SETELAH PUKUL SEMBILAN MALAM

Sabtu menjelang malam
Setelah tamu yang hendak datang
Telah menjelang
Setelah anak-anak siap menyampaikan
Selamat datang

Setelah tamu datang dari arah wetan
Setelah anak-anak mendendangkan
Thalaal badru ‘alaina
Telah datang Purnama
Di antara kita

Tamu adalah purnama
yang memberi cahaya
bagi kami semua
Cahaya menuju esok pagi
Yang cerah-ceria

Setelah banyak lagu dinyanyikan
Assalam, Bogor Lautan Angkot, Arti Hidup…
hingga lagu doa atau doa yang dilagukan

Setelah azan magrib berkumandang
Setelah konfirmasikan semua anak dapat makan
Setelah perut merasa kenyang

Setelah orang-orang murah hati kembali
ke rumah atau ke lain destinasi
Setelah obrolan-obrolan kecil
dengan beberapa anak yatim

Setelah pukul sembilan malam
Saya, istri, Apik, dan Iki
Ditemani seorang yatim putri
Yang belum lama ditinggal ayahnya pergi…
dan tak kembali, menghadap Ilahi

Sang ayah, buruh kasar
Pergi setelah digerogoti
Pelbagi penyakit yang tak terobati

Bergegas kami pergi ke rumah itu putri
Menemui ibu, nenek, dan adik-adik
Menyampaikan turut duka hati
Menyampaikan titipan orang-orang murah hati
Untuk makan sahur, nanti

Retno nama sang putri
Tinggal di Bogor sisi
Cibinong, jauh dari kami

Kalau waktu tempuh angkot jadi ukuran
Ciomas-Cibinong satu jam
Paling tidak waktu diperlukan

Hari Ahad saja ia datang ke Ciomas
Menghadiri majelis ilmi…
kerja bakti…
dan silaturahmi.

Sabtu malam itu
Ia hanya mengantar kami
Ke rumahnya.

Dalam gang…
rumah kecil itu tidak terang

Bersama ibu, tiga adik, dan seorang nenek
Dalam kamar yang sempit, gelap, dan tak berdipan
Mereka mengisi malam

Rumah itu…
Tak dilengkapi sarana untuk urusan belakang
Apabila kebutuhan khusus datang menjelang
Malam atau pun siang
Kemarau atau pun hujan
Mereka harus pergi ke selokan

Bayangkan ‘pabila suatu malam
Anda datang dan ikut numpang ke belakang
Hujan turun dengan derasnya
Sama sekali tak ada lampu penerang

Mereka alami itu
Bukan satu atau dua malam
Berminggu, berbulan
Bahkan bertahun dan bertahun

Menjelang tengah malam
Kami kembali ke Ciomas
Retno bersama bersama kami
Karena esok, minggu pagi
Ia kan bertemu anak yatim lainnya
Mengaji, silaturahmi, dan kerja bakti.

Dalam kendaraan, di malam hari
Saya tulis ini puisi
Tentang anak malang ini
Tetes-tetes air mata…
membasahi pipi….

Duh Gusti, maafkan kami yang kurang mampu memberi
Untuk anak-anak seperti ini.

Antara Cibinong- Ciomas
Sabtu, 12 September 2009

Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Posted by Eka Saripudin

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: