Shardhan 2013-7_Mereka Mencuri, Mengancam Hancurkan Rumah dan Culik Anak

Rumah kami berada di dalam gang. Bentuk jalan kecil ini mirip botol terbalik. Dari bagian

mulutnya, di pinggir jalan raya, ukurannya besar, truk pun bisa masuk. Tapi itu untuk ruas jalan

sepanjang lebih kurang 20 meter saja. Selanjutnya, semakin mengecil dan menyempit. Terakhir,

mobil ukuran kijang, kalau sopirnya mahir dan terbiasa masuk gang kecil, bisa masuk hingga

muka halaman rumah kami.

Banyak tamu yang datang, kapok memasukkan kendaraannya ke halaman rumah kami, karena

mobil mereka tergores tembok gang.

Setelah rumah kami, ke belakangnya adalah gang selebar kurang dari 1 meter. Karena sempitnya,

payung pun tidak bisa terbuka maksimal. Sepanjang gang yang melingkari rumah kami, tidak

ada penerangan. Kalau malam tiba, gelaplah. Saya, lalu, memasang instalasi kabel ke sekeliling

bagian pinggir rumah yang menempel pada gang. Beberapa lampu pijar bermerk saya pasang.

Esok hari, pagi-pagi, semua lampu itu sudah tidak ada di tempatnya. Diambil orang.

Waktu saya kecil, ayah saya memelihara banyak ayam. Unggas itu pagi-pagi dilepas, dan sore

hari pada pulang kandang. Jika hingga menjelang magrib hewan itu masih belum kelihatan

di sekitar kandang; kami, kakak beradik, juga ibu saya, mencari ke sana-kemari. Bapak

memerintahkan anak-anaknya agar mencari ayam-ayam itu sampai ketemu. Padahal, kadang,

ketika mereka sedang bermain, binatang itu sudah diambil orang

Karena rumah berada di pinggir jalan besar, tidak jarang unggas yang suka berpetok-petok

atau berkukuruyuk, itu terlindas mobil yang lewat. Asal tidak mati seketika, siapa pun yang

melihat binatang itu kena kecelakaan, akan sigap menyembelihnya. Jadilah kami makan daging

ayam pada sore harinya. Apabila mau sarapan tidak ada yang menemani nasi masuk ke perut,

datanglah kami ke sarang ayam-ayam yang sedang bertelur. Nyalakan api di dapur, digorenglah

itu telur.

Setelah berkeluarga, saya pun memelihara banyak ayam, berbagai jenis. Mulai dari ayam

kampung (ini ayam kampung beneran, ya!), ayam bangkok, ayam pelung, hingga ayam kate dan

ayam lignan.

Di pusat ayam pelung terbesar di Jawa Barat, di Demplot, Warung Kondang, Sukabumi, saya

membeli beberapa anak ayam pelung dan ayam Kate Kanada. Ayam mini ini unik. Bulunya

berwarna mirip batik. Kate-kate itu, baru menginap semalam di halaman belakang rumah, lima di

antaranya sudah raib dari kandangnya.

Karena sedang membuat beberapa kamar mandi, banyak pralon berserakan di halaman belakang.

Seperti halnya lampu dan ayam, pralon-pralon itu pun pergi entah ke mana.

Jika ada rapat di kantor dan mendapatkan konsumsi berupa nasi kotak, atau dapat kiriman dari

kawan yang berulang tahun, nasi itu tidak saya makan. Saya bawa ke rumah. Makanan dalam

kotak itu saya berikan kepada tetangga-tetangga terdekat, secara bergantian.

Suatu malam kakak kami datang dari Bandung. Ketika mau pulang, pukul sebelas malam, mobil

yang diparkir di halaman dibongkar orang. Beberapa barang hilang. Saya sangat marah. Dalam

hati saya berkata, “Orang-orang yang sering saya kirimi rezeki, eh ..mencuri juga ke tempat

kami!”

Tengah malam itu, saya datangi rumah-rumah yang dicurigai. Saya ketuk pintunya. Begitu pintu

dibuka, lampu senter langsung saya arahkan ke sudut-sudut rumah. Usaha itu tidak membuahkan

hasil. Barang-barang yang hilang tidak ditemukan. Orang yang melakukan pencurian mungkin

hanya satu-dua orang, tapi kami tidak tahu penghuni rumah yang mana yang melakukannya.

Karenanya, hampir semua yang saya curigai, saya datangi. Banyak di antara para pemuda yang

saya bangunkan itu, tersingggung.

“Mungkin orang luar yang mencurinya, Pak.”

“Tidak mungkin. Wong, di sini pusatnya maling !”

Sebagai informasi, rumah-rumah di kampung kami dihuni oleh tidak sedikit pemuda yang

tangannya panjang. Kondisi ekonomi masyarakat, secara umum, miskin-miskin dan banyak

pengangguran. Akan tetapi, walau keuangan morat-marit, kalau untuk minum minuman keras

dan main judi, tidak masalah. Itu adalah kegiatan sehari-hari.

Di antara mereka yang suka jual ikan, binatang ternak, atau hasil kebun. Padahal, saya tahu,

mereka tidak punya kolam atau pun kebun, juga tak memelihara ayam. Pak Heri, sekretaris desa,

di depan kolamnya yang besar, dengan nada sedih bercerita kepada saya dan istri.

“Beberapa bulan lalu, saya tanam ikan dua kwintal di balong ini. Sengaja untuk dipanen pada

hari raya haji. Kemarin, saya kuras airnya. Ikannya tinggal empat ekor!”

Tidak jarang tetangga datang ke rumah mau meminjam uang untuk menebus anaknya di kantor

polisi. Anak-anak itu ditangkap karena kedapatan mengambil barang orang atau menghisap

barang haram.

Ada anak tetangga yang nyaris mati dipukuli masa, ketangkap saat beraksi. Tetapi, ada juga

yang kebal dihantam benda-benda tajam. Dia berkali-kali digebuki orang dan ditangkap polisi.

Sesering itu juga ayahnya mengeluarkan banyak uang untuk menebusnya. Seorang tetangga

dekat sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka akibat pukulan benda tajam. Kecuali kami,

keluarganya melarang tetangga lain untuk menjenguk.

Setelah sekian lama bergaul dengan mereka, saya menjadi tahu rumah-rumah mana saja yang

salah satu atau lebih penghuninya suka mencuri. Rumah ini ada satu anak, rumah sana punya

dua, rumah itu tiga manusia; dan rumah lainnya baik-baik saja. Saya bisa bikin peta kontur yang

menunjukan populasi dari rumah-rumah yang dihuni oleh orang-orang yang ukuran tanggannya

panjang!

Maka ketika mereka bilang bahwa yang mencuri barang-barang di mobil, mungkin orang luar,

saya langsung berkata kepada mereka:

“Masa orang luar. Wong di sini pusatnya maling!”

Mereka tidak terima dan marah. Sambil meninggalkan tempat kami, di antara mereka ada

yang menggertak akan menghancurkan rumah kami. Seseorang berbicara keras di belakang

tembok dan mengancam akan menculik anak.

Saya telepon kantor polisi. Dari Polsek Ciomas datang polisi satu mobil bak terbuka. Saya minta

para pemuda itu dipanggil dan dicatat nama-namanya. Kami minta jaminan agar mereka tidak

macam-macam. Jika dihadapkan ke polisi, mereka takut. Kalau hanya dilaporkan hanya kepada

RT, RW, atau Lurah; para pejabat itu masih sanak-famili mereka. Tak mempan.

Dulu, karena urusan-urusan seperti ini, sering saya perlu mengambil cuti kerja. Saya berjaga-jaga

di rumah dengan selalu siap untuk menelpon polisi. Sudah beberapa kali polisi datang ke rumah,

sehingga, waktu itu, saya kenal dengan banyak dari mereka.

Saya baru tahu ada masyarakat seperti ini!

Pasar Minggu, 12 Juni 2013.

Salam,

jr

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tags: , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: