KATA DAN PERBUATAN

Sharing ramadhan 2012-2:

Seorang ayah, di pinggiran Kota Bangkalan merasa gundah. Mengapa? Anak semata wayangnya mempunyai kebiasaan kurang baik untuk kesehatan: sangat suka makan gula-gula. Itu anak, setiap hari, menyantap gula-gula dalam jumlah banyak. Tiada hari, tanpa gula-gula di mulut.

Berbagai upaya dilakukan ayahnya agar sang anak bisa mengurangi “hobi”nya itu. Akan tetapi, usaha-usaha itu tidak menunjukan hasil yang bagus.
Datanglah, si Bapak bersama anaknya, suatu hari, ke Kiai Kholil.

“Assalamu ‘alaikum, Kiai!” seru sang Bapak.
“Wa ‘alaikum salam,” Kiai menjawab salam sambil membimbing tamunya masuk ke dalam rumah.

Kepada Kiai, si Bapak mengutarakan maksud kedatatangannya.
Sambil tersenyum Kiai berkata kepada Anak yang gila gula-gula itu, “Kamu jangan makan gula-gula, ya!”

“Ya, Kiai,” Anak itu menyahut dengan hormat.

Pulanglah Bapak dan Anak itu ke rumahnya. Apa yang terjadi?
Sejak hari itu, tanpa diminta, si Anak tidak pernah makan gula-gula lagi. Bahkan, segala yang mengandung unsur gula, ia tak mau memakannya. Sampai-sampai, si Ayah khawatir juga.
Anak itu, dulu, “ekstrem kanan”; eh…sekarang, jadi “ekstrem kiri”!
Tanpa pikir panjang, si Bapak, kembali menemui Mbah Kholil.

“Nak, kamu makan gula-gula, sedang-sedang saja!”
“Ya, si anak menjawab sambil mengangguk.”

Sebelum berpamitan, ayah anak itu bertanya kepada Kiai Kholil. “Apa rahasianya, sehingga apa yang Kiai ucapkan diikuti anak saya?”

“Waktu saya bilang sama anak kamu, ‘Jangan makan gula, sejak itu saya tidak makan gula!”’

Seorang ustaz memberikan wejangan kepada orang-orang yang bekerja di rumahnya. Di antara nasehatnya, “Kalau kalian memberi sesuatu kepada seseorang, berikanlah yang terbaik. Jangan memberi apa yang kamu paling tidak suka. Jika kita memberikan sesuatu, karena memang benda tersebut sudah tidak kita perlukan lagi atau malah sudah tak bisa digunakan lagi, itu namanya bukan mengasih, tapi nitip. Nitip untuk dibuang! Sekali lagi, berikanlah yang baik-baik.”

Waktu berlalu. Serombongan kecil tamu datang kepada ustaz. Singkat cerita, tibalah waktu makan. Seorang pelayan menghidangkan santapan siang- yang tidak biasa.

Menu siang itu -selain sayuran segar- juga tersaji potongan-potongan daging: ayam goreng dan sup ayam.

Ustaz dan para tamu menikmati hidangan yang makan siang.

“Kamu, rupanya, pintar masak juga,” kata ustaz kepada pelayan yang belum lama bekerja di keluarga guru ngaji itu.

” Enak benar sup ayamnya!”

“Bagaimana menurut kalian,” tanya ustaz kepada para tamu- yang ternyata para adik dan keponakan ustaz.

Semua mengacungkan jempol, memuji masakan sang pelayan.

“Pasti ini, bukan ayam negeri. Ayam kampung, kan!, lanjut ustaz.

Sambil mengambil lagi pangkal paha si gurih, Pak Ustaz kembali menyampaikan pujian kepada karyawan barunya itu.

“Benar-benar hebat kamu! Pakai bumbu apa sih? Di pasar mana kamu beli itu ayam?”

“Tidak beli, Ustaz!”

“Wah! Siapa yang ngirim ayam?” (Sebagai guru ngaji anak-anak dan ibu-ibu tetangga rumah, makanan atau bahan makanan, tidak jarang datang ke rumah ustaz: sebagai rasa terima kasih atau pengkhidmatan murid kepada guru).

“Tak ada yang mengirim ayam, Ustaz!” jelas sang pembantu.

“Itu, kan, ayam yang dari Warung Kondang. Yang suaranya panjang, Ustaz.”
“Ayam yang mana? Punya siapa?” ustaz terhenyak.

“Ayam-ayam yang tiap subuh berkukuruyuk, bersahutan. Yang kata ustaz, ‘sepuluh juta kagak gua jual!'”

“Ayam yang Ustaz paling suka. Masak lupa!”

“Haaaah!” ustaz pingsan seketika.

Setelah siuman, dan sudah bisa menguasai keadaan, ustaz menegur pembantu yang “pintar” masak tadi. “Mengapa kamu potong ayam kesayanganku itu?”

“Dan mengapa mesti ayam pelung? Dua-duanya, lagi! Kan, masih banyak ayam kita yang lain.”

“Ampun, Ustaz. Saya mah orang bodoh. Saya hanya mendengar dan belajar mengamalkan. Jika saya tak mungkin melakukannya sendiri, saya bantu orang lain untuk mewujudkan apa yang dikatakannya. Sebagai pembantu, saya hanya membantu, Ustaz!”, sang pelayan menjawab polos. .

“Saya kira untuk menghormat kaum kerabat Ustaz, yang datang dari tempat yang tak dekat, tidak ada salahnya kita suguhi dengan hidangan terbaik!”

“Dan, setahu saya, itulah milik Ustaz, yang terbaik.”

“Kamu ini bagaimana. Itu untuk orang lain. Bukan untuk saya!”

Dua kisah di atas (walau salah satu cq. si pembantu agak lebay), mengajarkan kepada kita bahwa kata-kata yang ke luar dari hati yang bersih, diucapkan oleh orang yang bersesuaian dalam kata dan perbuatan, akan masuk ke dalam hati pendengar. Apalagi kalau yang mengeluarkan kata-kata itu adalah seorang saleh dan berilmu. Kata-kata itu bisa manjadi penuh makna dan membentuk lingkaran pengaruh yang kuat, bahkan dominan bagi pendengarnya.

Sebaliknya, kita tidak bisa berharap terlalu banyak bahwa orang-orang yang dalam “komando” kita, mengikuti dan melaksanakan dengan baik apa yang kita tugaskan kepada mereka; kalau kita, hanya berkata dan tidak melakukannya untuk diri sendiri.

Banyak petinggi di pelosok negeri dan pejabat di banyak lembaga berbicara tentang perlunya memelihara etika, menjunjung budi luhur; menghormati pendapat orang lain; atau… pentingnya mengencangkan ikat pinggang.

“Tapi mengapa petuah para petinggi dan nasehat para pejabat, sering tidak kena di hati rakyat? Mengapa, dalam praktiknya, banyak pemuka, alih-alih memberi teladan dalam bersikap bijak, malah suka memaksakan kehendak? Jangan-jangan kata-kata yang suka diucapkan itu… hanya hiasan, atau… mereka yang terhormat itu, berakhlak (amit-amit) kebalikan dari yang mereka katakan?” Tanya seorang pekerja kantor desa, yang tiba-tiba muncul di situ.

“Ah, kamu ini, su’udzon saja!” Seru temannya.

“Bukan begitu. Saya hanya ingat, ucapan Kiai, di kampung, dulu waktu saya belajar mengaji. Kiai mengutip kitab suci:

‘Kamu suruh orang lain berbuat baik, tapi kamu lupakan dirimu sendiri. Apakah kamu tidak berakal?’

‘Mengapa kamu berkata apa yang tidak kamu lakukan? Sungguh besar murka Allah jika kamu berkata tapi kamu tidak berbuat.”‘

Naudzu billahi min dzalik!

Ciomas, 23 Juli, menjelang tengah malam.

Salam,
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s