. Pada hari-hari terakhirnya, orang kaya itu mengalami penyesalan yang dalam. Dia

merasa berdosa kepada anak dan istrinya. Selama ini, dia habiskan waktunya untuk pekerjaan –

yang sebenarnya juga, nanti, untuk dinikmati bersama keluarga. Tetapi saat untuk beristirahat

sejenak bersama anak dan istri, menikmati hasil jerih payah usahanya selama ini, tak pernah

terjadi. Pengusaha kaya itu keburu sakit. Dia pergi meninggalkan harta yang banyak, tetapi ia dan

keluarganya tidak bahagia.

Saya terinspirasi menulis ini, ketika sohib saya, Pak Agus Sapto, sambil menunggu lift untuk

mencapai lantai 9, City Plaza; berbicara tentang keluarga. Begitu lift terbuka, sudah beberapa alinea

saya selesaikan. Setiba di tempat salat dan kultum ramadhan, saya menugaskan tiga indera saya

untuk berkerja secara paralel. Telinga mengarah ke penceramah, mata menunduk ke telepon seluler,

dan jari-jari telunjuk memainkan pad-pad BlackBerry, meneruskan tulisan tentang perhatian kepada

keluarga. Semoga coretan kecil ini bisa menegur hati teman-teman yang suka menghabiskan waktu

di tempat kerja atau di lapangan olah raga; sementara anak-istri sudah lama terkantuk-kantuk,

menunggu di meja makan.

City Plaza, bakda Zuhur, 18 Juli 2013

Salam,

jr

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tags: , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: