DIALAH MALAIKAT CINTA KAMI

Diangkat dari kisah nyata bapak pengasuh kami beserta isteri beliau, informasi didapatkan dari berbagai sumber, senior di yayasan Ar-Rahmah, tetangga, teman-teman bapak, teman-teman ibu, bapak dan ibu sendiri, terlebih adalah kebersamaan kami dengan kehidupan bapak dan ibu. Semoga dapat menginspirasi.

Kupandangi sosoknya yang sangat sederhana, rambutnya yang selalu cepak, badannya yang mulai gemuk karena tidak sempat berolah raga, menjadi cerminan kami semua dengan sosok bapak yang mengasuh kami. Bapak kami, tepatnya bukan bapak kandung, tapi bapak yang membesarkan kami hingga kami seperti ini. Bapak, tertidur dengan pulasnya, melepas lelah dengan rutinitas yang amat sangat. Di masjid itu, kami bersama-sama melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir ramadlan. Tanpa sengaja, saya melihat bolongan pada bagian ketiak kaus yang dikenakan bapak, sedih bercampur bangga, menjadi tauladan kami dan menambah cinta kami terhadap bapak. sempat teringat kata-kata ibu yang setia mendampingi bapak dalam mengasuh kami, mereka jika berbelanja pakaian pasti membawa tas ransel yang sangat besar, bukan cuma satu tapi bisa dua atau tiga ransel, bukan di toko atau factory outlet, tapi di loakan,

“Dengan bawa 200rb saja sudah bisa bawa banyak pakaian” ibu bercerita, Kemudian pakaian itu dibagikan ke masyarakat, sebagian mereka gunakan.

“Bapak seperti ini karena beliau balas dendam” terang ibu, “dulu untuk kuliah saja bapak sangat susah, makanya bapak tidak bisa melihat orang lain susah”. Kalau berbicara tentang pakaian, bapak memang sangat sederhana sekali. Bagaimana tidak sederhana, beliau menggunakan celana yang sobek-sobek ke kampus pada bagian lutut karena telah lusuh dan rusak, bukan disengaja atau sok gaul dan mengikuti tren, tapi karena tidak ada celana lagi, jadi celana yang bapak gunakan hanya celana itu saja.

Dengan tampilannya yang seperti itu, bapak kadang terlihat bukan seperti mahasiswa, apalagi ketika bapak menjalankan tugas mulianya, kerjaan yang dibutuhkannya untuk menyambung hidup, Beliau tidak ragu untuk menjadi kernet angkot (waktu itu, angkot masih menggunakan kernet), serasi dengan penampilannya. Bapak sering mengenang masa-masa menjadi kernet angkot, bahkan sering sekali menyinggung kernet-kernet bis jika kebetulan kami sedang berjalan bersama. “kernetnya tidak professional!!” celoteh bapak. “teriakannya mentah, kurang agresif, tidak sopan!!. Harusnya suaranya jelas, tapi tetap sopan” sambungnya. [saya sendiri lupa apa yang bapak sampaikan dalam menanggapi kernet2 itu, bahasa “teriakannya mentah, kurang agresif, tidak sopan!!. Harusnya suaranya jelas, tapi tetap sopan” adalah senada seperti apa yang bapak sampaikan kepada kami, semoga tidak merubah maknanya]

Dulu kami tinggal bersama bapak, mengawali hidup dengan kebersahajaan. Ketika kami masih berada dalam satu atap dengan beliau, dengan waktunya yang sempit, beliau masih sempat lari-lari kecil di halaman, tapi sekarang, bapak sangat sibuk, pergi subuh hari, pulang sangat larut, itupun dengan membawa pekejaannya. Tidak jarang sabtu dan minggu pun digunakan untuk mengisi training atau rapat-rapat di kantor.

Kami sangat mengagumi bapak sebagai seorang ayah, sahabat, taman curhat, ustadz tempat bertanya, tempat mengadu saat sulit dan kebingungan melanda kami, bahkan kami sangat kagum dengan bapak karena kesholehannya. Pernah suatu ketika, saat saya kebelet ingin ke kamar mandi, waktu itu jam tiga pagi, saat sawah sekeliling saung kami sangat sepi, saat rembulan dengan kepercayaan diri yang penuh menampakan seluruh tubuhnya, saat itu bapak tengah berkeliling-keliling wilayah yayasan, dan tentu saja telah melaksanakan shalat malamnya. Hari itu, sabtu malam, yang paginya bapak libur kerja. Waktu yang sangat berharga bagi kami dan bapak, karena kesibukannya yang luar biasa, jadi bapak hanya bisa menemani kami pada hari libur, itupun bapak harus membaginya dengan keluarga beliau tercinta. Kadang kami sangat sedih melihat kondisi bapak yang sangat sibuk. Ini semua demi kami, anak asuhnya di yayasan.

Dalam kesibukanya itupun, beliau tidak pernah melupakan kami, beliau selalu membawa kartu nama beliau. Kartu nama yang mengatas namakan yayasan. Bukan bapak sebagai pegawai BUMN, tapi bapak sebagai ketua yayasan. Dalam rapat, seminar, reuni, bahkan pengajian-pengajian bapak selalu minta waktu untuk presentasi, mempresentasikan kami, anak asuhnya. Di setiap kesempatan, bapak akan berbicara tentang kami kepada teman-temannya, koleganya, baik yang telah lama kenal ataupun yang baru berpapasan.

Ibu pernah bercerita kepada kami saat ibu ikut bersama bapak ke Surabaya untuk rapat selama 3 hari, beliau bercerita bahwa bapak mengumpulkan permen-permen yang diberikan kepada peserta rapat, tapi permen-permen itu tidak dimakan. Maka bapak mengumpulkan semua permennya, kemudian dipaket ke dalam plastik, masing-masing 5 buah permen untuk dibagikan kepada kami. Itulah bapak, sangat sederhana, dan perhatiannya yang luar biasa kepada anak-anaknya. Bukan hanya permen, tapi juga makanan-makanan yang tidak dimakan pada saat rapat, pelatihan hingga pesta pernikahan atau kitanan. Kami yang kebanyakan berasal dari kampung dan tidak mampu untuk membeli makanan-makanan mewah, dengan senyum mengembang menyambut kedatangan bapak dengan iringan nasi, sayur, lauk pauk yang beraneka macam, hingga nasi goreng tersedia untuk dapat kami nikmati.

Kesederhanaan bapak telah menjadi pemikat tersendiri bagi siapapun yang melihatnya, sehingga banyak dari para donatur yang sangat percaya dan tidak pernah meminta kwitansi atau bukti pembayaran untuk donasi yang diberikan. Seolah menjadi anak panah yang menembus target dengan sekali tarikan busur, para donatur pun menjadi rantai informasi yayasan kepada teman-temannya. Kami sangat terkejut saat bapak menceritakan bahwa beliau mendapat sms dari orang yang tidak dikenalnya. Bunyi smsnya lebih kurang sepeti ini

“Pak, saya telah kirim sedikit uang untuk keperluan anak-anak, tolong dicek”.

Isi sms-nya singkat dan padat, tapi isi rekening yang dikirimkan, cukup membuat terkejut, 40juta. Bayangkan, uang sebanyak itu dibilang sedikit!, dan datangnyapun dari orang yang tidak dikenal, jangankan oleh kami, bapak sendiripun tidak mengenalnya. Beberapa waktu setelah itu, barulah ketahuan bahwa orang yang memberikan uang itu adalah teman dari temannya bapak, jadi sama sekali belum saling bertemu muka, hingga sekarang, hanya kenal lewat teman.

Bapak selalu mengirim Informasi-informasi yang penting, Beliau juga berpesan kepada kami untuk tidak lupa shalat hajat dan berdoa agar diberikan kemudahan dalam mencarikan rizqi bagi kami. Belakangan, saat kami membutuhkan uang yang sangat besar untuk biaya sekolah, pembayaran daftar ulang mahasiswa dan biaya pendaftaran ke perguruan tinggi untuk beberapa orang, saat itu kami membutuhkan dana sekitar 42juta. Dengan kondisi kas yang kosong, bapak keliling kepada teman-temannya mencari bantuan pembiayaan sekolah kami. Saat itu bapak bertemu dengan temannya di lobi kantor yang akan naik menggunakan lift, seperti kebiasaan bapak, beliau selalu mempresentasikan kami dalam kesempatan sesempit apapun. Bapak menceritakan pertemuan itu kepada kami saat kami berkumpul di saung.

“… Mas anak-anak membutuhkan uang cukup besar untuk daftar ulang, daftar sekolah dan bayaran …” bapak bercerita, sebenarnya obrolannya lebih dari ini, tapi yang saya ingat adalah intinya saja, jadi kira-kira seperti inilah.

“butuh berapa Kang?” kang adalah panggilan singkat dari akang, suatu sebutan di daerah sunda bagi seseorang yang lebih dewasa, atau bagi orang yang dihormati, mirip dengan sebutan mas di jawa atau uda di padang

“42juta” kata bapak,

“baiklah, ayo ikut saya..” teman bapak langsung mengajak bapak ke suatu bank, meskipun ada antrian, dengan member vip-nya, teman bapak itu langsung dilayani, dan mengambil cash 42 juta, subhanallah, kami takjub mendengar cerita bapak, bahkan lebih takjub lagi kepada kesholihan sosial teman bapak itu. Kami merinding, saat orang-orang sibuk menyembunyikan harta mereka dari zakat dan pajak, bahkan berlomba-lomba dalam menggelapkan uang rakyat guna menumpuk-numpuk hartanya, tapi masih ada, bahkan banyak orang-orang zuhud yang berdasi.

Bapak sering sekali mengalami dinas ke luar negeri, Teman saya selalu mendapat tugas dalam mengurusi administrasi bapak, terutama mengurusi paspor. Saya pernah diajak untuk mengurusi paspor bapak di suatu biro perjalanan di kota Bogor. Untuk kesekian kali saya merasa takjub kepada orang jenius yang mengasuh kami. Tidak pernah saya melihat ada nilai 10 di ijizah. Tapi waktu itu, saya melihat sendiri nilai sempurna di ijazah bapak. Bapak mendapatkan nilai 10 pada mata pelajaran ilmu ukur dan IPA. Luar biasa, bapak yang sangat sederhana, tampil apa adanya, memiliki kemampuan yang luar biasa, yang berbeda dengan orang lain. Bu Nila, yang akhir-akhir ini membantu memasak di yayasan kami, sekaligus juga teman kerja ibu sebelum ibu menikah dengan bapak, tetangga bapak dan ibu di Bandung, bercerita bahwa bapak memang pintar sejak kecil, “dari mulai SD selalu mendapatkan beasiswa”, katanya.

Telah lebih dari 20 negara bapak kunjungi selama bertugas di perusahaan BUMN ini, tapi hingga saat inipun, saya masih tidak menemukan barang-barang mewah di rumah bapak, meskipun hanya sebatas sofa.

“Bapak kalian itu orang yang sangat hebat” kata salah seorang teman Bapak -namanya saya lupa-, saat kami berkunjung ke rumah beliau untuk memenuhi undangan syukuran kepulangan beliau dari tanah suci.

“ saya masih ingat bagaimana kami makan di restoran yang sangat mewah di Norwegia, tapi bapak kalian memilih untuk makan di tempat yang sangat murah, padahal makanan itu adalah jatah dari kantor” cerita Beliau.”apa kata bapak kalian waktu saya mengajak makan?. Bapak kalian malah bilang kayak gini ‘saya tidak bisa makan enak, sementara anak-anak saya makannya hanya tahu dan tempe setiap hari” Beliau meneteskan air mata ketika mengulangi kata-kata bapak itu. “bapak kalian hebat, saya berusaha untuk seperti bapak kalian, tapi belum bisa” masih dalam kondisi terisak-isak.

Bapak memang terlampau sederhana dalam soal makanan, makanan apapun, akan menjadi makanan luar biasa di hadapan bapak. Gaya makan bapak membuat yang melihatnya ingin mencicipi hidangan yang ada. Bapak juga menceritakan bahwa bapak dan ibu pernah makan hanya dengan papaya saja. Berbagai jenis hidangan dibuat untuk melenyapkan rasa bosan akan papaya setiap hari, mulai dari berbagai macam sayur pepaya hingga lalapan pepaya. Ini dilakukan selama 3 bulan berturut-turut. Bahkan bapak pernah makan dengan sayur teh, sejujurnya kami tidak mengerti maksud dari sayur teh itu apa?, kami belum pernah merasakan sayur teh. Melihat kebohongan kami yang sok mengerti, dengan bijak, ibu yang menceritakan, melihat kami memang kebingungan dengan satu makanan ini.

“sayur teh itu adalah sayur dari air teh” jelas ibu, “Bapak makan hanya dengan kuah dari air teh, ini dilakukan bapak sejak kuliah, jika bapak makan di warung nasi, waktu kuliah dulu, bapak kadang menuangkan air minumnya sebagai kuah makanan, untuk menghemat katanya”. Saya masih tidak mengerti, apakah warung nasi jaman dulu memang tidak bisa memberikan servis kepada pelanggan, meskipun hanya sebatas kuah sayur yang gratis, atau memang bapak yang tidak mau merugikan orang lain walau hanya sebatas kuah sayur. Biarlah ini menjadi pelajaran bagi kami tentang kesederhanaan bapak. Dan ternyata, perilaku ini bermanfaat ketika perekonomian rumah tangga semakin sulit, ketika tidak ada uang untuk membeli lauk pauk, sayuran, dan juga bumbu dapur, maka sayur teh menjadi pilihan yang menarik. Perlu dicoba, fikir saya.

Selain sederhana pada makanan, bapak sangat tidak suka jika melihat kami memubazirkan makanan. Suatu ketika kami sedang bercengkrama di depan saung, waktu itu matahari telah sedikit malu bergagah-gagah pada bumi, sore yang gerimis membuat kami harus sedikit basah-basahan mencuci batang pohon talas. Di halaman yayasan kami -waktu itu- memang ditanami talas, setelah beberapa umbinya di ambil, batangnya dibiarkan di antara rumpun pohon pisang. Melihat itu, bapak memanggil kami untuk mencuci batang pohon talas itu.

“Jangan sampai ada yang mubazir, itu kan bisa kita makan, kita bikin sayur lompong” kata bapak.

Sayur lompong memang menjadi menu yang spesial bagi kami, terutama bapak. Sayur dari batang talas yang dibersihkan bagian kulit yang tua dan dipotong pendek-pendek seukuran ruas jari itu, pernah menjadi lauk bagi kami selama berhari-hari, karena memang saat itu kas kami sedang menipis.

Bapak, guru kami, ayah kami, penolong kami, dalam kesibukannya beliau sempatkan untuk menjenguk kami di yayasan, kami tinggal di yayasan yang sekarang sudah berpisah dari tempat tinggal bapak dan ibu. Dulu, kami memang tinggal bersama mereka, satu atap, tapi sekarang kami punya tempat sendiri, sekitar 500 meter dari kediaman bapak, kediaman yang menjadi bahan keanehan kami, juga teman-teman bapak tentunya. Bagaimana tidak, bapak yang berpenghasilan tinggi itu, rumahnya di pinggiran desa jauh dari kota, bahkan dari Jakarta. Rumah yang tanpa sofa dan meja, rumah yang dindingnya disekat oleh triplek-triplek sebagai pembatas, sedangkan teman-teman bapak bisa tinggal di wilayah perumahan elit.

Kami masih ingat bagaimana cerita ibu dan bapak dalam mendirikan yayasan ini, dulu, bapak sering keliling kampung untuk melihat-lihat masyarakat, membantu yang membutuhkan, membangun MCK. Tidak jarang rumah bapak didatangi tetangga-tetangga yang sekedar menjual piring dan gelas untuk membeli beras, meminta bantuan uang untuk berobat, dan menyekolahkan anaknya. Tamu yang ada disambut dengan gelaran tikar di teras rumah yang sejuk, karena matahari tidak langsung menembus rumah, ada pohon salam yang besar menghalanginya. Ibu yang tinggal di rumah dengan telaten menyambut tamu-tamu tersebut. Disela-sela kesibukan ibu dalam mengurus rumah tangganya, mengurus anak asuhnya, dan meningkatkan kualitas diri dengan berbagai kajian, ibu tetap melayani tamu-tamu itu dengan senyumnya yang khas.

Dari keprihatinan bapak dan ibu itulah, akhirnya bapak dan ibu kemudian menampung beberapa orang anak untuk disekolahkan. Saat itu belum menjadi yayasan, hanya rumah tampung bagi anak-anak “istimewa” yang mempunyai keinginan untuk bersekolah. Bapak-dan ibu sangat memperhatikan pendidikan. Pengalaman bapak yang tidak mudah dalam menyelesaikan pendidikannya karena keterbatasan ekonomi, membuatnya selalu ingin membantu orang-orang yang ingin bersekolah. Ibu yang tidak sempat merasakan bangku kuliah tidak ingin orang lain merasakan hal yang sama hanya gara-gara keerbatasan ekonomi.

“Yang penting orangnya jujur” kata ibu.

“Kejujuran adalah modal hidup kita dimanapun, dengan tidak jujur kita tidak akan dipercaya oleh orang, sekali saja berbohong, orang tidak akan percaya lagi pada kita, mereka kecewa, dan sangat sulit untuk menumbuhkan kepercayaan itu kembali…” ibu panjang lebar menjelaskan arti hidup dengan kejujuran.

Kejujuran memang menjadi syarat utama diterimanya anak asuh ditempat ini, bahkan saya kira juga diterimanya orang di masyarakat. Sekali berbohong, akan berakibat fatal, langsung dikeluarkan dan tidak mendapat donasi lagi. Banyak kasus terjadi dari ketidakjujuran anak asuh, mulai dari berbohong masalah bayaran sekolah hingga pencurian, tidak jarang juga masalah perasaan remaja. Mereka yang mulai tumbuh rasa suka terhadap lawan jenis, sembunyi-sembunyi berpacaran, yang pada akhirnya buah dari ketidakjujuran mereka adalah dipulangkan ke keluarganya.

Yayasan berkembang dari mulut ke mulut mulai dari hanya beberapa orang menjadi puluhan hingga akhirnya menjadi ratusan, pernah hingga mencapai 200 orang. Bapak tidak khawatir akan itu semua, karena selalu berfikir, setiap anak membawa rezekinya masing-masing. Akan tetapi biaya yang semakin besar dirasakan oleh bapak. Biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari, yang awalnya dari kantung sendiri, akhirnya mulai berangsur mencari donasi dari teman-teman bapak. Seperti disampaikan di atas, dalam berbagai kondisi, bapak akan mempresentasikan kami kepada siapapun, jika memang ada kesempatan.

Pernah beberapa bulan kami tidak sanggup untuk membeli beras, bapak menyampaikan kondisi ini kepada temannya, Alhamdulillah, teman bapak yang baik hati itu setiap bulan mengirim beras kepada kami.

Seiring berkembangnya jumlah anak asuh, kami membutuhkan tempat tinggal yang semakin luas dan layak. Rumah ibu yang sempit, membuat kondisi rumah semakin ramai dan berdesakan. Dengan bantuan dari donatur yang kebanyakan adalah teman-teman bapak, Alhamdulillah kami mendapatkan tempat di tengah sawah bekas tambang pasir. Halaman yayasan yang kosong kami usahakan untuk ditanami sayuran, sekedar untuk kebutuhan keseharian kami, jika berlebih bisa kami jual.

Setiap hari minggu kami semua berkumpul di sawah, oh ya, tempat tinggal putera dan puteri terpisah sekitar jarak 300 meter. Setelah kesibukan sekolah selama seminggu, kami bekerja bakti untuk kebersihan dan keindahan tempat tinggal kami. Setelah itu kami berkumpul di saung yang dijadikan majlis dan aula, tempat ngaji dan semua aktifitas belajar dan diskusi juga sebagai tempat menerima tamu. Di tempat itu juga kami bercengkrama dengan bapak, membahas segala bentuk diskusi, keagamaan, scientific, maupun korelasi keduanya. Bapak memang orang sains yang beragama, dan seorang fakih agama yang scientific. Itulah alasannya kenapa orang-orang lebih senang dengan mendengar pemaparan agama dari bapak dibandingkan dari ustadz-ustadz yang hanya mengeluarkan dalil-dalil tanpa mengkorelasikannya dengan fenomena kehidupan ataupun berita kekinian.

Bapak sangat suka bercerita, stock cerita bapak sangat banyak, carita-cerita timur tengah, uni eropa, dunia barat, teknologi, seni budaya bahkan cerita-cerita tradisional juga terselip dalam tumpukan keilmuan bapak yang luas itu. Sesekali saya bermain ke rumah bapak, rumah yang sempit itu, ternyata di dalamnya terdapat satu kamar yang digunakan untuk perpustakaan, bahkan perpustakaan ini jauh lebih luas dari kamar bapak dan ibu. Kami semakin sadar akan pentingnya ilmu, bukan hanya gelar, dan tentunya kami semakin memahami kenapa bapak begitu nyambung diajak diskusi apapun dan kearah manapun diskusi itu berjalan.

Kami memang sering mendengar cerita-cerita beliau, sebagai motivasi dan pembakar semangat untuk menjadi yang lebih baik lagi. Kata-kata yang paling sering beliau sampaikan adalah kalimat dalam bahasa arab, mantera kehidupan MAN JADA WA JADA, yang kata beliau, terjemahan paling bagus adalah dalam bahasa sunda “saha nu keyeng , tangtu pareng” (siapa yang bersungguh-sungguh, pasti tercapai).

Itulah bapak, orang yang sangat sederhana tapi kaya hati, seorang jenius yang menjadi motivator bagi kami dalam sekolah alam, motivasi lewat contoh dan langkah konkrit, bukan hanya teori, tapi aplikasi. Bapak dan ibu yang perjuangannya menjadikan kami semakin bernilai, semakin mengenal makna kehidupan, bukan hanya sebagai makhluk individu, tetapi juga makhluk yang mengabdi bersama makhluk-makhluk yang lain yang saling membutuhkan. Perjuangan tanpa batas yang dari rahim cinta keduanya, telah banyak menelurkan mutiara-mutiara kehidupan, orang-orang yang mempunyai cita-cita dan tujuan yang jelas, setelah terjatuh pada keputus-asaan. Bapak dan ibu, malaikat cinta kami, kami belum bisa memberikan yang terbaik untuk membalas kebaikanmu. Tapi kami selalu ingat akan pesanmu, berbuat kebaikan dimanapun. Kamipun bertekad ingin menjadi seperti bapak dan ibu, menyebarkan kebaikan semampu kami di bagian bumi manapun.

 

Yopi Mulyana

Bogor, Januari 2011

Categories: Artikel | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: