EMPAT RATUS TAHUN BERIBADAH

Kiai Haji Asep Toha atau Kiai Asep, orang-orang memanggilnya. Pak kiai adalah guru kami di Keluarga Besar Simpay Wargi. Kami, biasa menyapa kiai dari Padalarang, Bandung, ini dengan Kang Encep saja. Beliau, suaranya berat, namun merdu. Kata-katanya padat, berisi, dan penuh makna.

Kiai yang senantiasa berpakaian rapi ini sering menyampaikan petuahnya dalam bentuk ceritera, sehingga jemaah yang mendengarkan pengajiannya tidak merasa digurui. Lebaran tahun lalu, pada acara silaturahmi Keluarga Besar kami di Jalan Lodaya, Bandung, orang tua yang kami hormati ini menyampaikan taushiah. Dengarlah apa yang Kang Encep sampaikan.

“Nabi Musa a.s. bertemu dengan seorang umatnya yang sedang beribadah di sebuah gua,” Kang Encep mulai berkisah.

“Sudah berapa lama Anda beribadah di sini?” tanya Nabi Musa a.s.

“Baru empat ratus tahun,” jawab sang ahli ibadah.

Nabi Musa, kemudian, bermunajat kepada Allah. “Tuhan, surga tingkatan mana yang paling pantas, yang akan Engkau berikan kepada umatku, yang selama empat ratus tahun, kerjanya hanya beribadah kepada-Mu?”

Tuhan berfirman, “Akan aku lemparkan dia ke dalam Neraka!”

Nabi Musa kaget bukan kepalang. Ia berbegas menemui orang itu kembali.

“Tuhan bilang, kamu akan dimasukkan ke dalam Neraka!”

“Tidak apa-apa. Tapi, saya ada suatu permintaan kepada Tuhan,” seru sang pertapa.

“Apa permintaanmu,” Nabi Musa dengan sabar menunggu.

“Tolong sampaikan kepada Tuhan, buatlah badanku menjadi besar… besar…dan sangat besar. Sehingga tubuhku menutupi seluruh Neraka. Dengan demikian, tak perlu ada orang lain lagi masuk Neraka. Cukup aku saja!”

“Tuhan,“ seru Nabi Musa , ”ia ada satu permintaan kepada-Mu. Umatku itu minta badannya dibesarkan sehingga menutupi seluruh Neraka, agar orang lain tak perlu lagi masuk ke dalamnya.”

“Nah, kalau dia sudah ingat kepada sesama manusia, akan aku tempatkan ia di dalam Surga!”

Kawan, sering kita sibuk dan terlena dengan berbagai kegiatan ibadah ritual. Karena kecintaan kita kepada ibadah-ibadah itu, kadang kita lupa menyisakan waktu untuk keperluan lain. Bahkan, tidak jarang, waktu untuk tugas lain pun, kita rampas untuk keperluan beribadah kepada Tuhan.

Kita, karena mungkin terlalu padat dengan kesibukan ibadah vertikal ini, boleh jadi lupa bahwa ada ibadah lain yang juga tak boleh kita tinggalkan. Ibadah jenis ini menyenangkan dan menyehatkan. Para ustaz menyebut amalan ini sebagai ibadah ghoir mahdhoh atau muamalah; orang-orang lapangan menyebutnya sebagai ibadah sosial: hubungan sesama manusia.

“Laa yu’minu ahadukum hattaa yuhibba lie akhiehi maa yuhibbu li nafsihi.” Tidak beriman kamu sebelum kamu mencintai saudaramu, seperti kamu mencintai diri sendiri.

Nabi Muhammad saw, suatu hari, sedang berbincang-bincang dengan para shahabat. Serombongan orang lain, membawa jenazah, lewat di dekat Nabi. Demi menghormati rombongan itu, seketika Nabi saw. berdiri. Para shahabat menyampaikan kepada Nabi bahwa jenazah yang lewat adalah orang Yahudi, mengapa harus mengghormatinya. “Dia manusia!” kata Nabi.

Ciomas, 11 Juni 2012, bakda isya
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Posted by Eka Saripudin

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: