KEKUATAN KASING SAYANG

Sharing ramadhan 2012-8.

Seorang tinggi besar, bertopeng, bersenjatakan pemukul baseball merampok sebuah mini market di Shirley, New York, Amerika Serikat. Sang perampok memukul-mukulkan baseball bat-nya kepada pemilik toko. Sementara Muhammad Suhail, pemilik toko, membungkuk-bungkukkan badan, berlindung di balik meja kasir, menghindari pukulan-pukulan sang perampok.

Dari balik meja, Suhail, tiba-tiba, bangkit berdiri dengan senapan laras panjang di tangan. Ujung senapan mengarahkan kepada si perampok.

Sang perampok, sama sekali ia tidak menyangka hal itu bisa terjadi. Dia panik. Ia, yang semula merasa sebagai pengancam, seketika, berbalik posisi, menjadi yang terancam. Lelaki tinggi besar itu, serta merta, berlutut dan tersungkur, bersujud. Orang ini, menangis keras sambil berkata, “Kami tidak punya uang, tidak punya makanan. Sudah satu minggu, anak-anak dan istri saya tidak makan.”

Suhail kaget bagaimana seorang berbadan besar -dan barusan saja bersikap garang hendak membunuh dirinya, sekonyong-konyong menangis dan berlutut di hadapannya.

Lebih kaget lagi, Suhail mendengar pengakuan perampok itu bahwa ia dan keluarganya sudah satu minggu tak menemukan makanan.

Bukannya balik marah kepada orang yang hendak mencelakakan dirinya; Suhail, malah, jatuh iba pada orang itu. Sementara satu tangan tetap menggenggam senapan, jaga-jaga; tangan lain Suhail mengambil uang dari laci. Diberinya si penjahat empat puluh dolar, dan diminta segera meninggalkan tempat itu. Pemilik toko pun tidak melporkannya ke polisi, ia membiarkan si “mantan” perampok pergi dengan empat puluh dolar tadi.

Dan, terjadilah suatu pemandangan yang, mungkin baru pertama kali terjadi di dunia: Perampok dan yang akan dirampok bersalaman!

Sang perampok, sebelum meninggalkan toko, mengucapkan syahadat. Dia masuk Islam.

Tayangan ini saya lihat, Kamis malam, minggu lalu, dari rekaman You Tube dengan judul, saya lupa persisnya, tapi lebih kurang “To All Who Hate Muslims”

Lauren Lauren, seorang jurnalis Inggris, adik dari Cherie, istri Tony Blair, menulis banyak tentang Palestina. Suatu hari, di London, ia bertemu delegasi Palestina.

“Kalau Anda suka meliput berita Palestina, mengapa tidak datang saja ke sana.”

Sebenarnya, sudah lama Lauren ingin datang ke negeri yang sering ia tulis artikel tentangnya. Tapi, rasa ngeri menghantuinya. Ia khawatir, “di negeri para teroris itu”, terjadi sesuatu yang membahayakan keselamatan dirinya. Akan tetapi, setelah sekian lama, karena keinginan tahuannya yang kuat, akhirnya membawa dia ke Palestina.

Setelah melewati berbagai pemeriksaan di check point, Lauren bertemu Mahmoud Abbas, pemimpin Palestina. Di situ dia mendengar para serdadu berbicara pakai walkie talkie, dalam bahasa Arab. Berada di antara orang-orang yang selama ini ia anggap sebagai manusia paling kejam, para teroris, Lauren membayangkan percakapan para serdadu itu, mungkin, berarti “……kita akan membunuh wanita ini, sebentar lagi!”

Wanita berani ini, lalu, masuk perkemahan para pengungsi di Ramalah. Para penghuni tenda, menyambut Lauren dengan hangat. Waktu itu, bulan puasa, dan Lauren tiba di tenda, saat menjelang waktu berbuka. Santapan berbuka terhidang di dalam tenda. Lauren diajak makan bersama. Sesuatu yang tidak pernah terbetik dalam benaknya, “Ternyata orang Palestina, yang selama ini disebut-sebut sebagai teroris itu, ramah-ramah!”

“Anda sedang menderita di pengungsian. Mengapa Anda menambah penderitaan itu dengan tidak makan seharian?” tanya sang jurnalis.

“Kami hanya ingin merasakan bagaimana orang-orang miskin merasakan kelaparan karena tidak punya makanan,” jawab seorang ibu di dalam tenda itu.

Penyambutan yang sangat ramah di tenda pengungsian itu, memberikan kesan mendalam bagi wanita yang sebelumnya membenci semua orang Arab itu.

September 2010, Sang wartawati ini, untuk keperluan pemberitaan, pergi ke Iran. Mengikuti rombongan peziarah, ia datang ke Masjid Fatima Al- Masumeh di kota Qom. Seperti halnya di tempat-tempat suci atau dianggap suci lainnya, di banyak negeri, dalam tradisi agama apa pun, para tamu diminta mengenakan pakaian tertentu, yang lebih terlihat sopan, demi menghormati tempat atau orang-orang yang dianggap suci, di tempat ziarah itu. Lauren pun memakai kerudung.

Ia melirik ke kanan dan ke kiri, memperhatikan dan menirukan apa yang orang lain lakukan. Saat itulah, seperti dituturkannya kepada wartawan yang mewawancarainya di London, seorang wanita cantik memandang dia dengan penuh perhatian, dengan pandangan mata yang memancarkan kasih sayang. “I love you,” kata wanita itu. Adik ipar Tony Blair ini merinding. Ia merasakan tatapan cinta kasih dari wanita itu, merasuk ke dalam hatinya.

“Ini adalah malam Selasa dan saya duduk dan merasa ini suntikan morfin spiritual, hanya kebahagiaan mutlak dan sukacita,” kata dia kepada Daily Mail.

Ketika ia kembali ke Inggris, adik ipar mantan perdana menteri- yang tangannya berlumur darah jutaan rakyat Irak ini ini- memutuskan untuk memeluk Islam. “Sekarang Saya tidak makan babi dan saya membaca Alquran setiap hari,” kata Lauren.
“Saya juga belum pernah minum alkohol dalam 45 hari, periode terpanjang dalam 25 tahun. Hal aneh adalah bahwa sejak saya memutuskan untuk masuk Islam saya tidak ingin
menyentuh alkohol, dan aku adalah seseorang yang mendambakan segelas anggur atau dua pada akhir hari,” tuturnya.

“’Saya selalu terkesan dengan kekuatan dan kenyamanan itu adalah dengan memberi,” ungkapnya.

Sebelumnya, ketika ia melaporkan peperangan di Timur Tengah, ia tinggal di sebuah tempat yang sepi dan nyaman di Perancis. Dan, seperti ia katakan di You Tube, saat itu, tidak pernah terpikirkan untuk memberi atau membantu orang lain. Yang ia perhatikan hanya diri sendiri.

Lauren, yang bekerja untuk Press TV, saluran berita berbahasa Inggris di Iran, telah menjadi lawan vokal perang di Irak. Pada Agustus 2008 ia pergi ke Gaza dengan menumpang kapal dari Siprus, bersama dengan 46 aktivis lainnya, untuk menyoroti blokade Israel atas wilayah itu. Dia kemudian ditolak masuk ke Israel dan Mesir.

Pada 2006 dia adalah kontestan di reality show ITV I’m A Celebrity… Get Me Out. Dari sini, ia menyumbangkan biaya ke badan amal Interpal lega Palestina!. Terakhir, ia berharap dengan dirinya masuk Islam dapat membantu mengubah praduga kakak iparnya, Tony Blair, tentang Islam.

Masih panjang cerita tentang Lauren, termasuk bagaimana respons sahabat-sahabatnya, komunikasi dengan anak-anaknya sehingga mereka spontan bilang, “… we love Islam!”, dan dialog menarik dengan ibunya. Perlu ruang lebih luas untuk membicarakannya. Saya potong sampai di sini saja, ya!

Sebelum mengakhiri cerita tentang perampok yang masuk Islam dan tentang ipar mantan Perdana Menteri Inggris yang juga masuk Islam, saya ingin mengutip kembali tulisan saya beberapa tahun lalu dalam judul “Atas Nama Agama”.
Seorang kawan, suatu hari memutuskan untuk pindah kerja ke Timur Tengah. “Saya dan keluarga, dulu, memilih kerja dan tinggal di Saudi Arabia adalah agar bisa belajar lebih baik tentang Islam. Setelah sekian tahun tinggal di sana, kami belum mendapatkan yang kami harapkan, baik di tempat kerja, apalagi di tempat tinggal. Orang-orang Arab (setidaknya yang ia temui selama ini, dan, tentu saja, ini adalah menurut pandingan dia, dan boleh jadi tidak representatif), pada umumnya, maaf, tidak lebih baik dari orang-orang di Indonesia,” ia bercerita dengan nada prihatin.
Teman ini, kemudian ia melanjutan, “Seorang kawan kerja saya, muslim; dan istrinya, nonmuslim- yang telah bersiap-siap untuk convert to Islam, tinggal “finishing touch” saja, agar lebih intensif belajar Islam, pindah dari sebuah negara (Barat) ke Saudi Arabia. Setelah tinggal beberapa lama di negara tempat kelahiran Islam itu, si istri memutuskan untuk tidak jadi masuk Islam. Dia kembali ke negerinya, dengan kekecewaan.”

Manusia adalah makhluk psikologis yang sensitif terhadap sesuatu yang datang dari luar. Kalau yang datang itu membuat dia merasa aman, nyaman, menyejukkan hati; boleh jadi hal baru itu lebih mudah masuk. Akan tetapi, kalau kebalikannya, mungkin yang muncal adalah kebencian dan kemarahan. Perampok dan wartawan itu masuk Islam bukan karena zikir yang banyak, bukan pula karena dakwah yang keras, melainkan karena kelembutan hati dan kasih sayang. Di lain pihak, seorang yang menyengaja pergi ke negeri tempat kelahiran Islam, dan datang untuk memperdalam pemahaman tentang agama itu, setelah berinteraksi dengan para pemeluk agama yang akan dia ikuti itu, justru ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
Apa yang ingin saya sampaikan dari mengutip dua atau tiga kisah di atas? Menyebarkan agama kepada kawan-kawan? Saya kira, bukan itu. Saya hanya ingin berbagi pandangan bahwa pergaulan sehari-hari di kantor, komunikasi dengan teman di lapangan, diskusi dengan rekan kerja; apalagi dalam mengajak orang kepada kebaikan – dalam agama apa pun; akan lebih efektif kalau dilakukan dengan kasih sayang dan kelembutan hati. Bukan dengan sikap kasar, bukan dengan kekerasan.
Hanya pendapat saya yang benar, yang lain salah dan sesat; menyebarkan kebencian kepada golongan tertentu; mengangap orang lain sesat, dan saya saja yang paling berhak mewarisi surga; itu semua adalah bentuk-bentuk komunikasi tidak efektif dan tidak akan menghasilkan efek yang baik; tidak akan menemukan win-win solution. Berbuatlahlah baiklah kita kepada semua orang. Siapa pun mereka. Apa pun suku, bangsa, agama, pangkat, dan jabatannya. Berlomba-lombalah dalam kebaikan.
“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”

Ciomas, 03 Agustus 2012
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Sumber: You Tube, Ynetnews/Daily Mail.co.uk, Republika

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: