Man Jadda Wajada

Author : zaenal abidin, S.Pd.
Editor : chod’eld

Saya bingung memulai tulisan ini, tapi oke! kita mulai dari sebuah pernyataan yang saya terima dari seseorang, yang seharusnya tidak dibenarkan mengeluarkan kata-kata itu (tujuannya mungkin untuk memotivasi saya), beliau adalah kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) tempat dulu saya sekolah, beliau mengatakan. “Zen maneh mah kosna moal jadi nanaon, teu kos dulur – dulur maneh, Dulur – dulur maneh mah pararinteur ” kurang lebih artinya seperti ini “Zen kayaknya kamu tidak akan jadi apa-apa, tidak seperti saudara – saudara kamu. Saudara – saudara kamu pinter semua”.

Pernyataan tersebut saya maklumi karena saya sadar, saya memang berbeda dari kaka – kaka saya, baik kepintaran (intelegensi) ataupun fisik. Mereka juara kelas semua, dari kakak pertama sampai kakak ke-tiga, untuk kakak ke-empat tidak terlalu jauh perbedaannya tapi diapun lebih baik dari saya dia masuk sepuluh besar kelas, sedangkan saya hanya penghuni sepuluh besar dari peringkat terakhir… Walau saya sadar akan keadaan saya tadi tapi tetap saja, pernyataan yang saya dengar sendiri tersebut membuat hati saya sakit.

Singkat cerita luluslah saya dari MI (SD) tersebut, tau gak berapa NEM saya saat itu? Secara mengejutkan saya mendapat NEM…… 26, skala 40, niat hati ingin membuktikan diri malah memalukan. Tapi tenang saya tidak putus asa kok. Di MTs (SMP) saya agak membaik sedikit sih, saya dapat peringkat 4 tapi dari 20 murid, hehe.

Saat kelulusan MTs acaranya dilaksanakan di pantai Salira Indah Banten Bo!!! Sekali lagi secara mengejutkan NEM saya 30 skala 60, GUBRAK sedih sekali saat itu, tapi tunggu! Kesedihan saya yang sesungguhnya tidak habis sampai disitu. Kesedihan yang justru sangat ruar biaza menyelimuti saat pulang dari pantai, tau kenapa? Karena saya tidak bisa melanjutkan ke-jenjang selanjutnya, masalahnya klasik BIAYA… Kata – kata yang menyakitkan tadi yang selalu terngiang – ngiang dalam telinga ini……….. TER JA…DI….

Saat itu yang membesarkan hati saya hanya ungkapan orang tua yang mengatakan “bapa yakin Zeni bakal sakola”.

***

Delapan bulan saya hidup dalam kesedihan karena n’tah mengapa keinginan sekolah begitu menggebu – gebu, sampai – sampai karena ingin sekolah saya rela menjadi kuli panggul yang dibayar sekali datang barang Rp. 3000,00, saya tabungkan yang harapannya ditahun ajaran yang akan datang bisa membantu menambah biaya masuk sekolah.

Akhirnya….. saat itu tepatnya di hari Senin pagi yang cerah disaat burung – burung riang bernyanyi, air sungai mengalir dengan tenang penuh kedamaian. Wahyu, sahabat main bola dengan terburu – buru memanggil – manggil nama yang indah terdengar ditelinga Zeni… Zeni… Zeni… Kontan seisi aula Pon Pes Al-Ichlas kaget dan semua mata tertuju pada Wahyu sang pemecah keheningan… “Aya naon?” (Ada apa?) Tanya Ustdz Husen.

***

“Bapana Zeni Maot” (Bapaknya Zeni Meninggal) “Innalillahi winna ilaihi rojiuun” Astagfirullahal ‘Adzim… Bapa Pupus… Saya berlari dengan kecepatan penuh tanpa lirik kiri – kanan… sesampai dirumah, ramai sekali orang yang bertakziah, saya lihat sosok suami yang tidak pernah membentak istrinya, ayah yang selalu membangunkan anaknya yang “berbeda” untuk shalat Tahajud dan membacakan cerita orang – orang shaleh hingga si anak tersebut tertidur kembali, ayah yang tidak ragu mencium anak-anaknya, ayah yang selalu membesarkan hati anak-anaknya terbujur lemas tidak bergerak… Jujur dulu saya orang yang jarang meneteskan air mata, mungkin karena hati saya keras mungkin lebih keras dari batu! Air mata ini mengalir dengan derasnya! Tau gak apa yang ada dalam pikiran saya saat itu? SEKOLAH dan Kata – kata kamu tidak akan jadi apa – apa . Lengkap sudah penderitaan diri ini.

Belum lagi penderitaan hilang adek yang paling beda (paling ganteng di keluarga saya) menyusul ayahnya karena “Tipus”. Pesimistis mulai menyerang setiap pembuluh darah yang mengalir ke otak sehingga yang hadir dalam pikiran hanya kata – kata kamu tidak akan jadi apa – apa.

Dua minggu sebelum THB (Ulangan umum kenaikan kelas) cahaya itu datang menyinari seisi hati yang sedang padah sinar harapannya. Dengan perantara A Jaya teman kuliah Kakak saya, saya dibawa ke-Bandung. Pak Deni namanya, seorang donatur di Bandung bersedia membiayai keperluan sekolah saya, untuk tempat tinggal saya tinggal di Masjid Baiturrahim di Komplek Gading Regence Bandung sebagai marbot masjid. Saat bertemu dan ngobrol dengan orang mulia tersebut, entah mengapa Beliau menginginkan saya sekolah sambil mondok tidak di Bandung tapi di Bogor… Subhanallah, wlhamdulillah wallahu akbar…. Tau apa yang ada dipikiran saya? “bapa yakin Zeni bakal sakola”…….

***

Berbekal peringkat 4 dari 19 siswa karena 1 murid “menghilang”, secara mengejutkan murid yang tidak pintar ini (saya tidak mau dibilang BODOH ya!) yang pernah menjadi peringkat dua dari bawah ini, diterima di sekolah Negeri tepatnya di MAN 1 Kota Bogor, dan akan bersaing dengan 45 orang di Kelas 1 B. Untuk diketahui dikelas tersebut terdapat banyak alumnus SMP Negeri favorit di kota Bogor dan kemampuan mereka diatas rata – rata.

Hari pertama sekolah gugup bukan kepalang, setelah satu tahun menunggu akhirnya saya sekolaaaaaaaaah, karena ingin melampiaskan penantian selama itu, saya duduk di bangku paling depan! Hahaha…..

Waktupun terus nyerelek berlalu, tiga bulan sudah saya belajar dengan penuh kesusahan baik dalam menerima pelajaran maupun finansial maklum tidak pintar dan saya dapat uang saku hanya sebesar Rp 100.000,00 perbulan (Alhamdulillah).

***
Dengan rincian Rp. 85.000,00 (inipun sudah termasuk potongan karena saya anak Yatim) untuk bayar makan di Pondok, Rp. 23.000,00 untuk SPP (pernah hampir 1 semester nunggak) dan Rp. 26.000,00 untuk ongkos sekolah, jarak dari Pondok kesekolah ± 3,7 KM, maka uang saku perbulan tersebut jauh dari cukup, tidak jarang saya masuk sekolah dengan keadaan basah kuyup dengan peluh keringat karena jalan kaki. Dengan keadaan seperti itu saya bersyukur (masih bisa menuntut ilmu) tapi, keluarga dan orang – orang yang membantu selama ini saya kecewakan (sebenarnya saya juga kecewa) kenapa? saya hanya dapat peringkat 16 dikelas GUBRAK…….

Saya baru sadar ada yang tidak saya miliki dan tidak saya lakukan selama itu…. Saya hanya semangat belajar dan belajar tanpa lebih berusaha mendekatkan diri sedekat – dekatnya dengan yang memiliki pengetahuan Allah Al-‘Aliim…. Saya ingat apa yang menjadi petuah dari Pak Deni (masih ingatkan?) TAHAJUD…. Beliau memberikan contoh salah satu anak asuhnya yang sudah bekerja di Amerika (seorang akhwat) menurut beliau dia berhasil menjadi seperti itu karena belajar dibarengi Puasa Sunnah dan Tahajud, adu….h jadi ingat Akhwat yang satu ini (mudah – mudahan saya dapat Akhwat yang mau diajak bangun malam) jangan ngeres yach!….

Pulang liburan saya merasakan menjadi Zeni yang baru…. Saya jadi rajin puasa senin dan kamis terkadang puasa Daud… (sekalian ngirit) malam hari saya bangun lebih awal dari biasanya, saya shalat tahjud dan witir walau 3 rakaat, tapi itu istiqomah saya lakukan… saya jadi jarang belajar bareng dengan santri lain yang sekolah, sehingga teman – teman pondok menyangka saya akan lebih buruk dari sebelumnya… Entah mengapa saya lebih suka baca dan mengulang pelajaran sebakda shalat malam, sehingga teman – teman menyangka saya jarang belajar.

***

Secara mengejutkan lagi peringkat saya tetep 16 pada caturwulan ke-2 hehe…. Tapi tunggu, saya tidak kecewa bahkan saya lebih enjoy, karena setelah istiqomah puasa dan shalat Tahajud ada perasaan lain dalam hati, perubahan signifikan terjadi, saya jadi lebih merasa cukup dengan rizqi yang Allah SWT berikan (padahal kiriman uang saku tidak berubah), kasih sayang kepada yang lebih kecil memuncak, rasa hormat kepada yang lebih besar semakin menjadi – jadi, sehingga saya disebut sebagai orang yang sangat ramah dan orang tanpa masalah.

Ternyata dalam perasaan saya ada yang kurang yang membuat terkadang hati saya gersang… tau gak apa? Saya lebih banyak menerima dari pada memberi (sama sampai saat ini). Tapi apa yang bisa saya berikan? Ah…. Saya nekat (kata anak – anak) saya sisakan uang perbulan sebesar Rp. 2000,00 untuk mengisi koropak Jum’at Rp. 500,00 perminggu.

Waktu berlalu dengan terasa sangat lama… Pengumuman kenaikan kelaspun di laksanakan… Semua orang tua murid datang, hanya saya yang diwakilkan oleh mang Deden teman satu pondok (sebenarnya dia tidak mau takut malu katanya) karena ibu dan kakak – kakak saya sedang tidak punya uang untuk ongkos (mungkin). Saat menegangkan (takut tidak naik kelas) tiba, ternyata Bu Fatimah sang Wali Kelas tidak bisa hadir karena orang tuanya di Jawa sakit, dan Bu Entin guru BP yang menggantikannya…

***

Sebelum raport dibagikan beliau berpetuah terlebih dahulu… satu hal yang patut di jadikan contoh yang diungkapkan beliau dari kelas 1 B, adalah seorang murid yang tidak pernah bolos dari caturwulan 1 sampai 3 yang peringkatnya secara ajaib naik signifikan beliau mengungkapkannya dengan penuh keharuan seolah beliau tahu perjuangan anak tersebut sehingga bisa menjadi seperti itu (membuat orang tua murid dan kami sebagai murid terharu sekaligus penasaran, siapakah gerangan) dengan suara berat beliau menyebutkan namanya…. Tau gak siapa? Dia adalah… Zaenal Abidin

Nangis saya dibuatnya… ucapan selamat mengalir dari teman – teman sekelas yang tidak menyangka seorang Zeni bisa menjadi bintang kelas…

Dikelas dua dan tiga prestasi saya cukup baik walau tidak pernah lagi masuk 3 besar tapi ada kebanggaan tersendiri karena selalu sekelas dengan para jawara…

Categories: News | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Man Jadda Wajada

  1. om……akuterharu………….om insya allah……teguh….akan lebih baik….lagie………..amien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: