BAJU YANG MENIPU

Suatu hari seorang lelaki berpakaian sufi sedang berjalan-jalan. Dilihatnya seekor anjing, lalu dipukulnya anjing itu keras-keras dengan tongkat.

Sang anjing meraung kesakitan dan lari kepada Abu Said, seorang guru sufi. Anjing itu melaporkan perlakuan yang ia terima dari orang berpakaian sufi itu.

Abu Said mempertemukan keduanya. Kepada sufi itu Abu Said berkata, “Hai, orang yang tak berbelas kasih! Teganya engkau menyakiti makhluk malang ini. Lihatlah hasil perbuatanmu!”
Sufi itu menjawab, “Sekali-kali ini bukan salahku. Aku memukulnya bukan hanya karena ia menyalak, tetapi juga karena ia telah mengotori jubahku.”
“Aku tertipu oleh penampilannya,” anjing itu menambahkan laporannya.
Abu Said berkata kepada kepada anjing itu, “Sebagai balasannya, gigitlah kakiku!”

“Alangkah luhur dan bijaknya engkau, Guru. Ketika kulihat orang ini berpakaian seperti seorang sufi, aku mengira ia tak akan menyakitiku. Seandainya kulihat seorang berpakaian biasa, aku akan segera menyingkir dan jalan agar ia bisa lewat. Aku telah salah sangka bahwa penampilan lahiriah menandakan batin yang suci. Aku hanya ingin mengatakan kepadamu bahwa sebaiknya temanmu itu tidak memakai jubah sufinya.Tanggalkan darinya pakaian orang-orang saleh itu!” sang anjing menjawab.

Kisah ini menyindir kita yang suka berpakaian, berpenampilan, atau bergaya sebagai orang baik-baik, banyak ilmu, ahli amal saleh- yang dengannya sangat pandai melihat orang lain yang berbeda dengan kita sebagai yang salah. Kita menilai orang lain hanya dengan alat ukur yang ada pada kita. Tak terlalu beda dengan kisah orang-orang yang tidak bisa melihat ketika mereka berbicara tentang bentuk gajah yang seutuhnya, tetapi cukup mengetahui gajah itu hanya dengan informasi yang mereka dapatkan dari bagian yang mereka sentuh saja.

Tak terasa, kadang, pandangan kita akan suatu hal, kita sampaikan dengan cara yang boleh jadi menyakiti –hati atau fisik- orang lain. Saya khawatir orang yang kepadanya kita perlakukan tidak baik itu akan melaporkan perbuatan kita itu, tidak saja kepada Abu Said, sang guru sufi itu; melainkan malah kepada gurunya para guru: Maha Guru alam semesta!

Salam,
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Posted by Eka Saripudin

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: