JALAN MENUJU TUHAN

Cerita kesatu. Di warung dekat kantor, Selasa kemarin, bersama teman asal Cirebon, saya makan siang. Walau piring saya lebih penuh darinya, yang bayar tetap dia. Ia, meskipun badannya tidak kurus, makannya, ternyata, tidak banyak. Kalau saya sih, tak usah ditanya. Waktu kecil dulu, kakak-kakak saya bilang bahwa saya makannya cepat, tapi lama.
Cepat menggerakkan sendok dari piring ke mulut, tapi durasi waktu makannya lama. Dengan kata lain, porsi saya lebih kurang, tiga kali orang lain. Kawan itu berangkat duluan ke masjid untuk salah zuhur, sementara saya masih berjuang dengan pecel di piring.
Saya menyusul ke masjid. Selepas salat, sementara ustaz berceramah, sambil duduk bersila dan kepala menunduk “khusyu”, saya bermaksud membaca wirid. Entah apa yang terjadi, setelah sekian lama, ketika saya lihat kanan-kiri, orang-orang yang tadi duduk di sekitar saya, sudah tidak ada. Mereka telah lama meninggalkan masjid, sedangkan saya tertidur pulas. Saya ingin meneruskan pembacaan wirid yang tertunda itu. Ujung jari jempol kanan saya masih menempel pada ruas pertama dari jari telunjuk kanan. Apa artinya? Seharusnya saya baca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 33 kali juga. Lalu, disambung dengan doa-doa yang banyak dan panjang, karena memang banyak permintaan. Rupanya, saya baru baca tasbih 4 kali saja, lalu nyenyak, berlayar ke alam sana!

Cerita kedua. Di Lantai 37, Wisma Mulia, Rabu pagi, Unit Pengawasan Internal (UPI) BPMIGAS, mengadakan sosialisasi Pedoman Pengendalian Gratifikasi, Pedoman Whistleblowing System, dan Pedoman Etika BPMIGAS. Kawan-kawan dari Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) yang dikomandoi UPI, mempresentasikan materi sosialiassi. Dr. Parulian Sihotang menjadi moderator. Mungkin karena Pak Doktor melihat saya, yang duduk di bagian belakang, agak terkantuk-kantuk, seperti biasa, dan ia bermaksud menengur saya dengan baik-baik, tiba-tiba ia bicara, ”Di sini ada Pak Jonih Rahmat, nanti, setelah presentasi dan tanya jawab, saya minta Pak Jonih memberikan pencerahan kepada kita.”
Wah…wah…wah, Pak Doktor jail, nich! Meski saya kurang layak bicara di forum itu, apa lagi, rasa-rasanya, situasi waktu itu, tidak begitu nyambung, saya tidak akan bicara apa-apalah. Lagi pula, mau ngomong apa? Tapi, setelah pikir-pikir sebentar, demi menghormati sohib ini, saya paksakan untuk berbicara.
“Apa yang teman-teman SPIP sampaikan tadi adalah nilai-nilai kebaikan. Bu Indah, malah, menampilkan slide bagaimana pandangan agama-agama terhadap materi yang ia presentasikan. Nilai-nilai kebaikan itu adalah salah satu jalan menjuju Tuhan.”
Setelah itu, mulailah saya bercerita, cerita ketiga. Saya sambung-sambungkan saja dengan cerita-cerita di atas.

Seorang salik* mendatangi guru spiritualnya, Abu Bashier.
“Guru, di negeri sana, ada orang bisa terbang,” si murid mulai melapor.
“Tidak aneh, capung pun bisa terbang!” komentar sang Guru.
“Guru, di kampung seberang ada orang yang bisa berjalan di atas air,” kembali muridnya memberitakan.
“Ah, itu biasa saja. Katak pun bisa berenang di air!” si Guru menyambutnya dengan santai.

Mendengar jawaban sang Guru, si murid agak kecewa. Bagi dia, Gurunya terkesan terlalu menganggap enteng masalah. “Gitu saja, repot!” Ia menyangka orang-orang sakti yang bisa terbang di udara atau bisa berjalan di atas air adalah orang-orang hebat yang perlu diberi perhatian lebih. Perlu ditiru atau ditimba ilmunya. Mereka adalah pilihan Tuhan. Mereka sudah berada di jalan Tuhan. Tapi… gurunya, sepertinya, berpendapat lain.
“Juga, Guru, si murid menambah kata, “di kota sana, ada orang yang dalam satu waktu, bisa berada di banyak tempat.”
“Ooo…kalau yang seperti itu, yang paling pintar adalah syetan. Karena, dalam waktu bersamaan, syetan bisa berada di banyak hati manusia!”
“Jadi, Guru…”, si murid melanjutkan bertanya dengan penuh keheranan, “bagaimana jalan menuju Tuhan itu?”
Dengan tenang Guru sufi itu menjawab, ”Jalan menuju Tuhan sangat banyak. Sebanyak napas manusia. Tetapi, jalan yang paling dekat untuk menuju jalan Tuhan adalah berbuat baik kepada sesama!”

*salik: penempuh jalan munuju Tuhan.

Ciomas, qobla subhi, 12 Juni 2012.
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Posted by Eka Saripudin

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: