KAMERA HILANG ITU, KINI KEMBALI

Sharing ramadhan 2012-15:

Asep dan Hera, suami-istri, dengan satu putri dan satu putra, waktu itu; tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana, di Cipetir, Soreang, Bandung Selatan.

Hera mengajar di sebuah Sekolah Menengah Atas, yang terletak tidak terlalu jauh dari rumahnya; sedangkan Asep bekerja sebagai freelance photographer.

Mereka sekeluarga, suatu pagi, pergi ke Pangalengan, daerah pegunungan di Selatan kota Bandung untuk membersihkan vila milik keluarga Kang Ali, kakak Asep.

Sore hari, keluarga itu kembali ke Cipetir. Alangkah kagetnya Asep dan Hera, karena rumah yang terkunci sudah dibongkar orang. Seisi rumah berantakan. Beberapa barang sudah dalam kondisi dibungkus kain sarung dan kain seprai, siap diangkut. Tampaknya, menjelang pemilik rumah datang, para perampok masih ada di dalam. Belum sempat semua barang mereka bawa ke luar, tuan rumah keburu datang. Kaburlah maling itu dengan meninggalkan sebagian jarahannya.

Di antara barang yang berhasil perampok bawa adalah benda yang sangat berharga dan paling keluarga itu perlukan, yakni kamera.

Kehilangan harta yang menjadi alat untuk mencari rezeki, menafkahi keluarga itu, Asep dan Hera, sangat sedih.

Hari Minggu, sepuluh hari kemudian, sehabis salat subuh, Hera menyapu halaman depan rumah. Ia melihat, di pagar depan, ada kantong plastik berwarna hitam, tergantung.

“Siapa yang menaruh sampah di situ,” pikir Hera.

Penasaran, ia hampiri pagar. Dia intip isi kantong plastik itu. Hera kaget, tapi ia gembira. Ternyata, isi kantong itu adalah…kamera yang sepuluh hari lalu diambil orang. Allahu Akbar! Mahabesar Allah. Kamera hilang itu, kini kembali!

Saya bertanya kepada Hera, “Bagaimana ceritanya, barang yang sudah diambil orang, bisa kembali lagi?”

“Kamera itu, kan, sangat kami perlukan. Kalau dia hilang, bagaimana Mas Asep menafkahi saya dan anak-anak.”

Oh ya, Hera berasal dari Jawa Tengah; dan Asep, pasti, urang Sunda! Tapi Hera berhasil “men-Jawa-kan” teman hidupnya ini dengan menambahkan sebutan “Mas” di depan nama suaminya.

“Terus, bagaimana caranya barang itu bisa kembali lagi ke pemiliknya?”

“Kami tahajud dan minta agar Allah kembalikan kamera itu. Alhamdulillah, Dia kabulkan doa kami.”
Keluarga Asep-Hera, beberapa tahun kemudian, pindah ke Cigondewah, daerah para jawara silat. Di sini hadir warga baru, sehinga anak mereka menjadi tiga orang: satu putri, dua putra.

Hera, suatu hari pergi dari rumah untuk sutau keperluan. Ia naik kendaraan umum. Sesampai di tujuan dia baru sadar kalau telepon seluler dan dompet-berisi banyak uang, hilang. Tapi, beberapa waktu kemudian, seseorang datang ke rumahnya, lagi-lagi, mengantarkan barang yang hilang, tanpa berkurang sedikit pun. Hera bermaksud sekadar memberikan uang pengganti transportasi kepada pengantar barang hilang itu, namun orang itu menolaknya.

Untuk yang terakhir ini, saya belum sempat bertanya, bagaimana “trik”-nya barang-barang yang sudah berada di tangan orang itu bisa kembali, dengan selamat.

Peristiwa pertama terjadi sekitar tahun 1998 atau 1999; yang kedua pada tahun 2007. Keluarga bahagia itu, saat ini, walau, alhamdulillah, hidup berkecukupan, tapi tetap menyederhanakan diri. Mereka tinggal di Cibolerang, masih di kawasan Bandung Selatan.

Ciomas, bakda zuhur, 18 Agustus 2012.

Salam,
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: