Riwayat sepotong tempe goreng

Back to history. Sejarah memang sangat sayang untuk dilupakan apalagi sejarah itu bagian dari perjalan hidup kita. Bagaimana gambaran yayasan tempo dulu? dan bagaimana ibu/bapak berjuang keras demi untuk menyekolahkan sampai lulus.sepatutnya bisa memacu teman-teman lebih semangat lagi dalam mencari ilmu dan meraih kesuksesan. Sungguh berbeda jauh kondisi yang ada sekarang. Untuk itu mari kita simak ceritanya ….

Ada sebuah cerita dimana waktu itu kamis sore saya memasuki halaman yayasan ar-rahmah. Sambil bertanya di persimpangan barang kali ada yang tahu soal yayasan ar-rahmah. Sesampainya digang, saya bertanya bukan dengan alamat yayasan ar-rahmah, tapi saya bertanya di mana rumah bapak jonih? ” mendengar nama itu orang yang tadi saya tanya tampak sudah tidak asing lagi dan lalu mencoba menujukan arah jalan menuju yayasan.

Sehabisnya melewati gang sempit, tampak ada kerja bakti kecil membetulkan saluran pipa yang ada di depan yayasan. Melihat ada sebuah pagar rumah tingkat saya bertanya-tanya? apa benar ini yayasan ar-rahmah? Lirikan mata tidak sengaja menoleh papan yang bertuliskan Yayasan ar-rahmah majelis ta’lim dan bantuan pendidikan anak yatim. Memendang sejenak dan membaca ulang sejenak, inikah yang namanya yasayasan itu. Membaca tulisan anak yatim saya menjadi amat tertekan dan sedih, kenapa harus saya? apakah ini jalan yang terbaik? ya ketika sadar bahwa status saya berubah menjadi anak yatim

suasana tampak begitu rimbun diteduhi pohon besar dan beberpa pohon kelapa sehingga tampak sejuk halaman depan yayasan ar-rahmah ini. Dari teras tampak ibu jonih sedang asik ngobrol dengan tamu. Waktu itu memang saya belum pernah melihat bapak jonih, ada yang bilang ke eropa sana.

hari pertama tampak begitu rame sekali ternyata ada acara maulid nabi. sontak beberapa memainkan alat musik dan rebana hingga suasana begitu meriah. Deden pandai memaikan alat musik dan beberapa teman sebaya. larut malam pun tiba. akhirnya saya bingung dimana saya harus tidur? alhasil a firda memberikan space buat saya untuk tidur ditempatnya. ya alhamdulillah.

waktu itu anak putra masih 13 orang.. zeni,adi,ajat,om cay, emung, eka, firda, mamet, iwan, debi, ichsan, asep dan juga dado dan deden memang baru masuk. anak putri sekitar 19-an.

memang tempat tidur waktu itu kelihatan masih belum terorganisir, hanya ada 2 kamar yang berpintu dan sisanya tidur diruangan. dan saya termasuk orang yang serba numpang dari segi tempat tidur dan juga lemari pakaian. hanya beberapa orang saya yang punya lemari baju. untungnya teman-teman di yayasan ramah-ramah dan emung pada saat itu menawarkan untuk mengisi sebagian lemarinya untuk pakaian saya.

Lagu nasyid, ya sehabis subuh itu diputar lagu nasyid. Lagu itu saya pikir lagu ciptaan anak-anak yayasan. the fikr, hidayah iilahi. memang firda fans berat nasyid jadi dimana ada dia pasti lagu nasyid di putar.  Diantara lagu populer yang sering dinyanyikan yaitu lagu yang tak tahu judulnya, ya intinya lagu untuk menuju yayasan ar-rahmah…

Bogor lautan angkot

aku kebogor oh ya naik angkot

hah hari pertama begitu banyak kejutan, dan pada hari itu juga niat saya untuk tinggal di yayasan mulai di uji. Apakah saya akan betah tinggal di yayasan? melihat lagi niat yang sudah di bawa dari rumah, saya hanya ingin sekolah dan bisa menjadi lebih baik membuat semangat itu muncul kembali. kadang ingat apa yang ibu jonih bilang, orang yang sukses itu kebanyakan orang yang jauh-jauh di luar kreteg.

ibu juga menasehati bahwa hidup di yayasan itu serba sederhana termasuk dari segi makan. Cukup Tempe dan sayur juga kadang ditemani ikan asin. Dan paling penting dari yang penting dalam aturan makan. Piring dan gelas diatur dan dinamai masing-masing jadi ngak sempet ketuker lagi dan tidak ada lagi tumpukan piring kotor. Jangan menyisakan sebutir nasi sedikitpun. wah saya dari sini mulai belajar menghargai betapa susahnya untuk membeli lauk pauk.

puasa senin kamis termasuk juga dalam aturan yang harus dikerjakan dan yang pasti shalat harus berjamaah di masjid, apalagi shalat subuh yang digilir, yang satu di mushola dan yang satu lagi di masjid al hamid. dan ketika itu masih ada ust sunarno alhamdulillah dari beliau cukup banyak memetik ilmu yang bermanfaat.

Hari minggu adalah hari pengajian bersama pertama kali diadakan jam 10. pagi di teras rumah ibu/bapak. Setelah pengajian selesai sampai kira-kira masuk waktu shalat dzuhur. setelah itu acara bebas alias istirahat, kadang suka dipake nyuci baju dulu ntar setelah itu bisa istirahat. Memang waktu libur sangat terasa sepi jika tak ada kegiatan/kerja bakti apalagi ditambah tidak ada tugas. sleep alone….

hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. banyak penyesuaian dan begitu banyak perubahan dari berbagai segi terutama pengetahuan tentang agama jadi lebih mendalam lagi. Dulu yang namanya shalat sunat dhuha belum pernah dilakukan bahkan baru tahu ternyata manfaatnya begitu besar. sama dengan shalat sunat yang lain yang diperkenalkan di yayasan ar-rahmah ini.

Ketika harus pindah ke sawah

migrasi, ya. ketika tempat dikreteg tidak mampu menapung anak2 yang baru masuk yayasan sebagian mulai dipindahkan kesawah. Awalnya sebanyak 8 orang mulai diungsikan ke sawah, mulanya hanya sekedar “kemping” di saung pak amut lama kelamaan saung itu direnovasi dan sapi pun dipisahkan dari tempat semula. Bayangkan saja saungnya deket kandang sapi…  wuihh yang pasti nyamuknya kelaperan terus dan jumlahnya banyak.

Suasana Sawah dengan pemandangan saung semi permanet

memang pindah kesawah bukan pilihan favorit sebab selain belum ada listrik juga tidak ada untuk MCK. Kalaupun mau mandi ya harus ke alhamid dulu… ya lumayan jauh, sudah mandi segar sekali eh pas nyampe saung sudah gerah lagi..  memang agak memakan waktu yang lama untuk membangun saung pertama, saung ini memang tidak permanen semua dibangun dengan kombinasi kayu dan bambu dengan dilapisi bilik.

Di sawah ini pula lah banyak kejadian yang tak bisa terlupakan, waktu itu dapur belum masuk ke sawah jadi makan harus ada yang ambil oleh yang piket secara bergiliran. Kebetulan pada saat itu bulan puasa datang dimana buka puasa di sawah dan sahur di kreteg. Jam 03 pagi itu minimal sudah pada bangun dan langsung bergegas menuju gang H.Lasim. Jalan setapak memang tidak ada yang melewati al-hamid, namun rute ini boleh di bilang short-cut terdekat menuju gang lasim. Sudah tidak ada lampu dan tidak ada penerangan apapun kecuali memang pada saat itu ada bulan purnama jadi jalan agak terang. Parit sawah tak selebar sekarang ini, dulu hanya bisa dilalui oleh satu orang saja jadi kalo ada dua orang berpapasan ya otomatis yang satu harus mengalah..

Belum nyampe gang H.Lasim pernah pagi jam 3 an. Bisa kebayang kan.. betapa Reza terpersosok dari parit dan sampai ngak bisa bangun… anehnya yang nolong juga malah ikut kecebur ke sawah… sungguh tragis. Udah mah ngantuk eh malah kecebur dan terpaksa berjalan dengan kaki berlumpur.. sampai gang haji lasim kami sahur dengan kaki berlumpur

 

to be continue….

Categories: Karya Tulis | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: