MERASA PINTAR

Sharing bakda ramadhan 2012-1:

MERASA PINTAR

Istri saya, Sri Wardhani, walau -menurut saya- membaca Qurannya tidak lebih bagus dari suaminya; setiap pagi dan malam (mungkin juga siang hari) mengaji. Saya menilai, dia perlu lebih banyak lagi belajar. Sementara saya yang merasa sudah agak bagus bacaan Qurannya, tidak tiap hari mengaji. Kadang baca Quran, kadang tidak. Tidaknya, lebih banyak dari membacanya.

Kami; saya, dan dua anak laki-laki kami (dua anak lainnya sedang tidak ada di ruangan itu) yang sudah bagus membaca Qurannya, suatu pagi, bakda subuh, bergabung dengan istri saya yang sedang tadarus, membaca Quran.

“Kita tadarus bersama, ya! Mengajinya bergantian. Yang satu baca, yang lain memperhatikan. Kalau ada yang salah cara bacanya, dibetulkan,” ajak saya.

Istri saya yang memang waktu itu sedang membaca Quran, mendapat giliran pertama, meneruskan membaca ayat-ayat yang sebelumnya dia sudah baca. Walau membacanya pelan, tapi tajwidnya jelas.

Sebentar-sebentar, saya melakukan interupsi. Minta istri saya berhenti sejenak. Di depan kedua anak tadi, saya tunjukan kekurangtepatan cara baca yang istri saya lakukan. Saya pun, beberapa kali, menjelaskan hukum-hukum tajwid dari ayat-ayat yang sedang dibaca: mengapa harus dibaca sekian harakat, apa itu mad jaiz dan mad wajib, di mana boleh atau sebaiknya berhenti dan kapan harus disambung membacanya, dan seterusnya. Maksud saya, agar ke depan ia lebih baik lagi dalam membaca kitab suci. Ketika kedua anak kami setuju dengan pendapat saya, segera saya memicingkan mata tanda bergaya sambil memuji diri.

Urutan kedua tadarus, anak kami yang belajar di SMP, dilanjutkan dengan yang sekolah di SMA. Keduanya lancar, nyaris tanpa cela. Si Iki, walau masih di SMP, bacaan Qurannya, lebih bagus dari si Isal, yang sudah di SMA. Bahasa Inggris dan Arab Iki pun, kelihatannya, lebih aktif dibanding kakaknya. Kalau berbicara kepada saya, si Iki suka pakai salah satu dari kedua bahasa itu. Pura-pura mengerti, saya suka meladeni percakapan bahasa asing itu, sekenanya, sambil berlalu.

Saya katakan pada si Isal, “Kayaknya, bahasa Arab dan Inggris si Iki lebih bagus dari Isal. Kamu jarang kedengaran bicara bahasa-bahasa itu.”

“Pak…orang yang ilmunya baru sedikit dan belum mendalam, memang biasanya seperti itu. Kalau orang itu sudah pintar, dia jarang bicara,” dengan gaya menasehati, si Isal berkilah.

Sambil tertawa saya bicara, “Hebat juga kamu menjawab. Selain “pintarnya”, gaya sombong bapak sudah menurun juga sama kamu, Sal!”

Kita kembali ke tadarus lagi, ya. Setelah kedua anak kami itu, tibalah giliran bapaknya. Saya menjadi peserta terakhir. Rupanya, anak-anak ini pro ibunya. Saat saya membuka mulut untuk membaca, si Isal dan si Iki, dan tentu saja, dibarengi ibunya, sudah bersiap-siap mencari kesalahan baca saya. Agak grogi juga. Masalahnya, hampir tiap ayat yang saya baca, selalu mereka dapatkan kesalahan di dalamnya.

Dalam satu ain, tidak terhitung temuan yang mereka dapatkan. Saya tatap wajah istri saya. Ia menampakkan wajah ceria penuh kemenangan. Mungkin dia bilang dalam hatinya, “Tahu rasa, ya!”

Akhirnya, dengan terpaksa, harus saya akui bahwa diri ini -yang merasa sudah agak pintar, ternyata harus banyak belajar lagi. Di sisi lain, istri saya yang baca Qurannya sering dianggap kurang lancar -di mata anak-anak yang lebih layak menilai ketimbang bapaknya- kesalahan bacanya…minimalis!

Begitulah kalau kita menilai sesuatu hanya dengan takaran punya sendiri, dan tak pernah peduli pada alat ukur orang lain -yang boleh jadi, lebih akurat.

“Semut di seberang lautan, tampak jelas; sementara gajah di depan mata, tidak terlihat.”

Wastaghfirullah walhamdulillah. Saya beristighfar atas ketinggian hati diri dan bersyukur atas kepintaran anak-anak (juga ibunya).

Ditulis di dalam toko pakaian Sixty One, Botani Square Bogor, di antara waktu anak-anak memilih baju -sementara orang lain bertakbiran di masjid-masjid, bakda Isya, 18 Agustus 2012. Sharing ini disebut sharbadhan (sharing bakda ramadhan), karena ditulis setelah ramadhan berlalu, yakni di waktu (bakda) isya, di mana ramadan pergi saat magrib mulai berkumandang.

Salam,
Jonih Rahmat

    Penulis Buku Nasional Best Seller
    “MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
    Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: