BERILAH

Sharing ramadhan 2012-7:

Seorang kawan, kemarin, mengirim pesan singkat kepada saya. Ibu ini meminta pendapat hal bagaimana menyikapi sangat seringnya orang datang meminta sumbangan untuk pembangunan rumah ibadah di kota yang jauh. Diberi atau tidak? Ada rasa yang mengganjal di dalam hati, apa benar mereka itu mencari dana untuk keperluan masjid? Kok, sampai jauh-jauh datang ke Jakarta? Bagaimana biaya hidup mereka selama di ibu kota? Jangan-jangan….jangan-jangan….? Berbagai pertanyaan bergelayut di hati. Kalau tidak diberi, takutnya…mereka benar-benar mencari dana untuk tempat shalat itu.
Sahabat saya lainnya, almarhum Hasanudin Abdullah (Allahu yarham), suatu hari, tujuh-delapan tahun yang lalu, bertemu di depan gereja di Jalan Kapten Muslihat Bogor. Berdua kami menuju Ciawi, kemudian belok kiri ke arah Bukit Pelangi. Tidak untuk main golf, waktu itu, tetapi menuju sebuah pesantren yang santri-santrinya adalah para korban narkotika. Kami silaturahmi sebentar, lalu melanjutkan perjalanan ke Bukit Pelangi hingga Sentul High Land.
Apa yang menarik dari perjalanan singkat bersama Kang Sansan ini?
O ya, ayah Kang Sansan, almarhum Bapak Haji Abdullah adalah seorang saleh dan berilmu. Beliau bersama Mama Abdullah bin Nuh –seorang ulama besar di Bogor- mendirikan perguruan Al-Ghazali di daerah Kotaparis, Bogor. Kang Sansan pernah kepada bapaknya bertanya hal perlu tidaknya memberi sedekah kepada para peminta-minta di pinggir jalan atau pun yang datang ke rumah, padahal mereka itu kondisi fisiknya sehat, tidak cacat. Juga apa benar mereka itu pencari dana yang memang ditugaskan panitia? Pak Haji menjawab, “Mereka itu orang susah. Kalau mereka berkecukupan, tentu tidak akan meminta-minta. Berilah!”
Atas pertanyaan kawan di atas, saya sampaikan, “Saya pernah baca di koran bahwa pemerintah DKI pernah melakukan razia. Didapatkan, sebagian dari para peminta sedekah itu adalah memang pekerja yang ditugaskan panitia untuk mencari dana; tetapi banyak juga yang menjadikan kegiatan itu sebagai ladang usaha mencari nafkah. Kalau saya, apabila alamat tempat rumah ibadah mudah dijangkau, saya datang ke toko bahan bangunan yang berlokasi dekat dengan tempat pembangunan. Saya beli beberapa saks semen dan/atau sekian meter kubik pasir, sesuai kebutuhan dan kemampuan, dan minta diantarkan ke tempat pembangunan itu. Tapi, kalau lokasinya jauh, dan kita tidak tahu apa orang ini jujur atau berdusta, dalam hati ada rasa ragu, seperti nasehat Pak Haji Abdullah bahwa mereka itu pasti orang susah, maka ‘berilah’. Kasih saja bantuan ala kadarnya.”
Ada kisah yang menarik yang terjadi pada Sadhu Vaswani. Ia sering terjaga di tengah malam, di musim dingin.
“Mengapa kau bangun, Nak? Apakah karena dinginnya musim ini? Kalau begitu, akan ibu tutup dirimu dengan satu lagi selimut kain atau selimut bulu,” kata ibunya.
Ia menjawab “Ibu, dingin yang kurasakan tak bisa ditepis oleh ratusan selimut kain atau selimut bulu!”
“Ibu tidak mengerti maksudmu,” kata sang ibu. ”Bicaralah dengan kata-kata sederhana, bukan dalam teka-teki!”
Sandhu kecil berkata, “Ibu, aku memikirkan ratusan gelandangan yang terbaring di pinggir jalan, dalam udara dingin yang menyiksa ini. Dingin yang mereka rasakan bagai menusuk-nusuk tulangku.”
Satu hari, menjelang ajalnya tiba, Sandhu jatuh sakit dan tidak mampu memakan makanan padat. Ia ingin mencicipi jeruk. Beberapa jeruk dibawa kehadapanya. Saat ia memandang jeruk-jeruk tersebut, pikiranya melayang ke orang-orang miskin yang tergolek di bangsal untuk pasien kurang mampu di rumah sakit milik pemerintah. Tanpa mencicipi satu jeruk pun, ia meminta seluruh jeruk itu diberikan kepada para pasien tersebut. Ia berkata, “Saya sudah puas. Rasanya seperti sudah memakan semua jeruk itu!”
Orang baik ini pernah berkata, “Tuhan tanpa ragu melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang tidak layak seperti diriku ini. Siapakah aku hingga pantas mencari tahu layak atau tidaknya orang lain?”

Ciomas, 01 Agustus, lewat tengah malam.

Salam,
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: