MENGEDEPANKAN KEPENTINGAN UMUM

Sharing ramadhan 2012-4:

Begitu suara azan terdengar dari masjid dekat kantor, Rabu sore, saya meninggalkan ruangan. Tidak menuju mushola atau ambil wudhu, tapi menuju arah lift. Saya sms kawan saya yang biasa bawa Innova dari/ke Ciomas, “Kita pulang sekarang. Shalat ashar di UKI atau di Sentul saja, agar tak terjebak macet seperti kemarin.”

O ya, Selasa pagi, saya, dari Bogor naik kereta; dan bakda zuhur, mobil (tentu saja dengan sopirnya) yang pagi harinya mengantar saya ke stasiun; berangkat dari Ciomas menuju Jakarta. Rencana kami, karena ada suatu keperluan di Bandung; pk 15, dari kantor, langsung berangkat ke Bandung, dan waktu sahur, Rabu, pagi sekali, berangkat kembali ke Jakarta.

Rupanya, saat saya telepon kawan yang bawa mobil itu (saya menduga, dia sudah lama di tempat parkir), “Posisi di mana?”

“Pas baru masuk halaman Wisma Mulia, Pak!”

“Kalau begitu, kita nunggu waktu salat ashar saja; sekalian istirahat dulu!”

Sekitar pk 16.30 kami keluar Wisma Mulia, dan baca BBM dari “juru bicara” kita, Pk Hamdi: “Arah Cawang, cet…macet!”

Kawan saya bilang, “Kita ke Simatupang saja, lewat buncit.”

Saya lupa, kalau Jalan Buncit, di luar bulan puasa pun, tiap sore dan pagi macet. Kami nyampai di Simatupang, dua jam kemudian.

Rabu sore tadi, saya tak ingin, kena macet lagi. Benar, pukul lima kurang sedikit, kami sudah sampai Sentul.

Mushola mungil di dekat pompa bensin itu, selalu ramai dengan para musafir yang shalat, khususnya pada waktu ashar dan, terutama, maghrib.

Untuk masuk mushala kecil itu, kami harus antri. Karena sering bepergian, saya tahu bagaimana trik meminta jamaah yang sudah selesai shalat -yang memenuhi mushola, yang menyambung shalatnya dengan membaca wirid-wirid – untuk cepat keluar, agar saya (dan rombongan berikutnya) bisa segera menggunakan tempat sempit itu. Baca iqomahlah saya, keras-keras. Berhasil.

Sebab saya tahu bacaan Alquran saya kurang enak didengar, saya persilakan seorang berjenggot untuk menjadi imam.

Selesai baca Alfatihah dan surat langganan, Qulhu…tunggu sebentar. Tunggu lagi…dan tambah surat pendek lainnya; eh, belum ruku-ruku juga itu imam.

Saya berhasil menghindari kemacetan di Tebet, Pancoran, dan UKI, tapi, ternyata, saya terjebak macet di Sentul. Di dalam sebuah mushola.

Pak Imam, kayaknya khusyu sekali shalat-nya, sampai dia agak lupa bahwa ada pengikutnya di belakang. Dan, para penumpang itu ingin segera beranjak dari situ. Sudah ada yang menunggu di rumah: kolak dan sop buah.

Saya jadi teringat lagi, ketika mengikuti pelatihan-pelatihan atau rapat-rapat di luar kantor. Apabila waktu salat Jumat tiba, terjadi antrian panjang di tempat wudhu. Para hamba Tuhan itu berwudhu dengan tertib. Mencuci anggota badan yang harus dibasuh, tiga kali…tiga kali. Dan, semakin mendekati waktu salat, semakin panjanglah antrian itu.

Padahal, di madrasah-madrasah diajarkan bahwa di antara ilmu-ilmu yang wajib dipelajari (juga diamalkan) selain Tauhid (keimanan) dan Fikih (hukum peribadahan), ada juga Tasawuf (akhlak, budi pekerti). Bagi sebagian orang-orang Islam, istilah tasawuf, tidak masuk dalam kurikulum yang perlu dipelajari, karena ia menyesatkan dan penuh bid’ah. Memang, tidak sedikit ada yang mengaku belajar Tasawuf, melakukan hal-hal yang tidak syar’i, bahkan merasa tidak perlu lagi beribadah secara lahiriah, karena sudah langsung makrifat, kenal dekat dengan Allah. Itu mah Tak Sanggup, bukan Tasawuf. Kalau makrifat tanpa syariat, itu namanya loncat di tanah licin. Ia akan terpeleset. Tasawuf itu adalah tidak lain dengan ilmu tentang akhlak –akhlak lahir dan akhlak batin, tentang budi pekerti, tentang bagaimana berkomunikasi secara santun -baik kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia.

Fikih dirumuskan oleh para ulama dengan menginterpretasikan Alquran dan Assunnah. Fikih berkaitan erat dengan waktu, lingkungan, informasi yang masuk dan akses bahan acuan, serta kapabilitas para ulama yang merumuskannya. Ada yang berdasar dalil yang qoth’i, tidak sedikit berasal dari dalil yang dzanni. Fikih itu interpretatif. Karenanya, banyak sekali perbedaan pendapat di dalam fikih.

Nah, ketika perbedaan pendapat ini muncul, tasawuf atau akhlaklah yang bisa mendamaikannya. Kita ke depankan silaturahmi. Kita utamakan menghormati pendapat orang lain. Kita nomor satukan persatuan, bukan perpecahan!

Sikap seperti ini pernah dicontohkan oleh HAMKA waktu beliau berada di Jember. Jember, kan, salah satu kantung utama NU. Ketika menjadi imam dalam shalat subuh, HAMKA yang tokoh Muhammadiyah membaca doa qunut. Sehabis shalat, para anggota Muhammadiyah yg menjadi makmum, kaget dan bertanya kepada HAMKA, “Mengapa tadi shalat-nya pakai qunut?” HAMKA menjawab, “Kalau tak baca qunut…saudara-saudara kita yang NU, yang juga menjadi makmum, akan merasa kurang afdhol shalatnya. Tidak apa, itu, kan, sunnah saja!”

Jauh sebelum itu, Imam Syafei -yang sebagian besar orang Indonesia merasa sebagai pengikut mazhabnya, shalat subuh di Baghdad, di dekat makam Imam Hanafi, ia tak baca qunut. Padahal mazhab Syafei berqunut dalam shalat. Tetapi mengapa kala itu ia tidak membaca qunut. “Demi menghormati penghuni kubur itu!” jawab Imam Syafei. Seperti kita ketahui, Mazhab Hanafi, tidak mengsunnahkan qunut.

Sikap toleran sudah dipraktikkan, justru oleh orang-orang paling ‘alim di kelompk masing-masing. Kita saja yang tidak banyak ilmu, yang suka ribut.
Para imam, orang-orang saleh yang berilmu, memilih “mengalah” akan keyakinan fikih yang dianutnya, demi menjaga persaudaraan, demi menghormati orang lain, dan demi kemaslahatan bersama.

Kembali ke hal shalat imam yang lama dan wudhu yang “tertib” di antara antrian panjang orang-orang yang menunggu, saya ingin mengajak kembali kawan-kawan, untuk belajar, sedikit saja, ilmu ushul fiqh.

Ushul Fiqh adalah metoda, tata cara, jalan untuk membantu memahami teks-teks fikih. Salah satu di antara kaidahnya adalah “masalih mursalah” atau “maslahah mursalah”. Kaidah ini mengajarkan untuk mengutamakan kemaslahatan umat dan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan (kayak pidato para politikus saja!).

Seperti apa contohnya? Ya, kayak wudhu di antara antrian dan shalat imam yang lama tadi!

“Kalau antrian panjang, wudhu-nya tak usah tiga kali…tiga kali; satu kali…satu kali saja, cukup. Kalau menjadi imam shalat di dalam perjalanan (di stasiun, terminal, bandara, pompa bensin), ya tak perlu baca surat-surat yang panjang. Bukankah, biasa juga -kalau shalat sendirian- bacanya Qulhu!”

“Kamu su’udzan lagi! Saya sih, kalau shalat di rumah pun, suka baca surat-surat yang panjang, dan sujud terakhirnya biasa lama.”

“Yaaah, kamu! Kalau shalat sendirian mah, di rumah atau di mana pun; silakan saja mau sujud 10 menit, 15 menit, 2 jam juga boleh; tak masalah! “Tapi, kalau wudhu atau shalat di tempat keramaian, berjamaah, di mana orang-orang dalam kondisi tergesa-gesa, singkat-singkat sajalah!”

“Jangan-jangan, cara yang singkat ini, karena niatnya meringankan orang lain (baik wudhu maupun shalat), kalau mau “bisnis” pahala, nich; bisa-bisa, di sisi-Nya; pahalamya lebih utama!.”

“Emang ada hadits-nya, tuh, wudhu satu kali…satu kali? Apa tidak bid’ah?”

“Makanya, kita, perlu belajar ilmu-ilmu agama. Selain fikih, ada qaidah ushul fiqh, ulumul quran (ilmu-ilmu tentang quran), ulumul hadits (ilmu-ilmu tentang hadits), tarikh (sejarah), tarikh tasyri (sejarah perkembanagn fikih), perbandingan mazhab, metodologi dan psikologi dakwah, dan masih banyak lagi. Ilmu-ilmu itu didapatkan di pesantren atau di perguruan tinggi Islam. Atau, bisa juga, oleh para peminat perorangan.”

“Wudhu tiga kali, dua kali, satu kali; semua ada dalilnya; ada hadits-nya. Bahkan, kalau kamu lagi jadi makmum, dan kamu ada sesuatu yang perlu cepat-cepat dilakukan segera setelah shalat, tapi imam shalat-nya lama sekali; kamu boleh menyelesaikan shalat sendirin, meninggalkan imam!”

Ciomas 25 Juli “12 (bakda tarawih), dan pagi hari (dalam perjalanan Bogor- Jakarta, 26 Juli”12).

Salam,
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: