BAYI ITU TAK JADI PERGI

Seorang tetangga datang ke rumah, meminta kain kafan. Ia mengabarkan bahwa sebuah keluarga yang mengontrak di belakang Taman Kanak-kanak Rizki belakang Kompleks Perumahan Taman Pagelaran, mengalami musibah. Pasangan muda itu mempunyai bayi dua dan salah seorang dari bayi itu, kemarin, meninggal dunia.

Saya dan istri bersilaturahmi kepada keluarga itu. Suami-istri itu berasal dari Jawa Timur. Untuk tinggal sekeluarga, mereka mengontrak sebuah kamar di pinggir pesawahan. Kamar setengah tembok, setengah bilik itu berukuran sekitar tiga kali empat meter. Ruangan seukuran itu menjadi ruang tamu, ruang keluarga, sekaligus kamar tidur.

Sang suami bekerja sebagai kuli bangunan. Kadang ada pekerjaan, tapi tak jarang ia menganggur. Kalau sedang tidak ada pekerjaan, untuk biaya makan sehari-hari pun, tidak mudah.

Istri dari tukang bangunan ini hamil. Saat kehamilan semakin membesar, bapak dari calon anaknya ini, sedang tidak ada pekerjaan. Karenanya, untuk biaya periksa ke dokter agak repot.

Si istri, satu hari, melahirkan. Bayi itu kembar. Betapa senang hati kedua orang tuanya. Namun, kebahagiaan suami istri itu tidak berlangsung lama. Terbayang oleh mereka akan biaya yang diperlukan untuk membesarkan kedua bayi itu.

Entah karena kurang asupan makanan bergizi, kedua bayi jatuh sakit. Dan, tak lama kemudian, salah satu dari bayi mungil itu meninggalkan dunia ini.

Antara kediaman kami dan rumah keluarga itu, terpisah sekitar lima ratus meter. Kami beda dua wilayah Rukun Warga. Bergegas saya dan istri menuju kediaman tetangga jauh itu.

“Kami turut berduka cita atas meninggalnya bayi Mas dan Mbak. Maaf, kami telat datang ke sini, karena mendapat kabarnya barusan saja.”

Bayi yang seorang lagi, kelihatan kurang sehat juga. Kami panggil bidan yang ada di kampung itu untuk sekadar memeriksa kesehatan bayi yang ditinggal saudara kembarnya ini.

“Kondisinya sangat tidak sehat. Perlu segera dirawat,” bidan itu menasehati kami.

“Mas, bayi ini kita bawa ke rumah sakit agar bisa cepat sehat,” saya berkata kepada bapaknya.

“Tidak, Pak,” kata bapak bayi itu, ” …kami akan pulang saja ke Jawa Timur.”

“Tapi, kalau tidak dibawa ke rumah sakit, kata bidan tadi, kemungkinan bayi ini bisa menyusul saudaranya.”

“Kami sudah pasrah, Pak; apa pun yang terjadi, kami menerimanya.”
“Seharian saya mencari uang seratus ribu, tidak dapat. Apalagi buat biaya rumah sakit!”

“Semua biaya perawatan bayi dan biaya makan-minum bapak-ibu bayi selama menunggu di rumah sakit, tidak usah dipikirkan.”

“Kami mau pulang saja, Pak,” sang bapak bersikukuh.

“Kalau terjadi hal paling tidak diharapkan pada bayi ini, Mas dan Mbak akan menyesal seumur hidup!” ancam saya.

“Pikirkan baik-baik!”

“Kalau dirawat di rumah sakit, insya Allah, bayi ini akan segera sehat kembali. Hal biaya, tak usah dirisaukan. Seluruh biaya rumah sakit dan biaya hidup Mas dan Mbak, selama anak ini dirawat, tanggung jawab kami!”

Bayi itu kemudian dirawat di Rumah Sakit Karya Bakti. Selama di rumah sakit ini, saya belum sempat menjenguknya. Hanya anak-anak kami saja mengurus administrasi di rumah sakit. Tiga hari kemudian datang kabar bahwa bayi itu dibawa pulang kembali oleh kedua orang tuanya ke rumah kontrakan.

“Mengapa ke luar dari rumah sakit. Kan, belum sehat benar bayinya?” tanya saya.

“Kami mau pulang kampung saja, Pak,” bapak anak itu menjawab.

“Sudah, sekarang ke rumah sakit lagi dengan saya! Nanti, kalau sudah sehat, boleh pulang kapan pun!”

Saya langsung telepon lagi beberapa rumah sakit. Kecuali Rumah Sakit Ciawi, rumah sakit lainnya pada tak ada ruangan untuk merawat bayi tersebut.

Malam itu, kami menyewa sebuah mobil angkutan kota, dari Ciomas menuju Ciawi.
Bayi beserta kedua orang tuanya masuk ruang gawat darurat. Saya, lalu, menuju bagian pendaftaran.

“Maaf, boleh minta KTP-nya, Pak?” seru petugas pendaftaran.

Petugas pun meminta saya memenuhi kewajiban uang muka perawatan. Uang yang saya bawa, ternyata, hanya untuk ongkos angkot, dan di dompet tak ada lagi.

“Sebentar ya.” Saya menjauh dari loket. Di dekat kamar kecil saya menemui seorang petugas kebersihan.

“Pak mau tanya, saya lupa, kalau dokter anak yang rumahnya di Sempur, siapa ya namanya?” tanya saya.

“Dokter Indra,” Pak.

“Yes!” pikir saya.

Saya kembali ke loket pendaftaran.

“Kalau dokter Indra masih kerja di sini?” Pura-pura bertanya saya.

“Masih, Pak. Bapak kenal?”

“Dia teman saya.”

“O, Bapak teman dokter Indra! Kalau begitu, tidak perlu uang muka, Pak. Nanti saja.”

“Alhamdulillah, berhasil.”

Saya dan istri masuk ke ruang rawat. Kami sampaikan kepada para suster bahwa bayi ini tanggungan kami. Minta tolong dipenuhi seluruh keperluannnya agar ia cepat sehat kembali.

Esok paginya, dalam perjalanan ke kantor, saya kirim pesan singkat kepada sahabat saya, Sudiyono, “Tadi malam, tetangga saya di Ciomas, anaknya sakit dan dirawat di RS Ciawi. Nama dokter Indra, saya pinjam.”

“Tahu dari mana nama istri saya?” kawan itu tidak merasa pernah memberi nama istrinya – yang dokter anak di RS Ciawi- kepada saya.

“Saya, kan, banyak pembisik,” canda saya.

Orang tua bayi mengabarkan kepada saya bahwa dokter Indra setiap hari memeriksa kesehatan si bayi. Dan setelah dirawat intensif di Rumah Sakit milik Pemerinah Daerah Kabupaten Bogor itu di Kecamatan Ciawi ini, bayi itu tak jadi pergi bersama saudara kembarnya. Ia dinyatakan sehat dan boleh kembali ke rumah.

Waktu pun berlalu. Hari lebaran tiba. Kami sekeluarga, tiap lebaran, biasanya, “mudik” ke Bandung pada hari kedua. Hari pertama, dari pagi sampai sore, banyak tamu yang senantiasa datang bersilaturahmi ke tempat kami.

Bakda zuhur, di antara para tamu ada sepasang suami-istri dengan seorang anak balita. “Maaf, Pak/Bu, kami datangnya agak sore. Tadi, saya mencuci pakaian dulu. Bajunya hanya satu-satunya ini,” seru ibu bayi sambil mengarahkan pandangannya kepada anak mungilnya. Jadi, selama pakaiann itu dicuci dan dijemur, sang bayi tidak punya baju kain. Ia menunggu jemuran sampai kering untuk segera dipakai kembali.

Tamu ini adalah ibu dan ayah dari bayi yang tempo hari bayinya dirawat di Rumah Sakit Ciawi. Hari lebaran itu, si bayi tampak sehat dan lucu.

Kebetulan belum lama, kami menerima dua dus pakaian bayi, pemberian dari seorang kawan di Pasirkuda.

Istri saya masuk ke kamar, dan ke luar dengan membawa dua dus pakaian bayi tadi.

“Ini bawa saja. Semuanya untuk anakmu!”

Mendapat rezeki nomplok, baju bayi yang sangat mereka butuhkan, masih bagus-bagus dan banyak, lagi; pasangan muda ini, sangat bergembira. Wajah suami-istri itu ceria, tanda bahagia. Senang dan haru tersirat di wajah kedua orang tuanya. Mereka sangat berterima kasih dan mendoakan pemberi pakaian-pakaian itu.

“Bagi kaum berada, belanja busana agak-agak mahal adalah hal biasa; bagi orang-orang miskin -yang tak mampu membeli baju, mendapat pakaian bekas adalah sebuah kebahagiaan.”

Ciomas, pk 21.37, 19 Agustus 2012

Salam,
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Posted by Eka Saripudin

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s