Surat Kepada Anjing Hitam

Sharing ramadhan 2012-9:

Masih ingat Jostien Gaarder? Dialah yang paling berjasa dalam menyederhanakan ilmu filsafat. Filsafat yang yang bahasanya jelimet, sulit dimengerti itu, oleh Gaarder tidak saja menjadi mudah dipahami bahkan dijadikannya sebuah cerita bersambung. Sophie’s World sebuah novel filsafat yang enak dibaca dan perlu menjadi pegangan dasar bagi para peminat filsafat di seluruh dunia.
Sophie Amundsend tokoh utama dalam novel itu secara regular menerima surat-surat berisi pelajaran filsafat dari seseorang yang misterius. Dia seorang filsuf. Tapi kapan dan bagaimana surat-surat itu dikirim sang filsuf dan sampai ke rumah Sophie, perlu waktu yang panjang dan usaha yang ulet untuk menyelidikinya. Setelah usaha keras pengintaian yang Sophie lakukan, akhirnya dia tahu bahwa yang mengirimkan surat itu hingga sampai ke tujuan adalah, ternyata, seekor anjing labrador berwarna hitam.
Anjing (awas, jangan pakai tanda petik dan tanda seru, ya) adalah binatang yang dibenci dan dicinta. Banyak orang tidak jadi bertamu karena saat baru saja tiba di halaman rumah yang akan disinggahi, binatang yang suka jaga rumah ini…menggonggong, menakutkan. Orang-orang Islam takut kena jilatannya. Takut kena najis. Karenanya, kalau seekor anjing masuk area pesantren atau tempat pengajian, ia akan dikejar manusia agar segera ke luar dari tempat suci itu.
Di kampung orang tua saya, di pedalaman Sukabumi, binatang paling banyak disuka adalah kucing. Bahkan, dulu, waktu saya masih usia SD, karena ingin memelihara bintang yang tampak jinak, tapi suka mencuri ikan ini, tak jarang orang menukar ayam kesayangannya dengan kucing. Padahal, ilmu pengetahuan menyebutkan bahwa bulu-bulu kucing itu bisa mengganggu kesehatan manusia, lebih khusus lagi bagi ibu-ibu yang sedang berbadan dua.
Terhadap kedua binatang itu, banyak orang membencinya. Tapi, tak sedikit juga manusia yang mencintainya. Datanglah ke petshop yang ada di mall-mall. Anda akan menemukan berbagai jenis binatang, termasuk anjing, yang dipajang dengan harga yang tidak murah.
Kembali ke anjing. Kalau lebaran pulang ke kampung halaman Embah Kakung di Bobotsari, Banyumas; istri saya suka bercerita, “Waktu kecil dulu jika pergi ke sungai, siang atau pun malam, pasti ada yang mengikuti dari belakang. Pernah, suatu malam, saya sengaja secara diam-diam menghindari kawalan binatang itu. Eh…waktu naik dari sungai, tahu-tahu dia sudah menunggu di atas.” Anjing memang, selain cerdas, dikenal sebagai binatang yang setia.
Tentang kecerdasan dan kesensitifan hidungnya, lihatkah di film-film, di mana polisi, dalam mengejar penjahat, menggunakan anjing untuk melacak keberadaan orang-orang yang dicari. Kalau mau tahu hal kesetiaannya, bacalah, antara lain, kisah tentang anjing yang menunggu tuannya di stasiun kereta di Jepang. Setiap kereta datang, dia berlari ke arah para penumpang yang baru turun. Begitu dia lakukan, terus-menerus, bertahun-tahun. Padahal, tuannya sudah lama meninggal di tempat kerja.
Anjing pula yang disebut-sebut sebagai binatang yang akan masuk surga bersama Ashabul Kahfi.
Berbicara tentang hewan yang suka menggonggong ini, dari tanah Madura, ada kisah menarik tentang anjing. Saya kutip kisah ini dari buku yang berjudul “Surat Kepada Anjing Hitam”, yang ditulis Saifur Rachman atas kesaksian K.H. Mahfuzh dari Sumenep; dengan sedikit modifikasi redaksional. Silakan simak kisah di bawah ini.

Musim haji telah tiba. Sebagaimana biasanya, penduduk daerah Bangkalan yang akan menunaikan ibadah haji, terlebih dahulu sowan kepada Kiai Kholil. Seorang calon jemaah dari Bangklalan, menjelang keberangkatannya, bersilaturahmi ke Embah Kholil. Kiai menitipkan sehelai surat kepada calhaj ini. “Ini surat,” pesan kiai, “sesampainya kamu di Masjidil Haram, berikan kepada anjing hitam.”
“Iya, kiai. Saya akan menyampaikan surat ini,” jawab si calhaj tanpa berani menatap dan bertanya, mengapa kiai menyuruh demikian.
Hari keberangkatan pun tiba. Sesampainya di Makkah, Bapak ini menunaikan ibadah haji dengan baik. Sungguh pun demikian, ia belum tenang kalau amanat yang dipesankan Kiai Kholil belum dilaksanakan. Dia ingin segera menyampaikan surat yang dititipkan kiai.
Tak disangka, di tengah keasyikannya merenung bagaimana menyampaikan surat itu, tiba tiba entah dari mana datangnya di depannya sudah berdiri seekor aning hitam. Tanpa pikir panjang lagi, Pak haji langsung ambil surat yang ada di sakunya. Seketika itu juga, disodorkannya surat itu kepada anjing hitam yang ada di hadapannya. Telinga anjing itu bergerak – gerak, lalu menggigit surat itu pelan-pelan. Beberapa saat anjing itu menatap tajam wajah pemberi surat seolah-olah ingin mengungkapkan rasa terima kasih. Setelah itu, sang anjing meninggalkan Pak haji yang masih terherah-heran. Dipandanginya anjing itu hingga tidak terlihat lagi oleh pandangan matanya.
Fulan bin Fulan ini merasa lega. Sebab, amanat yang tidak dipahami itu sudah ditunaikan. Waktu pun bergulir hingga selesailah ibadah rukun iman yang ke lima itu. Dia kembali ke Bangkalan dan setiba di kampungnya, yang pertama kali ia temui adalah Kiai Kholil.
“Sudah disampaikan surat saya?” tanya Kiai Kholil.
“Sudah Kiai,” jawab Pak Haji.
“Tapi…Kiai,” kata Fulan agak tersendat-sendat. “Ada apa?” tanya Kiai Kholil tanpa menunjukan ekspresi yang aneh.
“Kalau boleh tanya, mengapa Kiai mengirim surat kepada anjing hitam? “ tanya si Fulan masih terheran-heran.
“Yang kamu temui itu bukan sembarang anjing. Dia adalah salah seorang wali Allah yang menyamar sebagai anjing hitam yang menunaikan ibadah haji tahun ini,” jelas Kiai.
Mendengar keterangan Kiai Kharismatik itu, Pk Haji baru memahami dan menyadari apa yang ada di balik peristiwa itu. Ia hanya bisa manggut-mangut saja sambil mengenang saat-saat anjing hitam itu berhadapan dengan dirinya.
Ciomas, Jumat malam, 03 Agustus 2012
Salam,
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: