MEMANFAATKAN MACET

Sharing ramadhan 2012-10

“Sudah hampir satu jam tak bergerak. Macet!” Demikian sms dari seorang tamu yang hendak berbuka puasa bersama anak-anak yatim kami, di Ciomas, Bogor, minggu lalu.

“Sudah sampai di mana, Ustaz?” tanya panitia berbuka bersama di sebuah gedung perkantoran di Jalan Thamrin, Jakarta. Pesan singkat itu ditujukan kepada saya -yang sebenarnya bukan ustaz.

Sore tadi, saya berangkat dari Bogor pk. 14.00 menuju ibu kota. Saya, semula, menduga, pukul 15.30 akan sudah sampai di tujuan, …atau mungkin bisa sedikit lebih cepat. Tapi, ternyata, pukul 17 lebih sedikit, baru tiba di lokasi. Bogor-Jakarta, tiga jam!

Bakda ashar sampai menjelang waktu maghrib, hampir setiap sore, di banyak ruas jalan di desa-desa dan di kota-kota, lalu lintas sangat padat, macet di mana-mana. Apa pasal? Orang-orang kantoran serentak meninggalkan tempat kerja, ingin segera tiba di rumah untuk berbuka bersama keluarga. Sebagian lagi, menyegerakan meninggalkan kantor menuju kantor lainnya atau rumah atasan, untuk berbuka bersama teman-teman kerja. Sementara, di jalan-jalan desa atau perumahan-perumahan, ketika para pekerja menjelang tiba di rumah-rumahnya, orang-orang rumah pada ke luar mencari kolak, es buah, atau pun pelengkap makanan berat.

Bertemulah di jalan-jalan utama, kendaraan orang-orang kantor yang ingin segera tiba di rumah dengan mereka yang akan berbuka bersama. Sementara, di jalan-jalan desa dan perumahan, kendaraan para karyawan yang segera tiba di kediaman bertemu dengan orang-orang yang mencari kolak dan sebangsanya itu. Macetlah namanya.

Macet adalah kondisi paling tidak disukai oleh semua orang. Hati dan pikiran sudah jauh berada di tempat tujuan, sedangkan raga masih di perjalanan. Bagi bagi banyak orang, macet berpotensi menimbulkan stres.

“Jadi, bagaimana dong? Sudah begitu adanya, kok! Wong, kendaraan setiap saat didatangkan ke negeri ini, sementara penambahan ruas jalan berjalan lambat!”

“Ya, anggaplah itu sebagai keadaan ‘kahar’, yang berada di luar jangkauan kemampuan kita. Terima saja. Dan, kalau kena macetnya cukup lama -yang berpotensi menimbulkan sutris …eh stres tadi, kalau mau, ada cara untuk meminimalkan ketegangan itu.”

“Bagaimana caranya?”

Saya yang suka membaca, ke mana pun pergi, biasanya ada buku bacaan di dalam ransel. Buku apa saja. Ada buku-buku berbau religi, bisa novel, atau pun sekadar majalah.

Dulu, pertama kali ke luar negeri, saat penerbangan dari Asia melintasi Samudera Pasifik, menuju Benua Amerika, buku-buku saya simpan di bagasi. Setelah terbangun dari tidur, rasanya pesawat tidak maju-maju, tak nyampai-nyampai ke Amerika. Lama sekali. Penerbangan Asia-Amerika perlu waktu dua belas- empat belas jam. Di pesawat, dengar musik sudah capek, nonton film bosan, sedang di tangan tak ada bacaan; sementara penerbangan masih memerlukan waktu lama, tersiksalah saya. Sejak itulah, buku-buku bacaan, saya siapkan di tas tenteng atau ransel, ke mana pun saya pergi. Dari buku-buku bacaan itulah -dan ditambah pengalaman hari-hari- saya sekarang menulis “shardhan-shardhan”.

Pernah, awal tahun 1990, sehari menjelang lebaran, dari Gambir, saya naik kereta jurusan Yogyakarta. Kereta, seperti sering terjadi, telat berangkat. Terlambatnya pun, cukup signifikan: enam jam. Semua penumpang galau, gelisah, dan lelah.

Saya? Sejak dapat tempat duduk, walau di lantai, sudah mengeluarkan bacaan. Dalam enam jam itu, saya menamatkan satu buku agak tebal. Saat kereta mulai berangkat, tinggal istirahat saja saya. Karenanya, selama perjalanan, nyenyaklah saya.

“Cara lain?”

“Ada. Telepon selular saya biasanya dilengkapi memory card dengan kapasitas memadai. Di dalamnya, saya merekam seminar-seminar, diskusi-diskusi, dan ceramah-ceramah. Kalau dalam perjalanan itu, penerangan kurang memadai, saya tidak membaca tetapi mendengarkan rekaman-rekaman.”

“Cara lain lagi?”

“Ada juga. Berzikirlah, menurut keyakinan masing-masing!”

“Bagi orang Islam, bisa baca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil. Bisa juga baca selawat sebanyak- banyaknya. Bacalah selawat, paling tidak, 100 kali di waktu pagi; 100 kali di kala senja.”

“Buat apa baca selawat segala?”

“Selawat ini adalah sarana untuk mudah terkabulnya doa. Semakin banyak selawat dibaca, semakin mudah doa itu mustajab. Demikian pula sebaliknya. Selawat juga merupakan pengejewantahan akan kerinduan kepada rasul tercinta. Tapi, hal selawat ini, nanti saya tulis panjang lebar, bukan pada judul ‘Macet’ ini, ya!”

“Bisa juga baca ‘subhanalah wa bihamdihi subhanallahil adziem. Maha Suci Engkau, ya Allah dan segala puji bagimu. Maha Suci Engkau yang Maha Agung”‘

“Ada dua kalimah yang ringan di mulut, tapi berat di timbangan,” kata Nabi saw.

Maksudnya, mengucapkannya mudah, ringan; karena memang pendek sekali; tapi nilai pahala kedua kalimah, di sisi Allah, sangat besar. Kalimah itu adalah:

“Subhanalah wa bihamdihi subhanallahil adziem.”

Maka, ketika kita terjebak macet di jalanan, waktu antri karcis di stasiun atau di Bandara; saat berpanjang-panjang di ATM, atau pun waktu wudhu menuju jumatan; kita bisa baca dua kalimah tadi.

Bisa juga memanfaatkan saat terjebak macet itu dengan menulis. Menulislah tentang apa saja, dengan apa pun: laptop, iPad, galaxy tab, atau…dengan hp pun, jadi!

Semoga bermanfaat.

Jakarta (menuju Bogor), bakda Isya, 9 Agustus 2012.

Salam,
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: