JANGAN TERLALU MEMIKIRKAN DUNIA

Sharing ramadhan 2012-12:

Tersebutlah seorang guru sufi, tinggal di sebuah kampung, dekat kaki gunung. Dia mendiami sebuah gubuk kecil, sangat sederhana. Tidur hanya beralaskan tikar kasar yang sudah banyak berlubang. Harta benda yang ia punya, selain sebuah piring adalah sebuah gayung untuk ia mengambil air wudu. Sebagai seorang sufi, baginya, hidup seperti itu, sudah mencukupi.

Sang guru mempunyai seorang yang belajar tasawuf kepadanya. Suatu hari, si murid hendak pergi ke negeri jauh. Ia berpamitan kepada gurunya.

“Guru, aku akan pergi ke negeri Baidah. Barangkali guru ada pesan sesuatu?”

“Oh ya, ada guruku di sana. Temui beliau, sampaikan salamku kepadanya, dan, jangan lupa, minta nasihat untukku darinya!”

Singkat cerita, setelah berbagai keperluan sang salik lakukan, tibalah waktu untuk berkunjung ke rumah kakek guru.

Ia bertanya kepada banyak orang hal kediaman kakek gurunya. Sampailah dia ke alamat tujuan. Memperhatikan rumah guru dari gurunya, murid sufi ini merasa sangat heran. Rumah guru dari guru sufi itu sangat besar dan bagus. Halamannya luas dengan taman bunga yang indah. Di sana terdapat kolam-kolam dengan ikan-ikan besar dan kecil di dalamnya. Indah sekali. Sangat kontras bedanya jika dibanding gubuk gurunya, di kaki gunung sana. “Apa iya, ini guru sufi,” hati kecilnya berbisik.

“Bagaimana kabar gurumu di sana?” tanya sang maha guru kepada murid dari muridnya ini.

“Beliau baik-baik saja, Kakek Guru. Beliau berpesan agar saya silaturahmi kepada Kakek Guru di sini, menyampaikan salam untuk Kakek Guru, dan bermohon nasehat untuknya,” jawab cucu murid ini sambil tetap tidak mengerti dan penuh tanda tanya tentang kekayaan sang kakek guru.

“Jadi, beliau mohon nasehat dari Kakek Guru di sini,” murid sufi itu mengulang pesan gurunya.

“Sampaikan kepada gurumu, ‘Jangan terlalu memikirkan dunia!”‘

Hampir-hampir saja murid sufi ini jatuh dari duduknya. Ia tersentak oleh isi nasehat kakek guru ini. Pesan dari seorang kaya raya kepada orang yang hidupnya sangat miskin!
Salahkah telinganya mendengar? Apa ini tidak kebalik! Tapi, karena hormatnya pada maha guru, ia tak berani melakukan konfirmasi. Dengan penuh tanda tanya, pulanglah ia ke negerinya.

“Bagaimana, bertemukan kau dengan guruku? Sudahkah kau sampaikan pesanku,? tanya sang guru.

“Saya, alhamdulillah berhasil bertemu kakek guru. Juga, telah saya sampaikan pesan guru hal nasehat itu.”

“Apa nasehatnya untukku?”

“Itulah yang membuat saya tidak enak menyampaikannya.”

“Tidak masalah. Apa pun nasehatnya, akan saya terima, dan moga-moga saya bisa melaksanakannya.”

“Saya berat menyampaikan, Guru. Rada-rada kurang masuk akal. Sulit saya memahaminya.”

“Beliau itu orang yang tinggi ilmu dan amalnya. Tidak mungkin berpesan tanpa makna. Katakan saja, tidak mengapa.”

“Kakek guru itu, ternyata, orang kaya; bahkan, kaya raya. Sementara guru, maaf, hidup seperti ini. Tapi, beliau menasehati agar guru tidak tidak terlalu memikirkan dunia. Saya betul-betul tidak mengerti guru!”

Sang guru sufi menundukkan kepala, merenung sejenak. Ia, lalu, meneteskan air mata. Entah air mata kerinduan kepada gurunya -yang telah lama ia tak jumpa, atau…karena isi nasehat gurunya itu. Mungkin juga lantaran keduanya, atau sebab lainnya.

Ia, lalu, mengangkat kepala dan berkata kepada sang pembawa pesan, “Dia benar! Walau ia kaya raya, hatinya tidak terpikat ke situ. Ia jadikan semua itu untuk sarana mendekati Tuhan. Ia khusyuk dalam beribadah.”

“Sedangkan saya, walau hidup seperti ini. Walau kekayaan hanya sebuah gayung, setiap kali saya salat, saya selalu teringat akan gayung itu. Ia sangat berharga bagi saya. Ketika melakukan salat, saya khawatir, ada yang mencuri gayung itu. Jadi, sedang salat pun, saya selalu ingat dunia!”

Pembaca yang budiman, bahan dasar dari kisah ini saya dapatkan dari Kang Dudu Masduki, sahabat karib saya di Pertamina dan BPMIGAS. Kang Dudu mendapatkannya dari ayahnya, seorang Kiai asal Gunung Halu, Cililin, Bandung. Saya mengolahnya, agar enak dibaca dan perlu!

Ciomas, 15 Agustus 2012, menjelang waktu zuhur.

Salam,
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: