Shardhan 2013-1_ Nikmatnya Teh Kental Panas

Tadi petang, pukul 19.20, di dekat terminal Barangsiang, saya turun dari kendaraan omprengan

UKI-Bogor. Tenggorokan terasa kering. Hari itu saya berpuasa. Ketika turun dari angkutan

umum, rasa haus sangat, kuat terasa. Ingin rasanya saya minum teh panas.

Di trotoar, ada kios jamu dan di belakangnya terdapat Warung Soto Sapi dan Sop Kambing.

Merapat saya ke warung nasi dadakan itu. Melihat ada tamu datang, penjual soto itu maju ke

depan, mendekat ke “calon pembeli”.

“Saya mau minum saja, boleh?”

“Minum mah di sana, tuh!” Penjual nasi itu menunjuk ke kios jamu.

Saya menuju kios penjual jamu.

“Pak, ada teh panas?”

“Tah, di dinya enteh mah!” (Tuh, di sana kalau mau minum teh), tukang jamu menunjuk warung

nasi.

Sangat mungkin mereka menduga bahwa saya akan minta teh secara gratis. Dan itu, hanya akan

membikin repot mereka. Padahal, saya, tentu saja, akan bayar. Mau ngebatalin puasa; dan,

terutama, untuk mengusir rasa haus yang semakin menjadi.

“Bubulak, Laladon…Bulak…Ladon,” beberapa kali terdengar suara sopir mengajak penumpang

naik ke angkotnya.

Saya tinggalkan warung nasi dan kios jamu yang tidak “memberi” teh itu. “Nanti minum di

rumah saja, ” pikir saya.

Dalam angkutan kota Baranangsiang-Bubulak, saya duduk di bangku depan. Maksud hati mau

meneruskan tidur yang belum selesai, di omprengan tadi. Lumayan, sambil memanfaatkan

waktu, ketika lalu lintas di Jalan Kapten Muslihat hingga daerah Jembatan Merah, macet total.

Namun, tenggorokan yang kering merusak konsentrasi. Rasa haus itu mengganggu rencana

tidurku.

“Bapak sekarang posisi di Gunungbatu, puasa dan belum buka. Haus sekali. Tolong buatkan teh

panas, ya!” saya kirim pesan pendek kepada putri kami.

Di teras rumah saya dapati istri sedang berbincang dengan dua orang pendatang yang tidak lama

lagi akan melangsungkan pernikahan. Mereka mengundang kami. Setelah bersalaman dengan

tamu, langsung saya masuk ke rumah.

“Did you receive my message?” tanya saya kepada Bila.

“Sudah tuh, di dapur!”

Saya menyeruput teh panas yang sudah disiapkan putri kami. Saya buka kulkas. Ada sepotong

mungil dark chocholate yang sudah membatu. “Lumayan,” pikir saya.

Gigitan kecil-kecil coklat hitam -yang panjangnya tinggal kurang dari lima centimeter itu- dan

langsung disusul sruputan teh tawar panas dan kental, nikmatnya tiada dua!

Ciomas, Selasa, 18 Juni 2013

P.S.: Boleh coba, waktu nanti berbuka.

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tags: , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: