BELAJAR KEPADA KEMBANG KERTAS

Sharing ramadhan 2012-6:

Bunga-bunga mekar di sepanjang Jalan Tol Cipularang. Jalur cepat Bandung-Jakarta-Bandung itu berhiaskan warna-warni kembang-kembang kertas, di pemisah jalur kedua arah jalan itu.

“Bougenville, pada musim kemarau, saat ia kekurangan air, malah memberikan bunganya kepada kita,” istri saya berkomentar atas pemandangan indah itu.

“Ya, tanaman yang rajin berbunga itu mirip dengan pohon kawung,” saya merespons dia.

“Maksudnya?”

“Tanaman yang oleh Is Haryanto pernah diabadikan namanya sebagai lagu ini, ketika jatah makan-minumnya dikurangi, malah membalas dengan mengeluarkan bunga-bunga yang indah. Kawung, batang pohonnya dipukul-pukul dengan benda tajam, ia membalas dengan memberikan air aren yang sangat manis.”

Almarhum bapak saya pernah menasehati anak-anaknya dengan “mahfudzat” Arab Sunda:
Kun ka alkawung walaatakun ka almaung. Hiduplah kamu seperti kawung, dan jangan hidup seperti maung. Kawung, dipukul-pukul, malah memberikan manfaat; sedangkan maung (harimau), tidak di apa-apakan pun, bisa memberikan mudarat.

Ada kemiripan antara respons kedua pepohonan itu dengan yang terjadi pada sebuah peristiwa besar dalam sejarah Islam. Ceritanya sangat panjang, ditulis dalam banyak buku sejarah.

Peristiwa itu adalah peperangan antara Sayyidina Ali bin Abi Tholib dengan Muawiyah bin Abu Sofyan. Agak lengkapnya, saya ingin menuliskannya untuk kawan-kawan, di lain kesempatan, kelak. Di sini saya sampaikan dalam beberapa kalimat saja, dalam hubungannya dengan kembang kertas dan kawung.

Setelah Khalifah Utsman bin Affan terbunuh, Sayyidina Ali menjadi khalifah. Dengan dalih membela darah Utsman, Muawiyah mengobarkan perang terhadap pemerintah sah. Saat itu, umat bingung. Orang Islam berperang melawan orang Islam. Kebingunan reda setelah Ammar bin Yasir* -yang berada di pihak Ali- terbunuh. Mengapa?

Dalam kerja bakti pembangunan masjid, Ammar mengangkut batu besar. Ia tersandung, jatuh, dan tertimpa batu yang diusungnya. Karena lama tak bangkit-bangkit dari jatuh dan tertimpa batu itu, para shahabat menduga Ammar meninggal dunia. Mereka berteriak, “Ammar wafat…Ammar wafat,” bersahutan.

“Ammar tidak wafat,” tiba-tiba Nabi saw berkata. “Ammar akan terbunuh oleh ‘fiatul baghiyah’, kelompok pendurhaka,” Nabi menambahkan.

*Ammar, bersama Ibunya, Sumuyah (sahidah pertama dalam Islam) dan bapaknya, Yasir; dipanggang hidup-hidup oleh Abu Jahal. Yasir gugur dalam penyiksaan itu; sementara Sumuyah ditarik dan, kemudian, ditusuk tubuh dengan tombak oleh Abu Jahal hingga meninggal dunia. Sementara Ammar, diselamatkan Abu Bakar. Nabi menyebut mereka bertiga sebagai: Keluarga penghuni surga.
Singkat cerita, berakhirlah peperangan yang diliciki Amr bin Ash dan Muawiyah itu (silakan baca Khilafah wal Mulk / Khilafah dan Kerajaan). Kaum Khawarij berkesimpulan, para penyebab kekisruhan adalah pimpinan dari kedua belah pihak: Ali bin Abi Thalib di pihak satu; dan Muawiyan beserta Amr bin Ash di pihak yang lain. Mereka semua harus dibunuh. Disusunlah rencana. Dipilih tiga pemuda paling gagah untuk membunuh ketiga orang tadi.

Para pemuda yang mendatangi Amr bin Ash dan Muawiyah tidak berhasil membunuh keduanya. Seseorang dengan pedang terhunus datang ke masjid, di mana Sayyidina Ali melaksanakan shalat subuh.

Ketika sedang shalat itulah, saat beliau mengangkat kepala dari sujudnya, Abdurrahman bin Muljam menebaskan pedangnya tepat di atas dahi putra Abu Thalib itu. Darah segar memancar dari kepala Imam Ali, membasahi wajah mulia itu. Sambil mengusap muka yang penuh darah, Amirul Mukminin berkata, “Fuztu wa rabbil ka’bah!” Demi pemilik Kakbah, aku telah meraih kemenangan!” Ia sahid.

Jamaah masjid tersentak. Segera mereka meringkus si pembunuh. Kedua tangan Abdurrahman bin Muljam diikat. Ia, kemudian, dihadapkan kepada Imam Ali yang masih berlumur darah di mukanya. Sayyidina Ali, dengan lembut, berkata kepada sang pembunuh, “Apa salah saya kepadamu, sehingga kamu berbuat seperti ini kepadaku?”

Imam Ali yang sedang terluka parah melihat kedua tangan si pembunuhnya terikat keras dengan tali, jatuh iba. Ia berkata kepada para pengikutnya:

“Longgarkan ikatannya!”
.
“Beri dia makan, seperti apa yang kalian makan!”

Kepada seorang yang membunuhnya dengan sadis itu, pemimpin berwajah mulia itu, minta kepada jemaahnya agar meringankan penderitaan si penjahat. Ia membalas kejahatan orang lain dengan kebaikan: longgarkan ikatannya dan beri dia makan dengan makanan yang layak, seperti makanan yang biasa mereka konsumsi.

Seperti Kembang Kertas dan Pohon Aren itu, “dizalimi”, malah membalas dengan kebaikan.

Nabi Isa pernah berkata, “Cintailah musuh-musuhmu!”

Psikologi positif menyambutnya, “Pasti kamu tak sesuci Rasul tercinta. Tapi, demi kebahagiaanmu, maafkanlah mereka!”

Dari banyak peristiwa sejarah, kita dapat mengambil hikmah. Dari kembang kertas dan kawung, kita bisa belajar.

Dalam perjalanan Bogor-Bandung-Garut pp, 31 Juli 2012,
Salam,
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA – Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: