AGAR DO’A DI DENGAR

AGAR DOA DIDENGAR

Setelah saya menulis dan mengirimkan artikel tentang orang-orang yang doanya mudah diijabah Tuhan, seorang kawan bertanya kepada saya, “Bagaimana ‘trik’ agar doa-doa kita dikabulkan Allah?”

Sebenarnya, yang pas menjawab ini adalah para ahli ibadah yang berpengalaman dalam hal doa dan hasilnya. Tapi, banyak di antara orang-orang saleh itu jarang atau tidak menggunakan internet; juga, mungkin, karena hal lain sehingga tidak mudah menghubunginya. Tanpa izin mereka, walau tidak kompeten, saya coba menjawabnya.

Menurut hemat saya, semua ibadah: tahajud, selawat, atau zikir lainnya; sama saja. Kalau kita sering dan rutin melakukannya, baik karena suatu sebab atau tanpa sebab; mustajabnya doa-doa itu, insya Allah, akan lebih cepat. Beda dengan saya, misalnya, yang banyak tahajud atau salat tasbih dan hajat, kalau ada keperluan saja; doa bisa agak lambat dikabulkan Tuhan.

Korelasinya, seperti kita-kita inilah. Misal, ada dua orang bekerja untuk kita. Pekerja yang satu, diperintah atau tidak, ia lakukan pekerjaan dengan cepat dan rapi. Pegawai kita yang kedua, hanya bekerja dengan baik, kalau disuruh saja atau…karena ia ada maunya. Jika suatu hari, mereka memerlukan bantuan, bagaimana sikap kita? Yang mana yang akan kita kasih duluan?

Tapi, Allah, tentu saja, tidak sama dengan kita. Itu mah gambaran kasar saja.

Seminggu yang lalu saya diundang ceramah menjelang buka puasa bersama di sebuah gedung bertingkat di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta. Saya, antara lain, cerita bahwa ada saat-saat yang mustajab untuk berdoa; dan ada cara-cara Allah mengabulkan permohonan kita.

Apa yang kita pintakan, boleh jadi Allah segera kabulkan; bisa ditunda sampai waktu yang paling tepat-menurut Allah; mungkin digantikan dengan bentuk lain yang lebih baik; atau… akan Allah berikan kelak di yaumil akhir!

Yang penting, teruslah berdoa; jangan putus-putus. Doa itu, kan, ibadah. Sepanjang kita berdoa, selama itu pula credit point kita bertambah.

Tak kalah penting, doa itu menenteramkan hati. Doa itu curhat. Mencurahkan isi hati kepada yang paling bisa dipercaya, paling mau mendengarkan. Setelah uneg-uneg disampaikan akan agak plonglah kita. Terasa berkurang sesak di dada dan sakit di hati. Doa itu zikir pula. Melupakan yang lain, mengingat Tuhan yang Mahakuasa, membuat hati jadi tenang.

“Alaa bidzikrillaahi tathmainnul quluub.” Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.

Jadi, teruslah berdoa. Dan, semakin sering meminta, semakin dekatlah kita dengan pengabul doa-doa itu. Kalau sudah dekat, mau berdoa sambil duduk, berdiri, atau sambil tiduran, Tuhan akan dengar. Jika sudah kenal Dia, mau berdoa secara formal dengan kalimah-kalimah standar, nonformal dengan bahasa hari-hari, atau…bisa saja dengan kata-kata yang seolah tak punya arti; Tuhan akan kabulkan.

Kalau Anda penggemar film-film silat, dan seusia atau dekat-dekat dengan umur saya yang setengah abad, plus-minus ini; tentu kenal bintang-bintang film jadul, seperti David Chiang, Ti Lung, Chen Kuan Tay, Tjen Pei Pei, Wang Yu, Lo Lieh, dan, tentu saja, Bruce Lee, serta belakangan, David Carradine. Perhatikan, apa saja yang mereka pegang: pedang, tongkat, bahkan selendang atau kipas kertas, bisa menjadi senjata yang mematikan! Kalau kebetulan para pendekar itu sedang tidak membawa senjata, tapi harus berhadapan dengan para penyerang, tangan kosong pun, bisa mereka mainkan untuk mengecoh musuh. Lihat saja aksi-aksi Kwai Chang Caine dalam “The Legend Continues”, film kungfu namun syarat dengan pesan moral itu.

Bandingkan dengan berbagai senjata tajam yang digunakan musuh-musuh mereka -yang biasanya berani menyerang kalau berbanyakan, kalau keroyokan. Mana yang lebih ampuh?

Demikianlah dengan berdoa. Kendatipun, seorang yang sudah dekat dengan Tuhan itu, hanya mengucapkan kata-kata yang kedengarannya bagi kita, sepertinya, “tidak jelas”, ia akan mustajab. Wallahu ‘alam.

Ciomas, menjelang tengah malam, 15 Agustus 2012.

Salam,
Jonih Rahmat
Penulis Buku Nasional Best Seller
“MALAIKAT CINTA -Sisi Lain ibadah Haji yang Menyentuh Hati”
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: