NILAI-NILAI KEBENARAN

Shardhan 2012 -5

Al-Hallaj* mengalami ekstase, puncak kecintaannya kepada Tuhan, tak tertahankan. Ia tak mampu membendung kerinduan di qalbu untuk bertemu Sang Khalik. Sufi itu berteriak-teriak, “Ana Al-Haqq, Ana Al-Haqq, Ana Al-haqq.” Akulah Sang Kebenaran.

Al Junaid Al-Baghdadi, guru Al-Hallaj berulang kali memperingatkan agar dia tidak mengungkapkan rahasia itu, di muka umum, karena bisa berbahaya. Tapi tidak berhasil. Al-Hallaj berteriak Ana Al-Haqq, terus menerus.

Berita “kesesatan” Al Halaj, cepat menyebar ke seluruh penjuru negeri. Kabar itu pun sampai ke istana, dan membuat gusar khalifah.

Khalifah mengutus punggawa ke rumah guru Al-Hallaj, Al Junaid, minta pendapat tentang rencana pengadilan dan eksekusi hukuman terhadap Al-Hallaj.

Utusan pertama, ditolak Al-Junaid. Datang utusan kedua, juga tidak diterima Sang Guru Sufi itu. Khalifah berpesan kepada utusan ketiga, “Bilang kepada Al-Junaid bahwa Al-Hallaj akan dihukum mati. Minta jawaban darinya, ya atau tidak!”

Sampailah utusan ketiga itu. “Khalifah hanya bertanya pendapat Guru bahwa Al-Hallaj akan dihukum mati. Bagaimana pendapat Guru?”

“Ditinjau dari sisi Syariat, Al-Hallaj layak dihukum mati. Tapi, dilihat dari Nilai-nilai Kebenaran, sesungguhnya Allah Mahatahu.”

Al-Hallaj dibawa ke pengadilan, dan dinyatakan bersalah. Ia dituduh telah mengaku sebagai Tuhan. Dia telah kafir. Sufi besar itu diputuskan untuk dihukum pancung.

Dalam kesufiannya, Al-Hallaj, juga seorang aktifis politik. Ia memimpin partai Qaramithah yang beroposisi terhadap pemerintah.

Detik-detik menjelang eksekusi hukuman, di tengah lapangan terbuka, seorang muridnya berteriak, ” Guru, apakah Tasawuf itu?”

Al-Hallaj menjawab dengan isyarat. Ia angkat tangan kanannya. Dia gerakkan telapak tangan, memotong lehernya. Tasawuf adalah kematian.

Menjelang ajal, Al-Hallaj berdoa, “Tuhan ampunilah dosa-dosaku dan dosa orang-orang yang membunuhku. Aku melakukan ini, karena cintaku pada-Mu; mereka pun membunuhku, karena mereka cinta syariat-Mu.”

Ditebaslah leher Al-Hallaj. Kepalanya bergelinding-gelinding di tanah. Ceceran darah dari leher itu membentuk huruf:

“ANA AL-HAQQ!”

Banyak sikap dan amalan orang-orang tasawuf yang tidak mudah kita pahami. Apalagi kalau kita mengukurnya dengan bahasa fikih. Dalam banyak hal, keduanya bisa, bukan saja berselisihan, bahkan banyak bertabrakan!

Ibarat kita yang suka musik dangdut (jenis musik yang –kebanyakan- kita suka. Ngaku saja!), disuguhi Jazz, tak nyambunglah. Biasa akrab dengan Wak Haji Rhoma atau Megie Z, nonton Ireng Maulana, Bubi Chen, atau…George Benson; tulalitlah sudah!

Nikmati saja musik masing-masing. Tak perlu mengecam atau mencemooh penikmat jenis musik lain. Karena, sangat boleh jadi, kita tidak punya pengetahuan tentang musik aneh itu. Kalau ada waktu, bolehlah sedikit-sedikit melirik, “Apa sih yang mereka nyanyikan?”

Banyak penggemar Jazz di Bandung, Jakarta, dan Surabaya, juga kota-kota lainnya; dahulu, waktu masih belia, ketika awal-awal suka bunyi musik, pada mulanya adalah penggemar dangdut. Hanya, ada yang setia cintanya itu; tapi kebanyakan berpindah ke lain hati: pop, rock, blues, atau keroncong (ini mah masih saudara dekat dangdut). Sedikit yang hijrah ke klasik atau jazz.

Demikian juga dengan para ahli tasawuf. Para sufi ini dahulunya adalah para ahli fikih. Tanpa landasan fikih, belajar tasawuf adalah ibarat orang yang baru bisa menjalankan kendaraan roda dua, lalu bawa mobil. Tanpa rem lagi! Habislah semua dilabraknya.

Orang-orang awam seperti kita (baca: saya), berzikir dengan “Laa ilaaha illaa Allaah” (biasa dibaca dengan di-washal/disambung) menjadi “Laa ilaaha illallaah”

Bagi para sufi, lafaz zikir itu terasa terlalu abstrak. Di mana Allahnya? Jauh!

Para salik (penempuh perjalanan menuju Tuhan), kemudian merasa lebih dekat dengan dengan membaca zikir:

“Laa ilaaha illa huwa” (Tidak ada Tuhan kecuali Dia).

Pemuda atau pemudi yang dalam kasmaran, sering menyebut seseorang yang dicintainya sebagai si dia. “Buat siapa kamu beli oleh-oleh banyak-banyak? Kamu, kan, belum belum berkeluarga?” tanya seorang staf senior kepada kawannya -yang belum dua tahun bergabung dengan sebuah institusi hulu migas, suatu hari di Abudhabi.

“Buat si dia…lah!” jawabnya sambil mengerlingkan mata.

Ucapan “Laa ilaaha illa huwa” menjadi zikir baru sang penempuh jalan, menggantikan “Laa ilaaha illaa Allah”.

Namun, setelah sekian lama berjalan, salik itu, masih merasa ada jarak yang jauh dengan “huwa” itu. Di mana si “dia” berada, tidak begitu jelas.

Ia, kemudian, memperpendek jarak itu dengan mensubstitusi kata “huwa” dengan “anta”.

Mulailah ia dengan zikir barunya:

“Laa ilaaha illaa anta”
Tidak ada Tuhan, kecuali Engkau

Engkau terasa lebih akrab, karena ada di depan mata.

Berbulan, bertahun, sufi ini membaca
“Laa ilaaha illaa anta”.

Namun kemudian, terasa juga masih ada jarak antara aku dan kamu. Aku ingin yang aku cintai, menyatu denganku. Sama sekali tak ada batas pemisah. Muncullah “Laa ilaaha illaa Ana”.

Ana di sini, maknanya adalah aku dari yang “paling berhak” menyebut aku, yakni Tuhan sendiri.

Berzikirlah sufi itu dengan:

“Laa ilaaha illaa Ana”.

Fariduddin Aththar, dalam Tadzkirah al-Awliya, menyatakan, “Saya heran bahwa kita bisa menerima semak belukar terbakar (mengacu pada percakapan Allah dengan Nabi Musa as.) yang menyatakan Aku adalah Allah, serta meyakini bahwa kata-kata itu adalah kata-kata Allah, tapi kita tidak bisa menerima ucapan Al-Hallaj, ‘Akulah Kebenaran’, padahal itu kata-kata Allah sendiri!”
Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi, mengatakan, “Kata-kata ‘Akulah Kebenaran’ adalah pancaran cahaya di bibir Manshur, sementara Akulah Tuhan yang berasal dari Fir’aun adalah kezaliman.”

Ibu2/Bpk2, barangkali punya kawan ustaz/ustazah, atau…guru ngaji, khusus shardhan yang ini, jangan di-forward kepada mereka, ya. Saya takut dibilang sesat. Padahal, berjalan saja belum. Masih diam di tempat, kok!

*Husain ibn Manshur al-Hallaj atau lebih dikenal dengan Al-Hallaj adalah seorang ulama tasawuf, dilahirkan di kota Thur, kawasan Baidhah, Iran Tenggara, pada tahun 866M.

Mushola Pejaten Village,
Bakda Ashar, 28 Juli’12

Salam,
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: