Shardhan 2013-6_ Genteng Mak Ajuz Bocor

Apabila turun hujan, air masuk ke hampir seluruh bagian rumah. Mak Ajuz, seorang nenek

dengan satu putrinya yang juga sudah tua serta seorang cucu yang sudah punya anak, tinggal

di bangunan sederhana itu. Hanya setengah bagian dari tempat tinggalnya yang bergenteng,

sisanya beratapkan langit. Karena kondisi itulah, jika hujan datang, penghuni rumah merasakan

ketidaknyamanan. Padahal, itu rumah berada di kota yang hampir tiap hari turun air dari langit.

Suatu hari beberapa orang teman kantor menyerahkan uang kepada saya. Atas izin mereka,

rezeki itu saya manfaatkan untuk membenahi rumah Mak Ajuz. Sejumlah genteng bekas, kayukayu, bambo, dan paku saya beli. Pak Amud, seorang tukang saya mintai bantuan tenaganya

untuk memasang atap itu rumah. Karena tidak cukup dana, ia bekerja dengan tidak mendapat

bayaran.

“Kebetulan saya juga punya genteng bekas. Nanti, saya sumbangkan juga,” kata tukang

bangunan itu.

Pekerja ini, bukan saja tenaganya tidak dibayar, ia bahkan memberikan genteng yang ia miliki

dengan cuma-cuma.

Beberapa hari Pak Amud, di sela-sela waktu yang dia punya, mengerjakan pemasangan kayu

dan bambu untuk menopang genteng-genteng. Dengan tambahan genteng yang ia bawa dari

kediamannya, selesailah dia menutup semua permukaan atas itu bangunan. Biaya yang tersedia

hanya cukup untuk membeli genteng, kayu, dan bambu. Tidak ada dana untuk beli plafon, walau

sekadar dari bahan bambu yang diserut. Pekerjaan dianggap selesai.

Rupanya, salah satu sudut dari bangunan yang dipasangi genteng itu, bila turun hujan,

menjatuhkan airnya ke halaman rumah salah seorang anak si nenek, yang rumahnya

bersebelahan dengan ibunya. Milan dan suaminya, menggerutu dan marah-marah kepada pekerja

yang memasang genteng (juga, mungkin ditujukan kepada kami) bahwa halaman rumahnya

menjadi berair. Karena air dari genteng Mak Ajuz jatuh ke halaman belakang rumah dia, bagian

tanah itu menjadi becek. Berita itu sampai ke telinga saya hari berikutnya. Saya bilang kepada

istri saya, sampaikan kepada Milan, dulu sebelum dipasang genteng, memang tidak ada air

jatuhan ke situ. Tapi, rumah Mak Ajuz, ibu dari Milan, jika turun hujan, basahnya ke manamana! Dan, itu kan untuk rumah orang tua Milan. Harusnya dia yg berkewajiban membenahi

rumah ibunya!

Lain hari, Mak Ajuz datang ke rumah kami. Ia memegang tangan istri saya, menariknya,

dan membawanya ke rumah dia. Ia tunjukan lokasi-lokasi bocor dari beberapa genteng yang

baru dipasang. Nenek ini marah-marah bahwa kerja tukang tidak beres. Karena kebocoran itu,

beberapa bagian rumah menjadi basah!

Rumah itu, karena dana terbatas tadi, hanya dipasang genteng saja tanpa pelapis atau plafon di

bawahnya. Beberapa genteng, berbeda merek dan ukuran. Air dari langit yang menimpa genteng,

memantul, dan sebagian daripadanya sampai juga ke lantai. Air inilah yang membuat beberapa

bagian lantai menjadi basah. Dan ini pula yang membuat si nenek marah besar kepada pihak

yang memperbaiki itu rumah dengan pemasangan genteng tadi.

Padahal, sebelum dipasang genteng, selama bertahun-tahun, kalau turun hujan, lantai itu bukan

saja sebagiannya menjadi basah, melainkan banjir!

Stasiun Sudirman, 15 Juli 2013.

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tags: , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: