BLACKBERRY ENTANG

Sharing bakda ramadhan 2012-4:

Dalam perjalanan Jakarta-Bandung, Sabtu, 29 Juli 2012, seorang kawan yang akan pulang ke Karawang,  menumpang.
 
Di sela-sela obrolan, saya katakan padanya bahwa saya suka menulis artikel dan dikirim, antara lain, ke grup BBM kawan-kawan. Saya perlihatkan salah satu artikel itu, untuk ia baca di BlackBerry saya. Entang tertarik dengan tulisan itu. Ia ingin sekali mendapatkan kiriman sharing-sharing lainnya. Tapi, ia tak punya telepon genggam jenis itu.
 
Bapak  empat  anak ini, sehari-harinya mengajar di sebuah Sekolah Dasar dan seminggu sekali, memberikan pengajian kepada empat puluh orang Bapak-bapak, di kampungnya, di Karawang.
 
Sejak di Sekolah Dasar, Entang tertarik  dengan pelajaran agama; dan di madrasah, ia sangat menyukai kajian bahasa Arab. Dia ingin, seperti teman-temannya, mengambil pelajaran tambahan atau kursus agar lebih cepat bisa memahami bahasa itu, tapi biaya tidak ada padanya.
 
Ayah yang semangat untuk belajar ini, satu hari membaca iklan di sebuah koran ibu kota bahwa ada lembaga di Jakarta yang membuka kursus bahasa Arab dengan metoda yang unik. Hari itu juga, dengan berkendaraan bus,  orang Karawang ini berangkat ke Jakarta. Hanya dengan bermodalkan tekad yang kuat, walau tanpa uang untuk biaya pendaftaran -karena ia tak mempunyainya- pencari ilmu ini mendaftar sebagai peserta.
 
Saya mendapat informasi, di kelas, Entang termasuk peserta paling cerdas. Maklum, sehari-harinya dia ustaz dan memilki semangat belajar yang luar biasa. Dalam perjalanan kursusnya, sering pula ia tak masuk kelas. Petugas administrasi menyampaikan kepada seorang teman belajarnya bahwa Entang sering bolos karena tidak punya uang untuk ongkos bus Karawang-Jakarta-Karawang. Ia pun belum membeli buku pegangan, bahkan sejak mendaftar, belum pernah bayar SPP. Karena kebaikan penyelenggara kursus sajalah, “orang yang nekad” ini masih bisa terdaftar dan mengikuti pelajaran.
 
Mendengar  orang yang sangat tinggi semangat belajarnya, tapi tidak mampu bayar biaya kursus, tidak bisa beli buku pegangan; dan, sering tidak masuk kelas karena tidak punya uang untuk ongkos bus; seorang temannya terhenyak. Tanpa sepengetahuan Entang, melalui penyelenggara, ia cicil tunggakan kewajiban Entang. Dia juga titipkan sejumlah uang kepada bagian administrasi, per bulan, untuk diteruskan ke Entang, agar digunakan untuk biaya transportasi Jakarta-Karawang-Jakarta. Sejauh ini, aman. Entang tak tahu -dan tak perlu tahu- siapa yang membantu biaya pendidikannya.
 
Minggu lalu, sepulang belajar bahasa Arab, Entang tidak langsung pulang ke Karawang. Ia, yg lulusan STM, tertarik melihat dulu pameran mobil di Kemayoran.
 
Di salah satu stan pameran Entang membaca ada lomba fotografi berhadiah BlackBerry. Syaratnya, satu saja: punya hp yang ada kameranya.  Entang merasa, sayembara itu, seakan, ditujukan kepadanya. Sudah lama ia memimpikan punya telepon seluler canggih itu.  
 
Pemimpi BlakBerry ini menjadi pendaftar pertama. Setelah dua jam menunggu,  datang tiga puluh sembilan pendaftar lainnya, hingga total peserta menjadi empat puluh orang. Di antara peminat lomba ini banyak yang sudah pakai BB juga. Dengan handphone murah buatan eks negara tirai bambu, mulailah Entang memoto-moto mobil, bagian per bagian.
 
“Saya, kan, dari STM Otomotif. Saya tahu bagian apa saja dari mobil-mobil itu yang perlu ditonjolkan dalam foto,” cerita Entang kepada saya.
 
Panitia sibuk melihat-lihat dan memberikan penilaian atas ratusan foto dari para peserta. Tibalah saat pengumuman siapa yang beruntung. Dan, dari empat puluh peserta itu, Entang dinyataan sebagai pemenang.
 
“Bahagia saya, tak terhingga. Impian jadi kenyataan. Saya punya BlackBerry!”
 
Baru beberapa menit ia pegang dus kemasan telpon genggam baru itu, ada pesan singkat masuk ke hp cross-nya. “Bi, pesan istri Entang dari Karawang, “saya barusan dari lab, katanya positif.”  Pasangan itu, saling memanggil dengan sebutan bahasa Arab, dengan membahasakan panggilan anak-anak mereka kepada orang tuanya: Abi –yang berarti Ayahku; dan Ummi, ibuku.
 
“Alhamdulillah,”  Entang menjawab.
 
Rupanya, sang istri sedang hamil anak kelima. Entang merasa mendapat dua kebahagian dalam waktu berdekatan: dapat BlackBerry dan tambahan anak. Tapi, seketika, ia berpikir: “Istri saya hamil lagi, berarti perlu biaya lebih.” Ia tak tahu dari mana mendapatkan uang untuk keperluan itu. Tanpa pikir panjang, datanglah Entang ke Gerai handphone yg tak jauh dari situ. Demi istri, demi anak yang dalam kandungan;  jenis telepon genggam yang selama ini diimpi-impikannya, dan barusan didapatkannya lewat sayembara, serta baru disentuh dusnya saja, berpindah tangan. BlackBerry itu ia jual.
 
Tidak lama setelah telepon genggam bagus itu sudah bukan miliknya lagi, handphone Cross-nya pun raib diambil orang. Guru ngaji itu, kehilangan telepon seluler yang telah berjasa memenangkan perlombaan itu.
 
BlackBerry tak jadi, Cross pun pergi. Ia, kini, tidak punya alat komunikasi.
 
 
 
Selasa malam, 28 Agustus, dalam kereta Jakarta-Bogor dan Sabtu siang, 01 September 2012 dalam kemacetan perjalanan Kedoya-Cilandak.
 
 
Salam,
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s