Catatan Ringan Dari Tanah Suci

Sisi Lain Ibadah Haji Orang Pinggiran

(Episode-1)
Sebelum Keberangkatan
Walimatus_Safar di Rumah Bu Dokter

Demi efisiensi waktu dan –terutama- finansial, kami mengajak Bu Dokter yang bersama tiga anaknya, satu putra dan dua putri, juga akan pergi haji tahun ini, untuk joinan menyelenggarakan walimatus_safar. Bu Dokter adalah tetangga dekat kami. Kami sering kerja sama dalam proyek-proyek sosial. Bu Dokter yang mencarikan dana, kami menyediakan pengguna dana. Kami tinggal di kampung yang sama, Kampung Kereteg namanya, Desanya Padasuka, Ciomas Kecamatannya, di Bogor.

Dalam hidup, selain dengan keluarga, kita senantiasa berinteraksi dengan saudara, teman, dan lebih-lebih tetangga. Adalah sangat mungkin selama bertahun-tahun berinteraksi tersebut ada tingkah laku dan kata yang tak pada tempatnya, sehingga melukai hati, sengaja atau pun tidak.

Di alam nan kekal nanti, semua ingin selamat. Ketika mati, semua orang tidak ingin membawa dosa. Perjalanan haji adalah latihan kematian. Setelah melakukan perjalanan haji, kita semua ingin kembali ke tanah air (walau ada juga orang yang ingin mati di sana), berkumpul dengan keluarga. Tapi, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Karenanya, sebelum meninggalkan rumah, kita ingin terbebas dari dosa. Dosa vertikal atau pun dosa horisontal. Untuk dosa vertical kita bisa mohon ampun, langsung kepada-Nya. Kapan saja, jam berapa saja. Dan, selama kita sungguhan tobatnya, Dia pasti menerima. Khusus untuk dosa horizontal, tak semudah itu. Ada beberapa prosedur yang harus dilalui. Kepada yang kita punya salah padanya, kita perlu mengunjunginya pada waktu yang mungkin tidak sesuai dengan waktu senggang yang kita punya, meminta dimaafkan atas kesalahan yang pernah kita perbuat, dan –mudah-mudahan- kemudian menerima pemaafan. Kita punya salah, boleh jadi kepada banyak orang. Jadi, perlu alokasi waktu yang tidak sedikit. Padahal, orang mau pergi haji, sangatlah sibuk. Jadi, bagaimana caranya? Ya, dengan walimatusy_safar tadi. Kita undang saudara, teman, dan tetangga ke rumah kita (atau yang dianggap rumah kita- bisa rumah saudara, tetangga atau masjid), yang sebenarnya mah, kita yang harus ke rumah mereka. Wong, kita yang perlu, kok!

Untuk tetangga belakang rumah, kami minta tolong Pak Enjum –seorang salih, sederhana, tak banyak bicara- untuk mengundang mereka datang ke rumah Bu Dokter. Tetangga di depan rumah dan sekitar jalan besar, kami minta tolong Pak Soleh, orang yang akhlaknya sesuai namanya, untuk mengundang mereka. Rumah Bu Dokter yang besar itu, penuh sesak oleh undangan. Hadirin tidak hanya memenuhi ruang tamu dan ruang keluarga, melainkan sampai ke teras dan garasi. Di antara hadirin, tampak pula beberapa ustazd yang mendapat kabar angin bahwa kami akan pergi haji. Ada siraman rohani dan sedikit konsumsi. Ceramah disampaikan oleh guru kami semua di Kampung Kereteg,Ustadz Yayat, dengan materi sederhana tapi kena. Acara puncak adalah, ya, itu tadi, kita mohon dimaafkan atas segala khilaf. Diiringi shalawat “Ya Nabi salam alaika. Ya Rasul salam alaika. Ya Habib salam alaika. Sholawatullah alaika”, kami bersalam-salaman, saling memaafkan. Air mata menambah kesyahduan malam itu. Pak Syamsudin, seorang di antara yang menyalami kami, seorang sangat sederhana tapi kaya raya hatinya, sangat sensitif terhadap penderitaan orang-orang miskin (ia sendiri sama sekali tidak kaya), satpam sehari-hari kerjanya, nyaris tak pernah melewatkan malam tanpa tahajjud, mendo’akan kami sementara matanya berkaca-kaca.
Menjelang Keberangkatan

Shalat Tobat, Shalat Safar, dan Wasiat

Malam menjelang keberangkatan dan pagi harinya, istri saya melakukan shalat tobat dan shalat safar. Saya baru melakukan keduanya pada siang harinya. Selesai shalat membaca do’a : “Ya Allah, aku mohon perlindungan-Mu untuk diriku, hartaku, keturunanku, dunia dan akhiratku, amanah-amanahku serta akhir seluruh perbuatanku.”

Kami kemudian kumpulkan seluruh anggota keluarga, menyampaikan pesan-pesan kepada anak-anak, Bapak dan Ibu, dan saudara-saudara. Kepada anak-anak kami wasiatkan agar saling mengasihi satu sama lain, memelihara shalat yang lima, dan rajin belajar dan mengaji. Kepada Bapak/Ibu dan saudara-saudara, setelah mohon dimaafkan atas segala khilaf, kami titipkan pendidikan anak-anak kami, “Untuk keperluan pendidikan anak-anak, kalau perlu, juallah apa pun yang kami punya.”

Suasana haru menyelimuti seluruh orang yang ada di dalam rumah. Tak hanya keluarga, beberapa tetangga yang hari-hari sering ke rumah, turut larut dalam keharuan.

Kami panjatkan do’a : “Ya Allah, pada hari ini kami lindungkan diri kami, keluarga kami, harta kami dan orang-orang yang menyertai kami dalam sifat ini kepada-Mu, baik yang tampak maupun yang tak tampak. Ya Allah, peliharalah kami dengan penjagaan iman serta lindungilah kami. Ya Allah, jadikanlah kami berada dalam liputan kasih sayang-Mu dan janganlah Kau tutupi kami dari curahan karunia-Mu, karena sesungguhnya kami benar-benar memohon semua itu kepada-Mu. Ya Allah, sungguh kami mohon perlindungan-Mu dari kesulitan dalam perjalanan kami ini, dari kesedihan hati serta penantian yang buruk dalam keluarga kami, harta kami, anak-anak kami, di dunia dan di akhirat. Ya Allah, kami menghadap kepada-Mu dengan mengharap ridha dan kedekatan-Mu. Ya Allah sampaikan kami kepada apa-apa yang kami harapkan dan kami dambakan dari-Mu dan dari kekasih-Mu, Wahai Yang Mahakasih dan Sayang.”

Setelah membaca tasbih, tahmid, takbir, dan al-fatihah, kami melanjutkan do’a : “Ya Allah, kami hadapkan wajah kami kepada-Mu dan kutitipkan keluarga kami kepada-Mu, demikian pula harta kami dan tanggungan kami. Sungguh kami benar-benar percaya kepada-Mu, maka janganlah Kau kecewakan kami, wahai Dzat yang tak pernah mengecewakan orang-orang yang dalam penjagaan-Nya. Ya Allah, curahkan rahmat-Mu kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Lindungilah kami dari apa-apa yag kami tidak ketahui tentangnya. Janganlah Kau serahkan penjagaan kami pada diri kami sendiri, wahai Dzat Yang Mahakasih dan Sayang.”

Seperti diajarkan para guru, sebelum meninggalkan rumah, bersedekah kepada orang-orang paling dekat dengan keluarga kami. “Ya Allah, kubeli dengan shadaqah ini keselamatan dalam safar kami ini dan keselamatan segala sesuatu yang menyertai perjalanan kami ini. Ya Allah peliharalah kami dari segala yang kami bawa beserta kami. Selamat kami dari segala yang kami bawa. Sampaikan kami dari segala yang kami bawa kepada tujuan yang kami cita-citakan dengan penyampaian-Mu yang baik lagi indah.”
Tetangga Melepas

Setelah tersiar kabar, kami akan pergi haji, setiap bertemu tetangga belakang rumah, mereka bilang,”Bade ngiring, ah!” (maksudnya mau ikut mengantar ke Jakarta, melepas keberangkatan haji). Semula, kami bermaksud “melepaskan diri” dari rumah saja, sehingga tetangga tak perlu repot-repot mengantar ke Jakarta. Tapi, rupanya hal itu tak lazim Lagi pula, kasihan mereka, yang dengan rela dan senang hati mau melepas kami hingga titik terakhir yang memungkinkan. Masa ditolak! Karena keterbatasan kendaraan, dengan permohonan maaf, kami minta yang mau mengantar, satu keluarga, satu orang saja. “Jadi, kalau ibu ikut, bapak -sekali lagi mohon maaf- tidak ikut. Dan sebaliknya,” seru saya. Akhirnya kami menyewa tiga bis, yang segera dipadati penumpang. Ada keharuan mendalam, saat beberapa ibu pengajian menjemput kami di rumah menuju bis dengan membacakan salawat badar. Keharuan bertambah ketika melihat beberapa tetangga kampung yang tidak bisa ikut serta ke Jakarta (karena quota angkutan), melambai-lambaikan tangan, sebagian dengan wajah ceria, lainnya tampak sedih.
Orang Sakti di Bandara

Setelah chek-in, sambil menunggu istri yang sedang shalat maghrib, saya ngobrol dengan seorang pemuda yang sedang duduk dekat mushala. Rupanya dia bekerja di bandara. Dan, petang itu, ia kelihatan santai dan happy. Dia belum lama berbicara dengan seorang sakti. Sambil menunjukkan sebuah kartu nama, dia ceritera tentang kehebatan si ibu yang barusan berkenalan dengannya. “Dia bermasalah,” timpal saya. “Lho, kok, Bapak bilang dia bermasalah. Bermasalah bagaimana?”, seru dia sambil menampakkan wajah tak mengerti. “Manusia dan jin itu, punya frekuensi yang berbeda. Masing-masing punya tugas sendiri-sendiri. Tak perlulah saling mengganggu atau pun ‘bantu-membantu’, kecuali dalam kebenaran. Tak perlu jalan-jalan ke alam sana, kecuali kalau memang kurang kerjaan!” Kemudian obrolan meluas ke sana ke mari, saya pamit untuk segera boarding. Kelak di tanah suci, si ibu dimaksud ternyata satu rombongan dengan teman saya. Menurut informasi yang saya terima, di Makkah dan Madinah, ia banyak menemui masalah dengan peribadatannya. Pada waktu-waktu shalat dan pengajian, dia sering sakit. Saat “tawaf” di Pasar Seng, segar bugar! Ada masalah yang ia alami yang jauh lebih parah dari itu, yang tidak seharusnya terjadi. Apalagi di tanah suci! Saya tak ingin menceriterakannya di sini.
Maktab 108

Setelah istirahat secukupnya di Jeddah, kami menuju Makkah al- Mukaromah. Bis masuk kota Makkah dan istirahat sejenak di Maktab 108 . Maktab ini dikepalai oleh Syeikh Ibrahim Indragiri, orang Riau yang mukim di Makkah. Segera saya kirim sms kepada OM, (OM adalah kependekan dari Orang Melayu, sapaan akrab untuk karib saya di Gedung Kwarnas, Bang Soeryadi Oemar. Apa kabar, Bang? Eh, …Om) mengabarkan tentang Syeikh Ibrahim. Ternyata, orang tua Syeikh Ibrahim Indragiri, Syeikh Muhammad Ali Indragiri, mantan Kepala Kepolisian Makkah, adalah kawan lama Datuk, orangtua OM. Pikir saya, hebat juga orang-orang Melayu ini (Orang Melayu hebat lainnya, a.l. : Radja Ali Haji dengan Gurindam Dua Belasnya dan Sang Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Caldjoum Bachri)/

Apa yang istimewa dengan berita di maktab ini? Saya minum teh yang demikian nikmat! Rasanya, seumur-umur, baru kali pertama ini minum teh, begitu nikmat tiada terkira. Tak ada bandingannya! Dalam hati, saya berkata, “Betapa lezatnya teh Arab ini!” (padahal di Arab, mana ada kebun teh!!!). Saya ajak istri saya untuk juga meminumnya. Saya coba perhatikan merk teh itu. Eh, …ternyata…, mereknya LIPTON! Seketika itu, saya berdo’a, ”Ya, Allah sebagaimana telah Kau anugrahkan kenikmatan minum teh kepada kami, anugrahkan pula kepada kami kenikmatan beribadah di tanah suci ini.”
Masjid_al-Haram, Toko-toko, dan Pedagang K-5

Kami melanjutkan perjalanan menuju jantung kota Makkah (bahkan jantung dunia), Masjidil_Haram. Begitu bis berhenti, pandangan terpaut dengan menara-menara indah. Tak salah lagi, ini dia Masjid al_Haram, yang di bagian tengahnya ada Ka’bah, tempat kami menghadap ketika shalat, selama berpuluh tahun. Kini, dia di depan mata. Tak terasa, air mata membasahi pipi. “Tuhan, Kau perkenankan tubuh dan jiwa yang kotor penuh dosa ini, menghampiri rumah-Mu yang suci. Allahu Akbar! Tuhan, kami datang dari negeri yang jauh dengan dosa-dosa yang banyak dan perbuatan yang buruk, ampuni dosa-dosa kami dan keburukan amal-amal kami. Sungguh tiada yang mengampuni dosa, selain Engkau, wahai yang kasih dari segala yang kasih. Semoga sholawat tercurah atas Nabi Muhammad dan Keluarganya.” Teringat kami akan orang-orang yang telah berjasa menghantarkan kami ke tempat suci ini. Air mata turun menjadi-jadi. “Tuhan, berikan maghfirah-Mu untuk mereka. Berkahilah mereka dan keluarganya.”

Waktu shalat tiba, jamaah –dari pelbagai penjuru- mengalir deras menuju masjid. Telat sedikit saja, masjid penuh sesak, shalat hanya kebagian di halaman masjid, atau malah di jalan aspal. Segera setelah shalat selesai, toko-toko yang mengepung masjid, dibanjiri pembeli. Benar-benar sesak toko-toko itu, tak terlalu beda dengan sesaknya penumpang dalam KRL ekonomi Bogor-Jakarta di pagi hari, langganan saya dulu (“Zaman dahulu”, dari BSD, Bogor Sonoon Dikit, dimana kami tinggal, untuk mencapai Gedung Kwarnas atau Patra Jasa, saya naik KRL ini. Kalau tak ingin telat masuk kantor, saya sholat subuh di stasiun; wirid di kereta. Sekarang, alhamdulillah, “sudah kaya”. Ada mobil Kijang. Sopirnya, lebih dari satu. Mereka semua amsinyur, bahkan ada yang S2. Mereka gantian nyopir. Hanya 2 members tak pernah nyopir, saya dan Bos Bobotoh Persib, Kang Dudu. Kami berdua dapat tugas lain: tidur).

Ketika para hujjaj membelanjakan hartanya dengan menyerbu toko-toko di depan masjid itu (kata orang, sebagian besar pembeli berasal dari Indonesia. Saya tak bisa membuktikannya. Tak cukup waktu untuk survey statistika.), pada saat yang sama, para fakir miskin –yang umumnya berkulit legam- menengadahkan tangan di sekitar halaman masjid. Mereka tampak sepi pemberi. Kontras memang pemandangan ini!

Tak hanya toko yang diserbu pembeli, para pedagang K-5, juga sibuk melayani para pembeli yang senantiasa melakukan bargaining, tawar-menawar, minta harga yang lebih rendah, seperti kebanyakan kita. Para pedagang K-5 ini, selain sibuk dengan pembelinya, sibuk pula tengok kakan-kiri, kalau-kalau ada petugas datang. Takut kena razia. Maklum, mereka berjualan di tempat “terlarang”, di kaki lima. Memang, namanya juga berjualan di kaki lima, di mana pun, akan mengurangi ruas jalan. Dan, para petugas/askar khawatir, apabila mereka mengganggu para tamu Allah dalam berjalan kaki, dari dan ke Masjid al- Haram. Walaupun kenyataannya, yang lebih membuat jalan lebih sempit lagi, adalah para pembeli. Ya, Bapak dan Bu Haji itu! Kasihan, para pedagang K-5 itu, mencari nafkah dengan hati tak tentram.

Pedagang K-5 itu, selain orang tua, juga banyak anak-anak di bawah umur. Setiap kali bertemu anak-anak kecil itu sedang menawarkan dagangannya, saya merasa haru. Tentu saja, mereka inginnya seperti anak-anak lain: bermain atau jalan-jalan bersama orang tuanya. Mereka harus berjualan untuk membatu ekonomi orang tuanya yang tak punya. Ada 2 anak yang saya sering bertemu, Zaenab dan Ahmad. Masing-masing, usianya sekitar 5 dan 7 tahun. Mereka berjualan macam-macam tasbih. Setiap bertemu, mereka meminta saya untuk membeli dagangannya; saya senantiasa hanya mengajaknya ngobrol. Tapi, suatu hari, saya kalah. Mereka menaruh tasbih-tasbih itu di tangan saya, lalu pada pergi. Mereka tidak mau menghampiri, kecuali saya mengeluarkan 5 riyalan. Pinter juga itu anak!

Satu hari, pernah saya menyaksikan, ketika para pedagang K-5 itu sedang asyik dengan para pembelinya, tiba-tiba datang petugas (TIBUM, bahasa kitanya, kependekan dari Ketertiban Umum. Para Abang becak teman saya dulu, menyebutnya dengan TIdak BerbUdi Manusia). Semua pedagang berlarian. Seorang anak kecil usia SD atau SLTP yang berdagang rupa-rupa peci haji, karena kekecilannya tak sempat mengemas dagangannya. Petugas dengan sigap dan gagah merampas seluruh dagangan anak itu. Anak itu berusaha mempertahankannya. Apa daya, dia hanya seorang anak kecil. Dia, kemudian termenung. Saya hanya bengong. Setelah beberapa hari dari kejadian itu, saya tanya seorang Indonesia yang telah lama mukim di sana, “Apakah barang dagangan itu, bisa ditebus?” Dia bilang, “Jangan pernah berharap bisa kembali. Yang mengurusnya, untuk mendapatkan kembali barang tersebut, boleh jadi, akan mendapat kesulitan lain dari petugas/pemerintah setempat. Begitulah di sini, Pak.” Sedih saya menyaksikan hal ini.

Terbetik dalam hati, ingin berbagi dengan para pengemis atau pedagang K-5. Saya dan istri, berusaha mendapatkan recehan uang riyal, tapi tak berhasil. Kami memutuskan membeli buah-buahan saja. Apel dan Pir. Ba’da Ashar, kami bawa ransel besar dan beli beberapa puluh kilo –mostly- apel. Kami bagi-bagikan pada para pedagang K-5, anak-anak tuna wisma, dan buruh bangunan yang terbengong-bengong menyaksikan kami. Beberapa jamaah haji yang sedang berjalan menuju masjid, juga berusaha meminta bagian. Mungkin mereka mengira, ini pembagian dari Raja Saudi, yang memang sering terjadi pada musim-musim haji. Padahal, ini pembagian dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat (tapi, bukan Pikiran Rakyat, koran Bandung itu!). Menjelang maghrib, istri saya kelelahan, dia pulang ke penginapan. Saya melanjutkan aktifitas yang –mungkin menurut sebagian orang- sepertinya tak lazim ini. Ketika buah-buahan itu saya bagikan, pertama, mereka tak mengerti, bengong, tapi selanjutnya, saya dikejar-kejar. Saya minta mereka untuk tenang dan kembali duduk di tempat masing-masing. Kepada yang dekat, saya berikan ke tangannya, yang agak jauh saya berikan dengan lemparan melambung, sehinga mereka mudah menangkapnya. Beberapa di antara mereka, nakal juga. Setelah mendapat bagian, datang lagi dengan menutup muka, seolah bercadar. Beberapa saya kenali, lainnya tidak. Saya dikerubuti oleh mereka. Kadang agak panik juga, tapi menyenangkan. Kami bahagia, bisa sedikit berbagi.

Kebahagian serupa kami peroleh ramadhan dua tahun lalu, di tanah air. Istri saya belanja beberapa kodi sarung. Dan, ketika itu, tengah malam, saya dan istri menemui para tuna wisma yang sedang siap-siap untuk tidur dan yang sedang tidur, di sekitar Terminal Merdeka, emper-emper toko, dan sekitar stasiun KA Bogor. Kami distribusikan itu sarung. Terserah, sarung itu mau dipakai selimut, mau dipakai alas tidur, atau apa punlah. Yang jelas mereka memerlukannya. Buktinya, kami harus datang lagi ke tempat itu pada beberapa malam berikutnya; banyak yang belum kebagian. Ramadhan tahun yang baru lalu, kebahagian yang lain menghampiri kami. Pada salah satu dari sepuluh malam terakhir, setelah berbicara panjang lebar dengan seorang bapak jamaah masjid, yang sejak belasan tahun terputus silaturahmi dengan ibunya, dan pada akhirnya ia mengisyaratkan menerima ‘perdamaian’, saya membatalkan itikaf. Bersama istri, menjelang tengah malam, kami bangunkan si ibu. Kami berbicara sedikit tentang keutamaan ramadhan, tentang pentingnya silaturahmi, dan bahaya memutuskannya. Isyarat bagus, kami tangkap. Sementara istri keep talking dengan si ibu, saya balik ke masjid menjemput sang anak (yang juga sudah tua). Kami pertemukan. Allah Maha Rahman Rahim; keduanya berpelukan. Pada Hari Idhul Fitri, keluarga besar itu tampak ceria; kami bahagia tiada terhingga.

Di dalam masjid (Masjid al-Haram), laki dan perempuan, pada banyak bagian dari masjid, berada dalam shaf yang sama. Saat-saat menjelang waktu shalat tiba, para askar, sibuk mengatur barisan/shaf shalat para jamaah. Sangat tidak jarang terjadi, kaum ibu shalat bersebelahan dengan kaum bapak, nyaris tanpa batas. Inilah, pekerjaan utama para askar: menertibkannya dengan cara –maaf- tidak halus. Beberapa ibu-ibu ditarik-tarik tasnya, jaketnya, untuk segera pergi dari tempat itu dan mencari tempat lain, karena tempat yang mereka duduki terlalu berdekatan dengan laki-laki. Ibu-ibu pun tak begitu saja menyerah, karena memang tak mudah cari tempat lain, sementara waktu shalat segera tiba. Pemandangan seperti ini, terjadi hampir tiap hari. Tidak adakah cari terbaik untuk mengatasinya?
Peninggalan Sejarah yang ‘Terabaikan’

Ketika anda selesai Sa’i dan keluar lewat pintu Marwah, tepat dari pintu itu ke arah luar, sekitar 200 meter, ada sebuah bangunan tak terlalu besar, berdiri sendiri. Itulah Gedung Perpustakaan. Coba anda hampiri lebih dekat lagi. Kelilingi itu bangunan. Anda akan menyaksikan, bangunan itu agak kotor dan nampak kurang terurus. Selesai umroh mufrodah, kami hampiri bangunan itu. Kami menangis, melihat rumah kelahiran Rasulullah SAW itu, tampak kusam dan tak terurus. Kami ingin masuk, petugas tak memperkenankannya. Seorang kakek, jamaah dari Turki, berusaha mendekati pintu masuk, petugas dengan tangkas mengusirnya. Hampir saja si Kakek terjatuh. Si Kakek mengusap-usap dinding gedung itu dan menciuminya. Si petugas menghardiknya, “Haram, syirk!” Keduanya bisa benar. Sang petugas, menjalankan perintah atasannya, -dan boleh jadi, juga perintah agama- agar para jamaah terhindar dari perbuatan syirik, yang sangat berbahaya itu. Sedangkan si Kakek, meyakini dia tidak sedang berbuat syirik, melainkan sedang mengekspresikan kerinduannya pada Sang Kekasih, yang dulu dilahirkan di tempat itu, Rasulullah SAW. Sama seperti ketika Majnun menciumi dinding rumah Laela. Bukan ia mencintai dinding itu, tapi yang ada di balik dinding, yakni Laela.

Tak jauh dari rumah kelahiran Nabi SAW, alihkan pandangan Anda ke arah bukit kecil di depan Mas’a (tempat Sa’i). Itulah Jabal Abi Qubais. Tempat pertama kali, Nabi Ibrahim alaihi salam, menyeru manusia untuk berhaji ke Baitullah. Dulu, kabarnya, para jamaah haji banyak yang mendaki bukit itu dan berdo’a di sana, sambil mengenang Sang Khalillullah, Ibrahim Alaihi Salam. Demi menjaga kemurnian agama dari syirik dan bid’ah, sehingga tempat itu tidak lagi dianggap keramat dan tak lagi dijadikan tempat berdo’a, pemerintah Saudi, membersihkan tempat itu dengan mendirikan Istana Raja. Astaghfirullah al-Adziem! Peribahasa kita menyebutkan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarah. Tapi, di sini, tak perlulah kita berbicara kaidah ushul mafhum mukholafah.

Tak jauh, bahkan sangat dekat dengan Masjid al-Haram, ada Hotel Hilton. Teras hotel itu boleh dikatakan menyambung dengan teras pelataran Masjid al-Haram. Lantai Dasar hingga lantai 3 diisi oleh pertokoaan. Tahukan Anda, sebelum Hilton ada, jauh pada zaman Nabi SAW, siapa yang tinggal di tanah itu? Di situlah rumah Abu Bakar r.a., sahabat utama Nabi SAW. Jejak-jejak sejarah itu, nyaris hilang ditelan keyakinan sebahagian kita.
Masker, Anggur, dan Batuk

Seorang kawan yang istrinya sering mengasih uang sama istri saya, menegur, “Tak pakai masker?” “Saya sudah minta izin (sambil menujuk ke atas) untuk tidak memakai masker, “ jawab saya. Dia berusaha mafhum, walau mungkin dia pikir, aneh ini orang! Saya dan istri -mungkin ini berlebihan- merasa, sepertinya kurang etis menghadap Tuhan dengan menutup mulut dan hidung. Menghadap orang yang kita hormati saja, di kantor atau pun di luar kantor, kita berusaha menyembunyikan ketidaksehatan atau kekhawatiran kita terserang virus tertentu dengan bersaputangan, misalnya. Ini, kan sedang menghadap Tuhan. Kami, kemudian mohon izin-Nya untuk tidak memakai masker. Atas perkenan-Nya, segala puji bagi-Nya, kami aman-aman saja. Ketika sebagian besar kawan-kawan, termasuk dokter rombongan kami, terserang demam/flu dan batuk (hampir semua jamaah ketika di Jakarta divaksinasi influenza, kami saat itu, tak bawa cukup uang), sekali lagi, segala puji bagiNya, kami sehat. Seorang kawan satu rombongan, suatu malam, ketika santai-santai di lobby kecil penginapan di Aziziah, bertanya, “Ustadz (dia manggil saya ustadz, entah dapat dari mana dia mendapatkan sebutan itu), semua orang sakit. Ustadz, batuk pun tidak. Apa rahasianya?” Saya jawab, “Pertama, saya bukan ustadz. Perihal tak sakit, saya minta ke Atas untuk tidak sakit agar bisa beribadah optimal.” Dia manggut-manggut, tak mengerti. Oh ya, selama di tanah suci, ketika waktu makan tiba, ada makanan, tepatnya buah, yang nyaris tak disentuh para jamaah. Itulah anggur. Menurut informasi kawan-kawan, anggur bisa menjadi trigger untuk timbulnya batuk. Dengan tidak bermaksud melawan arus, semata karena sayang melihat makanan mubadzir (disamping memang hobby, lagi pula di rumah sangat jarang dijumpai), dengan menyebut nama-Nya, kami sikat itu anggur. Alhamdulillah, lezaaat!!!. Manis benar itu anggur! Banyak orang bilang, di Tanah Suci, pada musim haji, “Hanya unta yang tak batuk.” Dalam hal ini, kami merasa mendapat kehormatan dimasukkan kelompok itu. Oh maaf, sebagian ini ceritra mengambil tempat di Aziziyah, padahal judul di atas masih di

Makkah.

Bersambung……………………………………………

Categories: Ibadah Haji | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Catatan Ringan Dari Tanah Suci

  1. Assalamualikum warahmatullahi wabarakatuh

    Salam kenal dari saya, semoga blog saya yang pertama yang berbayar ini bisa menambah khasanah pemikiran dan wawasan ke-Islam-an kita semua terutama tentang salawat nabi yang sekarang sedang jadi bahasan dalam blog saya

    Dan selamat hari raya Idul Adha 1429 H
    Semoga Allah Memberkahi kita semua

    Dan ( lagi ) ditunggu kunjungannya

    Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: