LINTAH DI HIDUNG ANIS

Sharing bakda ramadhan 2012-3:

Anak-anak usia Sekolah Dasar bergerombol, mengitari seorang anak kecil lainnya di gang kecil, tepat di belakang rumah kami.

Anak yang dikerumuni melakukan gerak membungkuk, tegak, bungkuk lagi, dan tegak lagi. Teman-temannya bersorak sorai.

Anis, anak yang dikerumuni itu, ketika badannya membungkuk, dari lubang hidungnya ke luar salah satu ujung dari binatang mirip cacing; saat ia tegakkan badannya, binatang itu masuk lagi ke bagian dalam hidungnya.

Seorang kakek yang suka ditanyai orang tentang pernasiban memperingatkan Yaya, ibu dari Anis, agar segera bertobat dan minta maaf kepada Mak Nawi, ibu dari Yaya dan nenek Anis.

Orang-orang menyangka, hidung Anis menyimpan binatang kenyal itu, karena dosa dari ibunya. Yaya dinasehati agar minta maaf kepada Mak Nawi. “Panyakit” itu akan sembuh, jika Yaya menghadap ibunya dan minta di maafkan atas dosa yang ia punya kepada sang ibu.

Istri saya bilang bahwa si Anis kemasukan lintah di hidungnya. Ia harus segera dibawa ke dokter.

Anak itu, dengan ibunya, dan dua orang tetangga, sebagai saksi -barangkali terjadi sesuatu selama pengobatan, saya bawa ke poliklinik dua puluh empat jam.

Dokter wanita di poliklinik meminta Anis telentang di tempat tidur, dan memasukkan penjepit ke dalam hidung Anis. Anak itu meronta ketakutan. Dia pikir, mungkin, pinset itu mau ditusukkan ke hidungnya. Saya pegang kedua pangkal lengannya.

Setelah pinset mencapai sasaran, terjadilah adu kekuatan antara tangan Bu dokter dengan tubuh lintah. Dokter muda itu, dengan konsentrasi penuh, berusaha mengeluarkan binatang penghisap darah itu dari hidung Anis, sementara hewan yang hidup di tempat basah ini, dengan menancapkan giginya pada bagian dalam hidung mangsanya, bertahan setengah mati. Bagi si lintah, ini adalah masalah hidup dan mati. Ia pasti kerahkan seluruh tenaganya, habis-habisan. Persis seperti seorang pemancing yang sedang adu tarik tali kail dengan ikan besar yang memangsa umpan di ujung kail atau -lebih kena lagi- seperti yang ngurek belut yang kailnya tiba-tiba ditarik belut di dalam lubang.

Tiba-tiba….”plas”…binatang penyedot darah itu lepas dari hidung, digencet dan ditarik pinset dokter. Darah segar memuncrat dari indra pencium Anis. Ngeri juga saya melihatnya, tapi perasaan menjadi lega.

Hewan kenyal itu, di luar hidung, besarnya hampir sama dengan kelingking saya, jari keliking seorang dewasa, berpostur gembal. Ia sudah lama “bermukim” di hidung anak kecil itu.

Yaya, janda miskin dengan empat anak, tinggal di belakang rumah kami. Rumah keluarga mereka bagian atasnya, tidak beratap. Gentengnya langsung menghadap lantai tanpa penghalang. Genteng itu, berbeda-beda ukuran. Kalau hujan turun, bukan saja ada tampias dari air hujan itu, melainkan seluruh lantai rumah- yang sebagian bertembok dan sebagian lainnya sudah berupa tanah- basah alias banjir.

Ketika hujan turun, lintah (mungkin juga hewan lainnya), merayap masuk rumah mereka. Salah satu dari binatang itu, masuk ke sebuah lubang yang udara di dalamnya agak hangat. Lubang itu adalah hidung Anis, yang tidur di lantai beralaskan tikar.

Yaya, janda tua dengan empat anaknya, serta Mak Nawi, ibu dari Yaya -yang kebetulan terganggu jiwanya, tinggal di rumah tidak layak huni itu. Belakangan, setelah kami mengasuh anak-anak yatim, dua dari empat anak Yaya tinggal bersama kami. Mak nawi pun, sesudah kenal keluarga kami dan sering lewat depan rumah, sering menginap di kediaman kami, berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Alhamdulillah, binatang nakal itu sudah dipecat dan semoga tidak masuk lagi ke “ruang kerja” yang hangat, di dalam hidung manusia.

Si Anis, sekarang, sudah menjadi remaja; tinggal di Kampung Baru, Desa Pagelaran, Ciomas.

Ciomas, menjelang zuhur, 23 Agustus 2012

Salam,
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s