Mengapa Bapak Meninggalkan Febri?

Mengapa Bapak Meninggalkan Febri ?*

Febri, gadis remaja, hitam manis, asal Tegal, sejak SD kelas 1, ditingggal pergi bapaknya dan hingga kini tak kembali. Sejak itu, ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga di Jakarta; sementara Febri tinggal di sebuah yayasan yatim di Ciomas, Bogor.
Febri dilahirkan di Kampung Dukuh Waru, Kecamatan dan Kelurahan Dukuh Waru, Kabupaten Tegal, 16 tahun lalu. Kini, Febri sudah remaja, bersekolah di sebuah Madrasah Aliyah di Bogor.
Waktu usia 2-3 tahun, Febri dan kedua orang tuanya pernah tinggal di sebuah rumah kontrakan, di Parung Panjang, Kabupaten Bogor. Bapaknya, Waljono, mencari nafkah dengan berjualan ketoprak, sementara sang ibu mengurus Febri kecil di rumah. Uang hasil berjualan ketoprak sering habis dipakai modal bermain judi.
Di rumah kontrakan, selain keluarganya, ikut juga menumpang 2 adik dari Pak Muljono yang sedang menuntut ilmu di sebuah sekolah pelayaran.
Setelah satu tahun di Parung Panjang, dengan suami yang hobi main judi, sang Ibu, Jamilah, merasa kelelahan. Ia dan si kecil Febri memutuskan kembali tinggal di kampung. Tak lama kemudian, suaminya menyusul dan hidup bersama kembali di desa. Muljono meneruskan jualan ketopraknya.
Seorang tetangga, bekerja di perusahaan pelayaran, menawarkan sebuah pekerjaan di Merauke. Singkat cerita, bekerjalah Muljono di perusahaan itu. Setelah 2 tahun, Muljono kembali ke kampung, menjemput Jamilah untuk tinggal bersama di Merauke. Jamilah menolak pergi. Tanpa didampingi anak istri, Muljono kembali ke Merauke. Sejak itulah sang Bapak, Muljono, tak pernah kembali.
13 Maret 2010, bersama 4 temannya dari Yayasan Ar-Rahmah, Febri tidur di Novotel, Bogor. Ia bercerita tentang Hotel itu:
“Kamarnya enak, nyaman, kasurnya empuk, ada hiasan dinding, ada telepon; lantainya dari kayu, bagus, klasik, asri, selimutnya anget, bantalnya banyak; kalau suhu kamar terasa panas, tingal nyalain AC; ada TV warna hitam, flat, chanelnya banyak, bisa nonton dari atas kasur, dari kursi, atau dari lantai sambil selonjor; kamar mandi ada 2, terpisah, sabunnya bagus, kaca cerminnya gede, ada air panas dan air dingin; kalau perlu godok air hanya tinggal nyolokkan ke listrik, 2 menit sudah mateng; ada kursi untuk santai di teras; dan karyawannya ramah-ramah.”
Saya tanya, “Apa yang Febri akan lakukan setelah selesai sekolah?” Ia diam sejenak, air matanya bercucuran, terbata-bata ia berkata, “Akan mencari Bapak. Akan menanyakan, mengapa Bapak meninggalkan Febri?”

Novotel Bogor, 14 Maret 2010
*Seperti dituturkan Febri kepada ayah angkatnya di Yayasan Ar-Rahmah.

Categories: # Kisah-Kisah Inspiratif # | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: