ATAS NAMA AGAMA

Pada acara silaturahmi sebuah keluarga besar di sebuah kota di Jawa Barat, bulan syawal kemarin, saya menyampaikan taushiah tentang “Membahagiakan Orang Lain”. Selesai saya bicara, beberapa orang bertanya tentang kasus-kasus keluarga yang ada hubungannya dengan topik taushiah; ada juga yang bertanya hal lain; atau malah sekedar sharing, berbagi cerita dan pengalaman.
Seorang Bapak menyampaikan bahwa ia ingin membahagiakan orangtua atau orang yang dia anggap sebagai orangtua, sehingga ia beberapa minggu terakhir, hari-harinya, ia bagi untuk orang tua dimaksud dan untuk keluarga. Akan tetapi, di sisi lain, sang istri dalam jangka waktu bersamaan (sedang) memerlukan kehadiran suami lebih banyak lagi. Bapak tersebut sekarang sedang dalam dilema.
Seorang Ibu bercerita bahwa ia mempunyai sejumlah piutang di keluarga suaminya. Ia, saat itu, sedang memerlukan uang tersebut. Namun, untuk menagihnya, ia khawatir membuat suaminya dalam posisi sulit. Dengan kata lain, ia takut membuat orang lain tidak bahagia. Padahal, yang disampaikan dalam taushiah tadi, antara lain, dengan membahagiakan orang lain, kita akan mendapatkan kebahagian. Malah sebelum yang menerima pembahagiaan tadi bahagia, kita akan lebih dulu merasa bahagia (di samping, kelak, akan juga mendapat kebahagiaan lain) karena telah bisa membuat orang lain bahagia. Bagaimana kalau membuat orang lain tidak bahagia?
Selanjutnya, seorang Bapak yang sedang menikmati cuti agak panjang dari pekerjaannya di sebuah negara kaya minyak di Timur Tengah, berkisah tentang aktivitas pekerjaan dan pengajian bersama teman-teman kerjanya di negara tersebut. “Jadi…,” ia melanjutkan kisahnya, “orang Indonesia bekerja di Timur Tengah adalah karena dua hal: mencari nafkah dan mendekati Makkah.” Ia menyarankan saya, untuk mengambil cuti panjang, suatu waktu, dan tinggal beberapa bulan di Negara Timur Tengah, agar pemahaman tentang agama lebih sempurna. “Datanglah ke sumbernya,” ajaknya.  “Amalan-amalan keagamaan di negara kita, seperti  aliran air di sungai, sudah banyak tercemar dari aliran anak-anak sungai yang membawa lumpur dan endapan lainnya. Perlu datang ke hulu sungai atau mata airnya,” ia menambahkan. Sebenarnya, waktu beliau berkata kalimat terakhir di atas, hati kecil saya, sebagai “mantan” geologist, berkata nakal, “Justru karena ada lumpur dan endapan lainnya itulah, terbentuk sedimen-sedimen potensial untuk, kelak, terakumulasi minyak dan gas bumi; baik sebagai batuan induk,  reservoir, atau batuan penutup. Tapi, demi menghormati orang tua, saya tak keluarkan itu suara usil.
Sekitar tiga minggu sebelum obrolan di atas, seorang kawan yang juga bekerja di Timur Tengah, tepatnya di sebuah negara yang mempunyai produksi minyak terbesar di dunia, yang juga sedang cuti, bercerita kepada saya. “Saya dan keluarga, dulu, memilih kerja dan tinggal di Saudi Arabia adalah agar bisa belajar lebih baik tentang Islam. Setelah sekian tahun tinggal di sana, kami belum mendapatkan yang kami harapkan, baik di tempat kerja, apalagi di tempat tinggal. Orang-orang Arab (setidaknya yang ia temui selama ini, dan, tentu saja, ini adalah menurut pandingan dia, dan boleh jadi tidak representatif), maaf, tidak lebih baik dari orang-orang di Indonesia,” ia bercerita dengan nada prihatin. Kemudian ia melanjutan, “Seorang kawan kerja saya, muslim; dan istrinya, nonmuslim- yang telah bersiap-siap untuk convert to Islam, tinggal “finishing touch” saja, agar lebih intensif belajar Islam, pindah dari sebuah negara (Barat) ke Saudi Arabia. Setelah tinggal beberapa lama di negara tempat kelahiran Islam itu, si istri memutuskan untuk tidak jadi masuk Islam. Dia kembali ke negerinya, dengan kekecewaan.”
Hampir 20 tahun lalu, sebelum kisah-kisah di atas, salah satu warisan budaya bangsa, kebanggaan dunia, mahakarya Gunadharma, Candi Borobudur, di Magelang, dekat Yogyakarta, dibom sekelompok orang demi “kecintaan” pada agamanya. Beberapa stupa rusak berat.
Di Bamiyan, Afghanistan, patung Budha raksasa, yang juga merupakan salah satu warisan budaya dunia, pada tahun 2001 dibom oleh pasukanTaliban.
Kelompok-kelompok yang melakukan pemboman atau pengrusakan terhadap Borobudur, Bamiyan, tempat-tempat atau sarana ibadah agama lainnya menilai dirinya sebagai sedang melakukan amal saleh, yakni menegakkan kebenaran dengan membasmi kemusyrikan. Hanya Allahlah Tuhan Yang Esa! Mengapa harus menyembah yang lain? Karenanya, segala bentuk peribadatan kepada selain Allah, harus dihapuskan.  Tidak cukupkah Ibrahim a.s. sebagai suri tauladan kita: menghancurkan patung-patung yang ada di atas Kakbah?  Bukankah Tuhan telah membenarkan dan membela Ibrahim a.s. dengan menyelamatkannya dari bara api?
Kisah Nabi Ibrahim a.s. menghancurkan patung-patung di atas Kakbah dan Nabi Musa a.s. menghancurkan patung sapi buatan Samiriy, tak jarang menjadi dasar pembenar untuk menghancurkan segala bentuk “kemusyrikan”, yakni dengan merusak benda atau patung yang disembah itu! Siapa pun yang menyembahnya. Siapa pun pemilik patung-patung itu!
Patung sapi Samiriy, memang sempat berhasil menyesatkan umat Nabi Musa ketika beliau pergi sementara waktu. Demikian juga patung-patung di atas Kakbah adalah sesembahan kaum pagan waktu itu.
Akan halnya Borobudur (dan candi-candi lainnya; juga gereja, pura, dan sejenisnya), patung Buddha, Wisnu, dan lain-lain, apakah keberadaan mereka menjadi penyebab sesatnya penganut agama tertentu? Orang Kristen, tidak mungkin akan menjadikan candi, patung Buddha, pura,  sebagai tempat ibadah. Orang Islam tidak akan mudah tersesat lantaran wisata ke Borobudur, Prambanan, Besakih; atau, kalau sedang berkunjung ke Itali, mampir dan masuk ke Vatikan dan gereja-gereja indah lainnya. Janganlah bangunan-bangunan itu dinilai sebagai penyebab kesesatan.  Sesat atau tidak sesat adalah karena orangnya saja. dalam konteks lain, sering saya sampaikan, bahwa di hadapan orang yang berniat dan melaksanakan puasa, hidangan lezat di depan mata, tak akan mampu menggoda. Lain halnya dengan yang memang tidak berniat puasa. Dituduhlah syetan sebagai penggoda. Padahal, seringkali, syetan tidak tahu menahu.
Ketika Nabi Muhammad saw. diposisikan harus melawan serangan musuh, Nabi yang mulia berpesan kepada pasukannya, “Jangan membunuh anak kecil, dilarang memperdaya perempuan, tidak boleh melukai orang tua renta, jangan sekali-kali menyerang musuh yang sudah tidak bersenjata atau yang pedangnya sudah patah, tidak boleh mengejar musuh yang sudah lari, dilarang mengina Tuhan mereka, jangan merusak tempat peribadatan mereka, hindari dari merusakan tanaman.” Ingat, itu dalam kondisi perang! Mafhum muwafaqahnya… apalagi dalam situasi tidak perang!
Hendaknya kita lebih arif dalam memahami teks-teks kitab suci. Apa jadinya,  jika kita melaksanakan “perintah Tuhan” secara serampangan ketika membaca ayat yang berbunyi, “ Waqtuluhum haitsu tsaqiftumuhum…(Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka)…?” Demikian juga ayat-ayat dalam Alkitab, misalnya dalam Lukas 19: 27, dan banyak ayat lainnya. Tidak bisa kita memahaminya sepotong-sepotong. Ada tekstual, ada kontekstual. Tidak jarang saya menemukan khatib mengutip ayat yang teksnya sesuai pokok bahasan, padahal konteksnya tidak ke situ.
Kembali ke Bamiyan dan Borobudur. Kedua bangunan itu sudah sejak lama ada, dan tidak diganggu oleh para penganut agama mana pun, termasuk oleh penganut Islam. Ketika sekelompok orang mengebom Borobudur; ketika Taliban memborbamdir Bamiyan; atau ketika orang-orang “saleh” menyerang kelompok lainnya, yang berbeda pemahaman dengan dirinya; apakah mereka para penyerang itu merepresentasikan umat Islam? Apakah sebagian besar orang Islam menyetujuinya?
Juga, ketika Amerika Serikat memborbamdir Irak dan menghancurkan banyak peninggalan sejarah para Nabi dan orang-orang suci, apakah mereka mewakili umat Kristiani untuk menyerang umat Islam? Apakah gereja setuju dengan oil war yang sangat menyengsarakan jutaan rakyat Irak itu?
Untuk suatu kepentingan, seringkali, agama diatasnamakan. Untuk kepentingann lainnya, tidak jarang, agama dinisbatkan. Ketika dua pasukan muslim saling berhadapan di medan perang, banyak orang bingung. Bagaimana ini bisa terjadi? Yang satu berperang untuk Islam, yang lain berperang atas nama Islam! Agama, memang, sering diatasnamakan. Untuk atau atas nama Islam, sepintas mirip, sejatinya tak sama. Keduanya mempunyai arah berbeda, bahkan berlawanan!
Pada masa yang satu, Taliban dilatih CIA untuk kepentingannya menyerang pesaingnya, Uni Soviet. Pada masa yang lain, ketika Taliban tidak bisa lagi diajak bicara; ketika kepentingan negara adi daya itu tidak lagi diakomodasi,Taliban menjadi sasaran berikutnya. Sejarah dibuat oleh penguasa. Demikian juga berita- yang merupakan bagian daripadanya.
Tuhan Mahakuasa. Banyak isyarat disebutkan dalam kitab suci, jauh sebelum hal itu terjadi. Tetapi juga, dalam menilai situasi yang ada, janganlah kita terlalu mudah menisbatkannya ke dalam agama. Seolah agama membenarkan suatu peristiwa itu, padahal boleh jadi, tidak ada hubungannya sama sekali. Ustaz Quraish Shihab, ketika dalam sebuah pengajian ditanya tentang suatu peristiwa alam dan hubungannya dengan agama, beliau menjawab dengan bijak, ”Saya bukan ilmuwan (maksudnya, untuk ilmu yang ada hubungannya dengan peristiwa alam tersebut). Saya tidak tahu tentang hal itu. Perlu bertanya kepada ahlinya. Saya dengar para ilmuwan di Bandung mengetahui hal itu.”
Menafsirkan ayat-ayat kitab suci? Boleh, tentu saja, kalau punya ilmunya.
Ciomas, 03 November’09, dini hari
 
Salam,
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Posted by Eka Saripudin

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s