DISANGKA (BUKAN) HANTU

Sharing bakda ramadhan 2012-5

Lebaran tahun 2005 atau 2006, keluarga kami berhalal bihalal dengan keluarga dari pihak istri saya, keluarga besar Simpay Wargi di Jalan Lodaya Bandung.

Rencana semula, dari Bogor mau berangkat malam hari, setelah selesai menerima tamu-tamu di Ciomas. Rupanya, istri saya kelelahan. Jadwal diundur ke besok bakda subuh. Karena itu dan ini, baru pagi hari ketika matahari sudah menampakkan diri, kami meninggalkan Ciomas menuju Bandung.

Acara halal bihalal di Keluarga Besar dari pihak istri dimulai pukul 11.00. Kami datang terlambat satu jam. Prinsip “jangan mengulang kesalahan dua kali: kalau datang sudah telat, maka pulang tidak boleh telat lagi”; tidak saya jalankan di sini. Malu, ah, sama para sesepuh yang justru beliau-beliau itu sudah berada di tempat, jauh sebelum acara dimulai.

Selesai acara, saya masih berbincang dengan saudara-saudara, khususnya dengan para senior, sambil menimba ilmu dari pengalaman mereka. Kami pamitan dari rumah besar itu sekitar pukul 14.00, dan silaturahmi diteruskan ke Jalan Karawitan, belakang Hotel Horison, sungkem ke salah seorang sesepuh yang sulit meninggalkan rumah karena berkhidmat mengurus sanak famili yang perlu pendampingan setiap saat.

Menjelang waktu magrib, saya, istri, dan anak-anak (empat orang anak-anak dari istri saya dan empat orang anak yatim) menuju arah Cileunyi, Bandung Timur untuk acara yang sama dengan keluarga besar dari pihak saya. Pukul sembilan malam, kami siap-siap menuju tempat lainnya: makam ayah dan ibu. Ibu saya dimakamkan di Ciseah dan ayah di Caringin. Tempat keduanya berjauhan, terpisah sekitar lima belas kilo meter, tapi masih di kawasan yang sama, Bandung Selatan.

Kalau tiba di Bandungnya masih pagi dan cukup waktu, kami, biasanya, silaturahmi dengan yang sudah di alam barzah dulu, baru kemudian dilanjutkan dengan silaturahmi bersama yang masih di alam dunia. Akan tetapi, karena tadi pagi masuk Bandungnya kesiangan, ziarah ke makam orang tua, dilakukan malam hari, segera sesudah halal bihalal di Bandung Timur itu selesai.

Satu mobil Innova yang kami sewa dari penyewaan mobil di Bogor dan satu taksi, sekitar pukul setengah sepuluh malam, berangkat dari Cileunyi menuju pemakaman di Ciseah, Katapang, Bandung Selatan. Kami tiba di area tanah pemakaman pukul dua puluh dua. Kepada sopir dari Bogor dan sopir taksi, setelah parkir di tepi jalan dekat tanah pemakaman, saya bilang, “Tunggu sebentar ya, kami ziarah dulu. Nanti, dari sini, kita teruskan ke pemakaman Porib di Jalan Caringin.”

Di Ciseah ini adalah makam ibu saya, Hj. Arsikah binti Hamim; dan yang di Porib, makam ayah, H. Husen bin H. Salim. Saya dan saudara-saudara, memanggil ibu dengan Ummi, sementara kepada ayah, tetap Bapak.

Lebaran tahun itu jatuh pada hari Rabu, dan silaturahmi tahunan keluarga besar kami di Bandung, selalu dilaksanakan pada hari lebaran kedua. Jadi, waktu ziarah ini bertepatan dengan malam jumat. Pukul 22.00-an, saat kami tiba di kuburan, hujan turun rintik-rintik.

Jarak dari tempat parkir kendaraan ke makam terdekat, hanya sekitar sepuluh meter. Makam Ummi masih di bagian dalam lagi, melalui jalan setapak, dua ratus meteran dari situ.

Begitu kaki menginjak tanah pemakaman, kami sampaikan salam kepada seluruh ahli kubur yang ditanam di area itu, memohonkan ampun bagi mereka semua.

Kami berbelok ke arah kiri dan terus berjalan dibimbing lampu senter yang dipegang sebagian dari kami. Di kiri kanan adalah makam orang-orang yang telah mendahului kita. Sebelum jalan setapak belok kiri kedua kali, menuju makam Ummi, kami berhenti sebentar. Di sana ada kuburan seorang guru kami, Kang Iskandar. Doa kami panjatkan untuk beliau. Begitu kami selalu lakukan, setiap mau ziarah ke kubur Ummi.

Di makam Ummi, saya terlebih dahulu perkenalkan anggota keluarga yang berziarah. “Ummi, ieu abdi sareng pun bojo, miwah para putra, incu Ummi: Bila, Isal, Iki, Apik; kalayan murangkalih yatim: Adi, Dado, Reni, oge Winda seja silaturahmi ka Ummi. Mugia Gusti anu Mahasuci ngahapunten dosa-dosa Ummi, nampi sadaya amal soleh Ummi, kalayan mugi Gusti nyaangkeun, ngalegakeun, sareng niiskeun kuburan Ummi.” (Ummi, ini saya dengan istri dan anak-anak, cucu Ummi: Bila, Isal, Iki, dan Apik, juga beberapa anak yatim: Adi, Dado, Reni; juga Winda, berziarah kepada Ummi. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Ummi, menerima semua amal saleh Ummi, dan semoga Allah, menjadikan kubur Ummi terang, lapang, dan sejuk).

Setelah mengirim Al-Fatihah kepada Al-Musthafa saw. beserta keluarga, dan para sahabat yang mulia, kami, lalu,sampaikan Al-fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falak, An-nas, selawat dan doa-doa untuk Ummi. Doa kami sampaikan kembali untuk seluruh ahli kubur di pemakaman pinggir sungai besar dan ditumbuhi beberapa rumpun bambu itu.

Tibalah saatnya meninggalkan kompleks pemakaman untuk kemudian menuju pemakaman berikutnya di Jalan Caringin. Di pinggir jalan, di tempat parkir, kami dapati mobil hanya satu, yakni yang kami bawa dari Bogor saja. Dan, Pak Sopir, karena perjalanan panjang dan letih, tertidur pulas.

“Eh, taksi ke mana?” Saya menoleh kepada istri dan anak-anak.

“Belum dibayar, lagi!” saya melanjutkan.

Pak Sopir kami pun, tidak tahu kapan dan ke mana perginya itu taksi. Padahal, masih ada satu tujuan lain. Lagi pula, bagaimana bisa mendapatkan taksi pengganti pada waktu malam dan di tempat agak terpencil itu!

Lama kami berpikir, bagaimana ke luar dari area itu, juga menuju tempat satu lagi. Setelah tiga puluh menitan, dari kejauhan terlihat ada lampu mobil. Pikir saya, mobil apa pun yang lewat, mau dimintai tolong untuk antar kami ke jalan besar saja.

Mobil yang datang, ternyata, mobil taksi yang sempat menghilang. Tetapi, ada penumpang di kursi depan. Penumpang itu adalah orang yang sehari-hari bekerja di pemakaman itu. “Eeeh, Kang Jonih…”, seru juru kunci al-makbarah, yang, rupanya, kenal dengan saya.

Kami meneruskan perjalanan menuju pemakaman Porib di Jalan Caringin, untuk menziarahi Bapak.

Keesokan harinya, sesama kami berbicara, mengapa tadi malam taksi itu pergi dan balik lagi membawa orang lain -yang juru kunci makam.

“Mengapa tadi malam taksi itu menghilang? Dan mengapa datang lagi? Apa sebab taksi itu membawa penumpang lain?” Kami saling bertanya.

“Kita naik taksi malam-malam, malam jumat malah. Tujuan kita adalah ke kuburan. Sudah sampai di satu kuburan, berangkat lagi ke kuburan lainnya. Dan, tidakkah kalian perhatikan bahwa semua yang ziarah, kaum wanitanya, empat orang semuanya berjilbab hitam; dan yang laki-laki, “kebetulan”, seluruhnya gundul-gundul. Juga, selama di dalam taksi, karena kelelahan, kita semua tidak ada yang bicara. Semua diam.

“Lalu, mengapa ia balik lagi dan bawa orang lain?” tanya anak-anak.

“Jarak dari Cileunyi, di Bandung Timur ke Ciseah, di Bandung Selatan, kan, jauh. Ongkos taksinya, tentu saja, lumayan. Sopir taksi itu “melarikan diri” dan kemudian kembali lagi ke kompleks pemakaman, mungkin dia berpikir, ‘jangan-jangan para penumpang itu, manusia beneran. Sayang argometer yang sudah berjalan panjang ini, kalau tak ditagihkan!”

“Dia bawa juru kunci kuburan, agar kalau dia, ternyata, berhadapan dengan bukan manusia, ia bisa aman.”

“Jadi, kita ini disangka hantu?”

“Iya. Dan, yang botak-botak ini adalah tuyul-tuyul!”

“Jadi, waktu taksi itu pergi, dia menyangka kita ini hantu; dan waktu taksi datang lagi, ia mengira kita bukan hantu!”

Cilebut, 04 September 2012, dalam kereta commuter line menuju Bogor.

Salam,
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: