Catatan Ringan Dari Tanah Suci (Episode khusus)

Maulid Nabi


Hari ini, ketika aku menulis tentang kelahiran Nabi, adalah Jumat, tanggal 12 Rabiul Awwal 1425H. Sesuai penanggalan di almanak, ini adalah hari libur. Seperti biasa, hampir setiap hari libur, pagi hari, sekitar pukul 05.30 atau pukul 06.00, kami (saya, istri dan anak-anak) jalan-jalan santai ke perkampungan atau ke pinggiran sungai, atau ke daerah pesawahan; kemudian mengambil sarapan di warung kecil, atau jajan bubur ayam di pinggir jalan desa.

Kulihat banyak anak-anak keluar dari gang-gang kecil, dari rumah-rumah mereka, tangannya menjinjing sesuatu. Mereka kemudian masuk ke masjid-masjid, mushola-mushola, dan madrasah-madrasah. Mereka membawa -apa yang orang Jawa Barat sebut- bongsang. Bonsang adalah sejenis kantong terbuat dari kulit atau daging bambo yang diserut tipis dan dianyam, biasanya diisi makanan. Ringan atau berat.

Kehadiran bongsang biasanya dikaitkan dengan perayaan-perayaan di desa (Orang Jawa Barat bagian kota -kalau tidak semua- sebagian besar, dapat dipastikan, tidak mengenal bongsang); baik perayaan pernikahan, khitanan atau perayaaan yang lebih berbau keagamaan seperti maulid Nabi. Dan hari ini adalah hari raya bagi kebanyakan orang desa, seperti saya. Ini adalah hari tatkala seorang manusia besar terlahir ke dunia ini. Hari ini adalah hari maulid Rasululah saw..

Kami terus berjalan santai sambil mencari dimana ada warung kecil yang menjual bubur kacang (pagi itu kami ingin sarapan bubur kacang yang panas mengepul, nikmat). Dua anak kami yang mendahului berjalan jauh di depan, terhenti dan menengok ke belakang. Mungkin capek atau takut kami kehilangan jejaknya, mereka berhenti di depan sebuah warung baru. Nampaknya masih indreyen, itu warung. “Mau sarapan di sini?” Tanya saya. Mereka menganggukkan kepala. Akhirnya kami sarapan di warteg yang baru buka seminggu lalui itu.

Sementara istri menemani anak-anak menyelesaikan sarapan paginya, saya jalan dan masuk ke gang kecil, tak jauh dari situ. Di sebuah mushala terdengar suara seorang ustadz sedang ceramah tentang keutamaan peringatan maulid. Saya terus berjalan pelan. Dan di sebuah majelis ta’lim dan pesantren Alqur’an, kembali terdengar orang-orang membaca shalawat atas Nabi. Mereka sedang –lagi-lagi–memperingati maulid Nabi. Mereka semua sedang memperingati orang yang dicintainya. Peringatan maulid adalah salah satu cara mengekspresikan kecintaan kepada Rasululah saw.

Kami kembali ke rumah. Sehabis mengaji di malam hari, beberapa anak yatim yang tinggal bersama kami, dan anak tetangga yang mengaji, datang menghampiri, “Pak kami ingin muludan (muludan adalah bahasa Sunda untuk peringatan maulid Nabi saw.) malam minggu nanti. Ini daftar acaranya!” Saya ambil kertas itu. Di antara daftar acara terdapat tulisan santapan rohani dua kali. “Lho, kok, santapan rohaninya dua kali?” tanya saya. “Yang terakhir, maksudnya jasmani, Pak, bukan rohani,” mereka menjelaskan sambil tersenyum agak malu-malu. “Dari mana dan apa santapan jasmaninya?” “Kami sudah urunan 1 orang, 1 ribu. Kami mau makan nasi uduk saja,” seru mereka bersemangat (Lazimnya, pada peringatan maulid, baik yang diselenggarakan di masjid, madrasah, atau pesantren: makanan berlimpah! Makanan datang dari rumah-rumah, dikirim ke tempat penyelenggaraan itu. Di sini, tidak. Karena, donaturnya, sesama anak-anak ini.)

Sabtu malam, ba’da isya, di halaman rumah, saya sekedar menyampaikan pembukaan; mereka sepenuhnya mengisi acara. Dua orang anak tampil memberikan tausiah, seperti laiknya penceramah betulan. Yang satu full membaca teks; lainnya yang mengenakan sorban mirip Aa Gyms, berceramah tanpa teks. Tapi, di tengah perjalanan dia lupa harus berbicara apa. Untung teksnya dia sakuin. Amanlah.

Selain ceramah ada juga yang mendendangkan nasyid. Tetapi sebagian besar acara diisi dengan pembacaan shalawat. Anak-anak yatim dan anak-anak miskin itu berakapela dan membacakan beberapa macam shalawat. Saya tak tahu kapan mereka menghapal dan berlatih. Mungkin malam menjelang tidur. Mereka begitu mempesona. Mendengar anak-anak gemuruh membacakan shalawat, saya tak mampu menahan air mata. Hati berbisik, “Aku rindu padamu, ya Rasul!”

Pembacaan shalawat adalah merupakan salah satu ekspresi kecintaan kepada Rasulullah saw. Lagi pula, membaca atau mendengarnya adalah merupakan suatu kenikmatan tersendiri. Suatu hari, setelah Rasulullah tiada, Bilal diminta mengumandangkan azan. Orang-orang rindu pada suara Bilal. Semula Bilal menolak. Memang, sejak kepergian Nabi, Bilal tak mau lagi azan. Setelah para sahabat mendesaknya, barulah ia mengabulkannya. Namun ketika ia sampai pada bacaan “wa asyhadu anna Muhammad…”, ia terhenti. Ia tak mampu meneruskannya. Ia menangis keras. Nama Muhammad, kekasih yang telah pergi, menggetarkan jantung Bilal. Nama itu mengingatkannya pada suatu great loss yang menimpanya; juga seluruh kaum muslimin. Karena cintanya pada Rasululah, namanya sering disebut dan dilagukan. Dan ketika menyebutnya dengan suara lepas di dalam azan, hatinya menjerit, merindukan sang Nabi.

Untuk mewujudkan cintanya pada rasul, banyak orang kemudian menggubah syair-syair shalawat. Salah satu di antaranya yang sering dibacakan pada berbagai kesempatan adalah:

Yaa Nabii salaam ‘alaika

Wahai Nabi, semoga kesejahteraan tetap melimpah kepadamu

Yaa Rasuul salaam ‘alaika

Wahai Rasul, semoga kesejahteraan tetap melimpah kepadamu

Yaa habieb salaam ‘alaika

Wahai kekasih, semoga kesejahteraan tetap melimpah kepadamu

Shalawaatullahi ‘alaika

Rahmat Allah semoga tetap tercurah kepadamu

Imam Syafei pernah bersyair:

Wahai keluarga Rasulullah,

Cinta kepadamu itu termasuk kewajiban dari Allah

Di dalam Alquran yang diturunkan-Nya.

Cukuplah kehormatan yang besar bagimu,

Bahwa orang yang tidak mengucapkan shalawat atasmu,

Tidak ada shalat baginya

Al-Tsalabi, ketika mengisahkan Nabi Yusuf as. yang sedang berada di dalam sumur, menuturkan sebagai berikut:

“Pada hari keempat datanglah Jibril dan berkata: Hai anak, siapa yang melemparkan kamu ke sini ke dalam sumur? Yusuf menjawab: saudara-saudaraku seayah. Jibril bertanya: mengapa? Yusuf menjawab: Mereka dengki kepadaku karena kedudukanku di depan ayahku. Jibril berkata: Maukah engkau keluar dari sini? Ia menjawab: Tentu.

Jibril berkata: Ucapkanlah

Wahai Pencipta segala yang tercipta

Wahai Penyembuh segala yang terluka

Wahai Yang Menyertai segala kumpulan

Wahai Yang Menyaksikan segala bisikan

Wahai Yang Dekat dan Tidak berjauhan

Wahai Yang Menemani semua yang sendirian

Wahai Penakluk yang tak Tertaklukkan

Wahai Yang Mengetahui segala yang gaib

Wahai Yang Hidup dan Tak Pernah Mati

Wahai Yang Menghidupkan yang mati

Tiada Tuhan kecuali Engkau, Mahasuci Engkau

Aku bermohon kepada-Mu Yang Empunya Pujian

Wahai Pencipta langit dan bumi

Wahai Pemilik Kerajaan

Wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan

Aku bermohon agar Engkau sampaikan shalawat kepada Muhammad dan Keluarga Muhammad

Berilah jalan keluar dan penyelesaian dalam segala urusan

Dan dari segala kesempitan

Berilah rezeki dari tempat yang aku duga dan dari tempat yang

Tak aku duga

Yusuf lalu mengucapkan do’a itu. Allah mengeluarkannya dari dalam sumur, menyelamatkannya dari reka-perdaya saudara-saudaranya. Kerajaan Mesir didatangkan kepadanya dari tempat yang tidak diduganya” (Al-Tsalabi dalam Rakhmat, J., 1994).

Saya ingin berceritera agak panjang tentang shalawat, tetapi nanti sajalah di bahasan terpisah. Marilah kita kembali saja ke bahasan semula: Maulid Nabi.

Saya buka kitab-kitab tarikh Nabi yang ada di pustaka keluarga. Dan, Annemarie Schimmel, mendiang professor Harvard University pengagum Rumi dan Iqbal ini, mengajak saya untuk kembali membuka bukunya lamanya yang tak pernah saya bosan membacanya itu: And Muhammad is His Messenger (Dan Muhammad adalah Utusan Allah). Saya ingin memulai penulisan saat-saat kelahiran manusia tercinta ini dengan mengutip buku yang unik ini.

Pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau 20 April 571 Masehi lahirlah ke dunia ini seorang insan yang kelak mengubah sejarah dunia. Para sastrawan menyambut kedatangan bakal nabi terakhir ini dengan menuliskan kisah-kisah menawan. Thaha Husain mengisahkan tentang saat-saat kelahiran Muhammad, antara lain: …bahwa kawanan-kawanan burung dan ternak saling berlomba satu sama lain, setelah kelahiran Nabi, untuk dapat mengasuhnya, tetapi tertolak sebab sudah ditakdirkan bahwa Nabi harus diasuh oleh Halimah. Dan bahwa … jin, manusia, binatang dan bintang saling mengucapkan selamat satu sama lain pada saat kelahiran Nabi, dan bahwa pohon-pohon menumbuhkan dedaunan mereka pada saat kelahirannya, dan bahwa taman-taman menjadi berbunga begitu ia tiba di muka bumi, dan bahwa langit menjadi dekat dengan bumi, ketika tubuhnya yang mulia menyentuh bumi.

Tepatnya adanya keajaiban-keajaibanlah yang disebut-sebut telah terjadi pada saat kelahiran Nabi yang sedemikian menggembirakan dan meninggikan derajat para saleh, dan menggugah para penyair dan teolog untuk melukiskan kelahiran insan terbaik dalam gambar-gambar yang senantiasa baru, dan senantiasa kian berbinar.

Annemarie Schimmel mengutip literatur paling awal tentang kelahiran nabi dan mengatakan bahwa suatu cahaya terpancar dari rahim Aminah dengan datangnya Nabi yang baru dilahirkan itu. Hasan bin Tsabit melukiskan saat-saat kelahiran Nabi dengan menyenandungkan bahwa Aminah telah melahirkannya pada saat yang berbahagia, yang pada saat itu bersinar cahaya menerangi segenap penjuru dunia. Yunus Emre, melantunkan syair:

Dunia sepenuhnya tenggelam dalam cahaya

Pada malam kelahiran Muhammad.

Ibnu al-Jauzi, dalam kitab maulidnya menulis:

Ketika Muhammad lahir, para malaikat memaklumkannya dengan nada tinggi dan rendah. Jibril datang membawa kabar baik, dan Tahta pun bergetar. Para bidadari keluar dari istana-istana mereka, dan bertebaranlah wewangian. Ridhwan (malaikat penjaga gerbang surga) mendapat perintah: “Hiasilah surga tertinggi, singkapkanlah tirai dari tempatnya, kerahkan sekawanan burung Aden ke rumah Aminah supaya mereka menaburkan mutiara dari paruh-paruh mereka.” Dan ketika Muhhammad lahir, Aminah melihat sebuah cahaya, yang menerangi istana-istana Bostra. Para malaikat mengerumuninya dan membentangkan sayap-sayap mereka. Barisan malaikat, yang memanjatkan puji-pujian, turun memenuhi bukit-bukit serta lembah-lembah.

Menurut kitab-kitab tarikh, sebuah cahaya bersinar dari dahi Abdullah, ayah Muhammad, dan meskipun beberapa wanita berupaya keras meminangnya demi cahaya ini, dia menikah denga Aminah, yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi ibu Nabi. Cahaya tersebut terbawa di dalam rahimnya.

Abu Nu’aim dalam Dala’il Al-Nubuwah, mengisahkan sebagai berikut: Pada malam kelahiran Nabi, seluruh ternak Quraisy saling bercakap-cakap di antara mereka tentang telah lahirnya pemimpin umat. Aminah diperintahkan untuk memberi nama anak itu Muhammad atau Ahmad. Ketika mengandung, Aminah sama sekali tidak mengalami kesulitan. Namun ketika tiba saat dia melahirkan, hal-hal aneh terjadi:

Dan sementara kandunganku semakin berat dan aku mendengar kegaduhan yang semakin kuat, sebuah kain sutera putih terhampar antara langit dan bumi, dan aku mendengar sebuah suara berkata: “Biarlah ia sirna dari pandangan orang!” Aku melihat orang-orang berdiri di udara memegang guci-guci perak. Peluh yang menetes dariku bagai butir-butir mutiara dan lebih harum semerbak daripada kesturi, dan aku berseru: “Duhai Abdul Muthalib, hendaklah datang kepadaku! Celakalah andaikata Abdul Muthalib jauh dariku!” Lalu aku melihat kawanan-kawanan burung turun ke arahku dan hinggap memenuhi pangkuanku; paruh-paruh mereka dari zamrud, dan sayap-sayap mereka dari bunga. Dan Allah menyibakkan tabir dari kedua belah mataku. Lalu aku melihat bumi di timur dan di barat. Aku melihat tiga bendera berkibar. Satu di timur, satu di barat, dan satu di atap Ka’bah. Aku merasakan sakit, dan ini menyulitkanku….Maka aku melahirkan Muhammad, lalu aku berpaling kepadanya untuk melihatnya. Dan aduhai, dia terbaring dengan kedua tangannya mengangkat ke langit seperti orang sedang berdo’a. Lalu aku melihat awan turun dari langit menyelumutiku sehingga dia tidak tampak lagi olehku, dan aku mendengar sebuah seruan: “Pandulah dia mengelilingi bumi timur dan barat, dan pandulah dia ke samudera supaya mereka mengenal nama, sosok dan sifat-sifatnya, dan supaya mereka tahu bahwa akan disebut-sebut di samudera-samudera Al-Mahdi (Yang menghapus) sebab dia akan menghapus segala kesyirikan.” Lalu awan itu tiba-tiba lenyap, dan aduhai, dia dalam keadaan berbaring dengan berbusana bulu domba putih, dan di bawahnya terhampar alas hijau dari sutera. Dia memegang tiga kunci dari mutiara-mutiara putih, dan seseorang berseru: “Lihatlah, di tangan Muhammad tergenggam kunci kemenangan, kunci pertumpahan darah, dan kunci kenabian.”

Muhammad dilahirkan dalam keadaan bebas dari segala kotoran jasmani. Dia lahir dalam keadaan tersunat.

Suleyman Chelebi, penyair Turki termashur, melukiskan tentang kelahiran Muhammad dengan penuh ketakjuban :

Aminah Khatun, ibu Muhammad tercinta:

Dari tiram ini keluar mutiara kemilau itu.

Setelah menikah dengan Abdullah
Tiba masa kehamilan, berhari-hari, berminggu-minggu.

Kala kian dekat saat kelahiran Muhammad

Maujud banyak tanda kedatangannya!

Pada bulan Rabiul Awwal,

Pada hari kedua belas, malam Senin,

Ketika lahir sebaik-baik insan-

Betapa keajaiban-keajaiban disaksikan ibunya!

Tutur ibu sahabat itu: Kulihat

Sebuah Cahaya nan luar biasa; mentari bak ngengatnya.

Mendadak sontak mencuat dari rumahku,

Menerangi alam hingga ke langit.

Langit terbuka, sirnalah kegelapan,

Dan kulihat tiga malaikat membawa bendera.

Satu di timur, satu di barat,

Satu berdiri tegak di atas Ka’bah.

Barisan malaikat turun dari langit,

Mengelilingi segenap penjuru rumahku;

Turun para bidadari berkelompok-kelompok; cahaya

Dari wajah-wajah mereka membuat rumahku terang benderang!

Dan kain terhampar di udara,

“Kain sutera berlungsing emas” – dihamparkan satu malaikat.

Kala peristiwa-peristiwa ini demikian jelas kulihat

Bingung aku.

Mendadak sontak dinding-dinding terbelah

Dan tiga bidadari masuk ke dalam kamarku.

Sebagian bertutur bahwa di antara ketiganya, yang mempesona

Adalah Asiyah yang berparas bagai rembulan,

Yang satu sungguh Maryam,

Dan yang ketiga, bidadari nan cantik.

Lalu ketiganya yang berparas bagai rembulan mendekat perlahan-lahan

Dan di sini mereka menyalamiku dengan ramah;

Lalu mereka duduk di sekelilingku, dan menyampaikan

Berita-berita gembira tentang kelahiran Muhammad;

Tutur mereka: “Seorang putra seperti putramu ini

Belum pernah lahir semenjak Allah menciptatkan alam ini,

Dan Yang Mahakuasa tidak pernah mengaruniai

Seorang putra tampak seperti itu seperti putramu.

Telah kau dapatkan kebahagiaan luar biasa, Duhai nan tercinta,

Sebab darimu lahir sang bajik itu!

Dia Raja pengetahuan nan mulia Makrifat dan tauhidku.

Karena mencintainya langit berputar,

Manusia dan jin merindulkan wajahnya.

Malam ini malam dia

Akan menerangi alam semesta dengan cahaya berseri-seri!

Malam ini bumi jadi surga,

Malam ini yang berhati bersuka ria,

Malam ini menganugrahi para pecinta kehidupan baru.

Bagi alam semesta musthafa,

Yang memohonkan ampunan bagi pendosa: Musthafa!

Beginilah mereka melukiskannya kepadaku,

Bergeloralah kerinduanku akan cahaya barakah itu.”

Tutur Aminah: “Kala sudah tiba masanya

Sebaik-baik insan lahir,

Aku jadi sedemikian haus lantaran panas itu

Lalu mereka memberiku segelas serbat

Kala mereguknya aku tenggelam dalam cahaya.

Lalu datang seekor angsa putih bersayap besar nan lembut

Menyentuh tubuhku dengan lembut.

Dan lahirlah malam itu Raja Iman:

Bumi dan langit tenggelam dalam cahaya!”

Lalu mulailah Selamat datang besar dari alam semesta kepada Nabi yang baru lahir, yang kehadirannya telah mereka nanti-nantikan dengan kerinduan semacam itu, suatu selamat datang kepada kekasih Allah, yang kepada keperantaraannya pada Hari Kiamat semua mempercayakan:

Selamat datang, Duhai pangeran nan mulia, selamat datang!
Selamat datang, Duhai kearifanku, selamat datang!

Selamat datang, Duhai rahasia kitab, selamat datang!
Selamat datang, Duhai obat bagi penyakit, selamat datang!

Selamat datang, Duhai cahaya mentari dan cahaya rembulan Allah!
Selamat datang, Duhai yang tak terpisah dari Allah, selamat datang!

Selamat datang, Duhai burung bulbul Taman Keindahan!
Selamat datang, Duhai sahabat yang Mahakuasa!

Selamat datang, Duhai tempat bernaung umat!
Selamat datang, Duhai penolong fakir miskin dan si lemah!

Selamat datang, Duhai ruh nan abadi, selamat datang!
Selamat datang, Duhai pembawa cangkir bagi pecinta, selamat datang!

Selamat datang, Duhai kinasih Yang tercinta!
Selamat datang, Duhai yang paling dicintai Tuhan!

Selamat datang, Duhai pemohon ampun bagi si pendosa!
Hanya demi dikaulah Waktu dan Ruang diciptakan…

Demikian Yunus Emre. Al Barzanji menghabiskan waktunya untuk menulis sejarah nabi dalam bentuk syair, yang juga dikenal sebagai sayir Al Barzanji. Ketika seorang anak lahir (seperti halnya juga keempat anak-anak kami), kitab ini, biasa dibacakan sebagai ucapan selamat datang, seperti halnya dilakukan Al-Barzani untuk menyambut kelahiran Nabi saw.

Inginnya meneruskan tulisan ini, tapi malam sudah larut. Sampai di sini dulu…

Salam bagimu yang Rasulullah.

Categories: Ibadah Haji | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: