Catatan Ringan dari Tanah Suci (Episode-2)

Sisi Lain Ibadah Haji Orang Pinggiran

Hajar Aswad -Lambang Tangan Tuhan


Apakah Hajar Aswad itu? Secara harfiah, Hajar Aswad berarti batu hitam. Batu berbentuk oval tersebut berdiameter sekitar 30 cm dengan garis tengah sekitar 10 cm, terletak di sudut tenggara Ka’bah (tepatnya antara tenggara dan timur Ka’bah, karena posisi pintu Ka’bah tak persis menghadap timur, melainkan agak miring ke utara), tingginya sekitar sedada orang dewasa Indonesia, tentang asal muasalnya ulama berbeda pendapat, dan -ini mungkin yang menjadikannya begitu popular- pernah dikecup Rasulullah SAW! Dari titik itu, atau garis lurus ke arah luar Ka’bah dari titik itu, tawaf dimulai dan diakhiri.

Perihal kecup mengecupnya, terkenal perkataan Umar bin Khaththab, “Engkau hanyalah batu yang tidak dapat memberi manfaat atau pun mudarat. Kalau saja aku tidak melihat Rasul menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” Umar mengatakan demikian mengingat orang-orang baru saja meninggalkan menyembah berhala-berhala. Dikhawatirkan mereka mengira mencium hajar Aswad ini merupakan bagian dari ibadah dengan menyembah, mengagungkan batu-batuan, sebagai mana orang-orang Arab pada zaman Jahiliyyah.

Umar lalu menjelaskan bahwa mencium hajar Aswad tiada lain semata mengikuti sunnah Nabi SAW. Terhadap perkataan Umar di atas, Ali bin Abu Thalib, mengomentarinya, “Benar, batunya sendiri tidak mampu memberi manfaat dan mudarat, tetapi menciumnya dengan memahami maknanya akan memberi manfaat. Karena, kalau tidak demikian, mana mungkin Rasul SAW menciumnya dan menganjurkan kita menciumnya!”

***

Hajar Aswad adalah lambang tangan Tuhan. Seperti lazimnya, bila seseorang bersalaman dengan yang sangat dihormatinya, ia mencium tangan yang salaminya itu. Karenanya, kalau tak berhasil menciumnya, orang melakukan isti’lam, yakni melambaikan tangannya (seperti halnya orang yang karena jarak, waktu, dlsb yang tak memungkinkan untuk bersalaman dengan yang hendak ia salami, ia kemudian melambaikan tangannya), dan kemudian mencium tangannya itu.

Pak Quraish Shihab, ustadz yang sangat saya kagumi itu, menafsirkan bahwa mencium atau beristi’lam terhadap Hajar Aswad, melambangkan perjanjian orang yang tawaf dengan Tuhan. Jadi, seseorang yang selesai bertawaf, mengikat janji dengan Tuhan, untuk selalu berusaha dalam lingkungan Ilahi, melaksanakan perintan-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta mengikuti perjanjian luhur yang pernah dilakukannya dengan Allah.

Dulu, sebelum keberangkatan hingga ketika masuk kota Mekah, ada keinginan kuat untuk mencium the black stone, Hajar Aswad ini. Bagaimana tidak, Nabi yang mulia saja pernah mengecupnya. “So…, pasti, ini tidak sembarang batu,” pikir saya. Tapi, sesaat setelah masuk Masjid al-Haram, keinginan itu sirna. Why? Mengapa dan kunaon? Berjejalnya jamaah yang mengitari Ka’bah, mengisyaratkan sangat tidak mudahnya untuk mencapai Hajar Aswad. Dan, hampir semua jamaah -yang padat mengitari Ka’bah itu-, menginginkan hal yang sama, sehingga orang akan terakumulasi pada satu titik. Adalah sangat mungkin kalau kita bersikeras untuk menciumnya, akan menimbulkan pelbagai gesekan, sikutan, dan bahkan tabrakan antar sesama jamaah.

Sebut saja, misalnya, pada akhirnya, kita bisa mendapatkan itu batu, tapi hasilnya -boleh jadi- tidak akan impas untuk membayar dosa-dosa kita atas orang-orang yang terdesak, tersikut, atau tertabrak tadi. Walhasil, bukan pahala yang kita dapat, melainkan dosa! Lagi pula, keberhasilan mencium Hajar Aswad, dengan susah payah atau pun dengan mudah, dapat berpotensi untuk timbulnya rasa bangga diri, bahwa telah berhasil mencium Hajar Aswad! Dalam situasi seperti itu, menurut hemat saya, berusaha tidak menciumnya –karena khawatir orang lain terdzalimi, seperti disebutkan di atas- dapat lebih utama daripada berusaha menciumnya.

Waktu itu, shalat dzuhur akan segera tiba. Sesuai anjuran Nabi SAW, ketika shalat, saya berusaha mendapatkan shaf terdepan. Saya mendapatkan tempat di shaf kedua belakang Maqam Ibrahim, salah satu tempat makbul untuk berdo’a. Selesai shalat, saya mohon kepada Allah agar dimudahkan untuk bisa lebih mendekat kepada Ka’bah dan bisa berdo’a di Multazam.

Dinding Ka’bah saya gapai. Saya peluk. Saya ciumi berulang kali. “Ya Allah, Kau benar-benar telah mengundangku. Aku hadir memenuhi undangan-Mu. Allahu Akbar.” Ka’bah yang selama ini aku lihat hanya pada lembar-lembar almanak atau sebagai hiasan dinding di rumah-rumah besar, kini kusalami, kuciumi. Kulepas rinduku padanya. Kerinduan yang sebelumnya tak pernah terbayang akan terpuaskan. Tak terasa, air mata mengalir deras.

Di kanan-kiri, kulihat para jamaah dari pelbagai negeri, juga menempel dan mengusap-usapkan tangannya ke dinding Ka’bah. Mereka maratap, menangis. Semua tenggelam dalam nikmatnya tangisan. Menangis bahagia bisa berjumpa dengan rumah Kekasih. Aku bergeser ke arah kiri. Di Multazam, kembali aku tenggelam dalam nikmatnya do’a. “Tuhan, kini aku bersimpuh di pintu rumah-Mu. Bukakan pintu rahmat-Mu, untukku. Ampunkan dosaku dan dosa ibu-bapakku, dosa guru-guruku, dan dosa orang-orang yang telah berjasa padaku. Ringankan penderitaan saudara-saudara kami di Aceh. Ya Allah, bagi mereka yang Kau panggil lewat musibah itu, jadikan mereka sebagai penghuni surga-Mu. Yang Kau luputkan dari maut, kuatkan iman mereka. Sejahterakan dan berkahilah hidup mereka.” Setelah puas menyampaikan pelbagai permintaan, sampai habis kata-kata, saya keluarkan buku kecil, catatan do’a-do’a titipan dari kawan, tetangga, dan saudara.

Titipan do’a itu menempati dua puluh enam halaman dari buku kecil itu (Kemarin, sebelum berangkat, untuk tiap kawan yang titip do’a, saya tulis. Di rumah, buku itu diletakkan di ruang tamu dan setiap yang titip do’a, khawatir lupa, saya minta mereka menulisnya di buku tersebut. Jadilah dua puluh enam halaman itu. Di tempat-tempat mustajab, saya bacakan satu persatu). Kusampaikan kepada-Nya do’a-do’a titipan itu. Sebagai do’a penutup, aku mohon agar Tuhan memudahkanku untuk bisa shalat dan berdo’a di Hijir Ismail. Itu saja permintaanku. Allah memperkenankannya, dengan mudah saya masuk Hijir Ismail.

Saya shalat dua rakaat dan berdo’a di situ. Hendak keluar, macet total. Yang kosong, ya di tempat tadi saya shalat. Saya shalat 2 rakaat lagi, terus sedikit bergerak dan macet lagi. Seseorang, menempel pada pundak kiri saya, jelas terdengar berdo’a dengan menangis sambil menengadah ke atas. Ketika saya ikut melihat ke arah atas, rupanya persis di atas kepala saya adalah pancuran emas. Seketika saya berdo’a, “Ya Allah, kalau Engkau berkenan, aku ingin mencium batu yang pernah dikecup Rasulullah, dengan tidak mendzalimi orang lain.” Ini do’a dadakan. Karena, hingga beberapa menit sebelumnya, seperti saya uraikan di atas, tak adalah lagi minat untuk mencium batu itu.

Do’a ini muncul tiba-tiba ketika saya “terperangkap” di bawah Pancuran Emas. Saya keluar dari Hijir Ismail, lalu persis seperti dalam KRL JABOTABEK pada Senin pagi hari, saya terhimpit dan terbawa arus gelombang manusia yang sedang tawaf. Saya benar-benar tak berdaya; tak berkekuatan. Sambil mengikuti arus, saya baca hasbunallaahi wa ni’mal wakiel, ni’mal maulaa wa ‘niman_nashier, laa haula walaa quwwata illaa billaahil_aliyyil_adziem, laa ilaaha illaa anta subhaanaka innie kuntu minadz_dzolimien, berulang-ulang. Setelah beberapa saat terombang-ambing dalam gelombang manusia yang demikian padat, saya kemudian terhenti, tepat di depan Hajar Aswad. Dengan mengucap Allahu Akbar, saya kecup itu batu. Segala puji baginya. Sambil sedikit mundur, saya persilahkan orang di belakang saya untuk mendapat bagian; saya keluar lingkaran tawaf, kembali ke penginapan untuk makan siang dan sedikit istirahat.

Dua orang, keduanya teman sekamar, pukul 01.00 dini hari, menuju Masjid al-Haram. Kabarnya, ingin shalat di Hijir Ismail. Dan, kalau memungkinkan cium Hajar Aswad. Esoknya, mereka ceritera, “Jangankan Hajar Aswad, ke Hijir Ismail saja, kami tak berhasil. Penuh sekali!” katanya. Saya kira, untuk mendapatkan sesuatu, di tanah yang sensitivitasnya ekstra tinggi ini, selain usaha dan niat yang kuat, perlu kepasrahan total kepada-Nya. Keakuan akan sangat diuji di sini. Kalimat-kalimat yang sering kita dengar pada khutbah-khutbah Ied, seperti, hanya Allahlah yang Maha Besar. Lainnya kecil, sangat kecil. Sangat terasa di sini!

Kembali ke hal Hajar Aswad, saya ceritera sama istri kalau saya barusan shalat di Hijir Ismail dan bahkan diperkenankan-Nya mencium Hajar Aswad. “Mau dong!” katanya. “Bagi perempuan, untuk mencapai Hajar Aswad, pada saat-saat musim haji seperti ini, sangatlah sulit. Dan, bisa lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya. Tapi, kalau mau ke Hijir Ismail, nanti subuh kita bareng,” ajak saya. Esoknya, dua-tiga jam sebelum waktu subuh, kami sudah di pelataran Ka’bah, tapi masih jauh jarak ke Ka’bah, karena lebih dari ¾ bagian dari pelataran Ka’bah dipenuhi jamaah yang sedang tawaf. Di shaf yang kami tempati, mulanya relatif agak lenggang. Tak sampai 30 menit, sudah penuh. Tak ada tempat kosong. Belakangan, setelah semua jamaah menempati tempat shalat masing-masing, baru kami sadar, rupanya istri saya, adalah satu-satunya wanita di situ. Kiri-kanan, belakang-depan, tak ada wanita lain. Seorang Pakistan yang duduk dua baris di belakang saya, menyeru agar istri saya keluar dari situ. Saya pura-pura tak dengar, tapi dia beteriak lebih keras lagi. Sambil menarik istri agar lebih mendekat, saya menoleh ke belakang, dengan bahasa Arab nekat (ada kawan mengira saya bisa Bahasa Arab, padahal sebenarnya, sama sekali, tidak! Bahasa Arab yang saya faham hanyalah dari-ke, atas-bawah, kiri-kanan, jauh-dekat, depan-belakang, dan sedikit tarjamah ayat al-Qur’an yang kebetulan hafal. Itu saja!), “Hiya Azwaji,” seru saya agak keras. Pakistan itu kemudian diam. Tenanglah kami. Eh, …beberapa menit sebelum iqomah, jauh di belakang kami, ada seorang tua berjubah, entah dari mana dia berasal, teriak. Keras-keras, lagi. Ia minta istri saya keluar dari situ. Saya biarkan. Tapi, seorang yang duduk tepat di belakang saya, menarik-narik pundak saya memberi tahu bahwa orang yang berteriak di belakang itu ditujukan kepada saya (padahal saya sebenarnya tahu itu, dan ini mah sedang –seperti sebelumnya- pura-pura tidak dengar). Saya bilang sama istri, “Selama bukan askar, biarkan saja. Tak usah dituruti!” Wong, hal yang hampir sama juga terjadi di shaf-shaf belakang. Walaupun memang, wanita atau pria yang berada dalam kumpulan jamaah lawan jenisnya itu, tidak sendiri, biasanya beberapa orang. Tapi, walau sendiri, istri saya, kan, ada muhrimnya, di sebelahnya. Dan, ini mah darurat, atuh! Namanya juga suasana di Masjid al-Haram. Walaupun dia bermaksud baik, hemat saya dia terlalu sibuk ngurusin pekerjaan yang bukan urusannya. Maka, ketika dia bersikukuh bahwa istri saya harus angkat kaki dari situ, sementara iqomah dalam hitungan menit (akan sangat-sangat sulit untuk cari tempat lain), sekali lagi, saya menoleh ke belakang, juga dengan suara agak keras, “ Hadza darurah, wa hiya azwaji!” Alhamdulillah, saya berhasil lagi mendiamkan orang-orang yang suka sibuk ngatur orang lain itu. Begitu selesai shalat, saya raih dan tarik tangan istri ke arah Ka’bah, “Wiridnya sambil jalan saja,” seru saya. Kami berdo’a agar dimudahkan mencapai Hijir Ismail. Mula-mula, istri saya hantarkan untuk menggapai dan mencium dinding Ka’bah, seperti yang sebelumnya saya lakukan. Oh ya, sekedar tahu saja, istri saya, hatinya lebih sensitif dibanding saya. Dia lebih mudah tersentuh; lebih mudah menangis. Menangislah ia sepuasnya di dinding Ka’bah. Kuraih tangannya menuju Hijir Ismail. Alhamdulillah, dimudahkan-Nya, kami shalat di Hijir Ismail. Hari berikutnya, sepasang suami-istri yang lebih senior daripada kami, minta diantar untuk bisa ke Hijir Ismail. Kami berdo’a agar Dia memudahkannya. Sekali lagi, alhamdulillah, pasangan itu menikmati Hijir Ismail. Pertama, shalat dua rakaat pada area yang lapang di bagian belakang. Mau keluar, tak ada jalan. Mereka shalat lagi. Mereka puas. Kami bahagia bisa menyertainya.

Calo Hajar Aswad
Orang Indonesia, di mana pun berada, selalu “kreatif”, tak terkecuali di sekitar Rumah Allah. Ketika para jamaah mengelilingi Ka’bah, bertawaf , ternyata tak hanya Allah dan para Malaikat-Nya yang memperhatikan kita. Ada pihak lain; pihak ketiga. Ketika kita tawaf, mereka mendekati kita sambil menawarkan “jasa baiknya” membantu kita mendapatkan Hajar Aswad. Kalau Allah memberikan ganjaran bagi mereka yang tawaf, mencium atau tidak mencium Hajar Aswad; yang menawarkan bantuan kepada kita ini, malah minta ganjaran dari kita, berupa riyal. Bisa 60 riyal, 100 riyal, atau sesuai persetujuan. Mereka adalah para calo Hajar Aswad. Calo yang membantu kliennya untuk dapat mencium Hajar Aswad. Mereka terdiri dari beberapa orang dalam 1 tim. Siap sedia menolong siapa pun yang mau cium Hajar Aswad, dengan berbagai cara, yang penting kliennya berhasil.

Seorang kawan menceriterakan bahwa ketika ada orang hendak mencium Hajar Aswad, si Calo tadi dengan cepat menarik dan memukul-mukul orang tersebut supaya menjauh dari Hajar Aswad, lalu mendorong ke depan kliennya, mendekat Hajar Aswad. Ini sungguh “mengagumkan”. Demikian berani mereka itu! Berbisnis kotor di depan Rumah Allah! Saya sendiri, pernah beberapa kali ditawari, tentu saja saya tolak. Ada-ada saja orang kita ini! Semoga mereka segera insyaf; kembali ke jalan yang benar.

Sejarah Yang Berkaitan dengan Hajar Aswad
Pada tahun 16 sebelum Hijriah, setelah Ka’bah terkena banjir, dindingnya retak-retak, Ka’bah kemudian direnovasi. Dalam melaksanakan pekerjaan mulia ini orang-orang Quraisy membagi Ka’bah menjadi empat bagian. Bagian pertama, yaitu bagian yang dekat dengan pintu Ka’bah, diserahkan pengerjaannya kepada Bani Abdu Manaf dan Bani Zuhrah. Bagian kedua, yaitu antara Rukun Aswad dan Rukun Yamani diserahkan pengerjaannya kepada Bani Makhzum dan beberapa suku Quraisy lainnya. Bagian ketiga, yaitu bagian belakang Ka’bah, diserahkan kepada Bani Jamh dan Bani Sahm. Bagian keempat, Hijir Ismail atau Al-Hatim, diserahkan pengerjaannya kepada Bani Abdud-Dar bin Qusyaiy, Bani Asad bin Qusaiy dan Bani Adiy bin Kaab. Pembangunan dimulai lagi dengan penembokan dari fondasi. Sesudah bangunan itu setinggi sekitar satu meter setengah, tibalah saatnya untuk memasang kembali Hajar Aswad di tempat semula. Masing-masing kabilah merasa paling berhak untuk memasangnya. Timbullah perselisihan di antara kaum Quraish, siapa yang seharusnya mendapat kehormatan meletakkan batu itu di tempatnya. Perselisihan itu memuncak dan nyaris menimbulkan perang saudara. Keluarga Abdud-Dar dan keluarga ‘Adi bersepakat tidak akan membiarkan kabilah mana pun campur tangan dalam peletakan batu hitam ini. Kedua kabilah ini mengangkat sumpah bersama. Kabilah Abdud- Dar membawa sebuah baki berisi darah. Mereka memasukkan tangannya ke dalam baki itu guna memperkuat sumpah mereka (bahasa reformasinya, cap jempol darah?).

Selama lima hari lima malam, ketegangan ini tak mau surut. Akhirnya muncul gagasan dari Abu Umayah bin Mughirah dari Banu Makhzum. Ia adalah orang paling tua di antara mereka, dihormati dan dipatuhi, Ia berkata, “Serahkanlah putusan kamu ini di tangan orang yang pertama sekali memasuki pintu Shafa ini.” Semua sepakat. Ternyata, orang yang pertama kali masuk masjid dari pintu Shafa itu adalah Muhammad, mereka berseru, “Ini al-Amin; kami dapat menerima keputusannya.” Saat itu, Muhammad bin Abdullah belum menjadi nabi, tetapi karena kejujurannya, tidak pernah berbohong, tak pernah ingkar janji, dan sifatnya ini sudah diketahui secara luas oleh penduduk Mekah, sehingga mereka menjulukinya al-Amin, artinya orang yang dipercaya. Mereka menceriterakan kepada Muhammad, apa yang terjadi. Muhammad berfikir sebentar, lalu, “Kemarikan sehelai kain,” katanya. Setelah sehelai kain diterima, Muhammad menghamparkannya, dan kemudian Muhammad meletakkan batu itu dengan tangannya sendiri, kemudian berkata : “Hendaklah setiap kabilah memegang ujung kain ini.” Mereka kemudian bersama-sama membawa kain tersebut ke tempat batu akan diletakkan. Muhammad lalu mengeluarkan batu itu dari kain dan meletakkan di sudut Ka’bah. Perselisihan pun, terelakkan! Adapun usia Muhammad waktu itu, terdapat perbedaan pendapat. Menurut Ibnu Ishaq usia Muhammad waktu itu adalah 35 tahun.

Peristiwa lain yang berkaitan dengan Hajar Aswad terjadi pada 317 H. Abu Thahir Al-Qurmuthy, seorang kepala suku Jazirah Arab bagian timur, bersama dengan 700 orang tentaranya, mendobrak Hijir dan membongkar Ka’bah secara paksa. Mereka lalu mengambil Hajar Aswad dan membawanya ke negaranya di kawasan teluk Persia. Setelah 22 tahun, dengan ditebus uang 30.000 dinar oleh Khalifah Abbasiyah Al-Muthi’lillah, batu itu baru kembali ke Mekah.

Dikisahkan bahwa ketika Abdullah bin Akim, utusan Khalifah Abbasiyah Al-Muthi’lillah, menerima batu itu dari Abu Thahir, pemimpin suku Qurmuth. Dia langsung memasukkan itu batu ke dalam air. Batu itu tenggelam. Lalu ia membakarnya, ternyata pecah, maka ia menolak batu itu. Pemimpin suku Qurmuth kemudian memberikan batu yang kedua yang sudah dilumuri minyak wangi dan dibungkus kain sutra yang indah. Abdullah melakukan hal yang sama. Dan, ternyata hasilnya sama dengan batu yang pertama. Ia mengembaliannya dan minta diberikan batu yang asli. Pemimpin suku Qurmuth itu lalu memberikan batu yang ketiga. Abdullah memasukan kedalam air. Dan, apa yang terjadi? Batu itu tidak tenggelam. Abdullah membakarnya; batu itu tidak panas dan tidak pecah. Ia lalu berkata, “Nah, inilah batu kita!”

Menyaksikan hal itu, Abu Thahir Al-Qurmuthy, terheran-heran. “Dari mana kamu mendapat ilmu itu?” tanyanya. Abdullah menjawab, “Nabi pernah bersabda bahwa Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah yang ada di bumi. Pada hari kiamat nanti tampak mempunyai mulut dan menyaksikan siapa-siapa yang pernah menyalaminya dengan niat baik atau buruk; tidak akan tenggelam dalam air dan tidak akan panas dalam api; ….”

Abu Thahir Al-Qurmuthy, kemudian terserang penyakit lepra yang sangat ganas selama bertahun-tahun hingga semua persendiannya saling berlepasan. Dia tak dapat disembuhkan sampai ahirnya meninggal.

Muhammad Ilyas Abdul Ghani dalam Sejarah Mekah menyebutkan bahwa pada mulanya, batu itu satu bongkah batu saja, sekarang berkeping-keping menjadi 8 bagian, karena pernah pecah. Kedelapan keping tersebut kemudian direkat dengan timah dan dibingkai dengan perak.

Keutamaan Hajar Aswad
Merupakan batu yang berasal dari surga yang diberikan kepada Ibrahim a.s. agar diletakkan di salah satu sudut Ka’bah. Nabi SAW, pada saat renovasi, mengambil dan meletakkannya di tempat semula. Nabi mencium itu batu sebagaimana dilakukan nabi-nabi sebelumnya, sehingga Hajar Aswad menjadi tempat bertemunya bibir para nabi, orang-orang shalih, dan para haji sepanjang sejarah. Ia juga merupakan tempat dimulai dan diakhirinya tawaf, dan juga merupakan salah satu tempat mustajab untuk berdo’a.

Pada hari kiamat kelak, Hajar Aswad akan memberikan kesaksiannya bagi orang-orang yang telah menyalaminya dengan benar, seperti yang diriwayatkan oleh Tirmidzi bahwa Rasulullah SAW bersabda:”Demi Allah, Dia akan mengutusnya pada hari kiamat kelak, dengan dua matanya dia akan melihat; dengan lidahnya ia memberi kesaksian atas siapa yang telah menyalaminya dengan benar.”

Categories: Ibadah Haji | Tags: , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: